Anggun Bidadariku

Anggun Bidadariku
Kebohongan yang terungkap


__ADS_3

"Bu...bukankah...itu...Adrian?? Apa yang sedang ia lakukan di tempat ini??" Anggun masih mencoba menajamkan pandangannya.


Dion tiba-tiba menjadi tegang. Dengan ragu-ragu diapun menoleh kearah mana Anggun memandang. Dan benarlah,, memang disana tampak Adrian sedang duduk sendiri. Namun tak jauh dari tempatnya berada,, juga bisa di tebak kalau Andinipun ada disana bersama seorang temannya.


"Eh...kau pasti salah lihat Anggun." Dion berusaha berbohong.


"Tidak...tidak. Aku tak mungkin salah. Itu...jelas-jelas Adrian." Mata Anggun mulai menyusuri. Dan kini tahulah dia saat pandangannya jatuh pada seorang wanita yang tak asing lagi. "Ohh,, jadi karena dia." Gumam Anggun kemudian. Pandangannya kini beralih kembali menatap jalan raya. Ada rasa sakit yang tiba-tiba menyelinap dalam hatinya.


"Kita pulang Dion !!!" Seru Anggun kemudian. Dion hanya mengangguk pelan lalu menjalankan mobilnya kembali.


Entah bagaimana,, otaknya seketika berputar cepat. Dan berbagai pertanyaan muncul di benaknya. Apakah selama ini Adrian benar-benar lembur,, atau itu cuma alasannya saja?? Jika demikian,, berarti selama ini pula dia sudah berbohong.


"Anggun....kau tak apa-apa??" Tanya Dion membuyarkan kemelut yang tengah melanda pikiran Anggun. Namun wanita itu masih diam tak bergeming.


"Anggun...katakan sesuatu,, apakah kau merasa terluka?? Aku tau kau merasa sakit melihat itu." Dan tiba-tiba Anggun mengalihkan pandangannya pada Dion dan menatapnya tajam menikam.


"Katakan padaku Dion,, apakah kau tau yang sebenarnya??" Tatapan mata yang mengandung pertanyaan itu tentu menusuk hati pria itu seketika. "Katakan,, apakah kau tau kalau Adrian berbohong padaku??" Dan Dion menjadi gugup seketika.


"Kau...kau tau??" Bukannya menjawab,, dia malah balik bertanya.


"Jadi itu benar??" Anggun semakin menekan dan menajamkan tatapannya dengan kedua alis yang hampir menyatu.


"Eee...Anggun...sebenarnya..." Dion belum sempat menyelesaikan kata-katanya namun Anggun memotong dengan cepat.


"Aku tidak percaya semua ini. Rupanya kau juga membohongiku." Anggun menggeram penuh amarah. Dion jadi gelisah. Pikirannya jadi terbelah antara fokus menyetir dan tekanan yang di berikan Anggun padanya.


"Hentikan mobilnya sekarang !!!" Pinta Anggun kemudian.


"Anggun...dengarkan aku..." 


"Aku minta berhenti sekarang juga !!!" Suara Anggun terdengar lagi dan kini dengan intonasi agak tinggi. Maka akhirnya Dion pun menuruti permintaan Anggun dengan terpaksa.


Tanpa menunggu waktu,, wanita itupun keluar dari mobil dengan cepat. Keluarnya Anggun secara tiba-tiba membuat Dion terkejut dan secepat kilat pula dia menyusul wanita itu.


"Tunggu Anggun !!! Aku mohon dengarkan Aku." Dion mengejar Anggun dan berusaha memberi pengertian.

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu ku dengar darimu. Ternyata kau sama saja dengan yang lain,, kau sudah membohongiku,, mengkhianati kepercayaanku. Sungguh aku kecewa sekali padamu Dion." Ucap Anggun dengan nafas memburu penuh emosi. Langkahnya terlihat semakin cepat dari sebelumnya. Dion kini menjadi khawatir dengan kehamilan wanita itu. Bagaimana mungkin Anggun tak berfikir kalau saat ini ada jiwa lain di dalam rahimnya.


"Baiklah...aku tau aku salah. Tapi dengarkan aku,, aku punya alasan kenapa aku berbohong padamu." Dion berusaha mengimbangi langkah Anggun.


"Oh ya??"


"Aku mohon,, berhentilah Anggun,, kita bicara sebentar dan dengarkan penjelasanku." Kekhawatiran pria itu semakin membuncah manakala di lihatnya Anggun semakin terengah-engah kelelahan. Dan nyatanya wanita itu masih dalam pendiriannya masih belum mau menghentikan langkahnya. "Anggun,, berhenti kataku !!!" Dion berteriak gusar lalu menarik paksa tangan wanita itu. Dan mau tak mau Anggunpun menghentikan langkahnya dengan nafas yang terengah-engah. Dia benar-benar terlihat lelah. Secepat kilat di tepisnya tangan Dion sekali hentakan.


"Katakan,, kenapa kau menyuruhku berhenti??" Dion memandang Anggun dengan tatapan sayu.


"Anggun,, sekali lagi aku minta maaf atas apa yang sudah ku lakukan padamu. Sungguh,, aku merasa bersalah untuk itu." Pria itu menjeda kalimatnya sejenak. "Dengarkan,, sejujurnya....aku memang tak ingin membohongimu sejak awal. Tapi apa yang bisa aku lakukan Anggun,, kau tau posisiku....aku dihadapkan pada pilihan yang sulit dimana kalian berdua adalah sama-sama sahabatku. Tentu saja,, meski aku tidak menyukai kebohongan ini,, namun aku juga harus menghormati prinsip Adrian sebagai temanku. Dia sengaja menyembunyikan kebenaran darimu,, dan haruskah aku membukanya di depanmu?? Bukankah lebih baik kalau kau tau sendiri secara langsung. Dan saat ini aku senang karena akhirnya kau tau kebenarannya tanpa aku harus memberitahukannya padamu. Dan selain itu,, aku juga tak ingin menambah luka hatimu jika aku harus jujur dengan apa yang terjadi sebenarnya. Jadi....tolong maafkan aku Anggun."


Wanita itu hanya mendesah panjang. Tatapannya menatap kosong kedepan. Nafasnya sudah mulai teratur dan sepertinya dia mulai bisa mengendalikan emosinya. Entahlah,, dia merasa aneh. Tak biasanya Anggun semarah ini. Bahkan meskipun sekali-kali Adrian berkata kasar padanya,, Anggun sama sekali tak terpancing emosinya. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya?? Ah...mungkin itu karena pengaruh kehamilannya.


"Baiklah...." ujar Anggun setelah berhasil mengatur nafasnya.


"Apa?? Jadi kau memafkanku??" Dion tersenyum senang. Wajahnya berseri seketika.


"Tapi aku masih sakit hati."


"Hmmm....akan ku pegang janjimu."


"Baiklah...kalau begitu,, ayo kita kembali ke mobil."


Dan merekapun beriringan bersama menuju mobil kembali. Dion melajukan mobilnya tanpa menunda waktu. Dia ingin cepat mengantar Anggun sampai rumahnya supaya wanita itu segera bisa beristirahat. Dia tahu kalau saat ini Anggun benar-benar lelah.


"Maaf atas perilakuku tadi." Anggun membelah kesunyian.


"Tidak,, kau pantas untuk marah padaku. Aku memang bersalah." Dion masih fokus menyetir. "Tapi aku minta satu hal padamu Anggun,, jangan lakukan itu lagi seperti tadi. Kau sungguh membuatku khawatir dengan kehamilanmu. Aku takut terjadi apa-apa denganmu." Dion menoleh sebentar pada wanita disampingnya.


Anggun tertegun mendengar ucapan tulus pria itu. Entah mengapa ada perasaan aneh yang menjalar di benaknya.


"Kenapa kau begitu baik padaku Dion??" Tanya Anggun masih memperhatikan wajah pria disampingnya.


"Karena kau memang pantas ku perlakukan dengan baik Anggun." Tidak !!! Karena aku mencintaimu. Aku berjanji tanpa atau dengan adanya aku di sisimu,, kau pasti akan bahagia. Jika aku memang tidak bisa memilikimu,, maka aku pastikan Adrian akan mencintaimu. Namun jika Adrian tidak bisa menerimamu dan melepaskanmu,, maka akulah orang pertama yang akan mengulurkan tangan dan meraihmu. Dan bersamaku kau akan bahagia. Aku janji itu.

__ADS_1


Merekapun kembali terdiam dan tak ada obrolan lain bahkan hingga Dion sampai di rumah wanita itu.


××××××××××


Sementara itu Adrian yang sejak tadi tengah mengawasi dua orang yang tengah bercengkrama mesra dalam sebuah cafe,, masih asik dia berlama-lama di tempatnya. Kelihatan sekali kalau wajahnya tengah meredam amarah. Adrian memang sudah hampir tak dapat menahan gejolak emosinya karena melihat keakraban dua orang yang tengah di awasinya. Siapa lagi kalau bukan Andini dan teman prianya,, Niko.


Memang terlihat olehnya akhir-akhir ini Andini dekat sekali dengan pemuda itu. Sesungguhnya Niko adalah teman satu profesi dengan Andini dimana dulunya mereka kuliah di kampus dan fakultas yang sama. Sejak dulu Niko sudah menyukai Andini,, namun karena keberadaan Adrian dan sepertinya Andini lebih memilih pria itu,, akhirnya dia cuma bisa menyimpan perasaannya. Namun berbeda dengan Adrian yang sebenarnya mengetahui tentang perasaan Niko pada Andini. Itulah sebabnya,, Adrian tidak suka kalau Andini dekat dengan pria itu.


Dan kini emosinya benar-benar sudah membuncah saat dia melihat Niko mulai berani memegang tangan Andini. Adrian berdiri seketika dan mendatangi tempat Andini berada.


"Dini...bisa kita bicara sebentar??" Andini tidak terkejut melihat kedatangan Adrian. Dan mata pria itu langsung menatap tajam pada kedua tangan yang masih saling berpegangan. Mendapat tatapan mengintimidasi demikian,, Andini tentu merasa tak enak hati. Dia lalu menarik tangannya langsung.


"Tak ada yang perlu kita bicarakan lagi Adrian. Bukankah aku sudah mengatakannya padamu berkali-kali?? Tidakkah kau mengerti itu??" Ucap Andini jengah.


"Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu."


"Tidak perlu !!! Aku tak ingin mendengar apapun darimu dan kumohon,, berhentilah mengikutiku terus." Niko yang tau gelagat buruk tersebut lalu berdiri dan pergi ke meja kasir untuk membayar semua makanan yang mereka pesan.


"Dini,, aku tidak suka kau dekat-dekat dengan pria itu !!!" Cetus Adrian saat Niko meninggalkan meja.


"Hah??? Siapa kau berani melarangku bergaul dengan seseorang. Kau sama sekali tak berhak mencampuri urusanku." Bantah Andini kasar.


"Dengar Din,, kau tidak tau siapa Niko sebenarnya."


"Aku tau,, dia pria yang sejak dulu menyukaiku bukan??" Andini menatap Adrian tajam. "Kenapa?? Kau terkejut aku mengetahuinya?? Dan asal kau tau kalau Niko sudah menyatakan perasaannya padaku." Wanita itu menarik salah satu sudut bibirnya.


"Andini....aku mohon,, jauhi dia. Kau tidak tau siapa dia sebenarnya. Dia itu pria brengsek dan tak sebaik yang kau kira."


"Oh ya?? Lalu bagaimana denganmu?? Apakah kau tidak demikian?? Ah...sebaiknya Kau juga bercermin dengan dirimu sendiri."


Tampak Niko datang kembali ke meja mereka.


"Kita pergi sekarang??" Ajak pria itu tanpa menghiraukan keberadaan Adrian di situ.


"Yuk,, aku juga sudah mulai gerah disini." Andini membuat ekspresi seperti orang kepanasan. "Maaf,, aku harus pergi. Dan untuk kata-katamu....sebaiknya Kau simpan saja ocehanmu itu." Andini memukul telak pada akhir perkataannya. Dan merekapun pergi meninggalkan Adrian yang semakin dibakar oleh api amarah dan cemburu. 

__ADS_1


\===========================


__ADS_2