
Author POV
Keterlukaan gadis itu sungguh membuatnya terguncang.Bagaimana bisa orang yang sudah menjadi keluarganya menghinanya habis-habisan bahkan mengatakan dirinya seorang jalang.
Hampir selama seharian ini Anggun hanya melamun.Tak ada kata-kata yang ia ucapkan.Hanya sesekali saja itupun saat bapak dan ibunya menegurnya.Selebihnya dia hanya menghabiskan diri duduk merenung sendirian.
Memang sejak didengarnya berita pernikahan Bagas,,tak pernah sekalipun gadis itu melebarkan senyumnya.Dan seperti biasanya,,waktu akan dia habiskan untuk diam melamun.Sampai pada waktu kematian sang ibu,,hatinya semakin terpukul sehingga dia tak sadar bahwa jati dirinya selama ini telah hilang.Anggun yang sering tersenyum dan ceria berganti sosok Anggun yang pendiam dan selalu menampakkan wajah yang tak berekspresi.
Meskipun demikian,,itu bukan berarti senyum yang dimilikinya hilang untuk selamanya.Kenyataannya dia tetap akan memberikan senyum itu pada keluarga Sujono meski dapat dipastikan kalau itu ia paksakan.Dan itu juga berlaku untuk suaminya Adrian.Walau sikap sinis dan dingin yang ia dapatkan,,namun mengingat kewajibannya sebagai seorang isteri yang baik dan harus melayani suaminya,,maka perhatian,,kelembutan dan senyum itu selalu di tunjukkannya.
Namun kediaman Anggun kali ini menggelitik hati sang ibu mertua.Bu Ratih bertanya-tanya dalam hati,,apa yang sebenarnya dipikirkan Anggun saat ini.Tak biasanya gadis itu berlaku demikian.
"Ada apa nduk ?? Sejak tadi ibu lihat kamu diam saja." tanya sang ibu dan kemudian duduk di samping Anggun.
"Ndak ada apa-apa kok bu." jawab gadis itu sambil memaksakan senyum seperti biasa.Hanya sebuah senyum hambar.
"Kamu tidak bisa membohongi ibu nak.Ibu tau siapa kamu."
Anggun tertunduk karenanya.Ya,,dia pasti malu karena kebohongannya dapat di ketahui dengan mudah oleh sang ibu mertua.
"Katakan pada ibu,,sayang....ada apa ??" bu Ratih mulai mendesak.
"Saya....saya hanya teringat mendiang bapak dan ibu.Anggun rindu pada mereka." Ya....hanya itu satu-satunya tempat pelariannya mencari alasan.Sungguh Anggun berharap kalau ibu mertuanya akan percaya pada perkataannya kali ini.
"Hhhhh......kamu masih belum bisa melupakan kematian ibumu rupanya.Hmmm,,ibu tidak menyalahkanmu nak,,tapi kamu juga harus ingat !!! Kalau disini masih ada bapak dan ibu yang selalu ada untukmu."
"Njih bu."
"Ya sudah....Asal kamu jangan berlarut-larut saja.Oh..iya,,kamu sudah memeriksakan kandunganmu apa belum ??"
"Ehmmm...dereng bu."
"Bagaimana kalau besok ?? Besok kan hari Minggu,,Adrian libur.Biar dia mengantarmu."
"Ehhh....ndak usah bu.Nanti biar saya berangkat sendiri saja.Saya ndak enak ngrepotin mas Rian.Apalagi besok hari liburnya." Anggun berusaha mengelak halus.Dan yang sesungguhnya adalah karena dia tau akan menjadi ketidak beruntungannya kalau dia benar-benar minta pertolongan suaminya itu,,karena Adrian sudah pasti akan memperlakukannya dengan dingin.Demi Tuhan,,Anggun tak mau membuat masalah lagi dengan pria itu.
"Anggun...Adrian sekarang sudah menjadi suamimu.Jadi sudah sewajarnya kalau dia mendampingimu dalam hal apapun." sang ibu bertahan."Sudahlah....besok biar ibu yang bicara dengannya.Ibu tau,,kamu pasti takut bicara padanya kan ??"
"Eee...tapi bu..."
"Sudah !! Jangan membantah !! Percayalah pada ibu." bu Ratih memberikan senyum sebagai bentuk dukungan untuk meyakinkan menantunya."Oh...iya,,tadi ibu lihat Dinda mencarimu.Sepertinya dia mau minta diajarkan olehmu.Bukankah kamu seorang guru ?? Ibu jadi beruntung punya menantu seperti dirimu.Jadi nantinya tidak perlu kesana kemari mencari guru les buat Dinda."
Ya....Anggun adalah seorang guru SMP N.Dan sudah dua tahun ini dia diangkat menjadi guru tetap di sekolah setempat.Sebenarnya cita-citanya adalah menjadi dosen di UGM.Dan sebenarnya itu juga tak menutup kemungkinan baginya karena kepintarannya diatas rata-rata.
Anggun sesungguhnya adalah siswa yang cerdas.Dia selalu menduduki peringkat teratas di sekolahnya.Dan itu mempermudahnya dalam menempuh pendidikan,,karena dengan itu dia tak perlu repot-repot membayar uang sekolahnya karena negara sudah memberikan beasiswa padanya.Bahkan diapun di terima dengan mudah di Universitas Gajah Mada,,itupun juga tak luput dari beasiswa yang diterimanya.
Kemampuannya dalam mempertahankan prestasinya sudah tak di ragukan lagi.Itu bisa dilihat dari nilai IPK yang dia dapat berkisar 3,9.Memang masih belum sempurna karena kenyataannya masih ada anak lain yang berada diatasnya.Tapi itu juga tak menjadi masalah karena mendapat nilai demikian tidaklah mudah.Dan para Dosen,,Dekan maupun Rektor di kampusnya juga cukup puas dengan apa yang di dapatnya.
Setelah memperoleh gelar S1,,Anggunpun berniat meneruskan kuliahnya untuk mencapai gelar S2.Dan ternyata itu sangat mudah baginya,,mengingat dia adalah anak yang berkompeten tinggi.Sementara dia sendiri sudah mulai mencoba mendaftar untuk menjadi seorang guru di sebuah SMP N.Namun dia masih sebatas guru bantu disana.Dan disamping mengajar,,Anggun mencoba memulai kuliahnya kembali untuk mengejar gelar S2.
Apa yang menjadi niatnya untuk melanjutkan kuliahnya,,tentunya di dukung sang ibu.Dan seorang lagi yakni Bagas.Karena mereka sudah menjalin hubungan kurang lebih satu tahun.Dan Bagas juga berperan penting dalam karir dan pendidikannya itu.Karena dialah yang sering mengantar jemput Anggun saat berangkat kerja,,maupun kuliah.Dia selalu setia menemani.Itulah sebabnya Anggun sangat tidak percaya kalau akhirnya Bagas akan mengkhianatinya.
Saat itu keberuntungan benar-benar ada di tangannya.Bahkan sebelum menyelesaikan gelar S2 nya,,Anggun sudah di angkat menjadi guru tetap.
__ADS_1
Dan setelah menyelesaikan S2 nya Anggun sempat mencoba ikut tes TOEFL dan IELTS.Hasilnya pun tak meragukan.Skor 600 dan 8 itu cukup memuaskannya.Namun saat berita gembira di dapatnya,,bahwa dia di terima untuk mengajar di Universitas tersebut,,sang ibu jatuh sakit.Penyakit jantung menyerangnya tiba-tiba.Akhirnya terpaksa gadis itu harus mengubur impiannya itu demi sang ibu tercinta.Dan dia harus mengalah untuk mengajar di SMP tempatnya sekarang.
Keesokan harinya....
Adrian sedang membaca koran di taman dekat kolam saat ibunya datang menghampiri bersama Anggun di belakangnya dengan sebuah tas yang tergantung di bahunya.
"Le,,hari ini kamu libur bukan ?? Ibu ingin kamu mengantar Anggun memeriksakan kehamilannya." Dan perkataan itu membuat Adrian menghembuskan nafas kesal seketika.
"Kenapa harus saya ?? Bukankah ada pak Doni." Kata Adrian dengan lagu menolak.
"Tapi kamu suaminya Rian.Sudah menjadi kewajibanmu mengantarkan istrimu kemana dia pergi.Apalagi di masa kehamilannya saat ini." Adrian meletakkan korannya seketika dengan kasar.Dia berdiri dan dengan gusar dia berkata,,
"Kenapa ?? Kenapa harus saya ?? Belum cukupkah saya berkorban ?? Haruskah saya juga mengurusi kehamilannya yang seharusnya menjadi tanggung jawab mas Bagas dan bukannya saya ??"
"Adriiaaannn....." suara ibunya menghardik keras membuat pak Sujono datang seketika."Kamu sudah melewati batas.Tidak seperti ini nak kamu seharusnya bicara..."
"Maaf bu,,tapi hari ini saya ada urusan.Jadi saya tidak bisa mengantarkanya pergi." Adrian kemudian melenggang pergi melewati keduanya dan masih sempat berpapasan dengan bapaknya yang baru saja sampai di tempat itu.
"Sudah saya bilang bu,,biar saya pergi sendiri saja.Anggun ndak pa-pa kok." Anggun mencoba mendinginkan hati sang ibu yang sedikit emosi.
"Jangan Anggun.Ini kehamilan pertamamu.Harus ada yang mendampingimu nak.Baiklah...kalau Rian ndak mau,,biar ibu saja yang menemanimu."
"Ehemmm...ada apa ini pagi-pagi sudah ribut ??" tanya pak Sujono tiba-tiba.
"Ini lo pak,,Adrian....ibu menyuruhnya mengantarkan Anggun memeriksakan kehamilannya..."
"Yaahh...kamu tahu sendiri Adrian masih belum bisa menerima keberadaan Anggun saat ini."
"Biar bapak saja yang bicara padanya." Pak Sujono hendak melangkah pergi,,namun dengan cepat Anggun mencegahnya.
"Ndak usah pak !!! Biar Anggun pergi sendiri saja." kata Anggun mencegah.
"Lho !! Jangan ndukk...wong ada suamimu kok kamu mau pergi sendirian.Piye to ??"
"Anggun ndak pergi sendiri kok pak,,Ibu sudah berjanji akan mengantar Anggun menggantikan mas Rian.Lak nggih ngoten to bu ??" Anggun menoleh kearah ibunya meminta persetujuan dan wanita itupun mengangguk."Lagian tadi mas Rian bilang kalau hari ini dia ada urusan." Tambahnya kemudian memperkuat penjelasannya.
"Hhhh....ya sudahlah kalau itu keputusanmu.Terus....kalian mau pergi ke rumah sakit mana ??"
"Ke rumah sakit Kasih Ibu saja." Putus bu Ratih kemudian dan itu mendapat persetujuan dari suaminya.
Akhirnya merekapun berangkat dengan diantar pak Doni selaku sopir pribadi keluarga Sujono.
Beberapa menit kemudian merekapun sampai di tempat tujuan.Bu Ratih mendaftarkan Anggun ke loket pendaftaran.Dan beruntunglah dia karena mendapat giliran ke 5 setelah beberapa pasien lainnya.
"Nyonya Anggun Kirana ??" seorang perawat memanggil Anggun.Dan itu berarti sudah tiba gilirannya untuk melakukan pemeriksaan.Anggun dengan hati berdebar mulai memasuki ruangan.Ibunya sempat tersenyum dengan maksud memberi dukungan pada sang putri.
"Tidak apa-apa....masuklah !!!" Kata bu Ratih dengan senyum keibuannya.Sedangkan beliau sendiri menunggu di ruangan tersebut.Tiba-tiba matanya menangkap sosok bayangan yang di kenalnya.Dan perlahan-lahan bu Ratih melangkah mendekati orang yang di maksud.
"Andini...." Panggilnya lirih.Orang yang sebutpun akhirnya menoleh.Dan betapa terkejutnya ia saat menjumpai siapa sosok di belakangnya itu.
"Ibu...." desisnya.
__ADS_1
"Ya....apa kabarmu ndukk ??"
"Saya...saya....seperti yang ibu lihat."
Bu Ratih menatap gadis di hadapannya dengan tatapan sedih.Dan tiba-tiba dia memeluk Andini sambil menenggelamkan suaranya dalam tangisan.
"Maafkan Ibu nakk...maafkan keluarga ibu...." suara bu Ratih serak di sertai isakan.
"Untuk apa bu ??"
"Kamu pasti terluka karena keputusan Adrian." Setetes air bening ikut mengalir di kedua pipi Andini.Namun dengan cepat dia menghapusnya sebelum wanita paruh baya yang masih memeluknya itu mengetahuinya.
"Sudahlah bu...semuanya sudah terjadi.Saya juga sudah mengikhlaskan Adrian...." katanya lalu melepaskan pelukan wanita itu.
"Ndukk...ibu benar-benar menyesal atas kejadian ini.Ibu sendiri sebenarnya malu jika harus bertemu denganmu apalagi orang tuamu."
"Ibu...jangan berkata begitu....Sudahlah...."
"Asal kamu tau Dini,,semua ini ada alasannya.Adrian meninggalkanmu karena alasan tertentu."
"Bu,,saya tidak perlu mengetahui alasan tersebut.Dan saya juga sudah ndak perduli.Toh sekarang Adrian juga sudah menjadi milik orang lain." sahut Andini sambil membuang pandangannya.Dia berusaha menutupi rasa sakit yang kembali mencengkram hatinya.
"Ya...kamu benar.Tapi sungguh...ibu sangat menyesal dengan semua ini."
"Kalau boleh tau,,siapa wanita beruntung itu bu...." Tanya Andini kemudian.Sebenarnya dia tidak ingin tau,,tapi entah mengapa bibirnya mengucap begitu saja.
"Dia...dia adalah....."
Belum sempat bu Ratih menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba terdengar seruan keras dari belakang.
"Ibuuuuu......."
Kedua wanita itupun menoleh ke arah datangnya suara.Disana tampak Adrian berdiri dengan nafas terengah-engah.
"Rian....." Seru ibunya setengah terkejut."Kenapa kamu ada disini ?? Bukankah tadi kamu menolak mengantar istrimu untuk memeriksakan kandungannya ??"
"Apa ?? Jadi istri Adrian sedang hamil ??" tanya Andini tiba-tiba.Pandangannya berubah menatap tajam ke arah Adrian.Dan dengan sekali kedipan,,wanita itu dengan cepat mengambil langkah untuk meninggalkan Adrian dan ibunya sendirian.
"Andini....tunggu Andini !!!!" Adrian mengejar langkah Andini dari belakang."Dangarkan aku Andini,,semua tidak seperti apa yang kamu fikirkan...." serunya sambil mencoba menghentikan langkah gadis itu dengan meraih tangannya.Dan ternyata pipi Andini telah basah oleh air mata.
Andini berhenti dan menghentakkan tangannya seketika.
"Jangan sentuh aku !!!" pekiknya kasar.
"Dini....aku bisa jelaskan semuanya..."
"Apa yang perlu kamu jelaskan ?? Bukankah semuanya sudah jelas ?? Jadi sejak kapan kamu sudah mengkhianatiku ?? Dan semuanya baru terungkap saat wanita itu hamil bukan ?? Aku memang wanita bodoh yang mudah percaya dengan pria busuk sepertimu." Andini kemudian melanjutkan langkahnya namun Adrian masih berusaha mencegahnya.
"Tidak Andini....semuanya tidak seperti dugaanmu.Percayalah !!! Hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai Din..."
"Omong kosong dengan semua ucapanmu !!! Pergilah !! Dan jangan ganggu aku !!" Andini lalu mempercepat larinya menyusuri lorong rumah sakit.Dan Adrian hanya bisa mendengus kesal karena amarah.Tangannya mengepal kuat-kuat ke udara.Kini keinginannya untuk membuat Andini percaya semakin kecil.Karena kesalah pahaman barusan sudah menambah sakit hati dan kebencian Andini padanya.
\=========================
__ADS_1