Anggun Bidadariku

Anggun Bidadariku
Langkah yang di tempuh


__ADS_3

Dion sudah selesai mengemasi file-filenya. Dan tanpa menunggu waktu lagi,, dia lalu melangkah keluar dari ruangannya setelah menyambar tas kerjanya dengan cepat. Sekilas di tengoknya jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu hampir menunjukkan pukul lima sore.


"Ah...semoga dia tidak menunggu lama." Gumamnya sendiri.


Namun saat melewati ruangan Adrian,, tiba-tiba langkahnya terhenti karena seruan dari sahabatnya itu. Hampir saja dia melupakannya.


"Tumben kau buru-buru." Adrian menegur saat Dion menghampirinya. Pikirannya sedang bercabang saat ini. Namun untuk sesaat dia harus menangguhkan keinginannya itu. Ada hal yang harus ia selesaikan lebih dulu dengan Adrian saat ini. Semoga Anggun tak marah karena keterlambatanku,,pikirnya.


"Kau masih sibuk??" Dion berbasa-basi.


"Oh....sudah hampir selesai. Bagaimana denganmu sendiri?? Kau masih belum menjawab pertanyaanku."


"Sepertinya hari ini hatiku sangat hoki sampai aku menyelesaikan tugasku bahkan sebelum waktunya pulang. Ehmmm....apakah Kau ada perlu setelah ini??" Dion mencoba memancing.


"Hahh?? Kenapa kau tanya seperti itu??"


"Tidak. Siapa tau kau ada tujuan lain setelah ini?? Menjemput istrimu misal." Adrian menatap Dion sejenak. Tiba-tiba ingatannya kembali pada waktu  beberapa hari yang lalu saat Anggun menyatakan permintaannya untuk menjemput wanita itu selesai pulang kantor. Namun dia menolak dengan alasan sibuk. Dan semalam lagi-lagi Anggun mengungkapkan sesuatu yang sedikit membuatnya berfikir meski untuk sesaat.


"Ada seorang teman yang menawariku tumpangan,, karena kau tak bisa menjemputku...apakah Kau tak keberatan kalau aku bareng dengannya??" Saat itu Adrian sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya memberikan keputusannya.


"Terserah !!! Lakukan apapun yang kau mau,, karena aku tak perduli." Dan kata-kata itu sudah cukup menjadi patokan buat Anggun kalau tak ada harapan baginya untuk mendapat perhatian dari pria yang menjadi suaminya itu.


Bagaimana Dion bisa bertanya seperti itu?? Apakah dia tau tentang pernyataan Anggun tersebut?? Ah...ini pasti kebetulan saja.


"Oh....tidak. Untuk apa??" Adrian mengelak cepat setelah kesadarannya kembali.


"Jadi kau langsung pulang?? Atau akan pergi ke tempat Andini seperti biasanya??"


"Hmmm,, seperti yang kau tau. Hei...kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu padaku??" Tanya Adrian curiga.


"Oh...tidak. Aku hanya berfikir saja,, kapan aku bisa mampir ke rumahmu lagi."


"Kau boleh datang sewaktu-waktu kesana."


"Tapi sayangnya kau tak pernah ada di rumah. Kau terus saja sibuk mengikuti mantan kekasihmu itu." Adrian spontan melempar tatapan tajam pada Dion karena tak suka mendengar pengakuannya barusan. "Ehmm,, sorry...bukan maksudku berkata begitu. Eee....bagaimana kalau besok hari Minggu saja. Aku akan pergi ke rumahmu dan makan malam disana."


"Ok. Aku tunggu."


"Baiklah,, aku pergi dulu." Dion berpamitan.


"Heiii...kau tidak menungguku??" Adrian berteriak karena sahabatnya itu sudah mengambil langkah duluan.


"Sorry,, tapi aku ada perlu."


"Dengan Marisa??"


"Ehmm....yang pasti dengan seorang teman."


"Ya....teman tapi mesra." Adrian mengejek. Namun Dion tak menghiraukannya. Dia sudah merasa terlambat dengan janjinya dengan Anggun.


Dan mobil Xenia itu melaju dengan kecepatan maksimal seperti biasanya kebiasaan Dion dalam mengemudi. Hanya memerlukan waktu sepuluh menit dan sampailah dia di tempat yang dituju.


Hatinya bersorak saat menjumpai wanita yang dia harapkan masih menunggu disana. Ternyata dia menepati janjinya. Dion membunyikan klakson dan membuka jendela kacanya sebagai isyarat kalau dia sudah datang. Dan wanita itu memberikan senyum tercantik yang tidak pernah ia temui selama ini.


Anggun memasuki mobil dan duduk di samping Dion.


"Aku senang kau ternyata mau menungguku. Apakah aku terlalu lama." Dion membuka obrolan sambil menjalankan mobilnya.


"Ah...tidak juga. Aku juga baru saja keluar." Jawab Anggun pelan. "Ehmm...apakah Adrian masih lembur??" Anggun bertanya ragu-ragu.


"Hmmm,, mu...mungkin...karena tadi saat aku pulang dia masih di kantor." Dion menjawab agak sedikit gugup. Sebenarnya dia tak ingin membohongi wanita itu,, tapi bagaimana lagi kalau sahabatnya sendiri sudah memberikan alasan demikian pada istrinya,, dia hanya tak mau membuat wanita itu semakin terluka.

__ADS_1


Sebenarnya Dion tau kemelut rumah tangga Adrian. Bahkan dia tau kalau Adrian selama ini masih terus mengikuti Andini kemanapun dia berada. Sepertinya sahabatnya itu memang masih belum bisa menerima kenyataan kalau dirinya sudah menikah dengan orang lain.


Dan Dionpun beberapa kali menasehati untuk menghentikan kebiasaan buruknya itu. Bagaimanapun juga Adrian sudah menikah,, dan saat ini Anggunlah yang harus jadi prioritasnya. Namun,, sayangnya nasehat itu hanya di telan Adrian mentah-mentah. Ya,, dia mengabaikannya.


"Oh...ya,,aku sudah bilang ke Adrian,, kalau Minggu besok aku akan datang kerumah kalian. Masih ingat dengan janjimu bukan??" Dion mengalihkan pembicaraan.


"Ya...tentu saja."


"Baiklah. Kau harus memasak makanan yang enak buatku. Dan jangan terkejut kalau aku akan menghabiskan semua hidanganmu nanti." Pria itu menyeringai lebar membuat Anggun tak bisa menahan tawanya.


"Apakah kau suka makan??" Tanya Anggun di balik derai tawanya.


"Ya. Itulah hobi ketigaku setelah tidur."


"Dan hobi pertama ??" Anggun mengerdikkan dagunya keatas sebagai bentuk pertanyaan.


"Ehmm...itu....ah,, sebaiknya kau tak usah tahu."


"Apa sih??" Tanya Anggun penasaran.


"Sangat tidak penting Anggun."


"Iya...apa?? Kalau kau tak mau jawab,, aku akan bertanya pada Adrian nih..." Anggun mengancam.


"Jangan !!!" Seru Dion tiba-tiba. Waahhh...kalau Anggun sampai bertanya pada Adrian,, bisa-bisa dia membocorkan semua rahasiaku nih..."Ehmm,,sebenarnya aku suka sekali berganti-ganti pacar." Jawab Dion malu-malu. Dia jadi  menggaruk rambutnya yang tak gatal. Dan meledaklah tawa Anggun seketika.


"Ohh...jadi Kau seorang play boy...."


"Yaahh...orang bilang seperti itu."


"Hmm,, sepertinya aku akan mendapat teman cerita yang seru nih..."


"Maksudnya??" Ujar Dion terbodoh.


Dan obrolan itupun semakin menarik dengan sesekali diiringi tawa dan canda. Bahkan Anggun tak segan-segan melempar ejekan pada pria di sampingnya itu. Entah mengapa dia selalu merasa nyaman jika bersama Dion. Meskipun mereka baru saja saling mengenal.



Andini baru saja keluar dari sebuah mall dan kini hendak menuju parkiran mobil saat tiba-tiba sebuah mobil sedan melaju agak cepat sampai wanita itu tak sempat mengelak.


"Andini....awas belakangmu !!!" Seru seorang teman prianya yang kebetulan berjalan mendahuluinya. Dan untung saja sekelebat bayangan datang dan menyelamatkannya. Mereka jatuh tersungkur bersamaan. Andini terkejut melihat siapa orang yang telah menyelamatkannya.


"Rian..." desisnya lirih.


"Kau tak apa-apa??" Tanya Adrian saat mereka bertemu pandang.


"Ti...tidak. Dan terima kasih kau sudah menyelamatkanku." Seru wanita itu sambil membuang muka.


"Kau masih saja ceroboh seperti dulu." Adrian menggerutu kecil.


"Kau tidak apa-apa Dini??" Teman  Andini mendekat dan dengan cepat wanita itu bangun dari keterjatuhannya.


"Tidak...aku tidak apa-apa." Jawab Andini sambil mengulas senyum. "Maaf,,aku...harus pergi. Sekali lagi terima kasih atas pertolonganmu." Andini beralih pada Adrian kembali. Dan tanpa meminta persetujuan darinya Andini menarik tangan sahabatnya untuk pergi dari tempat itu.


"Dini...tunggu !!!" Adrian mencoba menghentikan langkah wanita itu.


"Ada apa?? Tidak ada urusan yang harus kita selesaikan bukan?? Aku juga sudah berterima kasih padamu." Mata Andini memicing.


"Aku masih ingin bicara denganmu Andini."


"Cukup Adrian !!! Kenapa kau tak berhenti mengikutiku !!" Andini menatap tajam pria yang saat ini sedang menghalangi jalannya.

__ADS_1


"Din...berikan Aku kesempatan untuk bicara denganmu sekali saja." Pria itu menghimbau.


"Tidak ada lagi yang perlu di bicarakan. Di antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi." Andini menolak keras.


"Tidak. Aku masih mencintaimu Dini. Aku bersumpah hanya kaulah wanita satu-satunya yang kucintai."


"Aku tidak perduli dengan perasaanmu. Dan tolong pergilah dari hadapanku. Ayo Niko,, kita pergi." Andini kembali menyeret tangan sahabatnya yang tadi sempat terlepas.


Adrian hanya bisa memandang mantan kekasihnya itu dengan tatapan sedih sekaligus geram.


"Sampai kapan dia akan mengikutimu terus seperti ini??" Tanya Niko setelah mereka sampai di dalam mobil.


"Entahlah...dia bahkan selalu tahu kemanapun aku pergi."


Andini memperhatikan keberadaan Adrian untuk sesaat. Disana pria yang masih jelas sangat di cintainya itu tetap berdiri sambil memperhatikan mobilnya menjauh dari area itu.



Semarang....


"Niken,,sampai kapan kau akan melamun saja??" Tanya seorang pria yang tak lain adalah Bagas,, suaminya. "Kau bahkan jarang sekali makan." Imbuhnya lalu duduk di samping istrinya.


"Bagaimana aku bisa makan mas,, aku masih belum bisa menerima semua ini." Keluhnya sedih.


"Bukankah kita sudah sepakat kalau kita tak akan membahas soal ini lagi?? Kau juga sudah setuju kalau kita akan mencoba periksa kembali ke dokter kandungan yang lain??"


"Tapi aku takut mas,, bagaimana kalau hasilnya tetap sama??" Niken memandang suaminya bimbang. Bagas mengelus dan mengecup puncak rambut wanita itu penuh sayang.


"Jangan pikirkan itu dulu. Sebaiknya kita tidak terlalu fokus pada hal itu. Bukankah usia pernikahan kita masih sangat dini?? Masih jauh untuk kita memikirkan soal anak."


"Ya. Tapi sampai kapan?? Kita juga tak dapat memungkiri kalau pada akhirnya kita tetap akan membahas masalah ini."


"Tentu nanti kita akan memikirkannya. Tapi untuk sekarang ini,,kau harus menenangkan pikiranmu dulu. Lihatlah,, kau jadi tak mau mengurus dirimu sendiri." Mereka terdiam sejenak. "Bagaimana kalau kita liburan?? Aku yakin dengan berlibur,, pikiran kita akan kembali segar seperti semula."


"Tidak mas,, aku sedang tidak berminat."


"Ayolah,, sayang......"


"Aku mau tapi kita ke rumah orang tuamu. Kita pergi ke Surakarta. Bukankah kita lama tidak kesana?? Bahkan setelah pernikahan kita,, sekalipun mas Bagas tak pernah mengajakku kerumah Bapak dan Ibu lagi."


Bagas terdiam mendengar apa yang di utarakan istrinya. Ya,,memang sejak kejadian dua bulan yang lalu,, Bagas tak lagi bertandang kerumah orang tuanya. Bahkan menelfonpun tidak. Perkataan ayahnya yang terang-terangan mengusir dia dari rumah itu,,selalu mengiang di telinganya.


"Ehmm....kenapa harus kesana??" Tanya Bagas ragu.


"Kenapa?? Apakah mas tidak kangen sama bapak dan ibu?? Kenapa mas justru bertanya seperti itu??" Niken memperhatikan suaminya dengan dahi berkerut. "Aku juga heran,, kenapa mereka tak sekalipun menelfon kemari." Gumamnya kemudian.


"Apakah sudah terjadi sesuatu mas??" Tanya Niken tiba-tiba membuat Bagas tersentak.


"Ehh...tidak...tidak...Memangnya apa yang sudah terjadi??" Pria itu mengelak.


Niken menatap suaminya dengan mata memicing. Jelas disana tersirat sebuah kecurigaan. Dan Bagas mengetahui gelagat buruk itu,,maka dengan cepat diapun berujar kembali.


"Baiklah,, seperti maumu. Kita akan kesana. Kau ingin kapan??"


"Sabtu besok. Bagaimana?? Bisa?? Kita akan menginap disana dan pulang Minggu sore."


"Ehmm....sepertinya Aku tidak bisa. Hari Sabtu aku ada pertemuan penting dengan seorang klien. Dan ini mengenai penanaman saham di perusahaan kita...Ehmm,,Minggu pagi saja kita kesana. Dan pulang sore harinya. Bagaimana,, kau tidak apa-apa kan kalau kita tidak menginap?? Kita bisa melakukannya lain kali." Dan perempuan itupun mengangguk setuju.


Bagas bernapas lega lalu memeluk istrinya. Yang sebenarnya,, pertemuan klien itu adalah alasannya saja agar dia tak berangkat hari Sabtu. Bagaimana jadinya kalau dia harus menginap disana?? Dia bahkan tak tahu bagaimana tanggapan orang tuanya mengenai dirinya nanti.


Aku harus melihat situasinya dulu...

__ADS_1


\===============================


__ADS_2