
Keesokan harinya....
Dion sudah menanti Anggun sejak 15 menit yang lalu. Hari ini dia ada meeting di luar dan pertemuannya selesai satu jam sebelum waktu kepulangannya. Jadinya dia memutuskan akan menjemput Anggun lebih awal. Namun sebelum itu dia mampir ke sebuah toko bunga lebih dulu. Entah kenapa dia ingin memberikan sesuatu pada wanita itu. Dan pilihannya jatuh pada sebuket bunga anyelir berwarna merah.
Dion masih menunggu di dalam mobil dan penantiannya kali ini entah mengapa tidak memberatkannya seperti biasa dia menunggu kekasih-kekasihnya. Dia malah asik menyetel musik slow,, yakni Marc Anthony sebagai vokalisnya dengan single berjudul My Baby You.
Memang tak biasanya,, Dion yang biasanya suka musik bergenre keras,, mendadak pindah haluan. Benar-benar dia seperti orang yang tengah jatuh cinta. Itu terlihat dari lagu-lagu yang sering di putarnya selalu bertemakan tentang cinta.
Dion menghembuskan nafasnya saat sebuah bayangan cantik kembali membayang di pelupuk matanya. Pria itu hanya tersenyum-senyum geli sendiri sambil memukul-mukul kepalanya dengan ringan.
Aku pasti sudah gila. Ya...gila. Kenapa memangnya denganku ini?? Aku bahkan sedang menunggunya,, namun seakan dia jauh berada. Dan apa yang terjadi denganku juga,, pikiranku selalu di penuhi oleh bayangannya. Ayo Dion...sadarlah....sadarlahh...kau takkan pernah bisa memilikinya. Ingatlah dia istri sahabatmu sendiri. Ahhh....kenapa Memangnya kalau dia istri Adrian?? Tidak bolehkah aku menaruh hati padanya?? Salahkah kalau aku jatuh cinta padanya?? Heiii....apakah aku benar-benar sedang jatuh cinta padanya?? Oh Tuhan....maafkan hambaMu ini...
"Dion....Dion...." suara ketukan jendela kaca itu membuyarkan lamunannya. Bahkan lagu yang diputarnya sudah berakhir beberapa menit yang lalu.
"Oh...sorry." Pria itu lalu membuka kunci mobilnya. Dan masuklah wanita yang di tunggunya sejak tadi.
"Kau melamun?? Maaf kalau kau menunggu terlalu lama. Apakah aku yang terlambat atau...."
"Oh...tidak,, tidak,, memang aku yang sengaja datang lebih awal."
"Benarkah??" Anggun memasang sabuk pengamannya.
"Oh,, iya....aku ada sesuatu untukmu." Dion lalu menyerahkan rangkaian bunga yang sejak tadi di sembunyikannya. Anggun menerima hadiah itu dengan senyum mengembang.
"Ini untukku??" Serunya takjub.
"Hmmm."
"Kenapa memangnya?? Apakah kau menang tender?? Atau sedang merayakan sesuatu??" Dahi Anggun berkerut.
"Itu sebagai ungkapan terima kasihku karena kemarin malam kau sudah menjamuku dengan sangat baik."
"Ohh...itu. Sebenarnya aku yang harusnya berterima kasih padamu karena kau sudah meluangkan waktumu untuk mengantarku pulang. Dan jamuan kemarin,, kurasa masih belum cukup untuk menyampaikan rasa terima kasihku padamu." Ungkap Anggun jujur. "Tapiii...untuk bunganya,, I like. Thanks for it." Imbuhnya sambil memandangi bunga-bunga itu.
Dion membalasnya dengan senyum merekah senang. Dia lalu melajukan mobilnya perlahan-lahan.
"Oh...iya Dion,, apakah kau tak keberatan kalau kau mengantarku lebih dulu ke dokter kandungan?? Aku belum memeriksakan kehamilanku pada bulan ini." Ujar Anggun beberapa waktu kemudian.
"Ya....tentu saja. Dengan senang hati." Dion lalu merubah arah tujuannya menuju sebuah klinik pemeriksaan kandungan.
Dan tak beberapa lama,, tibalah mereka di tempat yang di tuju. Anggun ternyata mendapat antrian kedua setelah seorang wanita yang usianya kira-kira beberapa tahun lebih muda darinya. Mereka menyempatkan ngobrol sebelum mendapat giliran panggilan.
"Apakah ini kehamilan pertamamu??" Tanya Anggun pada wanita itu.
"Iya. Apakah anda juga demikian,, atau sudah yang kesekian kalinya??" Wanita itu balik bertanya.
"Ohh...aku juga sama sepertimu?? Ini pertama kalinya buatku."
"Bagaimana?? Apakah kau juga sama mengalami masa-masa sulit di awal kehamilan??" Wanita itu menelusur.
"Ya...begitulah. Bukankah itu hal yang biasa??"
__ADS_1
"Memang sih. Tapi ada juga yang tidak. Dan mereka pasti termasuk golongan orang-orang yang beruntung karena tak mengalami mual ataupun lelah dan kantuk." Anggun tersenyum mendengar wanita itu jelas terlihat sedikit mengeluh. Dan pada saat itulah Dion datang membawa sebotol air mineral di tangannya.
"Ini minumlah. Kau pasti haus kan??" Dion mengulurkan botol air tersebut.
"Terima kasih." Anggun tersenyum dan menerima pemberian itu. Dion lalu mendudukkan dirinya di sebelah Anggun.
"Apakah dia suamimu??" Wanita itu tiba-tiba berseru dan spontan membuat Dion yang kebetulan juga meneguk minumannya menjadi tersedak seketika.
"Kau tak apa-apa Dion??" Ujar Anggun khawatir lalu memijit-mijit tengkuk leher pria disampingnya.
"Kalian serasi sekali. Aku yakin kalian saling mencintai,, kalau tidak untuk apa suamimu repot-repot menemanimu datang ke klinik?? Apalagi sepertinya dia habis pulang kerja." Sekali lagi wanita itu berceloteh menyimpulkan sendiri pemikirannya membuat Anggun dan Dion menyeringai kecil.
"Eh....sebenarnya kami...."
"Eh.....kami memang saling mencintai. Ya...tentu saja. Bukankah begitu sayang??" Dion mendekatkan tubuhnya pada Anggun lalu memandang wanita itu sambil menguraikan senyumnya. Sedang Anggun hanya bisa membalasnya dengan tatapan membelalak,, memprotes.
Dion lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Anggun,, dan berbisik.
"Tak ada salahnya kita ikuti permainan wanita itu. Toh dia juga tak kenal kita. Lagi pula kau tak mungkin bilang kalau aku hanya temanmu. Bagaimana nanti pemikirannya kalau tau yang mengantarmu hanya seorang teman bagimu dan bukannya suamimu sendiri."
Anggun terdiam sejenak. Ya,, mungkin tak ada buruknya sedikit bersandiwara di depan orang ini.
"Ehmm....suamimu sendiri kemana??" Anggun kini balik bertanya.
"Yaahh....begitulah. Dia pasti sibuk dengan urusannya. Padahal aku hanya memintanya untuk mengantarkanku memeriksakan kandunganku,, tapi dia lebih berat pada proyek-proyeknya. Padahal ini anak dia juga kan??"
Anggun tersenyum getir mendengar pengakuan wanita itu. Lalu,, apa bedanya dengan dirinya?? Bukankah Adrian juga sama saja dengan suami wanita ini?? Tentu saja,, apakah hanya karena ini bukan darah dagingnya?? Dan...untuk menjemput pulang saja,, dia keberatan dan lebih mementingkan pekerjaannya,, bukankah itu tak ada bedanya??
"Heii....sayang,, kenapa kau jadi sedih?? Bukankah aku sudah di sampingmu?? Lalu,, apa yang kau pikirkan??" Dion membuyarkan pikiran Anggun yang sesaat lalu terbang. Pria itu memang sangat perhatian. Dia tau apa yang di pikirkan Anggun saat ini. Untuk itulah dia berusaha membuang pikiran negatif yang mulai menjalar di pikiran Anggun. Wanita itu tersenyum kecil mendengar bualan palsu sahabatnya.
"Kau tau,, aku hampir memukulmu tadi." Anggun membuka obrolan di dalam mobil.
"Oh...ya?? Kenapa??"
"Kenapa?? Kau masih bertanya demikian?? Kau tak melihat wajah wanita itu?? Jelas-jelas terlihat kalau dia sangat cemburu dengan kita. Dan terlihat jelas kalau dia sangat sedih." Dion terkekeh mendengar pengakuan Anggun.
"Terus?? Memangnya apa salahku?? Dia sendiri yang memulai permainan. Dia sendiri yang memutuskan kalau kita suami istri,, tentu saja aku mengikuti permainannya." Dion berlagak tak bersalah.
"Benar-benar kau ya...."
"Hmmm,, lagian kau sendiri bagaimana??"
"Apanya??" Anggun terbodoh.
"Ayolah,, mengakulah kalau kau sendiri juga merasakan hal itu."
"Soal apa sih??"
"Anggun,, bukankah kau tadi sempat terdiam?? Aku bisa melihat raut kesedihan di matamu. Kau pasti sedang berfikir sama dengan perempuan itu kan??" Dion hanya melirik sekilas pada Anggun yang salah tingkah karena apa yang di sampaikan Dion memang benar.
"Sok tahu kamu !!!" Anggun berkelit sambil membuang muka.
__ADS_1
"Heeeiii,, aku mengenal perempuan tidak satu atau dua orang saja ya,, aku juga tak hanya sekedar mengenal mereka,, namun aku menyelami pikiran mereka semua. Jadi kalau hanya menebak pikiran dan kemauan seorang wanita,, tentu saja itu mudah buatku tanpa harus mereka mengatakannya lebih dulu."
Anggun terdiam. Kali ini dia tak mendebat perkataan Dion. Mungkin kali ini sahabatnya itu benar.
"Boleh aku bertanya sesuatu??" Tanya Dion kemudian.
"Ya. Tentu saja."
"Apa yang terjadi denganmu kemarin??"
"Ha?? Tidak ada. Memangnya apa??"
"Cckkk....kau ini,, Anggun....kau bisa berbohong di depan orang lain,, tapi tidak di depanku. Kata kan apa yang sebenarnya terjadi padamu kemarin??" Dion bertanya sekali lagi.
"Tidak ada Dion,, sungguh." Anggun memandang sahabatnya dengan tatapan heran menjadikan Dion semakin kesal karena pembicaraan yang berputar-putar.
"Huuuhhh !!! Katakan padaku,, bukankah kemarin kau habis menangis?? Mengakulah !!! Kau jelas-jelas tak dapat menutupinya dariku meski kau memakai make up tebal sekalipun. Aku jelas bisa melihat perubahan dari sinar matamu yang redup." Dion memvonis. Dan kini wanita itu menjadi tertunduk.
"Kurasa aku memang tak bisa menyembunyikan apapun darimu." Guman Anggun lirih.
"Jadi...apa yang sebenarnya terjadi?? Apakah Adrian menyakitimu??"
"Tidak !!!" Potong Anggun cepat.
"Lalu??" Dion mengerutkan keningnya. Sesekali dia melirik kearah Anggun yang masih diam terpekur menatap jalan raya. Hari memang sudah mulai gelap karena senja sudah turun sejak satu jam yang lalu.
"Aku bertemu dengannya." Anggunpun mulai mengaku.
"Ha?? Siapa??"
"Pria itu. Pria yang sudah menyakiti perasaanku. Pria yang menyeretku ke lubang yang penuh luka dan air mata. Dia yang menghancurkan harapan dan kebahagiaanku. Mematahkan hatiku hingga berkeping-keping." Suara Anggun mulai terdengar serak.
"Siapa?? Bagas??" Dion menghentikan laju mobilnya seketika. Dia menoleh ke arah Anggun yang masih menatap jalanan dengan wajah beku dan dingin. Dan disana nampak olehnya setetes air bening mengalir di pipinya. Sudah bisa di tebak kalau benarlah dugaannya. Orang yang di maksud adalah Bagas Saktiawan Aji. Dion menggigit bibirnya pedih. Dia merasakan keterlukaan itu.
Pria itu lalu mengulurkan sebuah sapu tangan kepada Anggun. Dan perempuan itu menerimanya dengan senyum getir. "Terima kasih." Ujarnya.
"Bagaimana bisa pria itu disini?? Bukankah kau pernah bilang kalau dia sekarang tinggal di Semarang??"
"Entahlah...mungkin dia ada keperluan lain di kota ini."
"Bagaimana dengan Adrian?? Apakah dia tau??" Kini Anggun menggelengkan kepalanya perlahan.
Di amatinya wanita itu tanpa berkedip. Ada rasa sakit yang menyelubung hatinya saat sekali lagi air mata itu kembali tertumpah.
Ayolah Dion....berfikir....berfikir.... Kau tak mungkin membuat orang yang kau cintai terus menangis bukan?? Ayo cari jalan keluar bagaimana menghiburnya.
"Ehmmm.....kau tau satu tempat yang menyenangkan??" Dion tiba-tiba mengalihkan suasana.
"Ha?? Apa??"
"Kau ingin tau??" Anggun tak menjawab. Hatinya masih bimbang oleh kemelut yang tiba-tiba menyerangnya. "Baiklah...aku akan mengajakmu kesana. Jadi hapuslah air matamu itu. Kau takkan bisa melihat keindahannya nanti kalau masih saja menangis."
__ADS_1
"Kau pikir aku menangis karena siapa?? Bukankah kau sendiri yang memulai?? Dasaarrr !!!!" Anggun berdecak sebal membuat pria itu menyeringai kecil sambil menjalankan mobilnya kembali.
\===============================