
Setelah bertahan dua tahun baru bilang lelah?
Tanpa memperpanjang perdebatan aku keluar dengan tas kecil saja, toh kalau pakaian tentu ada banyak di rumah Mama.
"Mau kemana San?" Mbak Tami berjalan mendekati ku.
"Mau pulang ke rumah Mama Mbak." jawabku.
"Sendiri?" tanya Mbak Tami menyelidik.
Aku mengangguk saja.
Sedetik kemudian Dila keluar dari pintu rumah Mbak Tami sambil menggendong Arya anaknya Mbak Tami.
Ternyata mereka cukup dekat, dibandingkan dengan anak kost yang lain Cindy pun tidak pernah sampai masuk atau bertamu sama Mbak Tami.
"Lama San?" tanya Mbak Tami lagi.
"Seminggu Mbak." jawab ku melihat jam tangan.
"Wah, repot dong suamimu." aku tersenyum sedikit.
Ku lirik Dila yang tak juga bersuara, matanya melirik ke belakangku. Aku yakin Mas Ricko sedang berdiri di pintu. Aku menoleh.
Ternyata benar, Mas Ricko sedang tersenyum tipis sambil berpandangan dengan Dila.
"Mas?" tegur ku.
"Itu Arya bikin gemes. Kapan ya kita punya anak ganteng seperti Arya?" dia semakin tersenyum, palsu.
Aku sangat yakin jika Mas Ricko ada main dengan Dila, murid SMA yang kegatelan. Rela tubuhnya di sentuh suami orang demi uang. Begitulah kira-kira yang aku pikirkan.
Sabar... Aku menarik nafas. Padahal jelas sekali mereka sedang saling menatap, atau sedang berbicara lewat mata. Tidak salah lagi, cara Dila mencuri pandang pun terlihat berbeda.
Dosa enggak ya kalau aku doakan mata mereka bengkak bintitan sampai buta? Bilangnya senang melihat Arya, nyatanya girang melihat wanita binal yang selalu tampil menggoda.
Haruskah aku memukul wajah Mas Ricko, atau mencakar wajah Dila yang menjijikkan? Heh... Tidak adil jika hanya aku yang menderita.
Akhirnya mobil yang akan mengantarku sudah datang, begitu gesit Mas Ricko membukakan pintu mendahului aku. "Sudah tidak sabar ya Mas?" pikirku.
"Hati-hati di jalan Sayang." pesannya kemudian mengecup pipi dan keningku.
"Mas Juga, Jangan berantakan." pesanku basa-basi saja.
"Siap Sayang." begitu sumringah senyum di wajahnya.
Pintu mobil tertutup rapat, lampu bagian belakang juga tidak nyala sehingga aku bisa melihat bagaimana Mas Ricko kemudian melangkah ke rumah Mbak Tami setelah dada-dada.
"Mas!" panggilku kepada sopir di depanku.
"Iya Mbak."
__ADS_1
"Tolong putar arah." perintahku tak bisa pergi dengan penasaran.
"Hah!" sepertinya sopir itu enggan.
"Ku bayar dua kali lipat, tapi putar balik dan berhenti di tikungan gang." pintaku lagi.
Pria muda itu akhirnya menurut, pelan mobil yang baru melaju beberapa puluh meter ini akhirnya berbalik.
"Kita ngapain Mbak?" tanya sopir itu heran ketika aku memintanya berhenti.
Tak ku jawab, dari jarak 40 meter ini bisa ku lihat Mas Ricko sedang mengajak Arya bercanda, tangannya mengusap kepala Arya, tapi sesekali memegang bahu Dila. Mata mereka bertemu saling menikmati, dan parahnya Mbak Tami ikut tertawa-tawa di samping mereka.
Ya Allah...
Tak hanya Mas Ricko dan Dila pengkhianatnya, tapi juga tetangga ku, Mbak Tami.
Dadaku seperti terbakar dengan pemandangan jauh tanpa halangan ini, aku sudah tidak bisa hanya berdiam.
Aku meraih tasku dan membuka handle pintu mobil.
"Mbak, sebaiknya kita berangkat." cegah sopir yang kata Mas Ricko bernama Andi.
Tak mungkin aku bercerita, aku tetap membuka pintu tapi ternyata Andi menguncinya.
"Mas, tolong di buka! Aku harus menyelesaikan urusanku!"
"Mbak Susan mau apa?" tanya sopir itu membuatku kaget.
"Ya, Mbak Susan kan mau pulang ke kota?" tanya pria itu lagi.
"Kamu tahu namaku?" tiba-tiba aku khawatir.
Pria itu menarik nafas, menyandar tapi menatapku dari spion depan.
"Kamu istrinya Ricko, sedangkan aku temannya mengajar. Ya jelas tahu."
"Terus kenapa kamu melarang aku turun, aku yakin kamu juga tahu apa yang membuatku ingin turun dan menghajar mereka!" bentak ku dengan nafas naik turun.
"Maghrib ini Mbak!"
"Terus kenapa kalau Maghrib? Atau kamu juga ikut bersekongkol menutupi kebusukan Mas Ricko?" aku tersenyum sinis.
"Aku tidak bersekongkol Mbak, tapi mau ngapain pulang lagi?"
"Cepat buka!" kesal ku.
"Ya sudah." Andi membuka pintunya.
Aku segera turun dan melangkah cepat. Beberapa langkah, tapi kemudian aku berhenti.
Aku berpikir lagi, dapat dipastikan Mas Ricko akan mengelakk, paling jawaban Mas Ricko adalah salah paham. Aku berbalik, menoleh sopir yang belum beranjak memandangi langkahku.
__ADS_1
Aku kembali ke mobil, masuk melewati dia yang masih berdiri.
"Nggak jadi pulang?" tanyanya ikut masuk, mulai menghidupkan mesinnya.
"Jalan." perintahku, mendapat gelengan kepala dari Andi. Aku ingat Mas Ricko punya teman bernama Andi, dan ternyata dia.
"Kalau lelah tidur saja, saya bukan orang jahat." dia membuka obrolan ketika mobil sudah melaju jauh.
"Kamu temannya Mas Ricko?"
"Ya." dia melirik spion lagi.
"Artinya kamu tahu dong, tentang Mas Ricko yang selingkuh dengan murid mu?" tebak berhadiah, aku yakin aku akan mendapatkan jawabannya.
"Kalau itu aku tidak tahu, lagian selama suamimu diangkat menjadi ASN kami jarang mengobrol, bahkan tidak pernah datang ke rumah kepala sekolah seperti dulu. Kalau dulu kami sering ngobrol dan ngopi bareng, sekarang udah enggak. Katanya dia sibuk."
"Hah! Bukannya dia sering pamit untuk ke rumah kepala sekolah?" aku menatap heran kepada Andi.
"Kapan?" dia balik tanya.
"Sepuluh hari lalu, sepulang dari kabupaten Mas Ricko langsung ke rumah kepala sekolah sampai larut, dia bilang perginya nebeng kamu. Dan hari-hari sebelumnya pun sering Mas!" aku jadi emosi sendiri.
"Mana ada, orang kepala sekolah Minggu lalu ikut ke kabupaten, terus nginep di rumahnya, baru Selasa pagi balik ke sini." jelas Andi.
Ya Allah, apalagi ini.
Artinya Mas Ricko sudah sangat banyak membohongiku. Kalau bukan kerumah kepala sekolah lalu kemana?
Tidak salah lagi, dia selingkuh! Jika tidak maka tidak mungkin sampai berbohong hanya untuk begadang bersama teman-temannya, toh selama ini aku tak pernah melarang.
Tanpa sadar luruh sudah air mata ku, dua tahun ini ternyata tidak berarti apa-apa untuk Mas Ricko. Bahkan segala kesakitanku sia-sia, tidak dihargai olehnya.
"Maaf, aku tidak tahu apa masalahnya." Andi jadi serba salah.
Perjalanan menuju rumahku terasa lama, dadaku sesak, tubuhku lemas tak bertenaga. Teringat ketika aku tetap nekad untuk menikah tanpa Papa, Mama menangisi ku, Papa sempat di rawat di rumah sakit karena kesal padaku ketika itu.
Sekarang aku sedang menerima balasannya, jika dulu aku mengkhianati cinta Papa dan Mama, sekarang aku sedang dikhianati oleh suami yang membuatku durhaka.
Rasanya sakit sekali, ketika kita sudah berkorban banyak, tapi di balas kecurangan. Tega...
"Sudah sampai Mbak Susan."
Aku melamun sekaligus menangis cukup lama.
"Aku akan pulang setelah satu Minggu." ucapku tak merubah rencana.
Dia meraih kertas kaku di depannya. "Hubungi saja aku kalau mau di jemput, jangan naik mobil sembarangan kalau sendirian." memberikan kepadaku.
"Terimakasih."
Tak mau berbasa-basi, bahkan sekedar ajakan mampir pun tak keluar dari mulutku. Aku ingin segera masuk dan bertemu Mama, aku sudah terlalu berdosa.
__ADS_1