Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku

Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku
PoV Susan


__ADS_3

Pagi-pagi berikutnya, aku tidak mau hanya berdiam di rumah seperti yang di katakan Mas Radit, sekedar ikut ke kantor dan menemani tidaklah lelah. Aku ingin selalu bersama suamiku yang ganteng ini.


"Sayang, jangan kemana-mana, jika ada yang mau di beli minta OB saja untuk keluar." Mas Radit mengecup kening dan pipiku berkali-kali, padahal cuma mau ngecek laporan keuangan di ruangan Juna. Aku mengangguk, sungguh bahagia dengan perlakuan Mas Radit padaku.


"Mari Bu Susan." sapa seorang pegawai ku. Aku tersenyum, hanya berdiri melihat-lihat sekeliling ruangan besar dimana beberapa karyawan ku sibuk dengan komputer mereka.


"Susan." suara seseorang di belakangku. Aku hafal suara itu dan aku menoleh.


Dia mendekat dengan sebuah undangan di tangannya.


"Andi dan Kiki." ucapnya memperlihatkan undang berinisial A dan K itu padaku.


"Ya, aku sudah tahu Mas, bahkan keluarga Kiki akan menempati rumah ku nanti ketika acara ngunduh mantu di sana. Sebagai tempat istirahat." ucapku membuat Mas Ricko membuka mulutnya, tapi sulit bicara. "Mungkin Clara juga." sambung ku.


"Iy...iya." jawab Mas Ricko terlihat gugup.


Aku tak peduli sebenarnya, Mas Ricko menunjukkan undangan itu maksudnya apa? Entah aku akan datang atau tidak. Karena keadaan ku yang sedang hamil muda begini tentu tidak akan mudah untuk melakukan perjalanan kesana-kemari. Lagipula nanti acara pernikahannya di rumah Kiki, aku akan datang.


"Kamu pasti datang kan San?" tanya Mas Ricko lagi. Ngarep kayaknya.


"Oh, hemm... Aku tidak tahu Mas. Aku tidak yakin Mas Radit akan mengizinkan aku, mengingat aku pernah keguguran lebih dari sekali. Ku rasa Mas Radit akan benar-benar menjagaku. Mana tahu kali ini Allah enggak mengambil bayiku." jawabku, sengaja.


"Ka...kamu?" Mas Ricko menatap aku hingga perutku.


"Iya, aku hamil. Mungkin jika di dalam perutku ini anaknya Mas Radit akan kuat. Enggak lemah dan mudah menyerah, seperti cinta kamu yang enggak tulus." sindir ku, aku meninggalkan Mas Ricko, entah mengapa pula aku jadi membenci laki-laki yang sudah jelas bukan siapa-siapa ku, kenapa pula dia berharap aku datang. Bikin hatiku panas saja dengan kejadian lalu.


Ah, dasarnya dia enggak punya otak, enggak malu apa datang lagi ke kampung sana? Enggak inget lagi kali ya, di gerebek tetangga ketika sedang mesum di kosan tetangga. Aku aja malu!


"Ricko, nanti kita ke butik. Kita harus pesen baju samaan sama Richa juga."


Ku dengar dari jarak beberapa meter ini Clara mengajak Mas Ricko. Aku menoleh mereka sedikit.

__ADS_1


"Iya." jawab Mas Ricko, ku lihat Clara menggandeng lengan laki-laki suami Dila itu.


Aneh sih, sejak beberapa waktu terakhir kedua orang itu terlihat intim. Di ruangan Clara pun Ricko terlihat leluasa, dan pulang juga mereka menaiki mobil yang sama. Mirip sepasang suami istri, terlebih lagi jika Richa anaknya ikut. Mas Ricko sering mengajak anaknya itu keluar di jam bekerja. Atau mereka sudah menikah? Kalau iya, lalu Dila?


Ishh, aku jadi rumit sendiri memikirkan kedua orang itu. Tapi baguslah, biar si Clara enggak mepet-mepet Mas Radit lagi.


Aku jadi ingat satu bulan yang lalu, Clara pernah meminta Mas Radit untuk menemaninya makan malam bersama rekan bisnis kita juga. Beruntung suamiku enggak mau.


Itu yang aku tahu, entah yang aku enggak tahu mungkin Mas Radit enggak mau cerita karena akan memantik kecemburuan ku.


"Lihat apa?" tanya Mas Radit tiba-tiba langsung memeluk pinggang ku.


"Hem, enggak Mas." Aku segera menoleh suamiku, berhenti mengamati sepasang manusia yang sudah tidak penting.


"Masuk yuk." ajak Mas Radit padaku. Tentu dengan senang hati aku masuk bersamanya, melewati kedua orang yang ku rasa melotot mengamati kami hingga menghilang di balik pintu. Atau perasaan ku saja?


***


Tak sampai satu bulan, akhirnya acara pernikahan Kiki dan Andi tiba juga.


"Akhirnya." ucap Dedi memeluk Mas Radit seraya melirik aku. Aku jadi berpikir macam-macam.


"Hehe, Alhamdulillah Ded. Susan juga sedang mengandung anak gue." jawab Mas Radit dengan bangga.


"Wow, cepet juga lu. Ngebut ya bikinnya?" niatnya berbisik, tapi masih ku denger.


Mas Radit terkekeh, lalu kembali merangkul aku usai temu rindu dengan teman kuliahnya itu.


"Ya udah lah, jangan lupa ajak Susan makan yang banyak." ucap Dedi lagi.


"Kalau itu enggak usah lu bilang juga gue datang ke sini emang buat makan." jawab Mas Radit lagi.

__ADS_1


"Oh, iya." Dedi menahan pundak Mas Radit. Membisikkan sesuatu.


"Hah! Serius?"


Aku jadi curiga, kok Mas Radit sampai terkejut.


"Iya." jawab Dedi kemudian meninggalkan kami.


"Ada apa sih Mas?" aku sewot dengan pembicaraan yang berbisik-bisik mereka. Aku penasaran, curiga, cemburuku kumat.


"Enggak ada apa-apa." jawab Mas Radit, menoleh kesana-kemari pula.


"Enggak ada apa-apa tapi menoleh kaya mencari apa-apa?" kesalku menahan lengan Mas Radit.


"Enggak ada apa-apa, cuma kaget denger sesuatu, tapi enggak penting juga buat kita."


"Pasti penting lah, sampai kaget gitu?" aku masih kesal, tak puas Mas Radit seperti enggan mengatakannya.


"Ok, sini Mas bisik-bisik." Mas Radit tersenyum, mengangkat kedua alisnya berkali-kali, ganteng banget. Aku jadi mendekatkan telingku cepat.


"Clara sama Ricko udah menikah di rumah orang tuanya Ricko." bisik Mas Radit padaku, tentu aku juga terkejut. Langsung menoleh kesana-kemari mencari keberadaan mereka.


"Tuh, kan. Nyariin!" Mas Radit menahan daguku, memaksa mataku menatap wajahnya.


"Hehee. Penasaran Mas." jawabku, mendapat ciuman di pipiku. Aaihhh... aku meleleh, langsung memeluknya tanpa peduli mata orang.


"Penasaran buat apa? Biarkan mereka bahagia dengan dunia mereka sendiri. Kita juga sudah bahagia dengan dunia kita sendiri, ada aku, kamu, dan anak kita." Mas Radit menurunkan tangannya, memeluk sisi perutku.


Tentu saja, kami sedang bahagia saat ini, ku harap kehamilan ku ini akan bertahan hingga melahirkan seorang bayi buah cinta kami, aku dan mas Radit.


Ku lihat di belakang Kiki ada Clara dan anaknya, dan tak jauh dari Mereka ada Mas Ricko dengan pakaian senada. Sungguh mereka adalah keluarga yang lengkap, tanpa mengingat ada hati yang sudah pasti terluka jika mengetahuinya. Atau mungkin saat ini Dila tidak tahu akan keberadaan suaminya yang sedang duduk tenang bersama anak dan istri yang lain.

__ADS_1


Aku bersyukur atas perpisahanku dengan Mas Ricko. Tak bisa ku bayangkan jika aku masih istrinya, dan berada di posisi ini, di hari pernikahan sahabatku semuanya terbongkar. Aku tidak akan mampu, aku pasti hancur lebih hancur dari perselingkuhan Mas Ricko dan Dila.


Dan untuk Dila? Ku rasa ini adalah karma yang lambat tapi pasti akan menyakiti hatinya.


__ADS_2