
Bagas dan Niken sudah memasuki pekarangan rumah keluarga Sujono. Dengan hati berdebar,, Bagas mencoba membunyikan bel rumah tersebut. Dan tak lama kemudian muncullah sesosok wanita tua. Ya,, dia adalah bi Inem. Pembantu rumah itu.
Perempuan itu terkejut manakala tahu siapa tamu yang datang pagi-pagi sekali itu. Namun saat melihat wanita di belakang pria muda itu,, bi Inem dengan cepat merubah ekspresi wajahnya.
"Den Bagas...Non Ayu...mari masuk." Kata bi Inem kemudian. Dan merekapun masuk mengikuti langkah perempuan tua itu.
"Kenapa rumah sepi sekali bi?? Bapak dan Ibu kemana??" Tanya Niken lalu menyerahkan buah tangan yang di bawanya.
"Bapak dan Ibu kebetulan ada urusan di luar non. Dan nanti sore baru pulang." Jawab bi Inem sambil menerima oleh-oleh yang di ulurkan Niken padanya.
"Lalu Dinda dan Adrian??" Telusur wanita itu kemudian mencoba menengok halaman rumah samping yang di penuhi oleh taman bunga. Dan kali ini bi Inem terdiam. Pandangannya jatuh pada sosok Bagas yang sedang asik memandangi sebuah foto yang terpasang di dinding.
Niken sudah lupa dengan pertanyaannya tadi. Dia kini sudah melebur dirinya dengan bunga-bunga di taman itu. Setelah meletakkan buah tangan yang di bawa Niken,, bi Inem datang mendekati Bagas.
"Itu adalah foto pernikahan den Adrian sama non Anggun." Suara bi Inem membuyarkan lamunan Bagas. Pandangannya kini beralih pada perempuan tua itu.
"Jadi....Adrian yang menikahinya??" Bagas bergumam pelan.
"Benar den." Bi Inem memperhatikan wajah majikan mudanya dengan mata yang sayu. "Maaf den,, bukannya saya ikut campur,, tapi kenapa den Bagas tega melakukan ini pada non Anggun?? Bukankah aden juga mencintainya??" Tak ada jawaban apapun dari mulut Bagas. Yang terdengar cuma desakan nafas yang panjang dan berat.
"Yang penting mereka sekarang sudah bahagia kan??" Bagas menyimpulkan sendiri tanpa berniat menjawab pertanyaan bi Inem sebelumnya.
"Anda salah den..."
"Maksud bi Inem??"
"Mereka tak seperti yang den Bagas pikirkan." Bi Inem tertunduk sedih.
"Sebentar bi,, tolong jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi?? Adrian menerima dan menyayangi Anggun kan??" Bagas mengguncang tubuh bi Inem keras. Namun betapa terkejutnya ia saat perempuan tua itu justru menangis dan menggeleng pelan sebagai jawaban atas pertanyaan tadi.
Bagas mundur beberapa langkah. Tiba-tiba kepalanya berputar cepat. Bayangan-bayangan Anggun yang lemah dengan uraian air mata di kedua pipinya entah bagaimana bisa melayang-layang di pikirannya. Ada rasa sakit yang tiba-tiba pula menusuk relung hatinya. Tidak !!! Ini tidak mungkin !!! Anggun tak mungkin tersiksa demikian???
__ADS_1
Suara bel berbunyi melebihi kapasitasnya. Tentu saja bisa di pastikan,, siapa lagi kalau bukan ulah Dion Putra Mahendra.
"Kalau kau bukan sahabatku,, aku pasti akan membunuhmu." Seru Adrian saat membukakan pintu untuk sahabatnya itu. Dion hanya terkekeh kecil mendengar ancaman sahabatnya itu.
"Bagaimana,, kau tak lupa menyampaikan pesanku pada istrimu agar dia memasak yang banyak buatku bukan??" Dion menaikkan alisnya.
"Yahhh...lihat saja sendiri. Dia bahkan hampir seharian menghabiskan waktunya di dapur. Padahal hanya dirimu saja,, entah mengapa dia begitu semangat sekali menyambutmu." Jawab Adrian acuh.
"Ciyeeee.....cemburu nih ceritanya." Dion menggoda.
"Apaan siiih?? Nggaklah !!! Ngapain juga cemburu sama orang nggak jelas kayak kamu. Hihh...najis tau."
"Awas ya,, Jangan bilang suatu hari nanti padaku tentang hal itu kalau aku mulai dekat dengan istrimu."
"Haaahh !!! Terserah. Meskipun kau dekat pun,, aku juga tak perduli. Paling-paling kau hanya ingin mempermainkan hatinya saja."
"Serius pun juga nggak bakalan ngaruh buatku. Kau tau sendiri kan,, kalau dihatiku hanya ada satu wanita. Yakni Andini Larasati."
Dion tak lagi mendebat perkataan sahabatnya itu. Namun hati kecilnya mengumpat. Sialan kau Rian,, seandainya kau mau melepaskan istrimu,, demi Tuhan aku adalah orang pertama yang akan melamar dan menikahinya.
"Heeii,, kenapa kau tiba-tiba diam?? Ada yang salah??" Adrian menegur. Dion hanya menyeringai kecil mendengar teguran itu. "Yuk...ah kita ke meja makan."
Mereka berjalan beriring-iringan menuju meja makan. Disana sudah nampak Anggun menunggu dengan gaun putihnya. Rambutnya ia kepang dari tepi dan melingkar membuat seperti bando. Make up yang tak terlalu tebal semakin mempercantik wajahnya malam itu.
Dion tertegun melihat wanita itu. Bahkan meski dengan perut yang membuncit,, sungguh tak mengurangi sedikitpun kecantikannya. Justru auranya semakin keluar. Dan senyum itu....sungguh itu adalah senyum yang selalu memabukkan bagi seorang Dion. Pria itu hampir tidak bisa tidur tiap malam di buatnya dan ingin segera bertemu pagi hanya demi ingin melihat kembali senyuman dari seorang Anggun Kirana Larasati.
"Duduklah !!!" Adrian mempersilahkan tanpa tau kalau sejak tadi Dion selalu menatap istrinya tanpa berkedip. Namun ada satu hal yang membuat hati Dion mengganjal. Mata itu....kenapa dengan matanya?? Tidak tampak seperti biasanya. Seperti menyimpan sebuah kesedihan. Dion hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Mungkin nanti kalau ada kesempatan,, aku akan menanyakannya.
Dion terperangah saat melihat sajian yang ada di hadapannya. Tak hanya Dion,, bahkan Adrian juga tak menepis rasa keterkejutannya saat melihat hidangan di meja makan itu.
"Wooww....Apakah saat ini kita sedang berpesta?? Atau ada tamu lain selain aku??" Dion melirik pada Anggun dan Adrian bergantian. "Jadi....hanya Aku tamu istimewa malam ini??" Ujarnya kemudian karena keduanya tak ada yang menjawab.
__ADS_1
"Ah...baiklah...kita akan memakannya bersama-sama. Yuukk !!!" Siapa yang tuan rumah?? Siapa pula yang mengajak?? Adrian berseru dalam hati. Dan merekapun duduk mengikuti langkah Dion yang sudah mendahului.
"Maaf Dion,, aku tidak tahu apa makanan kesukaanmu,, jadi aku memasak makanan seperti ini." Kata Anggun sambil menata piringnya dan mulai menyendukkan nasi keatasnya."
"Tidak masalah Anggun. Sebenarnya aku hampir sama saja dengan Adrian. Kami sama-sama menyukai masakan tradisional. Kalau Adrian suka rendang tapi kalau aku suka sekali dengan soto. Itu adalah makanan favoritku." Anggun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dan merekapun mulai mencicipi masakan Anggun satu persatu.
"Hmmm....kamu pintar memasak Anggun. Ini semua sangat enak.Mungkin lain kali aku akan kesini lagi untuk merasakan soto buatanmu." Ucap Dion sambil terus mengunyah makanannya. Tampak dia begitu bersemangat sekali menyantap semua makanan itu.
"Ah....kau terlalu memujiku,, Dion." Anggun tersipu. Matanya melirik sekilas kearah Adrian berada. Disana pria itu hanya menunduk sambil menikmati makanannya yang juga ia santap dengan lahap. Anggun tersenyum melihat hal itu. Syukurlah....Adrian juga menyukainya.
Dion yang melihat sikap Anggun,, lalu ikut melirik ke arah sahabatnya yang kebetulan duduk di sebelahnya.
"Bagaimana Adrian?? Kau setuju dengan ucapanku??" Adrian terbatuk karenanya dan dengan cepat dia meraih segelas air putih yang sudah tersedia di hadapannya.
"Yahh....ini tidak buruk." Katanya pura-pura tidak perduli.
"Kau ini....padahal jelas-jelas kau makan dengan lahap. Masih saja tak mau mengakui kalau masakan istrimu enak." Dion menyikut Adrian jengkel membuat Anggun tersenyum geli melihat tingkah konyol dua pria di hadapannya.
"Cckkk...kau tidak tahu kalau selama seharian aku belum makan apa-apa. Itu sebabnya aku makan dengan lahap." Adrian masih mencoba berkelit.
"Apa?? Jadi selama seharian kau tidak makan?? Dan baru makan malam ini??" Dion lalu memandang Anggun dengan tatapan bertanya.
"Nggak kok. Tadi pagi aku juga sudah menyiapkannnya sarapan dan siang hari saat aku menawarinya makan,, Adrian bilang kalau dia masih kenyang." Anggun cepat-cepat menepis dugaan buruk yang mulai menyelubungi otak Dion. Kini Dion berganti menatap Adrian dengan tajam. Dan pria disampingnya hanya menyengir saja mendapat tatapan yang demikian.
"Aku akan membuat perhitungan denganmu nanti !!!" Ancam Dion berbisik.
"Silahkan,, aku tidak takut !!!" Balas Adrian acuh.
"Bagaimana kalau aku mengatakan pada Andini kalau kau tertarik dengan masakan istrimu." Kini Adrian berbalik menatap Dion tajam. Dan pria itu hanya bisa menyeringai penuh kemenangan.
\================================
__ADS_1