
Sore kemudian, suara deru mobil Ricko terdengar berhenti di depan rumahnya. Laki-laki berperawakan tinggi itu berjalan masuk ke dalam rumah. Dia tidak tahu jika di dalam rumahnya seseorang sedang menunggu.
Tentu saja di dalam rumah itu Dila bergegas meletakkan Reno di atas ranjang. Mana mungkin ia menyia-nyiakan waktu untuk menanyakan perihal pernikahan Ricko dan tetangganya.
"Sayang." panggil Ricko ketika ia masuk ke dalam kamar sebelum Dila sempat keluar menemui Ricko.
"Tumben sudah pulang Mas?" tanya Dila tersenyum sinis, membelakangi Ricko.
"Hem, kerjaan lagi ringan." jawab Ricko seraya mendekati Reno.
"Lagi ringan atau kamu memang enggak bekerja?" ucap Dila dengan menyindir.
"Kamu apaan sih, suami capek Beker setiap hari malah main curiga-curigaan begini." Ricko menggerutu.
"Bukan Curigaan Mas, tapi kenyataan kalau kamu itu bukan bekerja keras atau lembur, melainkan bersenang-senang dengan si Clara itu, iya kan?" nada suara Dila mulai meninggi.
"Kamu ngomong apa sih Dila? Kok kamu berubah ya sekarang." Ricko menatap wajah Dila, lelah.
"Kapan dan dimana kamu menikah dengan Clara?" tanya Dila tanpa melihat wajah Ricko.
"Menikah apa?"
"Jawab saja Mas, gak usah pakai alasan karena aku sudah tahu semuanya. Bahkan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kamu menghabiskan waktu bersama Clara dan anaknya hari ini, bukan bekerja."
Ricko tersentak, menatap Dila dengan tak percaya.
"Sebenarnya anak kamu itu Reno atau dia? Apa karena Clara adalah anak orang kaya sehingga kamu rela menikahi dia dan mengurus anaknya? Anak yang enggak ada bapaknya itu kan Mas? Kamu jadi bapaknya demi uang? Di bayar pakai mobil itu!"
"Dila!"
Ricko membentak keras, sehingga Reno terbangun dan menangis.
"Bahkan kamu membuat Reno menangis karena membela anak sialan itu!"
"Dia anak_"
"Anak apa?" marah Dila, air matanya turun, tak mempedulikan Reno yang semakin menjerit-jerit.
"Dila, Reno menangis." Ricko merendahkan suaranya. Dia ingin Dila menenangkan Reno.
"Dia memang menangis, sering menangis sementara kamu menyayangi anak orang. Kamu tidak peduli dengan anakmu sendiri." kesal Dila lagi.
"Aku peduli, Reno juga anak ku Dila!"
__ADS_1
Dila menatap wajah Ricko dengan bingung, sekaligus mencoba memahami tentang ucapan 'juga anak ku'.
"Dila." Ricko meraih tangan Dila tapi di tepis olehnya.
"Anak kamu juga?" tanya Dila kecewa.
"Dila."
"Benarkan, kamu sudah menikah dengan dia?" ucap Dila kemudian menangis perih. Dila terduduk di ranjang memandangi Ricko dengan kecewa, memegangi dadanya yang sesak.
"Maaf Dila. Tapi sungguh aku tidak pernah membuatmu menjadi nomor dua. Kau tetap yang utama bagiku, aku ingin kita selalu bersama membesarkan Reno. Aku ingin kau mengerti bahwa_"
"Bahwa kamu memiliki istri lain selain aku?"
"Itu karena terpaksa Dila. Aku tidak tahu kalau dulu Clara sedang hamil anak ku ketika aku meninggalkan dia menikah dengan Susan. Dan sekarang Richa sudah besar, tak mungkin aku terus menelantarkan Richa sedangkan kita hidup bahagia."
"Jadi maksudmu kebahagiaan kita harus di bagi dengan wanita itu!" teriak Dila menunjuk Ricko.
"Ya, karena Richa sudah lama menderita tanpa aku."
"Tapi tidak dengan ibunya Mas! Andaikan kamu mau mengurus Richa bersama kita mungkin aku bisa terima. Aku bisa saja ikhlas karena sejak awal kamu memang sudah pernah menikah. Tapi tidak dengan pengkhianat seperti ini, tidak dengan menikahi dia! Ini menyakiti aku Mas, kamu brengsek!"
"Dila, Dila!" Ricko memegangi tangan Dila yang memukuli dirinya, mengamuk, menangis dan berteriak tanpa peduli Reno semakin menangis.
Suara Ibunya Ricko mengejutkan kedua orang yang sedang bertengkar. Dila menoleh heran, ternyata ada ibu mertuanya datang, atau memang datang bersama Ricko?
"Anak nangis menjerit-jerit kalian malah sibuk bertengkar." omel perempuan tua itu mengambil Reno, menggendongnya.
"Jangan sentuh anak ku." tunjuk Dila kepada mertuanya.
"Anak kamu ya anak Ricko juga! Anak nangis kenceng malah di biarkan saja." marah Ibu mertuanya, menatap Dila tak suka.
"Heh, lalu selama ini yang ngurus Reno sampai besar itu siapa? Apa ibu pikir selama ini Reno enggak pernah menangis?"
"Dila." Ricko menghentikan kemarahan Dila kepada ibunya.
"Ya itu emang tugas kamu, kenapa harus marah sama saya. Lihat itu Clara, melahirkan dan mengurus anaknya sendirian tanpa mengeluh. Enggak ada tuh dia menuntut ini itu sama ibu dan Ricko!"
"Oh, jadi itu alasan ibu sangat baik sama perempuan itu? Ibu sudah tahu tentang dia dan Mas Ricko tapi malah diam saja tanpa memberi tahu aku. Jangan-jangan Ibu juga tahu kapan mereka menikah?"
"Tentu saja Ibu tahu, orang nikahnya di rumah Ibu. Richa itu juga cucu Ibu!"
"Begitu rupanya." Dila semakin kecewa menatap ibu mertuanya dan Ricko bergantian.
__ADS_1
"Dila, maafkan aku. Sungguh aku tidak bermaksud menduakan mu. Tapi aku menikahi Clara karena Richa saja, aku hanya mencintaimu dan memprioritaskan kamu dan Reno. Aku janji akan seterusnya begitu."
"Kalau begitu kamu ceraikan Clara."
"Enak aja." ucap ibu mertuanya tidak terima.
"Mas, ceraikan Clara." pinta Dila lagi sambil mengusap air matanya, menatap nyalang kecewa bercampur amarah.
"Enggak! Ibu enggak setuju." ucap ibu mertuanya lagi.
"Ibu diam!" bentak Dila.
"Tidak mungkin Dila, kalau aku menceraikan Clara lalu bagaimana dengan Richa." ucap Ricko bingung.
"Richa bisa kamu urus bersama kita, atau malah kamu biarkan saja dia ikut ibunya. Toh kehidupan mereka sangat berkecukupan. Gak usah capek bekerja mereka sudah hidup enak."
"Bukan itu masalahnya, Richa butuh aku." jawab Ricko memohon.
"Dia bisa kemari jika dia butuh dirimu Mas. Gak harus menikah kan, kecuali kamu memang menginginkan dia, dan Richa hanyalah alasan."
"Dila, aku mohon kamu mengerti."
"Tidak Mas, tidak ada wanita di dunia ini yang mau mengerti tentang suami yang membagi cintanya, memiliki istri lain selain dirinya. Kalaupun ada, itu hanyalah terpaksa." Dila menangis, kembali duduk di ranjang menutup wajahnya dengan dua telapak tangan.
"Beri aku waktu." jawab Ricko kemudian. Dia keluar meninggalkan kamar Dila, entah jika ia langsung pergi ke rumah Clara karena terdengar di rumah sebelah itu Richa berteriak senang.
"Ibu mau bicara." ibu mertuanya kembali masuk setelah memberikan Reno kepada asisten rumah tangga.
Dila hanya diam, memasang telinga yang pasti akan panas jika ibu mertuanya buka suara.
"Ibu tidak akan mengizinkan Ricko menceraikan Clara."
Dila mendongak Ibu mertuanya yang menatap keluar jendela. perempuan tua itu bahkan tak mau menoleh Dila.
"Kalaupun ada yang harus bercerai itu adalah kamu dan Ricko."
"Apa maksud Ibu, jelas di sini akulah istri pertama Mas Ricko, bukan Clara!"
"Ya, tapi ibu lebih suka Clara mendampingi Ricko. jelas bahwa dia akan membuat Ricko lebih baik, memiliki masa depan yang jelas."
"Ibu!"
"Kamu pikir darimana kamu bisa hidup enak begini? Ini semuanya karena Clara. Beruntung dia tidak menuntut Ricko untuk menceraikan kamu. Harusnya kamu bersyukur." tegas ibu mertuanya menatap Dila.
__ADS_1