
Kedua manusia yang pernah memiliki ikatan di masa lalu itu,, masih menumpahkan perasaannya dalam sebuah pelukan. Mereka tak menyadari bahwa apa yang mereka perbuat barusan sudah membuat hati seseorang hancur berkeping-keping.
Siapa orang itu?? Ya...dia tak lain adalah Anggun. Ternyata dia mendengar percakapan mereka sejak beberapa menit yang lalu. Dan saat ini,, Anggun yang merasa hatinya telah patah,, tidak tahu harus bagaimana.
Yang dia lakukan saat ini adalah berlari menembus hujan yang sangat lebat. Dengan berderai air mata,, wanita itu seakan tak menghiraukan keadaannya yang kini memprihatinkan. Banyak mata yang menatap kearahnya dengan sorot mata bertanya karena heran. Tak sedikit pula yang mengasihani melihat keadaan Anggun yang tengah hamil tua sedang berlarian tanpa tujuan.
Kenapa?? Kenapa aku harus lari?? Bukankah seharusnya aku tetap disana?? Tapi hatiku?? Aku merasa hatiku sangat sakit. Dan air mata ini,, kenapa tak mau berhenti?? Aku benci perasaan ini !!! Kenapa aku jadi merasa tersakiti?? Adriaaannn....kenapa Kau ucapkan kata-kata itu disaat aku ada disana dan mendengar semuanya dengan telingaku sendiri?? Kenapa semua terjadi disaat aku mulai menjatuhkan hati dan perasaanku padamu??
Apakah aku marah?? Ya !! Aku marah,, kesal,, cemburu. Dan itu terjadi karena aku sudah mulai mencintaimu. Kenapa?? Kenapa?? Aku benci kamu Adrian !! Aku benci !!!
Jeritan hati Anggun tak terelakkan lagi. Air matanya semakin bersimbah seakan bersaing dengan tetesan air hujan yang mengguyur tubuhnya. Entah mengapa kejadian saat ini mengingatkannya kembali pada saat dimana ia mendengar kabar Bagas menikah dengan wanita lain. Ya....Anggun juga merasakan sakit yang sama dengan waktu itu. Seakan trauma kembali menghantui pikirannya.
Anggun tak sadar bahwa dia semakin mempercepat langkah kakinya. Seakan ia lupa kalau saat ini dia membawa sebuah kehidupan di dalam tubuhnya. Yang di pikirkannya saat ini adalah membuang bayangan kejadian menyakitkan yang ia lihat sesaat lalu.
Anggun tak melihat kalau di depannya ada sebuah batu yang kebetulan tergeletak di tepi jalan hingga akhirnya,, sebuah malapetaka menimpanya. Kakinya tersandung batu tersebut dan membuatnya hilang keseimbangan seketika.
"Aaaaaaaaaaaaa........." teriakan wanita itu menggema di tengah-tengah hujan yang turun dengan derasnya. Anggun tersungkur dengan memegangi perutnya.
"Aakkkhhhhh...." wanita itu merintih menahan sakit. "Tolooonnggg....." jeritnya mencari pertolongan.
Anggun merasa perutnya sangat sakit seperti di remas-remas. Dia bahkan sampai lupa dengan tangisnya karena sakit hati terhadap Adrian. Wanita itu kini menangis karena rasa sakit di perutnya yang menegang. "Aakkhhhh....to....loooongggg...."
Sayangnya tak ada siapapun yang lewat saat ini. Keadaan seperti di hipnotis. Seketika menjadi lengang. Sepi. Bahkan tak ada satu mobil pun yang lewat. Anggun tidak tahan lagi,, dia bahkan sampai menahan napasnya karena sakit teramat sangat yang kini menderanya.
Di saat itulah...sebuah mobil Xenia melintas di jalanan itu. Anggun yang mengetahui keberadaan mobil tersebut dari jauh,, mencoba memaksakan dirinya untuk berdiri. Dan dengan tertatih-tatih diapun mencoba menghentikan mobil yang melaju ke arahnya. Anggun melambai-lambaikan tangan sambil memegangi perutnya. Sesekali dia meringis karena menahan sakit.
Sementara itu di dalam mobil...
Seorang pemuda yang nampak fokus menyetir sedang sibuk mendengarkan sebuah berita di siaran radio yang ia putar. Menyebutkan bahwa beberapa menit yang lalu di salah satu kawasan di daerah Surakarta telah terjadi pohon tumbang di tengah jalan besar dan menimpa sebuah mobil kijang. Di akibatkan karena curah hujan yang begitu deras.
Pemuda itu mendengarkan dengan seksama sambil menajamkan pandangannya ke depan. Dan pada saat itulah,, di lihatnya di trotoar samar-samar seseorang sedang tertatih-tatih berjalan ke arah jalan raya sambil melambai-lambaikan tangannya.
Pemuda itu memperlambat laju mobilnya. Dia mengamati dengan seksama orang yang melambai ke arahnya itu. Dan betapa terkejutnya ia saat mengetahui dengan jelas orang yang tengah merintih menahan sakit di luar sana.
Dengan sekali hentakan,, mobil itupun berhenti seketika. Pemuda itu tak menunggu waktu lama. Dia langsung membuka pintu dan melompat dari mobil dalam tempo yang sangat singkat.
Dan semua terjadi tepat pada waktunya. Saat Anggun sudah hampir hilang keseimbangan dan hampir terjatuh,, pemuda itu langsung menangkapnya dengan cepat.
"Angguuunnn...." teriak pemuda itu panik. Pemuda itu lebih terkejut lagi saat menyadari darah sudah mengalir di sela-sela kaki Anggun. "Anggun....Anggun....apa yang terjadi denganmu??" Pria itu memeluk tubuh wanita itu erat. Nafasnya memburu karena cemas yang meningkat dalam waktu singkat.
Anggun yang sudah lemas dan tak mampu menopang tubuhnya berusaha memulihkan kesadarannya yang hampir hilang. Mencoba membuka matanya yang hampir terpejam.
Bibirnya tersenyum samar seakan mengutarakan kegirangannya karena bertemu dengan orang yang tepat. "Dionnn...." desisnya lirih hampir tak terdengar.
"Anggun apa yang sebenarnya terjadi denganmu?? Kenapa kau seperti ini?? Mana Adrian?? Kenapa dia tidak bersamamu??" Dion melancarkan pertanyaan bertubi-tubi.
"Di...dion...a...aku...akkhhhhh...s...sa...kit...." Anggun kembali merintih saat sakit kembali datang dan meremas perutnya."Aaakkhhh....."
__ADS_1
"Tenanglah Anggun. Aku akan membawamu ke rumah sakit segera. Aku mohon,, bertahanlah !!" Dion mengusap wajah Anggun penuh sayang lalu dengan sekali angkat dia menggendong wanita itu dan membawanya ke mobil.
Seperti kilat,, mobil itupun melesat dengan cepat. Dion sudah tak bisa menoleransi lagi soal apapun. Melihat kondisi Anggun yang mengenaskan,, semua seperti menghapus semua logikanya. Dion bahkan tak mengindahkan lampu lalu lintas yang baru saja berganti dengan warna merah. Pria itu tetap menerobosnya. Hasilnya banyak mobil yang mengklakson dan mengerem mendadak akibat kecerobohan yang ia lakukan. Mungkin juga mereka mengutuk perbuatan Dion yang bisa membawa maut itu.
Raut muka cemas dan khawatir tak lepas dari wajahnya. Dion berkali-kali menoleh kearah Anggun berada. Wanita itu masih meringis-ringis menahan sakit. Bertahanlah Anggun...bertahanlah...
Hanya sepuluh menit akhirnya mobil Dion sampai di rumah sakit terdekat. Tanpa membuang waktu,, pria itu langsung mengangkat tubuh Anggun yang sudah nampak letih tak berdaya. Dion tak menghiraukan,, meski mobilnya bersimbah darah yang mengucur terus dari sela-sela kaki wanita itu.
"Dokter...dokter...cepat tolong dia !!!" Dion berteriak sekeras mungkin di lorong rumah sakit.
Seorang suster yang melihat kepanikan Dion langsung mengambil brankart yang tersimpan di sebuah ruang kosong lalu membawanya pada Dion. Pria itu meletakkan wanita yang ada dalam gendongannya perlahan-lahan ke atas brankart.
"Bertahanlah. Anggun...bertahanlah...percayalah,, kau dan bayimu akan selamat." Dion masih memberikan kalimat motivasi terakhirnya sebelum akhirnya sang suster membawanya pergi ke sebuah ruangan.
Dion mondar-mandir di ruang tunggu. Pikirannya begitu kacau saat ini. Semua hanya dipenuhi dengan kecemasan terhadap wanita itu. Tiba-tiba terdengar ponselnya berbunyi. Dion melihat panggilan tersebut berasal dari mamanya.
"Iya ma??"
"....."
"Maaf ma,, Dion tidak jadi kesana. Ada urusan mendadak yang harus Dion kerjakan."
"....."
"Tidak ma. Mama tau aku sudah berubah."
"....."
"....."
Dion menutup ponselnya. Dan di saat yang bersamaan muncul seorang pria berpakaian serba putih. Dia adalah dokter yang menangani Anggun.
"Bagaiamana keadaannya dok??" Serbu Dion langsung.
"Tuan,, saya harus memberitahukan pada anda bahwa keadaan pasien saat ini benar-benar mengkhawatirkan terutama pada bayi yang di kandungnya. Pasien mengalami pendarahan yang banyak dan ini sangat berbahaya dengan kondisi keduanya. Apa lagi air ketuban pecah lebih awal dari perkiraan." Dokter menjelaskan.
"S...saya tidak mengerti dok??"
"Jadi begini tuan. Pasien harus segera di operasi. Karena jalan itulah yang bisa menyelamatkan keduanya."
"Di...di operasi??"
"Ya,, kami harus mengeluarkan bayinya meski usia kandungannya belum cukup."
"Eh...saya...masih belum mengerti dok. Tapi...lakukanlah yang terbaik. Saya ingin keduanya selamat."
"Baiklah. Kalau begitu saya ingin minta tanda tangan keluarganya sebagai persetujuan. Apa anda suaminya??"
__ADS_1
"Saya...."
Dion terdiam sejenak. Hatinya bimbang seketika.
"Ehmmm...saya adalah sahabatnya dok. Tapi saya mengenal suaminya. Tunggulah,, saya akan menghubungi orangnya dulu."
"Baiklah. Saya mohon anda harus cepat. Karena ini menyangkut nyawa pasien."
"I..iya dok."
Dokter itupun berlalu meninggalkan Dion yang masih berdiri terpaku dengan pikiran yang berantakan. Namun dengan cepat pria itu mengumpulkan kesadarannya kembali dan kali ini tujuannya adalah menghubungi Adrian.
Di tempat lain....
Di rumah makan tempat Adrian berada...
Terlihat Adrian sudah tak bersama siapapun. Rupanya Andini sudah pergi sejak beberapa menit yang lalu. Dan kini Adrian masih duduk termenung dalam penantiannya. Pikirannya menggantung pada kejadian sesaat lalu dengan mantan kekasihnya itu.
Dan pikiran pria itu tiba-tiba seperti di ingatkan kembali pada tujuannya di tempat itu. Adrian menengok jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ini sudah satu jam setelah aku menelpon tadi,, dan dia masih belum datang. Apa terjadi sesuatu?? Pikirnya.
Adrian mencoba untuk menghubungi Anggun,, namun sial....ternyata ponselnya mati. Bagaimana bisa aku lupa menchargernya tadi?? Gerutunya.
Dion menoleh ke kiri dan kekanan. Pandangannya lalu tertuju pada seorang pelayan yang berdiri di dekat pintu masuk. Dia lalu berdiri mendekati pelayan itu.
"Ada yang bisa saya bantu tuan??" Tanya sang pelayan.
"Ehmm...ya. Apakah kau tadi melihat seorang wanita hamil berambut panjang dengan memakai gaun warna merah marun??" Tanya Adrian iseng-iseng. Ya,, dia hanya ingin sekedar bertanya meski kata hatinya menyangkal. Mana mungkin Anggun sudah datang?? Kalaupun sudah,, dia pasti sudah menemuiku.
Pelayan yang di tanya tampak mengerutkan keningnya,, berpikir.
"Hmmm...ya. saya melihatnya tadi tuan." Jawab pelayan itu setelah yakin dengan hasil ingatannya.
"Apa?? Jadi dia sudah datang?? Apa kau yakin??"
"Hmm...saya yakin ciri-cirinya sesuai dengan yang tuan sebutkan tadi."
"Kapan dia kesini??"
Pelayan itu berpikir sekali lagi. Dan kali ini agak lama dari sebelumnya.
"Ehmm...kalau tidak salah,, sejak setengah jam yang lalu saat anda masih bicara dengan teman wanita anda yang satunya lagi. Dan saya lihat kemudian dia langsung pergi lagi."
Kali ini Adrian terhenyak dari dari tempatnya. Ja...jadi...Anggun sudah datang sejak tadi?? Apakah...apakah dia mendengar pembicaraanku dengan Andini tadi??
Tanpa menunggu waktu lagi,, Adrian lalu kembali ke mejanya untuk membayar pesanannya dan diapun segera berlalu dari tempat itu.
\===========================
__ADS_1