
"Wah, ternyata dia kegatelan, minta digaruk sampai lecet!" geram ku di dalam hati. Tak bisa selalu menyalahkan lelaki jika si perempuan malah lebih menginginkan untuk di datangi.
Kalau ku hajar dia di luaran, apakah tidak terlalu memalukan? Aku ingat masih punya sedikit harga diri juga rasa malu. Masak aku harus buang tenaga menghajar Dila, setakut itukah aku kehilangan Mas Ricko?
Ah, aku semakin kacau saja menghadapi Mas Ricko juga Dila.
Andaikan selingkuhan Mas Ricko itu adalah Janda yang usianya tak jauh dariku, aku pasti sudah melabraknya karena memang setara. Ini malah bocah yang aku tahu persis baru berapa lama dia keluar dari perut ibunya. Harusnya Mas Ricko malu!
"Jangan lupakan, Dila yang ku anggap bocah setiap malam menunggu suamiku datang untuk bercinta! Dia bukan anak kecil yang polos San!"
Oh Tuhan, aku jadi memiliki dua sisi di dalam diriku.
Astaghfirullah... Apakah aku akan menjadi gila karena suamiku berselingkuh? Jangan sampai!
Belum lama aku menerima pesan dari Cindy, satu pesan lagi dari Dani yang membuat aku semakin pusing kepala.
"Mbak baru saja Mas Ricko menelpon Dani, Mas Ricko minta uang bengkel 2 juta."
"Jangan di kasih!" balas ku.
Bergegas aku beranjak meraih switer dan mengunci pintu. Aku harus ke Bengkel sekarang juga.
Tiba di sana, ku lihat Dani dan Rahmat masih berkutat dengan sebuah mobil. Meskipun jarang tapi beberapa mobil juga masuk ke bengkel ku ini. Aku bersyukur memiliki pegawai seperti Dani dan Rahmat, mereka memiliki keahlian setara dengan pegawai bengkel besar di kota-kota.
"Sepertinya kita harus stok sparepart mobil Mbak." ucap Dani selesai dengan aktifitasnya tiduran di bawah mobil.
"Ya, kita kumpulkan modal dulu Dan. Lagian Mbak enggak yakin." ucapku pelan.
Dani hanya tersenyum saja, lantaran dia paham keadaanku.
Seseorang pemilik mobil itu ternyata Andi, dia mendekati kami.
"Berapa Mbak Susan?" dia tersenyum jahil.
"Berapa Dan?" tanya ku membalas senyum Andi sedikit.
Dani menghitung dan mencatat di nota pembelian. Lalu menyodorkan pada Andi.
"Satu juta enam puluh ribu." ucap Andi seraya mengeluarkan uang merah dari dompetnya.
"Terimakasih Andi, semoga pelayanan Dani dan Rahmat memuaskan." ucapku menyimpan uangnya.
"Tentu saja, karena saya puas dengan pelayanannya maka saya balik lagi." Andi terkekeh.
Aku ikut terkekeh, tapi hatiku malah merasa nyeri. Aku teringat Mas Ricko yang sudah bermain gila sama Dila. Artinya dia senang dan merasa puas bersama Dila, makanya dia mengulanginya lagi dan lagi hingga mengabaikan ku.
"Mbak Susan." panggil Andi membuyarkan lamunanku.
"Susan aja kali, kita seumuran." ucapku.
"Oke, Aku cuma mau minta nomor telepon temen mu yang kemarin. Boleh?" dia tersenyum dengan wajah memohon.
__ADS_1
"Kiki?" tanyaku kepada Andi.
"Ya!"
Aku menggelengkan kepala, ternyata pesona temanku yang somplak itu masih tinggi juga.
"Boleh. Tapi ada syaratnya."
"Yah San, pake syarat segala." ucapnya lemas.
"Ya kalau mau, kalau enggak mau juga enggak apa-apa." ucapku kepada Andi.
"Apa syaratnya?" tanya Andi serius.
"Sudah berapa lama Mas Ricko selingkuh dengan Dila?" tanyaku kepada Andi.
"Enggak tahu juga sih San, cuma yang aku tahu Dila itu anak baru, pindahan dari luar kabupaten kayanya. Belum juga satu semester."
"Kalau itu aku juga tahu, kan dia kos di rumah sebelah?"
"Heheh.." Andi nyengir kuda.
"Kamu harus lebih dewasa menyikapi pengkhianatan suamimu. Suami yang menyayangi istrinya tidak akan berselingkuh San." Saran Andi.
"Ya, aku tahu."
Lama mengobrol hingga Sudah pukul dua siang, aku ikut makan bersama Dani dan Rahmat. Ternyata makan bersama dengan mereka membuatku sangat lahap, atau mungkin karena kami sudah kelaparan melampaui jam makan siang.
"Enggak ah, Mbak kekenyangan ini." jawabku menyandar enggan beranjak kemana-mana.
Tak lama kemudian suara motor yang pastinya sangat ku kenal berhenti di depan bengkel, Mas Ricko!
"Dan, mana uang yang_"
Ucapan Mas Ricko terhenti ketika melihat aku duduk di dipan kecil menyandar di dinding.
"San? Kamu di sini Sayang?" tanya Mas Ricko terlihat gugup.
Aku tersenyum. Berpura-pura tenang padahal ingin sekali aku mengamuk karena Mas Ricko datang untuk mengambil uang.
"Uang apa Mas?" tanyaku santai.
"Oh, itu tadi Ibu sedang butuh uang. Mas Belum gajian." jawab Mas Ricko mencari alasan, ku rasa yang minta uang bukan ibunya.
"Masak Ibu minta uang ke kamu Mas?" tanyaku lagi.
"Bukan minta Sayang, cuma pinjem. Lusa di balikin kok." Mas Ricko mulai meyakinkan aku.
"Kasih aja Dan." ucapku serius, tanpa ekspresi marah apalagi kesal.
"Tapi Mbak?" protes Dani, mungkin pegawai ku ini tidak rela Mas Ricko mengambil uang yang sudah dia kumpulkan bersusah payah dari pagi-pagi sekali.
__ADS_1
"Biar Nanti aku yang transfer ke ibu, mana tahu dia bisa luluh kalau aku yang kirim uang. Tidak usah di pinjem, aku ikhlas Mas." ucapku tersenyum. Tapi tidak dengan Mas Ricko.
"Tidak, tidak. Mas tidak mau kamu kena omel Ibu. Kamu tahu kan kalau Ibu suka mengomel kalau sudah berbicara tentang kamu." ucapnya takut.
"Aku berani kok Mas, lagian cuma di telepon ini." aku tetap bersikeras, membuat Mas Ricko tidak berkutik. Aku senang sekarang.
Sejenak dia mengalihkan pembicaraan, lalu kemudian ponsel Mas Ricko berdering.
"Ibu." ucapnya kemudian keluar bengkel dan menerima teleponnya.
Aku bergegas berdiri, merapatkan diri ke jendela yang tertutup, tepat dimana Mas Ricko berdiri menerima panggilan.
"Iya Bu, tapi tidak bisa buru-buru. Ibu tahu sendiri aku punya istri, gak bisa main cepat-cepat aja, harus sabar!"
Aku jadi heran, kenapa mendadak Ibunya mas Ricko mendesak minta uang.
"Iya... iya. Aku tidak akan pergi kemana-mana, lagipula ibu tahu kalau aku baru saja diangkat jadi ASN. Aku tidak mungkin pergi dari kampung ini." jawab Mas Ricko seperti sedang diancam.
"Ada apa dengan Ibu?" gumamku sambil berpikir.
Aku segera kembali ke meja kasir agar Mas Ricko tidak curiga.
Tampak Mas Ricko kembali dengan wajah bingung, dia mendekati aku dengan tatapan yang entah, sulit aku menerka apa yang sedang dia pikirkan.
"Kruuuuuukkkk..."
Aku menoleh sumber suara, lalu mendongak wajah Mas Ricko yang tampak pucat memandangi diriku.
"Mas lapar?" tanyaku heran.
Dia tersenyum sedikit, mengangguk.
Aku beranjak mengambil nasi di dapur Bengkel, aku ingat masih ada sambal dan ikan goreng satu.
"Makan Mas." ucapku seraya meletakkan piring diatas meja kasir.
Dia menelan ludah, mungkin aroma ikan bumbu itu menggugah seleranya.
"Mas!" panggilku, dia setengah melamun.
"Ya." Dia turun dari meja yang di dudukinya, tapi tak langsung duduk di kursi.
"Terimakasih." ucapnya pelan dan terdengar tulus. Atau dia sedang menyesal?
"Buat apa Mas?" tanyaku, meletakkan air mineral juga di dekat piringnya.
"Buat kamu, sudah menyediakan makanan untuk ku." dia memandangiku dengan sorot mata yang sendu.
"Heh, aku istrimu Mas. Wajar saja aku melayanimu." jawabku fokus menaruh sendok di piring.
"Maafin Mas kalau selama ini mengecewakan kamu."
__ADS_1
Aduh, kok Mas Ricko melow begini? Dia memelukku begitu erat.