
Hari itu aku baru saja pulang dari klinik, dan tetangga ku datang berkunjung bersama anaknya. Ku lihat Mas Ricko membawa stroller bayi masuk ke kamar ku, aku tahu itu oleh-oleh dari tetangga sekaligus atasan Mas Ricko, Clara.
Terimakasih, begitu ucapan ku padanya.
Jujur, dari saat pertama kali bertemu aku sudah merasa tak nyaman dengan sorot matanya, ku rasa dia bukanlah perempuan yang bisa di ajak bersahabat. Ya, aku paham hal itu karena aku juga perempuan yang memiliki banyak pemikiran diluar dugaan untuk mendapatkan apa yang aku mau, termasuk menjadi selingkuhan Mas Ricko ketika itu. Dan sekarang aku mendapatkannya, dia suamiku dan kami sudah memiliki anak.
Sedikit aku menghargai tetangga ku itu! Sekedar basa-basi bolehlah ya... Aku mencolek dan memegang tangan anaknya. Eh anaknya malah menangis.
"Mama....!" dia merengek tak suka karena aku memegang tangannya, seolah aku ini orang yang jahat.
"Tidak apa-apa Sayang..." begitu perempuan itu menenangkan anaknya sambil membawa keluar, Tapi hal tak terduga malah terjadi.
"Papa...!" panggilnya menggeliat menoleh Mas Ricko.
Hah! Serius?
Aku menoleh anak kecil itu juga Mas Ricko bergantian. Ku lihat Mas Ricko tersenyum kaku, menoleh ku yang kemudian memilih mendekati box bayi anak ku.
"Mas." panggilku kepada Mas Ricko.
"Hem." dia tersenyum sedikit, sambil menepuk pelan bagian kaki anak kami.
"Kok anaknya tetangga manggil Papa liatnya ke kamu?" tatapanku penuh selidik, aku curiga!
"Enggak tahu, mungkin sedang kangen Papa-nya. Bukan manggil aku." jawab mas Ricko.
Benar mungkin, bisa jadi karena terlalu rindu atau inget ayahnya. Dan ku lihat Mas Ricko juga tidak peduli dengan panggilan Papa dari anaknya Clara. Jadi ya sudahlah, aku tak mau pikiranku ini menjurus pada curiga dan cemburu yang berlebihan, aku butuh istirahat, aku baru saja melahirkan. Hingga ke esokan harinya...
"Sayang, ini Mbak Tri. Dia yang akan jaga dan bantu kamu kalau mas lagi kerja." Mas Ricko memperkenalkan seorang wanita empat puluhan padaku, dia juga sudah membawa tas lumayan besar miliknya.
"Oh, baiklah Mbak Tri. Terimakasih sudah bersedia membantu aku." ucapku senang, aku bahkan tidak paham cara memandikan bayiku.
Hari-hari berjalan, namun aneh menurut ku karena Mas Ricko semakin sering lembur, hampir setiap hari. Apakah segitu banyaknya pekerjaan di kantor sehingga dikit-dikit lembur, dan kemudian lembur lagi. Dan dengan sengaja aku mengambil nomor Clara dari ponsel Mas Ricko. Mana tahu dia lembur lagi aku mau tanya-tanya. Jangan sampai Mas Ricko berbohong.
__ADS_1
Dan ketika ku tanya dia menjawab pelan.
"Aku sedang mencari uang tambahan untuk kamu dan anak kita." begitu ucapan Mas Ricko, benar juga sekarang kami sudah bertiga, belum lagi harus membayar pembantu. Cicilan rumah saja sudah lima juta lebih. Masuk akal, begitu pikirku.
"Asal enggak macem-macem ya Mas?" aku mendelik padanya, tentu aku takut Mas Ricko selingkuh, aku tidak mau cintanya terbagi setelah apa yang telah kami lewati.
"Enggak Sayang." jawabnya mengelus kepala ku
Memang benar Mas Ricko selalu bersikap baik padaku, berbeda ketika awal kami menikah dia acuh dan cenderung mengingat Susan mantan istrinya. Sekarang dia mencintaiku, mencintai anak kami.
Hari itu hari Minggu, Mas Ricko pamit bekerja, katanya akan pergi ke lokasi pabrik tempat ia bekerja dahulu. Ternyata suamiku sekarang sudah menjadi atasan teman-temannya di sana.
"Ku pikir kamu libur Mas?" ucapku sendu melepas tangan Mas Ricko.
"Maaf Sayang, sekalian mau kasih kabar Ibu kalau kita sudah punya Reno." dia mengusap kepala Reno anak kami.
"Iya Mas, hati-hati." jawabku menghembus nafas berat, walaupun jahat wanita yang bawel setengah mati itu tetap ibunya juga.
"Kok kayak Mas Ricko adalah bapaknya?" gumamku memerhatikan gerak-gerik mereka.
Sengaja aku berjalan ke sudut pagar rumahku agar bisa mendengarkan apa yang sedang mereka ucapkan.
"Kita berangkat...!" begitu ucapan Mas Ricko bersemangat berbicara kepada anak kecil yang sedang di gendongnya.
Ya Tuhan, itu bener enggak sih Sampai sedekat itu? Engga salah itu anak lengket banget sama Mas Ricko. Sebenarnya dia ada bapaknya atau enggak? pikiranku berkecamuk.
Kalau enggak ada bapaknya artinya dia janda! Kalo Janda....???
Seiring dengan darahku terasa panas, mobil mereka sudah melaju pergi.
"Neng, makan dulu." panggil Mbak Tri mendekati aku yang berdiri bingung di sudut pagar rumahku.
"Iya Mbak." jawabku, aku menyerahkan Reno kepada Mbak Tri.
__ADS_1
Hingga malam hari kemudian, aku mendengar suara mobil Clara berhenti di depan rumahnya. Aku menunggu kedatangan Mas Ricko di ruang tamu seperti biasa, tapi sudah setengah jam aku duduk berdiri tak kelihatan juga batang hidungnya. Aku gelisah sambil bertanya-tanya, Mas Ricko kemana? Masak iya di rumah sebelah?
Hingga beberapa menit berikutnya, aku mendengar langkah kaki tapi tidak sendiri, juga suara seorang wanita berbicara kepada Mas Ricko. Ya, aku hapal suara itu, ibu mertuaku yang cerewet.
"Sayang." panggil Mas Ricko ketika membuka pintu, dia langsung mencari keberadaan ku.
"Mas." jawabku segera mendekatinya, menyodorkan pipiku agar dicium olehnya.
"Ibu minta ikut tadi." ucapnya setelah mengecup pipiku. Benar ibu mertuaku berdiri memandangi kami, tapi sinis ku rasa.
"Ibu." aku menyapanya, sedikit tersenyum untuk menghargai ibu mertuaku. Walaupun aku enggak suka.
Dia malah tak menjawab, langsung duduk di sofa.
"Makan dulu Mas." aku menggandeng lengan Mas Ricko.
"Ah, tadi udah makan." jawab Mas Ricko gugup, aku menaikkan alisku heran.
"Iya, Clara itu baik ya. Begitu sampai langsung di tawari makan, kita enggak boleh pulang sebelum kenyang." ucap Ibu.
Oh, ternyata sudah makan di rumah sebelah. Kayak ngajak saingan aku, cari perhatian ibu mertuaku? Aku jadi berpikir demikian.
"Maaf ya, enggak enak di tolak. Kalau kamu belum makan Mas temenin kamu." Mas Ricko membujukku.
"Enggak Mas, aku udah makan kok." jawabku kesal, aku segera menuju kamarku. Menghindari pertengkaran dengan nenek sihir itu.
"Dila." panggil Mas Ricko mengikuti aku.
"Aku mau istirahat Mas." ucapku tanpa menoleh. Aku kesal setelah beberapa kali merasakan cemburu karena Mas Ricko pergi bersama tetangga sebelah. Meskipun dia atasannya tapi ku rasa sikap mereka lebih dari itu. Aku curiga, cemburu, hatiku tak tenang, bahkan jantungku merasa tak aman.
"Sini Reno biar Mas yang gendong." pinta Mas Ricko.
"Mandi dulu Mas." titahku tak memberikan Reno. Jujur saja, aku masih teringat tadi pagi Mas Ricko menggendong anaknya Clara dengan begitu senangnya, aku masih marah.
__ADS_1