
Mereka tengah berada di ruang makan. Menikmati makanan yang tersaji di piring masing-masing. Hingga sejauh ini,, Adrian masih enggan bersuara. Penolakan Anggun yang jelas nyata terhadapnya,, membuatnya frustasi. Bahkan dia hampir satu jam merendam tubuhnya di dalam bath tub hanya untuk merelakskan bagian tubuhnya yang sempat menegang sesaat lalu.
Berkali-kali Anggun mencuri pandang pada sosok suaminya itu. Diapun tak berani mengucap satu patah katapun mengingat perbuatannya yang jelas-jelas membuat pria itu kecewa. Jadilah hanya suara garpu dan sendok yang mengisi keheningan suasana.
"Aku tidak mengerti,, kenapa kau selalu menolakku." Terdengar suara Adrian tiba-tiba memecah kesunyian. Anggun menatap Adrian seketika.
"Eh..." hanya itu yang keluar dari mulut Anggun. Tangannya mengurungkan niat untuk menyendukkan nasi ke dalam mulutnya. Di tatapnya Adrian yang dengan santai menyantap hidangannya.
"Aku tidak tau kenapa,, apakah kau masih belum menerima kehadiranku dalam hidupmu?? Ataukah kau masih sakit hati dengan sikapku selama ini padamu??" Kata pria itu lagi. Anggun masih tertegun di tempatnya tanpa mengalihkan pandangan dari sosok di depannya.
"I...i...tu...sebenarnya...tidak seperti dugaanmu." Anggun tergagap.
"Lalu??"
"Adrian...sebenarnya,, aku tidak tidak yakin melakukannya dalam keadaanku yang sekarang."
"Maksudmu??" Adrian menghentikan makannya dan fokus pada wanita di depannya. Anggun jadi ikut meletakkan sendok yang masih melekat di tangannya.
"Adrian,, dengarlah. Kau tau saat ini aku sedang hamil. Terlebih lagi bahwa anak yang Ku kandung bukanlah darah dagingmu. Aku....hanya merasa tidak nyaman melakukan hal itu dalam kondisiku yang seperti ini...aku mohon mengertilah. Setidaknya kau bisa menunggu sampai bayi ini lahir."
"Hmmm...apakah hanya karena itu alasannya??"
"Ya. Tidak ada alasan lain yang membuatku menolakmu."
"Oh...kalau begitu...baiklah." Adrian kembali pada makanannya lagi.
"Kau....tidak marah atau kecewa??" Tanya Anggun hati-hati.
"Hmmm,, kalau hanya itu alasannya...aku pikir tidak masalah. Aku cuma takut kau masih belum menerimaku dalam kehidupanmu."
"I...itu tidak mungkin." Sergah Anggun cepat.
"Jadi maksudmu,, kau sudah mulai mencintaiku??"
"Eh...i...itu..." Anggun menjadi merona seketika. Dia tak dapat menyembunyikan rasa malunya. Adrian tersenyum simpul melihat sikap istrinya yang salah tingkah barusan.
Merekapun kembali pada acara makan malamnya. Untuk sejenak suasana kembali hening seperti sedia kala. Adrian sudah menyelesaikan makannya dengan segelas air putih yang sudah tersedia di atas meja.
"Bagaimana kalau kita bersenang-senang??" Tanyanya kemudian membuka obrolan kembali. Anggun yang memasukkan suapan terakhir ke mulutnya langsung menoleh seketika.
"Hah??"
"Bukankah lusa adalah ulang tahunmu?? Bagaimana kalau kita merayakannya??"
"Benarkah??" Anggun langsung menoleh ke arah kalender yang terpasang di dekat situ. Ah...benar,, bagaimana aku bisa lupa??
"Jadi....kau mau apa??" Tanya Adrian.
"Ehmm,, terserah kamu saja."
"Hmmm,, bagaimana kalau kita makan malam di restoran. Kau yang tentukan mau makan di mana." Anggun berpikir sejenak.
"Hmm,, aku ingin mencoba rumah makan nusantara. Bukankah disana banyak sekali macam menu-menu masakan Indonesia. Kabarnya kita bisa menemukan menu apa saja disana."
"Ok. Besok kita atur acaranya. Oh...ya,, kau mau hadiah apa dariku??"
"Kau mau memberikanku hadiah juga??"
"Ini hari istimewamu,, pastinya aku tak mungkin kalau hanya mengajakmu makan malam saja. Jadi,, katakan kau mau apa??"
"Hmmm...apa ya,, apakah....kalung?? Atau cincin??"
"Cckkk...tidak bisakah kau meminta selain itu?? Kenapa hadiah untuk perempuan selalu perhiasan??" Adrian berdecak.
"Ya,, karena itu adalah benda yang secara nyata nampak indah dan elegan untuk di pakai para wanita. Siapapun pasti menyukainya. Tapi kalau kau ingin aku memilih sesuatu yang lain,, hmmm...kau bisa memberikanku apapun seperti....parfum mungkin,, atau bross,, atau sebuah jepit?? Terserah kau saja,, itu aku kembalikan padamu."
__ADS_1
Adrian berfikir sejenak. Dan sesaat kemudian dia tersenyum simpul.
"Baiklah...aku akan memberikanmu sesuatu yang lain. Dan aku yakin kau pasti suka."
"Oh...ya?? Boleh aku tau apa itu??"
"Hmmm...kali ini tidak. Ini akan menjadi kejutan untukmu."
"Baiklah....aku jadi tidak sabar menunggu lusa."
Dan merekapun melanjutkan obrolan di ruang tengah sambil menonton televisi.
Dua hari kemudian...
Triiinnggg...triiinngg...
Suara dering dari ponsel milik Anggun berbunyi beberapa kali. Saat ini,, wanita itu tengah sibuk berdandan sesuai janjinya dengan Adrian tempo hari dimana mereka sepakat akan makan malam untuk merayakan hari ulang tahunnya.
"Iya Adrian...aku masih bersiap-siap." Suara Anggun saat mengangkat ponsel tersebut yang merupakan panggilan dari suaminya.
"Baiklah...aku hanya memberitahumu kalau aku sudah menunggumu disini,, apa kau masih lama??"
"Hmmm,, sebentar lagi aku berangkat."
"Berhati-hatilah. Ehmm,, maaf aku tidak bisa menjemputmu."
"Tidak....tidak masalah. Aku bisa naik taxi. Apa kau sudah pesan makanan??"
"Hanya minuman. Aku pikir sebaiknya aku menunggumu saja. Ehmm...kau tidak lupa kan untuk memakai gaun yang ku belikan kemarin??" Anggun tersenyum sambil mematut diri di depan cermin,, memperhatikan penampilannya saat ini dengan pakaian yang ia kenakan.
"Jangan khawatir. Aku tidak lupa kok. Ini bahkan sangat indah lebih dari yang ku bayangkan."
"Aku jadi tidak sabar ingin segera bertemu denganmu."
"Hmmm sampai nanti."
Dan panggilanpun berakhir. Anggun menarik napas panjang untuk sesaat. Kemudian dia kembali pada kegiatannya. Hanya tinggal merapikan rambut saja dan selesai.
Anggun lalu meraih tas warna merah marun yang senada dengan gaun yang di pakainya saat ini. Untungnya dia sudah memesan taxi sejak lima belas menit yang lalu. Dan kalau benar sesuai dugaannya,, harusnya saat ini taxi tersebut sudah menanti di depan rumah.
Dan ternyata benar,, saat dia keluar dari rumah,, taxi yang di pesannya sudah menunggu. Anggun tak menunggu waktu lama. Dia lalu masuk ke dalam taxi dan menyebutkan alamat yang di tuju.
Anggun baru saja menyadari kalau langit nampak mendung. Namun terlambat baginya untuk kembali mengambil payung. Entah kenapa perasaannya tidak enak saat ini. Wanita itu hanya bisa menarik napas panjang dan berusaha membuang pikiran buruk yang sempat melintas di pikirannya.
Sementara itu di rumah makan....
Adrian sudah gelisah menunggu kedatangan Anggun. Itu terlihat dari cara duduknya yang nampak tidak tenang dengan tangan yang sibuk mengetuk-ngetuk di atas meja dengan ujung jari telunjuknya. Sudah beberapa kali pula dia menengok jam yang melingkar di tangannya.
Untuk yang kesekian kali dia menoleh ke arah pintu masuk,, berharap wanita yang di tunggu akan datang. Namun sejauh ini belum nampak tanda-tanda orang tersebut. Adrian menarik napas panjang. Perhatiannya kini tertuju pada sebuah paper bag yang menyimpan sebuah bungkusan kado.
Adrian tersenyum memandangi benda tersebut. Semoga Anggun suka dengan hadiah ini.
Adrian masih tersenyum-senyum sendiri sampai dimana kemudian terdengar sapaan lembut yang membuatnya terkesiap dalam sekejap. Suara yang sangat tidak asing di telinganya.
"Adrian...." Adrian menaruh paper bag yang semula di pegangnya dan ia letakkan kembali di samping kursi duduknya.
Dengan hati berdegup,, dia memutar kepala,, menoleh ke arah datangnya suara. Matanya melebar saat mengetahui siapa sosok yang ada di depannya. Seketika Adrian berdiri dari duduknya.
"Andini?!?!" Desisnya lirih. Adrian menelan ludah menahan rasa terkejutnya.
Andini mengulas senyum getir saat melihat pria yang pernah di cintainya itu. Untuk sesaat kedua mata itu saling beradu pandang. Dan beberapa detik kemudian mereka seperti di sentakkan dari kesadarannya.
"Ehmm,, ayo...duduklah Din." Adrian mempersilahkan. Rasa guguppun menyelimuti hatinya.
__ADS_1
Dini tersenyum dan mengikuti kata-kata Adrian. Di pandangnya wajah tampan di depannya dengan seksama. Ada raut kerinduan pada pria itu yang tercetak jelas di wajahnya.
"Bagaimana kabarmu??" Adrian berbasa-basi. "Sepertinya....kau sangat baik." Dia menyimpulkan sendiri.
"Sayangnya aku tidak seperti yang kau kira." Andini tersenyum kecut.
Adrian menatap wanita itu seksama. Ucapan Andini barusan membuatnya bingung. "Ehmm,, a...aku tidak mengerti. Apakah kau kesini sendiri?? Kau tidak bersama Niko??" Adrian tiba-tiba teringat pria menyebalkan yang sudah menikung jalannya. Matanya berkeliaran berusaha menemukan sosok pria itu di sana.
"Kau tak akan menemukan siapapun Rian,, karena aku kesini sendiri." Andini memotong tegas. Adrian kembali mengarahkan pandangannya pada Andini.
"Eh...begitu??" Adrian tak mampu mengucap apapun. Pikirannya terlalu shock dengan kehadiran Andini kembali sehingga dia tak mampu mencerna apapun saat ini. "Ehmm,, kau mau pesan sesuatu??" Adrian merubah topik pembicaraan.
Andini tak menjawab. Dia malah sibuk memperhatikan penampilan Adrian saat ini. Matanya juga melirik pada paper bag yang ada di samping kursi Adrian.
"Apa kau sedang menanti seseorang??" Tanya Andini kemudian.
Adrian terbatuk karenanya. Rasa gugupnya kembali lagi. Pria itu lalu meneguk air mineral yang ada di depannya.
"Eee...i...itu...yach...aku...sedang menanti seseorang." Jawab Adrian tergagap. Matanya tak mampu menatap wanita di hadapannya. Ada apa denganku?? Kenapa aku seperti ini?? Jangan gugup Adrian,, kau sama sekali tak melakukan kesalahan.
Adrian kembali menormalkan detak jantungnya. "J...jadi Kau kesini sendiri??" Adrian mengumpati dirinya sendiri karena melempar pertanyaan bodoh demikian.
"Aku dan Niko sudah berakhir." Seru Andini tiba-tiba.
"Apa??" Adrian terkejut bukan main. Mulutnya seperti terkunci seketika. Dan sesaat kemudian dia pun bertanya,, "kenapa??" Dengan perasaan yang kacau tak menentu.
Andini menggigit bibir. Perasaan malu menghinggapi dirinya. Bagaimana dia mampu menceritakan yang sesungguhnya pada Adrian?? Sungguh dia terlalu naif selama ini dengan mempercayai pria bernama Niko itu sebelumnya.
"Apakah kau mengetahui yang sebenarnya??" Adrian memandang Andini dengan tatapan mendikte.
Gadis itu semakin menunduk tak sanggup melihat muka Adrian. Tiba-tiba di lihat nya wanita di hadapannya tersebut terisak dalam diam. Adrian terkejut dibuatnya. Diapun spontan berdiri menghampiri wanita itu dan merengkuh tubuhnya. Meraih nya dalam pelukan.
Andini tak dapat membendung air matanya lagi. Dia menumpahkan tangisnya dalam pelukan pria itu. Sementara itu...di luar hujan nampak turun dengan deras mengguyur kota Surakarta. Seakan mengiringi kemelut yang di rasakan gadis bernama Andini tersebut.
"Adrian...maafkan Aku....maafkan aku...." keluh Andini dalam sedu-sedannya.
"Ssstttt....sudahlah. Kau tak perlu mengucapkan hal itu padaku. Kau tak pernah berbuat salah apapun." Adrian mencoba menenangkan sambil mengelus rambut wanita itu.
"Aku terlalu bodoh menilai seseorang. Seharusnya aku mendengar ucapanmu waktu itu. Tapi nyatanya aku tak menghiraukan perkataanmu dan malah mengusirmu. Sungguh aku bersalah padamu...." gadis itu masih larut dalam tangisnya.
"Sudah....sudah....yang penting sekarang kau sudah tau siapa dia. Dan yang lebih bagus lagi,, kau sudah mengetahui keburukannya sebelum kau menikah dengannya." Bisik Adrian.
"Aku malu padamu Adrian..."
"Jangan katakan itu !!! Sudah ku katakan,, kau tak berbuat salah. Kau....hanya tidak tahu kebenarannya saja."
Mereka terdiam sejenak. Larut dalam perasaan masing-masing. Perlahan-lahan Andini bisa menguasai dirinya. Tangisnya perlahan mereda.
"Adrian....apakah....kau masih mencintaiku??" Tiba-tiba Andini melontarkan pertanyaan yang membuat Adrian terkejut seketika. Dan wanita itu bisa mengetahui dengan jelas ekspresi yang di tunjukkan mantan kekasihnya tersebut.
Andini merenggangkan pelukannya. Berusaha menatap pria di hadapannya dengan seksama. "Adrian....apakah....kau sudah tidak mencintaiku lagi??" Tanya gadis itu hati-hati.
Adrian yang semula menghindari tatapan mata menelusur itu seketika berbalik menatap kembali wanita di hadapannya. "Apa yang kau katakan Andini??" Serunya tidak terima.
"Jadi...kenapa Kau diam?? Kau bahkan terkejut saat aku menanyakan hal itu."
"Ah...tentu saja. Karena aku tidak mengira kau akan bertanya demikian padaku." Pria itu menampik. Yang sebenarnya bukan itu alasannya.
"Lalu...apa jawabanmu?? Apa kau masih mencintaiku??" Sekali lagi Andini mengulangi pertanyaan yang sama. Dan untuk sesaat suasana hening. Hanya mata mereka saja yang beradu pandang satu sama lain. Sampai kemudian Adrian berkata....
"Ya...aku masih mencintaimu Andini." Jawab pria itu dengan penuh keyakinan.
Seketika,, Andini menghamburkan dirinya kembali pada pelukan pria tersebut. Adrian tak dapat mengelak apapun. Dia bahkan tidak tahu kalau sejak tadi ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dalam jarak yang tak terlalu jauh.
Sepasang mata yang berkaca-kaca dan kemudian sebelum sempat air mata itu tertumpah,, dia sudah berbalik arah meninggalkan tempat itu dengan langkah seribu.
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?? Dan siapakah orang yang melihat kejadian antara Andini dan Adrian tersebut??
\==========================