
Tidak terasa, sudah tiga bulan pernikahan ku dan Susan, hari-hari terasa selalu bahagia karena memang aku selalu berusaha mengerti apa yang dipikirkan Susan istriku.
"Dia adikku sebelum menjadi istriku." batinku, tersenyum memandangi Susan yang sedang menatap bingung meja riasnya.
"Mas, kalau aku enggak dandan ke kantornya..."
"Ya enggak apa-apa." ku dekati Susan yang menurutku sedikit berbeda. Enggan memegang alat make up, padahal biasanya dia berdandan dengan begitu cepat, rapi dan cantik.
"Aku enggak mau jelek Mas." dia menoleh ku lagi, tapi untuk memoles wajahnya masih saja malas.
"Kamu cantik Sayang. Siapa yang bilang kamu jelek?" tanyaku menyibak rambut lurus Susan, mengecup pipinya.
"Ya enggak ada, tapi nanti kamu melirik wanita yang lebih cantik daripada aku. Laki-laki kan suka begitu!" gerutu Susan.
"Kapan Mas melirik perempuan lain?" tersenyum, lebih dekat menyelami mata hitam milik Susan.
"Ya, enggak tahu."
Aku jadi tertawa gemas, memeluk dan menciumi istriku. "Kalau enggak tahu, berarti enggak pernah."
"Takutnya belum."
"Enggak akan pernah." aku meyakinkan Susan, menatap setiap inci wajah halus Susan, tak bosan meski memperhatikan setiap waktu.
"Ya udah, ayo kekantor." ajak Susan menggenggam kemeja yang sudah terkancing rapi di dadaku.
"Kalau lemas begini bagaimana mau ke kantor? Apakah sebaiknya kamu di rumah saja."
"Enggak Mas, di rumah bosan." tolaknya manja.
"Kan ada Mama." bujukku memeluk erat Susan.
"Enggak mau, maunya sama Mas Radit aja." jawab Susan lagi. Sungguh aku semakin gemas saja.
"Dari kecil kamu suka bilang begitu, kapan berubahnya?" tanyaku mengelus rambut Susan.
"Enggak akan berubah, sampai maut memisahkan kita. Aku maunya sama Mas Radit terus, jangan sampai aku jauh dari kamu Mas. Karena aku tidak akan pernah baik-baik saja tanpa kamu bersamaku." rayunya, semakin bergelayut manja padaku.
"Jangan buat Mas mode on lagi, nanti kamu gak bisa bangun." ku goda dia sambil menggelitik perutnya.
"Mau Mas." ucapnya tertawa lepas.
"Enggak, kamu bahkan enggak mau sarapan." aku berusaha menolak meski tak seiring dengan nafasku naik turun kejar-kejaran.
"Mas...!"
"Ayo pergi, nanti telat Sayang." kembali membujuk, membantu Susan berdiri, memeluknya.
"Gak usah kerja ya Mas." pinta Susan malah lain lagi. Membuat ku berpikir, tidak biasanya Susan seperti ini.
"Sebentar." Aku meraih ponsel di saku celanaku.
"Mas." rengek Susan lagi, dia lemas.
__ADS_1
"Iya, Mas mau telepon Linda sama Juna." kemudian langsung berbicara kepada sekretarisku itu.
"Tapi Kita ada meeting pukul delapan Pak." jawaban Linda.
"Hemmm..." aku berpikir lagi, menunduk melihat wajah Susan, sedikit pucat. Jangan-jangan sakit, aku berpikir demikian.
"Ada apa?" tanya Susan, menangkap kebingungan di wajah suaminya.
"Sebentar Sayang, Mas keluar sebentar."
"Kok keluar?" Susan menahan Radit.
"Enggak lama, Lima menit." memberi janji, membentang lima jariku.
"Ya." Susan mengangguk meski terlihat tak ikhlas.
Aku segera keluar, langkah ku terburu-buru dengan melihat kiri kanan ruangan rumah.
"Dit?" Mama memanggil.
"Ma."
"Kok belum berangkat juga?" tanya Mamaku sekaligus ibu mertua itu.
"Papa mana Ma?" tanyaku bukannya menjawab.
"Lagi di belakang, sama Mang Udin." tunjuknya ke arah pintu belakang.
"Oh, makasih Ma." aku segera ke belakang menyusul tapi di hentikan Mama.
"Ada rapat di kantor Ma, tapi Radit enggak bisa ninggalin Susan, kayanya dia sakit." ucapku serba salah. Selain dugaan sakit memang dasarnya Susan enggak mau di tinggal.
"Demam?" tanya Ibu menatap ku.
"Eh, enggak Ma, cuma wajahnya pucat. Radit khawatir." Aku semakin gugup. Kali ini Ibu malah Mama menahan senyum, dia bisa menebak apa yang putrinya inginkan. Sudah jelas dari sikapku, aku tidak pandai berbohong apalagi menutupi sesuatu.
"Ya sudah, biar_"
"Mas!" Panggilan Susan terdengar dari kamarku, aku menoleh Mama, lalu ke halaman belakang. Bingung bahkan belum berbicara dengan Papa.
"Biar Mama saja yang minta Papamu ke kantor." ucap Mama menenangkan aku.
"Benar Ma?"
"Ya, kamu temenin Susan sana." titah Mama tersenyum.
"Makasih Mama." ucapku memandangi punggung wanita yang sudah membesarkan aku itu, sungguh aku tidak bisa merahasiakan apapun, termasuk kemesraan dalam rumah tanggaku ini.
"Mas." panggil Susan keluar dari kamarku.
"Ya." aku segera mendekati Susan dan mengajaknya kembali masuk ke dalam kamar.
"Kok lama?" protes Susan.
__ADS_1
"Bicara sama Mama sebentar Sayang." jawabku pelan.
"Enggak mau jauh-jauh Mas." rengek Susan lagi.
"Iya, besok sudah hari libur sayang, enggak akan jauh-jauh. Mas temenin kamu." bujuk ku memeluk dan memanjakannya.
Benar saja, dua hari itu hanya habis untuk bermanja-manja saja. Tidak ada jalan-jalan atau nonton seperti biasa karena Susan lemas, dan tidak ingin makan apapun. Sumpah aku khawatir.
"Dit!" panggil Mama, di hari Minggu itu.
"Ya Ma." aku keluar menemui Mama.
"Susan masih enggak mau makan?" tanya Mama.
"Iya Ma, tadi Radit pesan Makanan di luar juga dia enggak mau." jelasku.
"Coba kamu ajak ke dokter." ucap Mama tersenyum-senyum.
Aku menoleh kamar ku, memikirkan sesuatu.
"Takutnya dia bukan sakit, tapi sedang mengandung anak kamu." sambung Mama lagi, dia menatapku penuh harap. Begitu pula aku, berkali-kali menoleh pintu kamar, yang mana Susan berada di dalamnya.
"Radit harap begitu Ma." jawabku senang.
"Ya, Mama doakan itu benar." Mama semakin tersenyum haru.
"Kalau begitu, Radit mau ajak Susan ke rumah sakit sekarang." aku segera menemui Susan di kamar, tak mau menunda lagi.
Aneh memang, biasanya Susan akan mengajakku tidur di lantai dua, di kamarnya yang jauh dari siapa-siapa. Tapi belakangan ini dia malah lebih suka tidur di kamarku dulu. Tingkahnya semakin manja, tidak mau di tinggal juga tidak mau makan. Aku jadi tersenyum-senyum membayangkannya.
"Susan enggak sakit Mas." ungkapnya menyandar di bahu ku ketika kami sudah melaju ke rumah sakit.
"Ya, tapi Mas mau kamu di periksa sama dokter." jawab Radit pelan, membujuk dan terkadang merayunya hingga tak terasa sudah sampai di rumah sakit.
"Mau ke toilet sebentar." ungkap Susan menoleh toilet.
"Mas temenin." aku merangkul Susan.
"Enggak Mas, Mas tunggu di sana aja." Susan segera berbelok ke arah toilet wanita.
Tapi kebetulan, aku malah melihat Ricko dan ibunya, juga wanita yang sudah merusak rumah tangga Susan ada di sana.
Sekedar basa-basi akhirnya tak bisa di hindari, namun jadi panas ketika Susan datang. Ibu mertuanya dulu itu ternyata cukup cerewet. Bahkan berakhir perang mulut dengan Susan istriku.
Saling hina pun tak urung terjadi, akhirnya keduanya saling mengatai.
"Aku belum selesai Mas!" protes Susan padaku.
"Iya, tapi kita ke sini bukan untuk ribut, tapi untuk periksa kamu, mana tahu Mas bakal segera punya anak. Anak kita sayang." ucap Radit.
"Aku Mas?" tanya Susan, sambil memegang perut ratanya.
"Ya." aku ikut mengusap perut Susan istriku.
__ADS_1
"Semoga saja ya Mas?" Tak terasa bulir bening jatuh di wajah ayu Susan, penuh harapan sama seperti aku.