
Tiga hari kemudian.
Setelah menemui ibu juga istri pamannya Dila kembali pulang ke kota, ia sengaja tidak memberi tahu Ricko. Hingga sore hari ia baru tiba di rumahnya.
"Mbak Dila." sapa Asisten rumah tangga yang selalu setia itu.
"Iya." jawab Dila melirik ke samping belum ada mobil Ricko. Tapi riuh di rumah sebelah, Dila jadi menebak bahwa Ricko ada di sana. Dila langsung masuk tanpa bertanya tentang Ricko.
Tadinya, dia yakin Ricko akan pulang sendiri apalagi Dila mengatakan bahwa ia akan pulang setelah dua hari. Tapi, Ricko tidak pulang malah mereka pergi berjalan-jalan di akhir pekan, tanpa mengetahui bahwa Dila sudah pulang kerumah.
"Mas Ricko benar-benar sudah berubah." ucapnya kecewa.
Hingga sore hari itu mobil Ricko terlihat memasuki gang dan berhenti di depan rumah Clara.
"Pulang Mas!" Dila mengirim pesan singkat sambil memandangi Ricko yang tertawa-tawa senang bersama Clara dan Richa.
Ricko menoleh rumahnya, dan langsung melihat Dila yang sedang berdiri di balkon lantai dua.
"Dila, kapan kamu pulang? Kok enggak kasih kabar?" tanya Ricko setelah terburu-buru naik. Ia mendekati Dila yang masih berdiri di balkon.
"Kapan bagaimana? Mas enggak inget aku bilang apa?" kesal Dila.
"Ingat, cuma kenapa enggak kasih tahu aku kalau mau pulang." Ricko duduk memandangi Dila.
"Emangnya kamu mau jemput aku? Yang ada aku akan kecewa karena kamu pasti sibuk dengan istri baru mu." jawab Dila.
"Kamu kenapa selalu begitu sama Clara. Dia juga istriku yang memiliki hak yang sama." Ricko membela Clara.
"Bukannya janji kamu akan lebih mencintai aku Mas?" Dila menatap wajah Ricko, heran dan kesal.
"Iya, tapi kamu juga harus mengerti tentang Richa yang pastinya butuh aku."
"Bukan Richa yang butuh kamu Mas, tapi Clara juga masih sangat ingin dikekepin kamu!" Marah Dila.
"Ya dia istriku!" balas Ricko.
"Tapi enggak mengabaikan aku juga Mas!" Dila tidak terima.
"Ya, tapi selain hal itu kamu juga harus mengerti bahwa aku juga bekerja dengan dia, uang yang aku berikan ke kamu itu adalah hasil kerja aku sama dia. Artinya dia masih berbaik hati karena ngasih aku gaji yang bisa aku berikan ke kamu!"
"Dan dia bisa menghina dan menginjak-injak harga diri aku?"
"Sudahlah Dila, jangan sebut harga diri sekarang ini. Kamu tahu aku hanya memberikan kebahagiaan untuknya, dan aku mendapatkan apa yang aku butuhkan untuk membahagiakan kamu. Harusnya kamu senang."
"Enggak Mas, aku enggak senang." sahut Dila cepat, dia segera meninggalkan Ricko. Lelah hati dan pikiran menunggu Ricko pulang, setelah pulang malah lebih melelahkan lagi karena harus bertengkar.
Satu bulan kemudian.
Ricko semakin acuh dan malah tidak pulang, kalaupun pulang itu hanya sebentar bermain dengan Reno lalu pergi lagi. Parahnya Ricko dan Clara lebih sering tinggal di rumah orang tuanya daripada bersebelahan dengan Dila.
"Sepertinya Mas Ricko memang sudah melupakan aku, andaikan ku pinta untuk memilih maka jelas akulah yang akan di buang." gumam Dila sedih, menatap pilu kepada Reno yang masih bayi. Tak hanya karena Ricko tak pulang, tapi uang pun tidak lagi mengalir lancar seperti biasanya. Dia harus berhemat, malah belum membayar gaji asisten rumah tangganya.
"Mas, kamu bisa pulang sebentar? Aku ingin bicara." pesan Dila, centang dua abu-abu. Begitu pula pesan-pesan berikutnya sehingga membuat Dila putus asa, hingga satu balasan di terimanya.
"Besok aku akan mengirimkan surat cerai kita."
__ADS_1
"Apa?" Lemas, Dila menjatuhkan ponselnya.
"Mas Ricko, kamu tega!" teriak Dila melempar apa saja yang ada di ruang tamu. Dia mengamuk marah. Artinya dia akan terusir dari rumah itu.
Terdengar suaranya tangis Reno di kamar, menyadarkan Dila yang sedang mengamuk.
Pada akhirnya ia memutuskan pulang kampung membawa Reno, meski sempat terpikir untuk meninggalkan anaknya tersebut, tapi tidak tega lantaran dia menyayangi Reno.
"Aku tidak rela kamu bahagia dengan Clara. Setelah apa yang sudah kita lakukan, kamu malah membuangku begitu saja.
Aku lebih suka kamu tidak ada di dunia ini, aku lebih senang Reno tidak punya ayah dan tidak mengenal kamu. Daripada setelah besar dia tahu tentang kamu yang lebih menyayangi Clara dan Richa karena dia orang kaya."
Dila menangis sepanjang jalan. Dia meratapi kebodohannya sudah jatuh cinta kepada Ricko sehingga menyakiti Susan ketika itu, sekarang karmanya sedang berlaku.
"Kita pasti baik-baik saja Sayang." ucap Dila kepada anaknya, meski hatinya perih mengingat kesalahannya, juga kebodohannya.
Sementara itu, di tempat lain Ricko baru saja mendapatkan kabar bahwa Dila sudah pergi. Ada sedikit sesal karena sudah menurutinya keinginan Clara untuk membuat surat cerai untuk Dila, tapi dia juga tidak mau kehilangan pekerjaan dan kedudukan hanya karena cinta buatannya kepada Dila.
"Nggak usah di pikirkan. Kalau soal Reno kamu bisa ajak Reno kemari dan kita akan mengurusnya kalau dia sudah besar." ucap Clara memahami apa yang sedang di pikirkan suaminya. Sementara Ricko hanya fokus pada jalanan seraya berpikir.
"Tapi aku tidak tahu bagaimana keadaan mereka, aku bahkan enggak kasih Dila uang sejak beberapa bulan." ucap Ricko menoleh kanan kiri jalan kesal, menyesal setelah terjadi.
"Sudahlah, aku tidak mau ada drama kesedihan setelah kamu selalu bilang bahwa Susan yang terbaik, jangan sampai sekarang kamu bilang bahwa Dila yang terbaik. Lalu aku ini apa? Atau aku juga harus jadi mantan kamu dulu biar kamu paham akulah yang terbaik?" marah Clara.
"Kenyataannya memang Susan itu baik, Dila juga baik dan malah aku..."
"Kamu menyesal?" Clara menoleh Ricko. Dia mendelik tajam.
"Tentu saja, kamu tahu sejak awal aku enggak setuju dengan surat cerai ini. Tapi kamu maksa!" kesal Ricko, dia gelisah memikirkan Dila dan Reno.
"Tapi enggak bercerai juga Clara. Kalau sudah begini artinya aku akan kesulitan bertemu Reno!" suara Ricko meninggi.
"Halah, belum tentu juga Reno itu anak kamu!" marah Clara.
"Diam kamu, Reno itu anak aku. Aku tahu persis dia anak ku!" marah Ricko menoleh tajam Clara.
"Aku enggak yakin, bisa saja kan dia juga melakukan itu kepada banyak laki-laki tanpa setahu kamu!"
"Dila enggak begitu! Asal kamu tahu saat aku melakukannya dia masih perawan. Enggak seperti kamu yang jelas-jelas sudah mahir dalam urusan begituan." ucap Ricko marah.
"Sialan kamu! Aku tidak sudi di samakan dengan perempuan rendahan macam dia!"
"Yang rendahan itu kamu Clara!"
"Brengsek kamu Ricko, bahkan kamu tidak lebih dari seorang pengemis di jalanan tanpa aku!"
"Hoh, ternyata yang di katakan Dila itu benar. Kamu memberikan sesuatu lalu kemudian membuat kamu malah menghina. Kamulah perempuan yang paling rendah yang pernah aku kenal!"
"Sialan, brengsek kamu Ricko. Tidak tahu diri! Menjijikkan!" dan berbagai kata umpatan keluar dari mulut Clara sambil merebut setir mobil.
"Clara, jangan Gila! Kita bisa mati!" bentak Ricko berusaha mengendalikan kemudi yang sudah di tarik-tarik Clara.
"Mati aja, kamu yang akan mati!" marah Clara dengan tatapan nanar berapi-api, dia tak peduli beberapa kendaraan nyaris tertabrak karena laju mobil mereka yang tidak baik.
"Clara! Kamu gila!" menyingkirkan tangan Clara tapi tak bisa, malah laju mobil mereka semakin oleng.
__ADS_1
Dan tidak bisa di hindarkan lagi, sebuah truk besar melaju dari arah berlawanan menabrak mobil mereka tanpa aba-aba.
Brakkkk!!!
Bugh!!
Dua orang di dalam mobil itu tak bisa bergerak. Mobil mereka ringsek, truk itu menghancurkan bagian kepala mobil hingga ke tengah. Kedua orang tersebut terjepit dan berdarah.
"Dila." ucap Ricko pelan, Clara mendelik tanpa bisa berkata.
Riuh kemudian banyak orang menghampiri mobil dan truk yang sudah tumpah barang bawaannya.
"Cepat tolong mereka." suara tak asing itu masih dapat di dengar Ricko.
Hingga beberapa orang berhasil mengeluarkan Clara lebih dulu, tapi ucapan mereka sungguh mengejutkan Ricko. "Dia sudah meninggal."
"Ricko!" panggil seseorang itu samar masih bisa di lihatnya.
"Dit." panggil Ricko pelan, menggenggam tangan Radit.
"Tetap sadar ya, kita ke rumah sakit." ucap Radit.
"Dit, Dila." ucapnya sesak.
"Ya, Dila kenapa?" Radit fokus membawa tubuh Ricko yang penuh luka bahkan sangat parah di bagian bawah dan kepalanya.
"Dila."
"Ricko!" Radit menepuk pipi Ricko keras, dia takut laki-laki yang menjadi saingannya dulu itu meninggal karena mendadak menutup mata.
"Pak, nafasnya enggak ada." ucap petugas ambulance itu menatap Radit.
"Ya Allah..." ucap Radit lemas.
...*** TamaT***...
*
*
*
*** Bahwa hati yg sakit, pasti akan terbayar dengan rasa sakit pula. Hanya waktunya kita tidak tahu. Jika beruntung maka kita akan mendengarnya, juga menyaksikan Karmanya. ***
Terimakasih sudah membacanya novel receh ini sampai akhir.
Sampai jumpa lagi di lain waktu...
Jangan lupa selalu bahagia...
Waktu tidak akan terulang, jadi jangan dibuang-buang...
Salam sayang, salam hangat buat semua yang sudah mampir.
...Terimakasih...
__ADS_1
...***💖💖💖💖💖***...