Anggun Bidadariku

Anggun Bidadariku
Tawaran


__ADS_3

Anggun POV


Apa yang sebenarnya aku harapkan dari pernikahan ini ?? Kebahagiaan ?? Senyuman ?? Harapan akan kelembutan seorang Adrian padaku ?? Tidak !!! Itu semua tidak mungkin !!! Hingga detik ini pun yang kulewati bersamanya adalah kisah yang hanya berujung air mata. Pahit dan terluka.


Aku tak yakin kalau aku akan mendapatkan kebahagiaanku lagi seperti dulu. Ya....semua sudah hancur. Dan itu karena perbuatan manusia terkutuk,,Bagas Saktiawan Aji. Sangat ironi sekali aku berpura-pura tersenyum sedang dalam hati aku menangis. Aku bahkan tak mampu menyampaikan semua permasalahan pelik yang membelenggu hidupku ini. Pada siapa lagi ?? Bahkan tak ada satu teman pun yang bisa aku percaya untuk membagi beban hidupku.


Sudah lewat dua bulan setelah pernikahanku dengan Adrian. Pria yang dulunya sangat pendiam namun ramah,,kini entah kemana perginya sosok baik tersebut. Tak pernah kujumpai sedikitpun sikap manis yang di tunjukkannya padaku. Bahkan seolah aku ini hanya sebuah patung yang cuma indah bila di pajang. Namun mungkin akupun tak seistimewa itu,,tepatnya mungkin aku hanya sekedar sampah yang sama sekali tak berguna baginya.


Aku melewati hari-hariku dengan kelabu. Tak ada senyum apa lagi tawa dan canda. Jangan berharap Anggun....itu hanya mimpi bagimu,,hati kecilku berbisik. Sikap dingin dan kasar suamiku,,selalu menjadi santapan sehari-hari buatku. Bahkan meski aku setia memberikan pelayanan yang mungkin bisa di bilang cukup eksklusif,,namun itu sama sekali tak menarik perhatiannya. Sebenarnya aku tak berharap dia simpati padaku apa lagi mencintaiku. Karena cinta bagiku sudah tak penting lagi saat ini. Hanya saja yang kuharapkan dari dirinya adalah sedikit saja sikap manis dan lembut agar aku tak pernah merasa asing berada di sampingnya. Ya....memang siapa aku ?? Aku memang orang asing baginya. Dan jangan berharap akan menjadi orang terpenting dalam hidup Adrian.


Kepenatanku sepertinya terus bertambah manakala ujian sekolah hampir datang. Dan itu membuatku harus mencurahkan seluruh perhatian dan waktuku untuk anak didikku,,kelas IX. Aku harus memberikan pelajaran tambahan pada mereka pada sore hari. Dan itu berarti akupun harus rela menghabiskan waktuku seharian di sekolah.


Untunglah kehamilanku sudah memasuki bulan ke-4 dan sindrom morning sickness sudah tak kurasakan lagi,,sehingga aku tak lagi merisaukan rasa mual atau kantuk yang tiga bulan terakhir ini aku rasakan. Sedikit lelah itu pasti,,tapi aku bisa mengatasi hal itu. Mungkin aku akan memanfaatkan waktu istirahatku untuk tidur di ruang UKS. Tak perlu berjam-jam,,cukup 10 menit pasti sudah mengurangi kepenatanku.


"Adrian....mulai besok senin,,aku ada kegiatan memberikan les tambahan buat anak-anak. Hmmm...pastinya aku pulang agak sore. Mungkin kau bisa menghampiriku saat pulang kantor ??" Aku mengutarakan niatku untuk pulang satu mobil dengannya pada suatu pagi saat kami berdua sarapan.


"Maaf,,sepertinya aku tidak bisa. Tugas kantorku juga semakin bertambah dan aku harus lembur untuk itu." Jawabnya sambil meneruskan makannya tanpa menoleh sedikit pun kearahku.


"Hmmm...baiklah,,tidak masalah. Aku akan tetap naik angkutan saja." Ujarku dengan senyum kecut.


Ah...apa sih yang ku harapkan ?? Tentu saja dia akan menolak permintaanku. Bersyukur saja pagi hari dia masih mau memberi tumpangan padaku dan bersedia mengantarku sampai tujuan. Aku pun hanya menarik nafas panjang. Alasan lembur ?? Entah itu benar atau tidak. Nyatanya memang selama ini dia lebih sering pulang malam. Dan sekalinya pulang sore hari dia lalu pergi lagi.


Aku bahkan sudah tak pernah menyiapkan makan malam untuknya karena sia-sia kalau akhirnya makanan itu akhirnya tak tersentuh sedikitpun. Namun aku tetap menyediakan makanan siap saji untuknya,,takut kalau dia lapar sewaktu-waktu.


Dan hari Senin pun tiba....


Di hari pertama aku memberikan pelajaran tambahan pada murid-muridku memang terasa melelahkan. Ah....andai saja Adrian bersedia menjemputku ?? Pikiranku tiba-tiba kembali ke masa lalu. Bayangan seorang pria yang pernah ku cintai kembali menari-nari di pelupuk mataku. Dia yang dulu selalu ada untukku dalam tiap kesulitanku. Bahkan sebelum aku menyampaikan keluhanku,,dia sudah maju duluan menawarkan bantuannya padaku. Oh...Bagass....kenapa Kau menyakitiku sebesar ini ?? Aku bahkan masih merasakan kerinduan padanya. Hal yang beberapa bulan terakhir ini berusaha ku hapus,,kini datang kembali.


Tiba-tiba saja lamunanku buyar saat sebuah klakson mobil berbunyi tepat di sampingku. Sebuah mobil Xenia hitam. Aku menoleh kearah mobil tersebut. Siapa ?? Apa aku mengenalnya ?? Dan pertanyaanku terjawab saat jendela mobil itu di turunkan oleh si pemilik.


Aku mengamati dengan seksama pria di dalam mobil. Keningku berkerut sebagai tanda aku menajamkan ingatanku terhadap keberadaan orang itu. Wajahnya benar-benar tak asing bagiku.


"Heii....apa kamu lupa padaku ??" Tanya pria itu dengan senyum lebar. Senyum hangat dan tulus yang entah sudah lama tak pernah aku jumpai lagi.


"Hmmm...anda...."


"Dion. Dion Putra Mahendra. Kau pasti ingat nama itu." Pria itu berseru dari dalam mobilnya. Dan akupun berfikir sekali lagi. "Aku sahabat suamimu yang dua bulan lalu pernah datang ke rumahmu. Ingat ??" Dan pernyataannya kali ini tak dapat terelakkan lagi. Ya....aku ingat !!!


"Ya...aku ingat sekarang." Aku memberikan senyum lebarku.


"Lagi nunggu Adrian ??" Tanyanya kemudian.


"Oh..tidak. Bukankah dia sedang lembur ??" Aku balik bertanya dengan sebuah pernyataan yang ku sertakan. Namun kulihat dia mengerutkan keningnya untuk sesaat sebelum akhirnya diapun berujar kembali. "Ehmm...yach...kalau begitu apa yang sedang kau lakukan disini ??"


"Aku baru selesai mengajar dan ini sudah mau pulang."


"Kalau begitu,,kebetulan sekali aku juga mau pulang,,bagaimana kalau kau pulang bersamaku."


Aku terdiam sejenak. Tak menerima juga tak menolak tawarannya. Apa yang aku pikirkan ?? Bodoh sekali kalau aku tak menerima tawaran yang dia berikan. Dimana suamiku sendiri tak bersedia meluangkan waktunya untukku dengan alasan sibuk,,justru ada orang lain yang bersimpati padaku dan dengan senang hati mengulurkan bantuannya.


"Ayolaahh...hari sebentar lagi gelap." Kata-katanya membuyarkan pikiranku yang sesaat lalu terbang entah kemana.

__ADS_1


"Ehmmm....baiklah." Aku akhirnya menuruti perkataannya. Dan tanpa menunggu perintah lagi,,akupun masuk ke dalam mobilnya. Untuk kemudian mobil yang kami tumpangi melaju menyusuri jalan.


Beberapa saat lamanya kami saling terdiam. Tak ada obrolan. Dan kecanggungan ini jelas membuat kami sangat tidak nyaman. Namun untunglah,,Dion ternyata tak sekaku yang kupikirkan. Dia dengan cepat mencairkan suasana dengan membuka obrolan.


"Apakah setiap hari kau mengajar sampai sore ??" Tanyanya membuka percakapan.


"Tidak. Hanya selama anak-anak ujian saja." Jawabku pelan.


"Dan tiap hari kau jalan kaki ??" Ya...dia menanyakan hal itu karena tadi dia melihatku sedang berjalan.


"Tentu saja tidak."


"Lalu,,kenapa kau berjalan ??"


"Sebenarnya aku sedang mencari taxi. Namun belum dapat. Jadi dari pada aku hanya diam,, mungkin sebaiknya aku mencarinya sambil berjalan." Terangku apa adanya. "Dan kau sendiri ?? Kenapa sudah pulang ?? Kau tidak ikut lembur juga ??"


"Ehmmm...aku...tidak...untuk apa aku lembur ??" Kulihat Dion ragu mengucapkannya.


"Tapi Adrian lembur."


Dion terdiam beberapa saat. Matanya fokus pada apa yang ada di hadapannya. Kulihat senyumnya yang sejak tadi terukir jelas dibibirnya tiba-tiba menghilang. Entah apa yang dipikirkannya saat ini.


"Tentu saja karena aku dan Adrian berbeda. Dia seorang kepala bagian,,dan pastinya pekerjaannya jauh lebih banyak dariku." Jawabnya sambil mengukir kembali senyum yang tadinya hilang.


"Jadi itukah sebabnya dia sering pulang larut ??" Aku mencoba menelusur untuk mengorek keterangan. Bukannya aku ingin tau lebih jauh,,tapi entah kenapa pertanyaan itu tiba-tiba terlintas dalam benakku.


"Ehmm,,ya...begitulah." jawabnya gugup. Dan aku melihat dia mengatakan itu dengan ekspresi yang aneh. Sungguh tak ku mengerti.


"Soal apa ??" Aku mencoba menekannya. Dan Dion masih saja ragu untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. "Soal kehamilanku ??" Putusku tiba-tiba.


"Eh...maaf,,aku tidak bermaksud menanyakan hal bersifat pribadi itu."


"Tidak masalah bagiku. Apa yang ingin kau ketahui ??"


"Sudah berapa bulan kehamilanmu ??"


"Hmmm....hampir lima bulan." Jawabku tenang tanpa beban. Dion masih sesekali mencuri pandang pada perutku. Mungkin aneh pikir nya karena usia segitu masih belum kelihatan. Itu karena aku memakai seragam yang agak longgar sehingga bentuk perutku yang mulai menyembul,,masih belum terlihat dari luar.


"Apakah Adrian selalu memperlakukanmu dengan   buruk ??" Ah...kenapa dia bertanya seperti itu padaku ?? Apakah dia tau yang sebenarnya ??


"Oh...tidak. Dia...baik dan selalu bersikap lembut." Ucapku berbohong sambil melempar pandangan keluar jendela samping.


"Benarkah ?? Tapi sayangnya bukan itu yang kulihat di matamu." Aku menatap tajam Dion yang masih tenang dalam mengemudi.


"Kenapa ?? Apa yang kau lihat ??"


"Hhhh....Aku dan Adrian berteman sudah lama. Dan aku mengenal siapa dia sebenarnya. Hal yang di sukainya dan yang tak di sukainya. Dan semua tentang hal pribadinya akupun juga tahu. Termasuk kisah cintanya." Aku tertunduk mendengar ucapan terakhirnya.


Ya...aku yakin dia tau yang sebenarnya. Dan percuma aku menutupinya. Semua ini memang menyakitkan,,tapi aku tetap harus bertahan walau aku sendiri tak tahu akan bertahan sampai kapan.


"Kalau kau perlu bantuan,,katakan saja padaku." Ujarnya sambil memperhatikanku sekilas. Namun aku tetap terdiam tak memberi tanggapan apapun. "Anggun....kau mendengarku bukan ?"

__ADS_1


Aku seperti di sentakkan. Dan aku menoleh kearahnya seketika. "Ehmm,,ya. Terima kasih sebelumnya. Tapi...aku baik-baik saja." Jawabku masih berbohong. Tidak !!! Tak ada yang baik-baik saja denganku. Aku sangat terluka dan sakit dengan semua yang kurasakan selama ini.


"Baiklah....kau sudah sampai." Oh...aku tak sadar kalau kami ternyata sudah sampai di depan rumahku.


"Terima kasih atas tumpangannya."


"Sama-sama. Oh...ya,,boleh aku minta nomor telfonmu ??"


"Ehmm...yach...tentu." aku yang hendak keluar akhirnya mengurungkan niatku dan duduk kembali di sampingnya. Dion tampak dengan seksama mengamatiku dengan tatapan mata yang tak berkedip.


"Berapa nomormu,,akan aku missed call." Kataku kemudian padanya. Dan diapun dengan cepat menyebutkan beberapa angka sehingga akupun langsung melakukan kontak panggilan pada nomor tersebut. Tersambung. "Nah itu nomorku." Aku menggeser tombol off untuk mengakhiri.


"Baiklah." Dia dengan cepat menyimpan nomorku. "Hmmm,,apakah kau tak keberatan kalau aku menjemputmu tiap hari setelah selesai les bimbingan ??" Tanyanya ragu-ragu,,namun sungguh aku di buat terkejut oleh kata-katanya barusan.


"Ah...tidak...tidak usah. Itu akan merepotkanmu nantinya." Aku berusaha menolak tawarannya.


"Aku mohon,,terimalah tawaranku. Hanya selama les bimbingan saja. Ini demi kebaikanmu juga. Lagian,,bukankah katamu Adrian sibuk dan tak bisa menjemputmu ??"


"Tapi....kau...Ah...aku tak ingin merepotkanmu."


"Tentu saja tidak. Aku justru senang membantumu. Apalagi kau adalah istri sahabatku sendiri. Bukankah sudah tugasku memberikan bantuan kalau sahabatku kesusahan. Lagi pula jam pulang kita sama. Jadi apa yang perlu dikhawatirkan ??" Aku terdiam. Menimbang apakah perlu aku menerima tawarannya. Hmmm,,hanya selama les saja bukan ?? Dan itu berlangsung selama satu bulan. Apakah benar-benar tidak merepotkan ??


"Baiklah....kediamanmu,,ku anggap persetujuanmu." Putusnya.


"Tapi Dion. Aku tidak enak denganmu."


"Tenanglah...kalau kau merasa tidak enak hati mungkin kau bisa memberikan balasan untukku."


"Maksudnya ??"


"Kau pernah berjanji akan mengundangku makan di rumahmu bukan ?? Apakah kau ingat itu ??"


"Oh...yach..." aku terkekeh geli.


"Jadi minggu depan aku akan datang kesini untuk menagih janjimu. Aku akan makan malam disini."


"Tapi Adrian..."


"Tenang saja. Aku juga akan bilang padanya. Bagaimana,,apa kau setuju ??"


"Ya...terserah kamu saja."


"Ok. Aku anggap perjanjian kita deal." Aku tersenyum kepadanya. Entah kenapa pria ini membuatku nyaman duduk disampingnya.


"Kalau begitu,,aku masuk dulu."


"Ok. Sampai jumpa besok. Ingat !!! Jangan pergi sebelum aku datang. Aku tak mau kau membuatku kecewa sudah mendatangi sekolahmu dengan sia-sia."


"Ya." Aku menganggukkan kepala dan melambaikan tangan padanya.


Untuk beberapa saat aku mematung memandangi kepergiannya. Dion...tidak salahkah aku menerima bantuannya ?? Apakah aku perlu mengatakan hal ini pada Adrian ?? Ah...aku bingung. Semoga saja pilihanku tepat kali ini.

__ADS_1


\=================================


__ADS_2