
"Jadi...kapan kita akan menemuinya mas??" Niken mengulas pelan. Keberangkatan Bagas akhirnya tertunda setelah aksi tangis menangis yang baru saja tejadi.
"Tunggulah Niken,, aku akan mencari waktu yang tepat. Yang pasti....akupun juga harus mempersiapkan mentalku sebelum datang menemuinya. Kau tau kalau tak mudah bagiku datang kepadanya dan minta maaf. Aku terlalu dalam melukainya. Aku malu dengan diriku sendiri."
"Tenanglah....jangan lupa kalau aku selalu ada di sampingmu. Kita akan bersama-sama menerima hujatan dari Anggun."
"Dan bagaimana jika Anggun tak mau menerima permintaan maaf dariku??"
"Maka kita akan terus menemuinya,, sampai dia mau memberikan maafnya pada kita." Niken menjeda kata-katanya sejenak. "Kita tak akan menyerah untuk mendapatkan maaf dari Anggun. Aku yakin,, kalau kita berusaha dan pantang menyerah,, Anggun akan luluh nantinya."
"Semoga saja." Ujar Bagas pelan.
"Tapi sebelum itu,, aku mau kau juga melakukan satu hal mas,, aku ingin kau menemui Bapak dan Ibu untuk meminta maaf pada mereka." Niken menatap suaminya penuh harap. Dan pria itu hanya mampu menarik nafas panjang dan berat. Ternyata tugasnya kali ini sangat berat. Semoga aku bisa melewati semua ini...
××××××××
Surakarta....
Waktu sudah menunjukkan hampir pukul lima sore. Seperti biasa,, Dion menyelesaikan tugasnya lebih cepat karena dia ingin segera menjemput Anggun. Kalau di pikir-pikir sudah hampir sebulan dia mengantar wanita itu pulang. Tinggal berapa hari lagi aku bisa bersamanya??
Sementara itu Adrian juga hampir selesai dengan pekerjaannya. Dan pikirannya kini tiba-tiba terarah pada sosok istrinya.
"Apakah sebaiknya aku menjemputnya ke sekolah?? Dia masih ada les bimbingan bukan??" Gumamnya lirih sambil menggaruk ujung dagunya. "Ya...sebaiknya Aku memberikan kejutan padanya." Putusnya lirih.
Adrian kemudian cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya,, dan disaat bersamaan Dion melintasi ruangan tersebut.
"Hei bro...aku pulang dulu ya..." Dion melambaikan tangannya.
"Ok." Adrian menjawab singkat sambil melirik sekilas pada sahabatnya itu. Adrian sudah tidak kaget lagi kalau sekarang Dion menjadi rajin dan pulang lebih awal dari biasanya. Meski dia tidak tahu kenapa mendadak Dion berubah rajin seperti itu,, namun dalam hatinya dia bersyukur kalau sifat pemalas sahabatnya itu akhirnya hilang.
Adrian pun berusaha mengingat kembali,, sudah lama Dion tak mengajaknya lagi untuk keluar. Atau mungkin karena kebiasaannya sendiri yang setiap hari sibuk mengikuti kemana Andini pergi?? Entahlah....
Beberapa menit kemudian,, Adrian sudah selesai dengan pekerjaannya. Dengan cepat di bereskannya file-file yang berserakan di atas mejanya. Semoga aku tidak terlambat,,pikirnya.
Adrian melajukan mobilnya lebih cepat dari biasanya. Dia ingin segera sampai di sekolah tempat Anggun mengajar. Pria itu jadi berfikir,, dengan apa Anggun pulang selama ini?? Oh...ya,, dia lupa. Bukankah beberapa minggu lalu Anggun bilang padanya kalau dia akan bareng temannya?? Ah...kenapa Adrian tidak ingat hal itu?? Apakah saat ini Anggun juga masih pulang dengan temannya itu?? Bagaimana kalau sudah?? Itu berarti kedatangannya sia-sia. Bodoh !!! Kenapa aku tak bilang pada Anggun sebelumnya?? Ahh...biarlah,, aku akan tetap kesana. Siapa tau aku beruntung karena dia masih belum pulang.
Mobil Adrian sampai di tujuan tepat waktu. Hatinya kembali bersorak saat di lihatnya wajah cantik yang setiap hari menghiasi rumahnya itu menyembul dari balik gerbang sekolah,, itu berarti dia belum terlambat.
Namun saat Adrian hendak menyerukan nama Anggun,, tiba-sesosok pria mendatangi wanita itu lebih dulu. Mereka tampak akrab dengan berjalan beriringan sambil ngobrol bersama. Mata Adrian semakin di buat tak percaya manakala mengenal siapa sosok pria di samping Anggun.
"Dion...." desisnya lirih sambil menautkan kedua alisnya. "Apa yang di lakukan anak itu bersama isteriku??"
Dion dan Anggun tak menyadari kalau sepasang mata tengah memperhatikan mereka. Keduanya asik berjalan menuju mobil dan menghilang di dalamnya.
"Bagaimana?? Kita jadi makan malam??" Tanya Dion setelah mereka sampai di dalam mobil.
__ADS_1
"Ya,, bukankah kita sudah sepakat??"
"Ok. Kalau begitu,, aku boleh memilih restoran mana tempat kita makan malam hari ini??"
"Terserah kau saja."
"Baiklah...kita berangkat..." dan mobil itupun melaju menyusuri jalanan kota Surakarta.
Adrian tak mengulur waktu banyak,, dia langsung mengarahkan mobilnya mengikuti kemana dua orang yang di kenalnya itu pergi. Dan selama di perjalanan,, berbagai pertanyaan muncul di benaknya.
Sejak kapan mereka dekat?? Apakah mereka sengaja bertemu,, atau tidak sengaja?? Ah...tidak mungkin ini sebuah kebetulan,, pasti semua sudah di rencanakan.
Adrian kemudian memutar otaknya kembali. Mengingat kata-kata Anggun tempo hari yang akan menumpang temannya,, mungkinkah itu.....Dion?? Lalu di hubungkannya dengan sikap Dion selama ini yang selalu pulang lebih awal dari pada biasanya. Padahal jelas-jelas kalau pulang dia paling belakangan.
Tiba-tiba Adrian teringat satu hal. Bukankah semalam Anggun menghubungi Dion saat kamarku terbakar,, dari mana dia mendapat nomor itu?? Apakah dari ponselku?? Tapi semalam ponselku mati karena low batt. Dan tidak mungkin dia sempat menchargernya saat sedang panik. Apakah selama ini mereka......
Adrian jelas tak dapat menyembunyikan kegelisahannya apalagi saat mobil Dion memasuki sebuah rumah makan. Pikirannya jadi semakin berkecamuk. Adrian bingung dengan keputusan yang di ambilnya,, apakah dia akan ikut masuk atau hanya akan menunggu di luar saja??
Dion dan Anggun memasuki restoran Chinese food. Dion menarikkan sebuah kursi untuk Anggun dan dengan senang hati di sertai senyum mengembang,, wanita itu mendudukkan tubuhnya di kursi tersebut. Sedang Dion mengambil tempat untuknya sendiri di sebarang Anggun.
"Ehmmm,, kau makan apa Anggun??" Tanya Dion saat seorang waitrees menyerahkan dua buku menu. Anggun tampak masih membaca daftar menu di buku itu. "Aku pesan Udang Lada Hitam,, Lumpia goreng,, sama Sup Tom Yam." Kata Dion kemudian.
Waitrees yang berdiri di dekat meja mencatatkan menu pesanan tersebut pada kertas order. "Minumnya tuan??"
"Aku minta Wonton sup sama Tamie seafood. Untuk minumnya,, satu gelas es lemon tea saja." Anggun menyebutkan pesanannya.
"Baik. Di tunggu."
Pelayan itupun berlalu dari hadapan keduanya.
"Jadi terima kasih atas kebaikanmu selama ini Dion." Anggun memulai obrolan yang serius.
"Ah...kau masih saja membahas itu lagi. Bukankah aku sudah bilang kalau bosan sekali mendengarnya."
"Sungguh. Rasanya aku sedih karena tinggal beberapa hari lagi aku melalui waktuku bersamamu."
"Memang kapan kau selesai bimbingan??" Dion jadi tertarik.
"Sabtu ini terakhir. Dan itu berarti dua hari lagi. Jujur kau memberikanku rasa nyaman. Membuatku tertawa. Hal yang lama tak pernah ku temukan,, kau tiba-tiba mengembalikannya padaku. Dan pastinya duniakupun kembali berubah sejak bertemu denganmu."
"Jadi apakah kau mulai suka padaku?? Bagaimana kalau kau tinggalkan Adrian dan menikah denganku??" Pernyataan Dion barusan seketika membuat tawa Anggun meledak. "Hei,, apakah kata-kataku lucu??" Dion terbodoh.
"Kalau tidak,, kenapa aku tertawa??" Anggun masih dalam derai tawanya. Seorang pelayan datang mengantarkan minuman mereka. Dan setelah mengucapkan terima kasih,, pelayan itupun berlalu kembali.
"Hmmm,, kalau begitu aku sudah tidak akan bisa bertemu denganmu lagi??" Kali ini Dion memasang tampang sedih.
__ADS_1
"Kenapa?? Kau bisa datang ke rumah bukan??"
"Ya,, tapi aku jadi tak ada alasan untuk mengajakmu makan malam lagi."
"Kita juga bisa melakukannya di rumahku Dion. Makan malam kan tidak harus di luar. Aku bisa membuatkan menu apapun. Nanti aku bisa belajar dan cari resep-resep di internet."
"Huuuhhh....kau bisa saja menjawab." Dion nampak bersungut. "Kalau begitu...bagaimana kalau Sabtu besok kita makan malam lagi?? Atau nonton mungkin?? Yah...anggap ini perayaan pelepasan aku mengantarmu." Serunya kemudian.
"Kau ini bisa saja. Tapi kalau nonton,, kayaknya aku nggak bisa. Kau tau sendiri,, nonton perlu waktu lama. Aku takut Adrian akan pulang sebelum kita menyelesaikan filmnya."
"Baiklah...kalau begitu kita makan malam saja." Putus pria itu kemudian. Sebenarnya dia berharap sekali akan mengajak Anggun nonton. Tapi yahhh,, apa boleh buat. Bagaimanapun juga dia tetap harus menghargai keinginan wanita itu.
"Ya,, tapi kali ini aku yang menentukan dimana tempatnya." Anggun mengajukan syarat.
"Ok."
"Dan satu hal lagi,, kali ini gantian kau yang mentraktirku,, bagaimana??" Anggun melebarkan senyumnya menantang.
"Siapa takut?? Aku akan mentraktir sepuasmu."
"Jangan kaget kalau aku sampai menguras kantongmu nanti." Anggun mengancam sambil di iringi tawa kecil di bibirnya.
"Ciihh,, meskipun kau beli satu restoranpun,, ku jamin aku masih belum bangkrut untuk itu."
"Isshhh....kau sombong sekali." Anggun mencibirkan mulutnya. Dan kali ini Dion yang terkekeh karenanya membuat wanita itu kesal. Mata tajam pria itu melirik sekilas kesalah satu sudut ruangan. Hanya beberapa detik saja sebelum akhirnya dia mengembalikan fokusnya pada wanita di depannya.
"Jadi....anda mau pesan apa tuan??" Seru seorang pelayan pada seorang pria yang beberapa menit lalu masuk kedalam restoran itu. Tidak salah lagi kalau itu Adrian. Setelah perdebatan seru di dalam batinnya,, dia akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam. Tentu hatinya tak bisa di biarkan bermain teka-teki dengan apa yang di lakukan istri dan sahabatnya di tempat yang sama. Jelas rasa ingin tahunya jauh lebih besar.
Dan setelah mengambil meja di tempat yang pas,, diapun mencoba mencuri dengar setiap pembicaraan Anggun dan Dion. Namun sia-sia karena jarak mejanya masih agak jauh. Jadi perbincangan Anggun dan Dionpun hanya terasa seperti angin saja di telinganya.
Ah....sial !!! Gerutunya dalam hati. Apa sebaiknya aku mengambil tempat yang lebih dekat dengan mereka ya?? Ah...tidak...tidak...aku bisa ketahuan kalau begini. Biarlah....aku akan mengawasinya saja dari sini.
"Jadi....anda mau pesan apa tuan??" Tanya pelayan itu untuk yang kesekian kalinya. Terlihat kalau nada bicaranya agak sedikit kesal.
"Oh...eh...aku minta satu hot chapuccino sama chicken teriyaki. Terima kasih." Adrian lalu menyerahkan buku menu yang sejak tadi di pegangnya.
Adrian sesekali menoleh kepada dua orang yang tengah duduk di seberang meja. Kelihatan sekali keakraban yang di tunjukkan kedua insan tersebut. Pria itu benar-benar di buat gelisah melihat kemesraan keduanya. Hei....apakah mereka memang terlihat mesra?? Yahhh,, setidaknya sangat berbeda dengan sikap yang di tunjukkan Adrian dan Anggun selama ini.
Dion sudah mengantarkan Anggun sampai rumahnya. Dan selang tak beberapa lama kemudian Adrian menyusul di belakangnya. Anggun di buat terkejut saat pintu rumah kembali terbuka dan rupanya itu adalah suaminya.
"Adrian....kau sudah pulang??" Ini bahkan jauh dari perkiraan Anggun. Dia benar-benar pulang lebih awal dari biasanya. Anggun tak akan pernah menanyai pria itu tentang alasannya soal lembur. Yang pasti dia sudah tau kalau itu semua bohong. Adrian hanya beralasan saja untuk menutupi kebohongannya.
"Ehmm...yach...sebenarnya Aku......"
\===========================
__ADS_1