
Dan selama seminggu ini,, Dion selalu menjemput Anggun disekolahnya seusai dia pulang kerja. Tentunya itu selalu ia lakukan dengan tergesa-gesa karena tak mau wanita itu menunggu terlalu lama.
Kebiasaannya pun mulai berubah. Dia yang tadinya sedikit pemalas,, kini berubah menjadi sosok yang rajin. Bahkan baik atasan maupun Adrian juga heran di buatnya. Dan kalau mereka sudah mengulas tentang perubahan Dion akhir-akhir ini,,jawaban pria itu akan sama "Mungkin karena hari ini hatiku sedang hoki." Kata-kata itu selalu jadi andalannya dalam mencari alasan.
Anggunpun tak keberatan saat Dion mulai mengajaknya untuk singgah terlebih dahulu ke sebuah rumah makan,, dia pikir tak ada salahnya dia sekali-kali menerima tawaran itu. Toh,, Adrian pasti juga belum pulang. Meski kadang sebuah pertanyaan muncul di benaknya,, Apakah Adrian tahu kalau aku bareng temannya,, Dion??
Anggun sebenarnya ingin jujur dengan suaminya,, namun mengingat kembali perkataan Adrian tempo hari dimana dia mengatakan kalau dia tak perduli soal apapun yang di lakukan Anggun,, maka niat itupun di urungkannya.
Dalam seminggu ini,, Anggun mengetahui banyak hal tentang Dion. Entah mengapa Dion juga tak keberatan menceritakan semua rahasianya pada Anggun terutama mengenai hobinya yang suka berganti-ganti pasangan.
Dion pun sedikit mengorek keterangan dari Anggun tentang Bagas. Meskipun awalnya wanita itu bungkam,, namun sebuah teriakan kecil di otaknya berseru bahwa tak ada salahnya membagi permasalahan hidup dengan seseorang. Sampai kapan juga dia akan lari dari masa lalu itu?? Dan akhirnya Anggun pun mau berbagi kisah hidupnya dengan pria yang memiliki sifat humoris itu.
"Kita berjanji,, bahwa mulai sekarang....kita adalah sahabat baik." Ucap Dion suatu hari di sebuah cafe.
Tangannya menunjukkan jari kelingkingnya sebagai ajakan bahwa Anggun bersedia menuruti janji yang ia buat. Dan dengan mengulas senyum menawan,, Anggun mengangguk dan mengaitkan jari kelingkingnya pada jari pria itu. Sebuah tawa lepas keluar dari mulut keduanya. Menguraikan bahwa sungguh mereka terlihat sangat konyol dengan aksi membuat janji yang demikian.
"Kau tau,, kita ini seperti kembali ke masa kecil kita dulu." Anggun bergumam setelah derai tawanya berkurang.
"Kenapa?? Tidak masalah bukan?? Kupikir tak ada larangan buat orang dewasa membuat janji seperti itu." Ujar Dion dengan gayanya yang cengengesan seperti biasanya.
"Ah...terserah kaulah...satu minggu bersamamu,, aku merasa duniaku berubah."
"Oh,, ya?? Seperti apa??" Dion menuntut sambil menatap Anggun serius.
"Jujur,, kau membawa hidupku ceria lagi seperti dulu. Mungkin malah lebih dari sebelumnya. Kau adalah teman yang menyenangkan Dion. Dan aku senang berteman denganmu." Aku Anggun jujur dan membalas tatapan mata itu dengan serius.
"Dan kenapa Tuhan tidak mempertemukan kita sejak dulu. Karena aku sepertinya juga menyukai keberadaanmu." Kini arah pembicaraan Dion lebih serius dari sebelumnya.
"Kenapa memangnya?? Apakah kau akan suka padaku seperti kau suka kepada wanita-wanitamu itu??" Anggun menggoda.
"Mungkin. Tapi tidak seperti kepada mereka." Dion masih nampak serius dan tak menganggap itu sebagai candaan.
"Maksudmu??" Anggun mengerutkan keningnya.
"Anggun,, kau adalah sosok yang berbeda dari wanita lain. Kau begitu menawan,, lembut dan satu hal yang tak dimiliki wanita lain."
"Apa itu??" Anggun mengerdikkan kepalanya kemudian bertopang dagu.
"Ketulusanmu. Kau tak menyembunyikan apapun dari dirimu. Yahh...seperti inilah kamu apa adanya. Dan tahukah kamu,, kalau pria manapun akan setuju dengan perkataanku ini."
"Ahh....sepertinya Kau melupakan dua pria yang berperan penting dalam hidupku saat ini. Kurasa tidak demikian dengan mereka." Anggun tersenyum kecut.
"Siapa?? Bagas dan Adrian??" Anggun mengerdikkan kedua bahunya.
"Cckkk....meraka hanya dua pria bodoh yang tak bisa melihat bahwa ada sebuah berlian yang begitu berharga di hadapan mereka. Hanya laki-laki tolol saja yang tak melihat semua kebaikan yang ada pada dirimu Anggun."
"Kau terlalu melebih-lebihkan Dion." Anggun mengulas senyumnya.
__ADS_1
"Tidak. Aku berkata jujur. Kau adalah wanita yang istimewa. Kau cantik,, baik,, dan seperti yang ku katakan tadi. Kau adalah wanita yang tulus. Boleh ku katakan satu hal padamu??"
"Katakanlah !!!"
"Mungkin saat inipun,, Aku bisa jatuh cinta padamu." Sejenak suasana mencekam. Anggun tertegun mendengar penuturan Dion barusan. Namun tak lama kemudian meledaklah tawa kecilnya.
"Apakah seperti ini juga kau menyatakan perasaanmu pada wanita-wanita di luar sana." Ucap Anggun dengan derai tawanya. Dia benar-benar merasa bodoh kalau akan menganggap perkataan Dion barusan adalah sesuatu yang serius. Namun pria itu sama sekali tak merubah ekspresi wajahnya. Mimik wajah yang serius masih terlihat jelas disana. Hanya saja dia tak bisa bertahan lama dengan keadaan seperti itu atau Anggun akan mengetahui kebenaran mengenai isi hatinya.
Andai saja kau tau Anggun,,kalau saat ini aku benar-benar sudah jatuh cinta padamu....
Dan seminggu kemudian....
Anggun sudah pergi ke pasar pagi-pagi sekali. Dia sengaja tak membangunkan Adrian yang sedang tidur di hari liburnya itu. Namun Anggun masih sempat menyiapkan sepiring nasi goreng+telur dadar dan segelas susu untuknya sarapan jika bangun nanti. Sebuah pesan juga di kirimkannya takut kalau pria itu akan mencarinya setelah bangun. Ya,, meski itu hanya kemungkinan kecil saja.
"Hmmm...hari ini aku masak apa ya??" Gumamnya sendiri saat tiba di pasar besar Surakarta. "Aku lupa menanyakan apa makanan kesukaan Dion." Akhirnya setelah berfikir agak lama dia sudah memutuskan akan memasak makanan yang bersifat barat. Beef Steak,, Ayam BBQ dan beberapa cah sayur. Tapi dia tak lupa menyediakan makanan kesukaan Adrian,, yakni rendang daging. Anggun juga membeli beberapa buah-buahan untuk di buat salad nantinya sebagai makanan pencuci mulut.
Sedikit berlebihan mungkin,, tapi tak mengapa. Ini imbalan yang pantas atas kebaikan Dion selama ini,,pikirnya.
Sementara itu di lain tempat .....
"Mas...aku ingin kita berhenti sebentar di pasar itu. Aku akan membeli buah-buahan untuk Bapak dan Ibu sebagai oleh-oleh." Kata seorang wanita berkulit putih yang tak lain adalah Niken Ayu.
"Baiklah. Aku tunggu disini." Kata Bagas sambil menghentikan mobil Fortunernya. Niken keluar dari mobil dan bergegas menuju pasar besar tersebut. Matanya mencari-cari dimana letak orang menjual buah-buahan yang dia inginkan. Dan saat langkahnya sampai di tempat yang di tuju tiba-tiba....
Brruuukkk.......
"Ahhh....maaf...." seru Niken pada sosok wanita yang tidak sengaja di tabraknya sehingga beberapa barang belanjaannya jatuh ke tanah. "Maafkan aku..." ujar Niken sekali lagi sambil membantu memungut barang-barang tersebut.
Niken melirik sekilas kearah perut wanita itu yang mulai membuncit. Dan rasa iri dari dalam hatinya keluar saat melihat lekuk indah menakjubkan itu. Ahhh....apakah Aku bisa hamil seperti wanita ini??
"Terima kasih." Ucap wanita itu setelah selesai memungut barang-barangnya.
"Tidak masalah,, ehmm...ngomong-ngomong suamimu kemana sampai tega membiarkan wanita hamil sepertimu membawa barang belanjaan sebanyak ini sendirian??" Tanya Niken kemudian.
Wanita itu tertegun sesaat. Pikirannya pecah pada dua hal yang membuatnya bimbang. Suamiku?? Atau ayah dari bayi ini??
"Ehmm,, maaf...bukan maksudku mencampuri urusanmu." Niken tiba-tiba menarik kata-katanya kembali saat melihat perubahan raut wajah wanita yang ada di hadapannya saat ini. "Apakah kau perlu bantuan?? Aku akan dengan senang hati menolongmu."
"Tidak !!! Tidak perlu. Ehh...suamiku sebenarnya sedang menunggu di depan....ya...dia ada di depan." Potong wanita itu gugup dan dengan senyum memaksa karena jelas dia berbohong.
"Oh...baiklah kalau begitu." Wanita itu lalu pergi dari hadapan Niken tanpa banyak bicara. Dan Niken hanya memperhatikan wanita itu pergi sampai dia hilang di balik kerumunan orang-orang.
Siapakah wanita itu?? Ya...dia tak lain adalah Anggun. Sebuah kejutan besar kalau akhirnya Anggun akan bertemu dengan Niken di tempat itu. Namun sayangnya mereka tidak tahu,, bahwa sesungguhnya ada sebuah hubungan yang terikat di antara keduanya. Hubungan yang di sebabkan oleh pria yang sama yang sudah mengisi hati bahkan hidup mereka.
Anggun berjalan tergesa-gesa. Entah kenapa ada debaran aneh yang tiba-tiba merayap dalam benaknya setelah bertemu dengan wanita tadi. Sebuah perasaan yang dia sendiri tak bisa mengartikannya. Entahlah...ini mungkin perasaanku saja...
Anggun meneruskan langkahnya menuju pintu keluar.
__ADS_1
Bagas yang sejak tadi menunggu istrinya baru menyadari kalau tas Niken tertinggal di dalam mobil.
"Oh...Tuhan...bagaimana dia mau membayar nanti??" Pria itu lalu keluar dari mobil bermaksud mencari wanita itu. Namun betapa terkejutnya ia saat matanya tiba-tiba menangkap sekelebat bayangan yang sangat tak asing di matanya....
"Anggun....." desisnya lirih.
Dan tak menunggu lama,, pria itu kini merubah arah tujuannya. Dia berlari mengejar sosok Anggun yang semakin menjauh darinya.
"Anggun...tunggu !!!!" Seru Bagas dari belakang saat dia hampir sampai di dekat wanita itu.
Dan jelas saja Anggun sangat dibuat terkejut saat mendengar seruan tersebut. Suara itu??
Suara yang tak asing di telinganya. Bahkan saat tidurpun,, jika suara itu memanggil....dia akan terbangun karenanya.
Anggun menghentikan langkahnya seketika. Wajahnya menoleh pelan-pelan kearah suara itu berasal. Matanya membulat tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini.
"Kau ?!?!?!" Seketika barang belanjaan yang di bawanya jatuh kembali keatas tanah. Badannya tiba-tiba menjadi gemetar.
"Anggun..." Bagas mengulang kata-katanya kembali,, menyerukan nama wanita itu. Tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering dan entah mengapa dia begitu sulit untuk menelan ludah.
"Anggun...bagaimana kabarmu??" Bagas mencoba mendekat pada Anggun namun belum sempat kakinya melangkah,,tiba-tiba Anggun berseru tajam.
"Jangan mendekat !!! Aku tidak sudi didekati oleh pria sepertimu !!!" Teriak Anggun dengan mata yang menatap tajam penuh amarah.
"Anggun...aku minta maaf atas perbuatan yang kulakukan padamu." Bagas mengulas lirih. Namun Anggun masih bisa mendengarnya.
"Apa?? Minta maaf?? Sudah terlambat bagimu untuk minta maaf padaku." Anggun mengeratkan gigi-giginya. "Setelah apa yang kau lakukan padaku,, ternyata kau masih berani muncul di hadapanku."
"Anggun...beri Aku kesempatan bicara denganmu."
"Cukup !!!! Aku tidak mau mendengar penjelasanmu !!! Sampai kapanpun jangan berharap aku akan memaafkanmu. Dan aku peringatkan sekali lagi,, jangan coba-coba kau temui aku lagi." Anggun mengacungkan jari telunjuknya. Dan wanita itu langsung memungut kembali belanjaannya yang terjatuh tadi,, untuk kemudian dia bergegas pergi dari hadapan pria itu.
"Jangan lupa Anggun,, kalau bayi yang ada dalam perutmu itu adalah anakku !!! Darah dagingku !!!" Teriak Bagas keras dan itu justru membuat Anggun semakin mempercepat langkahnya.
Bagas mengepalkan tangannya kuat-kuat ke udara. Brengseekkk !!!!! Umpatnya tajam. Matanya hanya bisa memandang sosok Anggun yang sudah menyetop sebuah taksi dan masuk kedalamnya.
"Aku pasti akan mencarimu Anggun....pasti....kita harus bicara." Bisiknya lirih.
"Siapa yang akan kau ajak bicara mas??" Terdengar seruan halus dari belakang. Dan itu membuat darah Bagas terkesiap. Niken ternyata sudah kembali. "Kau belum menjawab pertanyaanku mas." Niken mengingatkan sekali lagi.
"Ah...bukan apa-apa. Itu tadi aku hanya melihat seseorang yang sepertinya kukenal. Tapi dia cepat sekali menghilang. Oh...ya,,kau tadi meninggalkan tasmu di mobil." Bagas mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Oh...ya,,tapi Aku sudah bawa dompet kok."
"Baiklah kalau begitu,, kita pergi sekarang??"
"Yuk." Dan merekapun kembali ke dalam mobil. Meski tak dapat di pungkiri kalau pikiran Bagas saat ini sedang bercabang. Bayangan Anggun kembali menghantuinya. Apalagi tadi sempat diliriknya kearah perut wanita itu yang sudah mulai membuncit.
__ADS_1
Ahhh...dia sudah tumbuh besar di rahim ibunya....
\===============================