Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku

Anak Kos Di Rumah Sebelah, Selingkuhan Suamiku
Musuh Dalam Selimut


__ADS_3

Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap pergi ke kantor, setidaknya ini sudah lima bulan lebih satu Minggu Mas Radit mengerjakan proyeknya. Dia sudah berjanji untuk pulang sebelum enam bulan. Aku rasa dia akan muncul tanpa memberitahuku, atau malam hari ketika aku sudah tidur dia akan menemui ku? Hah, otakku benar-benar sudah rusak sejak memikirkan Mas Radit.


"Selamat pagi Ibu Susan." Sapa scurity kantor tersenyum hormat.


"Selamat pagi Pak." balas ku seraya berlalu.


Sungguh suasana hatiku sedang baik hari ini, setelah kunjungan beberapa Minggu yang lalu aku mulai menguasai cara kerja perusahaan Papa ini. Aku mengerti proses dan siapa saja orang penting yang harus ku hubungi. Bahkan di daerah perkebunan aku turun tangan untuk memahami situasi, juga kondisi keluar masuk barang dan uang. Kata Papa, kita harus melihat dengan mata sendiri dan mencoba dengan kaki sendiri agar bisa menimbang rasa kepada pekerja, baik yang ada di kantor atau juga di lapangan. Itu penting bagi seorang pemimpin. Dan aku paham sekarang, aku tidak boleh seenaknya kepada pegawai, bahkan buruh perkebunan sekalipun, mereka sama seperti aku, mencari uang untuk memenuhi kebutuhan.


"Pagi Bu." sekretaris Papa menyapaku.


"Pagi Lin, apakah Clara sudah datang?" tanyaku seraya masuk keruangan ku. Seperti biasa Linda akan masuk ke ruangan ku pagi hari jika ada sesuatu yang penting.


"Sudah Bu, justru itu saya ingin berbicara dengan Bu Susan."


Aku menoleh, sebelum akhirnya aku duduk di kursiku. Ku lihat Linda menutup pintu.


"Ada apa?" tanyaku penasaran.


"Juna di pecat Bu." ucapnya mengejutkan aku.


"Hah! Di pecat?" aku berpikir lagi, bagaimana mungkin sekretaris yang sudah bekerja lumayan lama dengan Om Danu kini di pecat, semudah itu Clara mengambil keputusan?


"Bu Clara merekrut sekretaris baru." lapor Linda lagi, membuat kening ku berkerut. Tentu Linda akan kesulitan menyesuaikan kinerjanya dengan sekretaris baru Clara. Bahkan sudah lebih delapan tahun Juna dan Linda menjadi partner kerja yang serasi, sekarang malah di ganti.


"Ya sudah, aku akan berbicara dengan Clara. Kamu tetap bekerja sesuai apa yang sudah biasa kami lakukan, kamu tumpuan perusahaan ini sekarang. Bahkan aku dan Clara hanyalah pemula." ucapku menenangkan Linda. Tentu dia sedang khawatir, pun dengan aku.


"Aku jadi penasaran."


Aku melangkah menuju ruangan Clara, ku rasa aku harus berkenalan dengan sekretaris barunya itu. Walaupun seharusnya Clara meminta izin dulu padaku.


Aku mengetuk pintu ruangan Clara terlebih dahulu, ku dengar dia sedang berbicara kepada seseorang. Kebetulan! aku memutar kenop pintu dan melangkah masuk.


Degh.


Mendadak ruangan Clara menjadi hening, aku bahkan berhenti melangkah ketika melihat siapa yang duduk di depan Clara. Sungguh aneh bagiku melihat dia di ruangan ini.


"San!" dia berdiri menyapa ku.

__ADS_1


"Ngapain kamu ada di sini Mas?" tanyaku. Terlepas dari rasa terkejut, aku tidak menyukai keberadaan Mas Ricko, dia malah tersenyum.


"San, sekarang Ricko adalah pengganti Juna. Ku harap kau tidak keberatan."


"Tentu saja aku keberatan." sahutku sedikit meninggi, aku tidak suka Clara mengambil keputusan sendiri.


"Maaf San, aku berhak memilih siapa yang menjadi wakilku. Begitu pula denganmu." tegas Clara. Sungguh membuat aku menggeleng, tak percaya.


"Maaf, kalau begitu aku permisi." Mas Ricko melirikku, dia berlalu keluar meninggalkan kami berdua.


"Kau tahu jika Mas Ricko adalah mantan suamiku, harusnya kau membicarakan ini padaku terlebih dahulu!" kesal ku.


"Aku tahu, tapi kau juga tahu kalau Ricko adakah ayah dari anakku. Tidak ada kata mantan bagi Richa anakku."


"Gila! Apakah hamil dan membesarkan anak sendirian belum cukup membuka matamu bahwa dia bukanlah orang yang baik?"


"Tentu saja aku sangat mengenal Ricko. Andaikan kau tidak ada, mungkin Richa tidak akan lahir dan besar tanpa ayah!"


"Kau menyalahkan aku?" aku tertawa heran.


"Jangan berpikir bahwa aku masih menginginkan Mas Ricko! Itu tidak benar."


"Hutang budi Papa ku lunas dengan penderitaan ku hamil dan melahirkan seorang diri karena kau mengambil Ricko dariku. Mau tidak mau kau harus menyaksikan bahwa Ricko adalah ayah dari anakku." ucap Clara seraya menunjuk pintu keluar. Sungguh aku tidak menyangka dengan pemikiran Clara.


Aku kehabisan kata-kata untuk menjawabnya, aku sedang berpikir tentang masa lalu yang rumit. Apakah karena hutang Budi ayahnya lalu Clara menanggung semuanya sendirian agar tidak menggangguku? Benarkah?


"Bu Susan." Linda memanggilku, menatap bingung aku yang berjalan sambil berpikir.


"Linda, kau gantikan aku hari ini, aku ingin istirahat." ucapku mengusap wajahku.


"Baik Bu." ucapnya mengerti.


Sumpah, rasanya aku ingin berteriak kencang hari ini. Kepalaku sakit mendadak dengan kehadiran Mas Ricko, juga setelah mendengar penjelasan Clara yang bersikap seperti musuh. Ternyata dia tidak sebaik yang aku pikirkan, di balik sikap bersahabatnya ternyata menyimpan banyak rasa yang berbahaya, dia membenciku, dia musuh dalam selimut yang mungkin saja bisa membunuh nyaliku. Terlebih lagi sekarang ada Mas Ricko. Rasanya aku ingin berhenti saja, andaikan perusahaan itu bukan milik Papa.


"Susan? Kok udah pulang?" tanya Mama menatapku heran.


"Gak enak badan Ma." jawabku gontai, aku segera menuju kamar ku.

__ADS_1


"Kamu masuk angin?" tanya Mama masih ku dengar di ujung tangga.


"Enggak Ma, cuma capek." sahutku sedikit berteriak pula.


"Kenapa harus ada Ricko di dalam hidupku." aku bergumam sambil menutup mataku, berharap bisa tertidur di pukul sepuluh pagi ini.


***


Benar saja, ternyata aku tertidur cukup lama. Sehingga aku membuka mata dengan kepala yang semakin pusing saja. Di luar panas terik, bahkan aku berkeringat hebat hingga basah bagian belakangku.


Ku paksa tubuh lemas ku menuju kamar mandi, ternyata tidur juga sangat melelahkan.


Sengaja memakai gaun selutut di siang menjelang sore ini, ku rasa aku akan menghabiskan waktu di taman belakang. Di sana cukup sejuk dan bisa bersantai.


"Makan dulu San." ucap Mama, ku lihat dia begitu sibuk menyiapkan makanan, padahal ini sudah pukul dua bukan waktunya makan siang.


"Nanti saja Ma." jawabku.


"Makan dulu, kamu belum makan, nanti sakit." ulang Mama.


Aku menarik nafas, masih terbawa kesal akhirnya aku melangkah menuju meja makan. Ku lihat ada saus udang dan sayur hijau terhidang rapi.


"Ma, ini makanan kesukaan Mas Radit." aku menatap hidangan itu, akhirnya aku duduk.


"Ya, makanya kamu makan." Mama tersenyum.


Dengan berat hati aku menyendok nasi ke dalam piringku, sedikit. Aku juga mengambil sayur hijau yang sepertinya pahit. Aku tidak suka, tapi aku sedang rindu pada orangnya.


"Ini buat Mas aja."


Sebuah tangan menjauhkan piringku, dan suara khas Mas Radit terdengar dekat telingaku. Aku menoleh.


"Hemm.." dia tersenyum begitu dekat dengan wajahku. Aku melongo dibuatnya, aku sedang bermimpi?


"Ayo makan!" titah Mama.


"Iya Ma." jawab Mas Radit, sungguh dia nyata, Mas Raditku pulang.

__ADS_1


__ADS_2