
Rian masih duduk terpekur sendiri di ruang tengah.Pikirannya melayang pada pembicaraannya sesaat lalu dengan sang ayah.Entah kesalahan apa yang sudah di perbuatnya sampai dia harus menanggung sebuah kesialan dengan menikahi wanita yang sama sekali tak terbersit sekalipun memimpikannya apalagi mencintainya.
"Hallo....Dini...bisakah kita bertemu sekarang ?? Ada hal penting yang mau ku bicarakan denganmu??"
"......"
"Aku akan menjemputmu lima belas menit lagi."
"......"
"Sampai nanti."
Rian menarik nafas panjang.Mungkin ini adalah hal tersulit sepanjang hidup yang akan di lakukannya.Membuat keputusan yang akan sangat menyakiti hati kekasihnya.
Rian bersiap dengan sebuah kunci mobil di tangannya.Kakinya begitu berat melangkah keluar dari rumah itu.Dan suara berat mengejutkannya tiba-tiba bersamaan dengan sebuah tangan kekar dan hitam karena di makan usia,,sedang menepuk pundaknya.
"Bapak percaya padamu nak.Dan jadilah pria sejati yang bapak banggakan."
Rian hanya terdiam mendengar pesan dari ayahnya.
"Saya pergi dulu pak,,assalamualaikum..."
"Waalaikum salam..."
Rian sudah sampai di rumah Andini.Seorang pembantu rumah tangga dengan perawakan gemuk datang membukakan pintu.
"Eh...mas Rian...mari masuk mas." Kata perempuan itu dengan senyum genitnya.
"Iya.Dininya ada ??" Tanya Rian basa-basi.Yang sebenarnya dia tau bahwa Dini memang ada di rumah atau bahkan mungkin sedang menunggunya saat ini.
"Ada mas.Sebentar ya,,saya panggilkan.Oh...ya,,mas Rian mau minum apa ??"
"Ndak usah repot-repot Sur.Aku cuma sebentar kok disini."
"Oh....Ya sudah,,saya panggilkan mbak Dini dulu ya kalau begitu."
Dan Surti,,pembantu rumah itupun berlalu dari hadapan Rian bersama munculnya seorang wanita paruh baya dari ruangan yang lain.
"Nak Rian...sudah lama ??" Yang di tanya cepat-cepat bangkit dari duduknya dan menyalami perempuan itu.
"Belum bu.Baru saja."
"Mau keluar sama Dini ??" perempuan itu lalu duduk di hadapan Rian.
"Njih bu.Ehmm....soal acara pertemuan tadi siang....maaf bu,,kalau kami membatalkan pertemuannya."
"Oh..itu.Sudahlah nak,,jangan ndak enak hati gitu.Kami ndak masalah dengan itu.Lagian pas banget karena bapak hari ini dapat telfon dari saudaranya,,ngasih kabar kalau eyangnya Dini sedang sakit.Jadi bapak langsung pergi saat itu juga."
"Ibu....kenapa tidak ikut ??"
"Mungkin besok ibu menyusul.Karena ibu ndak bisa meninggalkan Rino sendirian tanpa pesan."
Rian hanya mengangguk-angguk mengerti.Rino adalah adik laki-laki Andini.Usianya tak jauh beda dengan Dinda adiknya sendiri.Dan tak beberapa lama kemudian muncullah wanita yang di tunggu.
Rian tertegun saat melihat kekasihnya tersebut.Cantik seperti biasanya.Sedikit polesan di pipi dan bibirnya memberikan kesan dewasa dan menawan.Bulu mata yang lentik itu berkedip-kedip seakan mengundang pria yang di cintainya ingin mengecup kelopak mata indah itu.Dan sebuah gaun pink cerah menambah kesan awet muda seperti dia masih seorang gadis remaja.
"Yuk berangkat !!!" Dini mengajak dan mendapat sebuah anggukan sebagai tanda persetujuan dari Rian.
"Bu,,kami pergi dulu." Rian memohon pamit sembari mencium kembali tangan Ibu Retno dan mendapat senyuman dari wanita itu.
"Bu,,Dini keluar dulu.Assalamualaikum..."
__ADS_1
"Waalaikum salam.Ingat !!! Pulangnya jangan malam-malam ya."
"Njih bu." jawab Andini dan Rian bersamaan.
Kedua sepasang kekasih itupun masuk kedalam mobil Suzuki Ertiga silver milik Rian.Dan tak berapa lama kemudian mobil itupun melaju menyusuri jalanan kota Surakarta.Tak ada pembicaraan yang mereka lakukan.Namun sepanjang jalan Rian tak lepas dari menggenggam tangan Andini.Hanya sesekali saat memindah gigi persneling saja dia melepaskan genggamannya,,namun setelah itu Rian akan meraih tangan kekasihnya kembali.Dan hal itu membuat Andini mengerutkan keningnya sambil tersenyum geli.
Beberapa waktu berlalu.Mereka kini sudah memasuki sebuah rumah makan yang menjual seafod dan ikan bakar.
"Kamu mau makan apa ??" Tanya Andini sambil membaca buku menu.
"Hmm....terserah kamu saja." jawab Rian yang sejak tadi terus saja memperhatikan wajah Andini dengan intens seakan ia tak ingin melepas pandangannya sedikitpun dari gadis itu.
"Ehmm...mbak,,kami pesan udang lada hitam,,kangkung hot plate,,gurami bakar sama nasi putih dua.Dan minumnya....hmm....jus mangga satu sama tropical punch satu." Andini menyebutkan beberapa menu yang ada di buku pemesanan.
Pelayan itupun kemudian berlalu setelah mengucapkan terima kasih.Perhatian Andini kini kembali pada Rian.Dan saat inipun dia di buat terheran-heran dengan sikap yang di tunjukkan pria di hadapannya.
"Sekarang katakan !!! Apa yang ingin kau bicarakan denganku." Andini menuntut.
"Jangan sekarang.Nanti saja waktu kita pulang.Saat ini aku hanya ingin menikmati makan malam denganmu." Kembali lagi Rian menatap Andini tanpa berkedip.Pria itu sungguh tak ingin wanita di hadapannya berubah menjadi mimpi yang mana jika dia berkedip,,maka wajah itu akan lenyap.
"Heeii....kamu kenapa siihh ?? kenapa nglihatin aku terus kayak gitu ?? Emang ada yang aneh denganku ??"
"Enggak." Jawab Rian singkat tanpa berniat melepaskan pandangannya.
"Teruuss ?? kenapa kamu melihatku seperti itu ?? Tau nggak,,sejak tadi kamu aneh sekali.Nggak biasanya kamu menggenggam tanganku sepanjang jalan.Dan ini...kamu malah nglihatin aku terus.Sepertiii....."
"Seperti apa ??"
"Seperti kau akan kehilangan aku saja."
Dini....kalau saja kau tau kalau aku memang akan kehilanganmu....
Hati Rian bagai tertusuk seribu jarum.Sakit dan perih.Dan setiap tusukan itu mengalirkan darah dan nanah yang mungkin lukanya takkan pernah kering sepanjang hidupnya.Apa yang akan terjadi kalau dia mengatakan yang sebenarnya ?? Bisakah gadis itu menerimanya ??
"Riaaannnn....Riiiaannn......." Seru Andini sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Rian."Kamu melamun ?? Kamu kenapa sih sebenarnya ?? Sakit ??"
"Aku mencintaimu Andini...." Bisiknya lirih.Gadis itu hanya tertegun dan memandanginya penuh haru.
"Sekarang katakan ?? Kenapa kamu seperti ini ??" Dini mengulang pertanyaannya kembali.
"Aku hanya berfikir bagaimana kalau ini adalah makan malam terakhir kita."
"Riaaannn.....apaan sih ?? kenapa kamu bicara seperti itu ??" Nada bicara Anggun agak meninggi.Ada perasaan tidak suka terpancar dari wajahnya sehingga dia dengan refleks menarik tangannya kembali."Aku tidak suka kamu bicara seperti itu Rian...Dan kenapa kamu sampai berfikir demikian ??"
"Din...kita tidak tau umur kita sampai kapan.Apakah Tuhan masih memberi waktu pada kita untuk bisa menikmati hari-hari kita bersama untuk hari selanjutnya ??" Rian terdiam untuk sejenak untuk kemudian melanjutkan kata-katanya kembali."Sekarang katakan padaku,,bagaimana kalau itu terjadi ??" pria itu menatap kekasihnya dengan tatapan mata sendu.
"Maksudmu ??" Andini mengerutkan keningnya masih tak mengerti arah dari pembicaraan Rian.
"Katakan,,bagaimana kalau salah satu dari kita pergi selamanya ??"
Andini terbungkam karenanya.Namun matanya menatap Rian tak berkedip.Ada sorot kebimbangan yang terpancar dari mata indah tersebut.
"Mungkin....aku akan gila tanpamu Rian.Aku sendiri tak pernah membayangkan bagaimana kalau aku jauh darimu.Bagaimana aku akan menghabiskan hari-hariku tanpa kehadiranmu.Aku tidak sadar,,kalau hubungan kita sudahlah sangat jauh sehingga hampir tak menyisakan jarak sedikitpun bagiku untuk berfikir tentang kemungkinan buruk lainnya.Yang ada dalam pikiranku hanyalah dirimu dan dirimu." Ulas Andini pahit."Dan bagaimana denganmu sendiri ??" tanyanya kemudian berbalik.
Sekali lagi Rian menarik nafas panjang dan kembali meraih tangan Andini.Menciumnya seperti sebelumnya."Mungkin aku tak akan pernah bisa mencintai wanita lain lagi..."
Andini tersenyum sendu.Ada rasa sedih yang menjalari relung hatinya.Ya,,dia sendiri tak pernah membayangkan kalau seandainya dia sendiri yang pergi dari dunia ini,,akan seperti apa Rian tanpanya.
"Dan sekarang jawab pertanyaanku Din...Bagaimana jika suatu saat nanti aku menyakitimu ?? Melukai hatimu ??" Andini mengerutkan keningnya kembali.Dia benar-benar tak habis pikir dengan kekasihnya hari ini.Dan seperti mengerti apa yang di pikirkan wanitanya,,Rianpun memperjelas pertanyaannya."Bagaimana kalau aku tiba-tiba meninggalkanmu dan menikah dengan wanita lain ??"
Skaaak Maaaat !!!!!!
Andini sudah tidak bisa menoleransi kata-kata Rian lagi.Dia bangkit dari duduknya seketika.
__ADS_1
"Aku tidak mengerti denganmu Rian...Ada apa sebenarnya denganmu ?? Hari ini kamu benar-benar aneh sekali.Sikapmu,,ekspresimu,,bahkan pertanyaanmu sejak tadi sungguh tidak masuk akal sama sekali." kata Andini gusar.
"Tenanglah Din...duduklah dulu." Rian menuntun kekasihnya untuk duduk kembali.Pria itu menarik nafas panjang dan berat untuk kemudian berkata."Kak Bagas....ternyata sudah mengkhianati mbak Anggun." Andini terkejut seketika.
"Tunggu !!! Menyakiti ?? Bu...bukankah mereka sudah putus ??"
"Seandainya itu benar.Namun sayangnya....dugaan kita selama ini salah."
"Ja...jadi...."
"Ya.Mereka ternyata masih punya ikatan.Dan yang lebih menyakitkan lagi,,wanita itu sekarang sedang hamil.Dan itu adalah anak kakakku." Andini menutup mulutnya seketika karena tak percaya apa yang di dengarnya."Dan mas Bagas....dia tak mau bertanggung jawab dengan perbuatannya."
"Aku tidak percaya semua ini...Mbak Anggun pasti sangat terpukul olehnya." Andini mendesis."Jadi itukah alasanmu menanyakan hal tadi ??"
"Hmm....anggap saja demikian.Dan apa jawabanmu mengenai hal itu ??"
"Riaann...aku tidak tau apa yang di rasakan mbak Anggun saat ini.Yang jelas sedikitpun aku tak berani membayangkannya.Tapi jika aku di hadapkan di posisi yang sama....mungkin...seumur hidupku aku akan membencimu."
Dan perbincangan itu mati seketika.Semua sibuk dengan pikiran masing-masing.Hingga datanglah makanan yang mereka pesan.Dua orang pelayan menghidangkan makanan.Dan merekapun menyantap menu tersebut tanpa bersuara sedikitpun.Hanya sesekali terdengar suara sendok yang beradu dengan piring makanan.
"Kita akan kemana setelah ini ?? masih jam sembilan.Mungkin kita bisa mengobrol di taman kota...Atau mungkin...." Andini memulai pembicaraan setelah mereka memasuki mobil kembali.Namun perkataannya belum selesai saat tiba-tiba Rian memotongnya dengan cepat.
"Kita akan pulang !!!" Kata Rian tiba-tiba dingin.Andini sempat terkejut untuk beberapa saat.Di perhatikannya wajah Rian yang mendadak dingin tak berekspresi.Dan diapun memalingkan wajahnya menatap kejalan sambil menelan ludahnya pahit.Ada sesuatu yang menusuk hatinya saat melihat kebekuan Rian tersebut.
"Baiklaahh....Terserah kamu saja...."
Kini kesunyian kembali menyelimuti keduanya.Ada perang batin yang menyelubungi pikiran Rian saat ini.
Aku harus bagaimana ?? Aku benar-benar tidak sanggup dengan keputusan gila yang ku ambil.Andini pasti akan benar-benar membenciku setelah ini.Oh...Tuhan...hukumlah aku....Aku akui,,aku akan bersalah karena sudah menyakiti hati seorang wanita yang benar-benar tulus mencintaiku.Oleh karena itu apapun hukuman dariMu akan ku terima Tuhan....
Tak lama kemudian merekapun sampai di depan rumah Andini.Entah kenapa suasana tampak begitu tegang.Andini sendiri jadi merasa canggung untuk mengakhiri pertemuan itu.
"Ehmm....apakah kamu mampir dulu ??" Wanita itu melihat Adrian untuk beberapa detik.Dan kediaman Rian memberikan kekecewaan pada dirinya.Pemuda itu tetap menatap jalanan yang sudah mulai sepi dari lalu lalang kendaran bermotor.
Karena tidak mendapat respon apapun dari kekasihnya,,Andini akhirnya memutuskan untuk turun dari dalam mobil.Namun saat dia hendak membuka pintu,,sebuah seruan mengejutkan di berikan oleh Rian.
"Aku ingin hubungan kita berakhir." kata Rian tiba-tiba.Dan perkataan itu benar-benar membuat jantung Andini ingin melompat dari tempatnya.Deru nafasnya berubah cepat.Di tatapnya kembali pria disampingnya dengan tatapan tajam menyelidik.
"A...a...apa maksud perkataanmu Rian ??" gadis itu tergagap.Keringat dingin mulai menjalari seluruh persendian tubuhnya.
"Aku ingin hubungan kita berakhir." Ulas Rian sekali lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya.Sungguh,,dia tak sanggup melihat wanita itu hancur di depan matanya.Bahkan saat inipun dia sudah merasakan sakit yang sangat dalam dan itu mengenai ulu hatinya.
"K...kau...bercanda kan ?? kau sedang main-main kan ??" Andini mencoba untuk tersenyum meski itu terpaksa.
"Aku tidak main-main Andini.Aku serius." Jawab Rian tanpa merubah ekspresi wajahnya.Dan senyum di bibir Andinipun memudar seketika,, berubah menjadi kecemasan yang mulai menyelubungi perasaannya.
"Ta...ta...tapi kenapa Rian ?? Apa alasanmu mengatakan hal itu ??"
"Karena aku akan menikah dengan orang lain." Rian menelan ludahnya dengan susah payah.Dia mengeratkan gigi-giginya menahan emosi yang mulai membakar tubuhnya.Ya,,kemarahan terhadap dirinya sendiri karena sudah menyakiti wanita yang di cintainya.
Setetes air bening mengalir begitu saja di kedua pipi Andini.Wanita itu menangis sesenggukan.
"Jadi....ini alasannya kenapa kau menanyakan hal aneh di rumah makan tadi ?? Jadi ceritamu tentang mas Bagas itu bohong ?? Dan ternyata kau sendiri yang sudah berkhianat padaku ??" Wanita itu mencoba menghapus air matanya yang mengalir tanpa bisa ia bendung lagi.
Rianpun tersentak karena isakan pilu Andini yang mengiris hatinya.Wajahnya menoleh seketika kearah perempuan berambut lurus itu.
"Andini....aku bisa jelaskan semuanya...." Rian berusaha menyentuh Andini.Namun wanita itu menepisnya dengan cepat.
"Jangan sentuh aku !!! Kau memang laki-laki bajingan !!! Aku menyesal sudah mencintaimu selama ini." Gadis itu berteriak histeris."Mulai sekarang,,jangan pernah temui aku lagi !!!" Dan Andini turun dari mobil dengan membanting pintu dengan keras.
Rian sendiri tak bisa berbuat apa-apa.Ini memang konsekuensi yang harus ia terima.Ya,,mungkin setelah ini...Andini akan membencinya.Sangat membencinya.Rian memukul setang kemudi dengan keras sebagai bentuk pelampiasan kekesalannya.
__ADS_1
"Arrrrrgggghhhhhhh......."
\===========================