
Adrian mengerjapkan matanya pelan. Rupanya pria itu tertidur di ruang tamu. Pria itu melirik jam yang melingkar di tangannya. Ahh...sudah jam 7 rupanya. Adrian menoleh ke kanan dan ke kiri mencoba menemukan sosok seseorang. Namun rumah kelihatan sepi. Tak ada siapapun selain dirinya. Dan seperti di sentakkan dari kesadarannya,, Adrian lalu melompat dari kursi duduknya.
"Anggun...Anggun...apa kau sudah pulang??" Tetap tak ada jawaban apapun. Adrian memeriksa kembali seluruh isi rumah. Dan hasil yang sama seperti semalam juga di dapatnya. Pria itu mengacak rambutnya frustasi. Adrian teringat dengan ponselnya. Dia lalu mencoba menghubungi Anggun lewat telpon selular itu. Masih sia-sia. Nomor yang ia tuju tetap tidak aktif.
Adrian menghempaskan tubuhnya kembali di kursi semula. Meraup wajahnya dengan risau. Kemana sebenarnya Anggun?? Apakah semalam dia benar-benar tidak pulang?? Ataukah dia pergi ke suatu tempat??
Adrian berpikir sejenak. Ah....rumah ibu. Mungkinkah dia kesana?? Baiklah,, aku akan coba mengeceknya kesana sebelum pergi ke kantor.
Adrian cepat pergi membersihkan dirinya karena ingin segera menuju ke tempat orang tuanya. Dia berharap,, wanita yang di cari akan berada disana.
Bel rumah keluarga Sujono berbunyi beberapa kali. Bi Inem tergopoh-gopoh datang untuk membukakan pintu.
"Eh...den Adrian..." seru wanita tua itu.
"Ibu ada bi??" Tanya Adrian langsung masuk begitu saja.
"Wonten den. Beliau ada di dapur."
Tanpa menunggu jawaban lain,, Adrian menuju tempat ibunya berada. Matanyapun tak luput dari tatapan liar yang mencari-cari sesuatu.
"Ibu...ibu..." seru Adrian dari jauh. Sang ibu yang tengah sibuk mengupas bawang terkejut saat mendengar seruan putranya. Wanita itu menoleh seketika.
"Adrian ?!??!"
Adrian lalu meraih tangan ibunya dan menciumnya. "Assalamualaikum bu...."
"Waalaikum salam ngger...." jawab bu Ratih masih dalam keadaan heran. "Tumben le,, kamu kemari?? Ada perlu apa?? Anggun bersamamu??"
Mendengar pertanyaan terakhir ibunya,, Adrian jadi membatu. Hanya pandangannya saja yang menatap ibunya penuh tanda tanya.
"Kenapa le?? Kenapa kau menatap ibu seperti itu??"
"Eh...tidak bu. Tidak ada apa-apa." Adrian mengelak.
"Lalu,, ada apa kamu pagi-pagi datang kemari?? Apa kau tidak berangkat ke kantor??"
"Eh...iya bu. Ini juga mau ke kantor. Aku hanya sekedar mampir saja. Aku rindu sama ibu." Pria itu mencoba beralibi.
"Dan istrimu?? Dia sudah berangkat mengajar??"
"Ehm...i...iya...bu." Adrian tergagap karenanya. Bagaimana ini?? Jadi Anggun juga tidak ada disini?? Lalu kemana sebenarnya dia pergi?? "Ehm...bu,, saya harus pergi."
"Kamu sudah sarapan tadi??"
"Ya. Sudah bu." Sekali lagi Adrian berbohong.
"Baiklah,, hati-hati di jalan le..."
Bu Ratih mengantarkan putranya sampai ke halaman rumah. Beberapa saat kemudian dari samping rumah muncul pak Sujono.
"Siapa bu'e??" Tanya pak Sujono sambil melihat sekelebat bayangan mobil yang baru saja berlalu.
"Eh...pak. Dari mana saja sampean??"
"Habis dari kebun. Ngomong-ngomong siapa tamu yang barusan datang??"
"Oh...Adrian pak."
__ADS_1
"Dia kemari?? Ada apa,, nggak biasanya??"
"Katanya hanya mampir saja."
Dan dua orang tua itupun berlalu dari halaman rumah tersebut.
Pikiran Adrian semakin kacau. Dia tak dapat menentukan arah. Bahkan hari ini dia terpaksa harus membolos kerja demi mencari kemana perginya sang istri. Di rumahnya,, di rumah orang tuanya,, juga di rumah Anggun yang terdahulu tak ada tanda-tanda wanita itu menginjakkan kaki di semua tempat itu.
Adrian bahkan sempat datang ke sekolah Anggun. Dan ternyata wanita itu juga tidak masuk untuk mengajar. Adrian bertanya pada salah seorang wali kelas XI yang merupakan teman berdiskusi Anggun,, dia mengatakan kalau wanita yang di maksud ternyata mengambil cuti panjang. Dan pupus sudah harapan Adrian kini. Dia tak tahu kemana lagi akan mencari istrinya.
Adrian benar-benar putus asa. Hingga kini,, tak banyak yang ia ketahui tentang Anggun. Hanya satu-satunya orang yang mungkin bisa ia mintai tolong. Yakni Bagas. Karena cuma dialah yang mengerti seluk beluk wanita itu. Namun Adrian tak akan mungkin melakukannya,, itu sama dengan mengumpankan dirinya ke atas jurang. Bagaimana kalau Bagas sampai tau Anggun pergi dari rumah karena dia?? Bagaimana kalau Bapak Ibunya juga tau?? Bisa-bisa hubungan mereka akan kembali pecah seperti sebelumnya. Ahhhh...ini tidak boleh terjadi. Mereka tidak boleh tau. Biar,, biar aku mencarinya sendiri. Semoga aku mendapat petunjuk dimana keberadaannya.
Keesokan harinya....
Adrian berjalan menyusuri lorong kantor dengan langkah gontai. Nampak wajahnya yang sangat kusut karena hampir semalaman dia tidak tidur. Pikirannya hanya tertuju dimana keberadaan Anggun sekarang.
Beberapa karyawan lain yang merupakan sahabat sekantornya,, bahkan harus rela di acuhkan. Tak satupun dari sapaan mereka yang di balas oleh Adrian. Sampai akhirnya...
Brruuukkk
Adrian yang tidak fokus berjalan tidak sengaja menabrak seseorang.
"Adrian !!!" Seru seseorang yang tak asing lagi baginya. Namun pria itu seperti orang yang tak sadarkan diri sehingga tak mendengar seruan itu. "Hei...kau kenapa??" Tanya orang itu lagi yang tak lain adalah sahabat karibnya,, Dion.
Dan baru saat inilah Adrian seperti di sadarkan kembali dari lamunannya.
"Dion...maaf. Aku tidak melihatmu." Ucap Adrian setelah menyadari kesalahannya.
"Tidak masalah. Tapi...ehm,, ngomong-ngomong kau kenapa?? Wajahmu nampak lelah sekali??"
"What?? Kenapa?? Apa ada masalah??"
"Sebenarnya...." Adrian terdiam seketika. Hampir saja mulutnya keceplosan. Tidak !!! Tidak !!! Dion tidak boleh tau kalau Anggun pergi. Dia bisa menghujatku habis-habisan jika tau yang sebenarnya.
"Kenapa??" Dion mendesak sambil mengerdikkan dagunya ke depan.
"Eh...tidak. Tidak ada masalah serius. Aku hanya tidak bisa tidur karena...nyamuk...ya...nyamuk..." Adrian salah tingkah sendiri karenanya. Dia jadi menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Dan Dion hanya memicingkan mata sebagai tanda dirinya tak percaya dengan alasan yang barusan di kemukakan sahabatnya.
"Apa telah terjadi sesuatu??" Dion masih mendesak.
"Ti...tidak. Masalah apa memangnya??"
"Wajahmu kelihatan mencurigakan sekali." Gumam Dion sambil melirik sahabatnya kembali. "Bagaimana kabar Anggun??" Tanya Dion tiba-tiba.
"Apa??" Adrian tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. "Eh...dia...baik." pria itu mengelak lagi.
Tidak Adrian,, Anggun tidak dalam keadaan baik-baik saja. Kau sudah berbuat sesuatu padanya sampai membuatnya terluka. Dan aku tau kenapa kau seperti ini. Ini pasti karena kepergian Anggun. Kau pasti sedang pusing mencarinya,, batin Dion berdebat.
Adrian lalu menatap Dion dengan tatapan mengancam. "Kenapa kau bertanya soal istriku?? Bukankah aku sudah bilang padamu untuk menjauhinya."
"Ayolah...aku hanya bertanya saja. Tidak bolehkah aku menanyakan kabarnya??"
"Lupakan soal dia. Aku tak suka kau membicarakan Anggun di depanku."
"Ccckkkk....aku tidak percaya kau sangat cemburu." Dion menelan ludahnya pahit.
"Itu karena kau yang memulai. Bagaimana bisa kau jatuh cinta pada istri sahabatmu sendiri."
__ADS_1
Kali ini Dion yang terdiam. Dia memang tak bisa mendebat kata-kata sahabatnya yang satu ini. Bagaimanapun juga ini memang tak seharusnya. Namun semua sungguh diluar nalurinya. Perasaan itu tiba-tiba muncul dalam hatinya dan menguasai seluruh indra di tubuhnya sehingga dia sendiri hanya bisa merasakan sakit saat hanya bisa melihat orang yang di cintainya dari jauh.
"Oh...ya,, aku sampai lupa menanyakan sesuatu padamu. Waktu itu....kenapa kau menelfonku?? Apa ada sesuatu yang penting??"
Dion terkejut seketika. Sikapnya jadi salah tingkah. Ya...dia ingat telfon yang waktu itu. Ah...bagaimana ini?? Apakah Dion harus mengatakan yang sesungguhnya pada Adrian kalau Anggun ada di rumah sakit sekarang ini.
Tiba-tiba saja sekelebat bayangan Anggun melintas di pikirannya. Tidak !!! Jangan katakan !!! Dion tersentak saat tangan Adrian menepuk pundaknya.
"Ah...soal waktu itu...sebenarnya itu juga tidak terlalu penting. Dan saat aku menghubungimu,, ternyata nomormu tidak aktif."
"Yahh... maaf. Waktu itu ponselku mati. Jadi aku tidak tau kalau kau menelfon. Tapi semua baik-baik saja kan??"
"Ya. Semua....baik-baik saja."
Dan pembicaraan itupun mati seketika. Mereka berpisah menuju ruangan masing-masing. Dion sempat menoleh sesaat kepada sahabatnya. Maafkan aku Adrian,, bukan maksudku berbohong padamu. Tapi ini adalah keinginan Anggun sendiri.
Satu bulan kemudian....
Hingga saat ini,, dimana Anggun sebenarnya masih belum di ketahui keberadaannya. Hampir tiap malam Adrian tak dapat tidur dengan nyenyak. Sebuah pertanyaan selalu muncul di benaknya. Kemana sebenarnya Anggun pergi??
Sudah beberapa kali pula dia mengunjungi tempat-tempat yang sama. Berharap kalau wanita itu akan ada di salah satu tempat tersebut. Namun nyatanya itu hanya harapan semata yang tak pernah ada wujudnya.
Adrian juga sudah mencoba mengorek keterangan dari Bagas mengenai tempat-tempat yang biasa di kunjungi Anggun. Meski terselip pertanyaan dari Bagas untuk adik laki-lakinya itu,, namun Adrian bisa memanipulasi dengan alibi yang ia selipkan sesempurna mungkin sehingga sang kakakpun percaya begitu saja terhadap kebohongan yang menjadi bumbu pertanyaannya.
Dan nyatanya,, semua tempat yang di sebutkan Bagas juga tak menghasilkan sebuah harapan. Tak ada tanda-tanda kalau istrinya pernah mengunjungi tempat-tempat tersebut.
Sedangkan di lain tempat,, Anggun dan bayinya sudah keluar dari rumah sakit sejak beberapa minggu yang lalu. Dan saat ini dia tengah sibuk mengurus bayi mungilnya yang samakin hari tumbuh semakin sehat. Bayi yang tadinya sangat kecil bahkan hanya sebesar botol,, kini mengalami perkembangan pesat.
Anggun benar-benar seorang ibu yang cakap. Dengan telaten dia merawat bayinya. Dan pengalaman baru ini sungguh membuatnya sangat bahagia. Dia bahkan rela tidak tidur semalaman hanya untuk berjaga demi sang buah hati agar tidak terlambat minum ASI.
Kira-kira dimana wanita itu tinggal?? Ya...tak ada tempat lain yang bisa ia gunakan sebagai tempat persembunyian selain rumah Dion. Awalnya Anggun menolak tawaran pria itu untuk tinggal di rumahnya. Namun karena berbagai alasan yang kuat,, salah satunya karena Dion juga ingin membantu mengurus bayi itu,, jadinya Anggunpun menerima tawaran tersebut. Karena dengan kondisinya sekarang,, tak mungkin dia bisa melakukannya seorang diri. Dan mungkin hanya Dion satu-satunya orang yang bisa ia mintai pertolongan.
"Kejutaaannn....." suara Dion menggelegar memenuhi ruangan kamar Anggun dan bayinya.
Pria itu memang perhatian. Selain memberikan tempat tinggal untuk wanita itu,, Dion juga melengkapi kamarnya dengan fasilitas yang terbaik. Kamar yang tadinya polos ia sulap menjadi sangat fantastis. Bagaimana tidak,, semua bernuansakan tema "baby". Boneka berjejer-jejer di setiap tempat. Cat tembok ia padukan dengan nuansa pink,, mengingat anak Anggun adalah perempuan. Masih ada lagi. Yakni gambar-gambar kartun dari tokoh walt disney juga tampak memenuhi ruangan. Benar-benar menakjubkan. Anggun bahkan di buat tak percaya saat pertama kali masuk kamar tersebut.
Tidak hanya itu saja. Keberadaan Dion memang tak sia-sia bagi Anggun. Pria itu seperti sosok pria yang menggantikan peran suami bagi Anggun. Dion rela juga bergadang bergantian dengan Anggun untuk menjaga sang bayi. Mengganti popok,, menggendong saat ia menangis. Bahkan di hari Minggu,, ia rela membantu Anggun menjemur baju yang sudah di cuci sebelumnya oleh Anggun. Itu semua Dion lakukan dengan suka rela dan penuh keikhlasan.
Dan kali ini untuk yang kesekian kalinya,, Dion datang dengan membawa sebuah boneka barbie.
"Dion...bukankah sudah ku bilang cukup untuk membelikan boneka-boneka itu." Anggun mulai mengomel pelan. Entahlah,, sejak menyandang status seorang ibu,, bibirnya jadi terlatih cerewet. Terutama kalau Dion mulai berulah jahil dan sampai membangunkan bayinya yang tertidur. "Lihatlah,, kamar ini hampir penuh dengan boneka."
"Oh...ayolah Anggun. Aku cuma beli satu saja. Dan ini tadi kulihat sangat cantik. Jadi aku mau membelikannya untuk Cinta." Dion mulai beralasan.
"Dari kemarin,, kau bilang satu...satu...satu...dan satu. Kau selalu beralasan ini untuk Cinta. Kau bahkan tau sendiri kalau Cinta masih belum mengerti soal mainan." Anggun tetap bertahan.
"Tapi...." belum sempat Dion memprotes,, Anggun lalu memberikan bayinya untuk ia gendongkan pada pria itu.
"Sebaiknya kau gendong dia. Aku rasa dia lebih suka bermain denganmu dari pada dengan boneka-boneka itu." Anggun lalu melenggang pergi.
"Hei...kamu mau kemana??" Teriak Dion.
"Mandi." Jawab Anggun berteriak pula.
Yahh...dan Dion dengan senang hati melanjutkan tugas yang semula di lakukan Anggun. Dia tak akan keberatan meski dirinya baru pulang dari kantor. Dion tak menyangka,, seperti inilah senangnya mempunyai seorang anak. Sangat bahagia. Dia bahkan merasa kalau bayi itu adalah darah dagingnya sendiri. Dion sangat menyayanginya.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?? Akankah kebagiaan Dion akan bertahan lama?? Dia tak akan tau bahwa sebentar lagi,, dirinya akan berpisah dari bayi yang sudah ia anggap sebagai putrinya itu. Apa kira-kira yang akan Anggun lakukan??
\===========================
__ADS_1