Anggun Bidadariku

Anggun Bidadariku
Sekali Lagi


__ADS_3

Semarang.....


Seorang wanita tengah menangis pilu di ujung ranjang. Dia benar-benar histeris dengan berita yang di terimanya beberapa saat lalu. Ketika dokter memvonis bahwa dirinya tak bisa hamil. Sungguh berita ini adalah kabar paling menyedihkan yang di terima seumur hidupnya.


"Sudahlah....jangan menangis lagi. Ini hanya perkataan dokter,,semua belum tentu benar. Hanya Tuhan yang bisa memutuskan. Percayalah,,semua akan baik-baik saja." Seorang pria tampak tengah menenangkan hati istrinya yang sedang terguncang dengan berita yang di terimanya.


"Tidak mas....tidak ada yang baik-baik saja. Mas tau kalau kita tidak mungkin akan hidup berdua seumur hidup kita. Kita pasti membutuhkan kehadiran seorang anak untuk melengkapi keluarga kita." Wanita itu masih dalam isak tangisnya.


"Iya aku tau. Tapi jangan lupa kalau banyak jalan untuk mendapatkan seorang anak. Kita bisa periksa keluar negeri kalau perlu untuk mendapat solusinya."


"Aku tidak yakin,,mas dengar sendiri tadi apa kata dokter. Kalau sistem indung telurku tak dapat berfungsi lagi. Dan tak ada solusi dari hal itu." Wanita itu semakin memperkeras tangisnya.


"Tenanglah...kita akan mencari jalan keluar lainnya." Pria itu memeluk istrinya erat.


"Katakan mas kalau semua ini tidak benar. Dokter itu pasti bohong. Dia pasti sudah menipu hasil pemeriksaanku." Wanita itu mencoba menghibur dirinya sendiri.


"Ya....semoga saja demikian. Kita akan mencoba periksa sekali lagi ke dokter lain yang lebih spesialis."


Laki-laki itu mencoba kuat,,meski ia sadar bahwa saat inipun hatinya juga terguncang dengan berita tersebut. Pikirannyapun melayang,,sesosok wajah ayu melintas dalam otaknya. Anggun,,apakah ini adalah hukuman Tuhan padaku atas kesalahan yang ku lakukan padamu ???


Dia memejamkan matanya untuk sesaat. Hatinya terasa perih oleh luka yang tiba-tiba menguak begitu saja. Rasanya baru saat ini sesak itu melanda hati dan pikirannya bersamaan. Ya....siapa lagi dia kalau bukan Bagas Saktiawan Aji Pramono. Orang yang sudah memberikan luka dan noda pada wanita lugu yang tulus mencintainya,,Anggun Kirana Larasati.



Surakarta.....


Anggun baru saja pulang dari sekolahnya setelah mengajar. Untuk sampai ke rumah dia harus naik angkutan umum,,karena tak mungkin ia tempuh hanya dengan jalan kaki. Kehamilannya yang masih berusia dua bulan ternyata cukup menyulitkannya. Pasalnya dia harus menahan mual saat berada di dalam angkot dan itu akan berakhir saat dia turun dari kendaraan umum tersebut.


Anggun masih memijit-mijit pelipisnya yang masih terasa pening. Di rebahkan kepalanya pada sandaran sofa di ruangan itu. Pikirannya terbang kepada beberapa waktu hari lalu saat pertengkaran sekali lagi terjadi dalam rumah tangganya.


Saat itu.....


Pak Doni baru saja kembali dari rumah baru Adrian. Niatnya adalah untuk mengantar foto pernikahan mereka berdua. Kebetulan sekali Anggun sudah sampai di rumah saat pak Doni datang.


"Ini non...di suruh ibu ngantar foto pernikahan den Adrian dan non Anggun." Pak Doni menyatakan maksud kedatangannya.

__ADS_1


"Oh...baik pak. Terima kasih sebelumnya."


Anggun lalu ikut membantu pria paruh baya itu menurunkan beberapa bingkai foto yang cukup besar. Anggun begitu kagum dengan hasil bidikan fotografernya waktu itu. Foto-foto tersebut begitu menakjubkan. Sangat hidup,,meski sebenarnya tak ada kehidupan atau nyawa didalamnya. Yang sesungguhnya,,semua senyum itu adalah palsu belaka. Ya,,semua hanya sandiwara.


"Pak...bisakah bapak bantu saya memasang foto-foto ini sekalian ?? Saya rasa,,saya akan kesulitan kalau memasangnya sendirian." Ujar Anggun pada pak Doni setelah menurunkan semua fotonya dari mobil.


"Baik non...Lalu,,kira-kira saya harus memasang dimana ya non ??" Pak Anggun meminta pendapat.


Untuk sejenak Anggun mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Mencari area yang mungkin bagus untuk di pasang sebuah foto.


"Hmmm...mungkin sebaiknya di situ saja pak." Anggun menunjuk sebuah tempat yang cukup luas di dinding. Dan melihat keadaan dinding yang memberikan bekas yang terjiplak jelas oleh perbedaan cat warnanya,,sepertinya disana juga pernah di tempati sebuah foto berukuran sama.


Hampir setengah jam pak Doni membantu Anggun memasang foto-foto itu. Dan setelah menyampaikan ucapan terima kasihnya,,pak Doni akhirnya mohon diri. Anggun tak lupa mengirim salam buat bapak dan ibu mertuanya yang hanya mendapat anggukan dari supir kepercayaan keluarganya itu.


Bagaimana reaksi Adrian nanti saat melihat foto-foto ini ?? Hati kecilnya berbisik. Anggun tak berfikir sampai kesitu sebelumnya. Namun foto sudah terlanjur di pasang dan tak mungkin dia menurunkannya lagi mengingat ukurannya yang begitu besar.


Yahhh....semoga Adrian akan suka,,doanya kemudian.


Dan malam pun tiba. Anggun sudah menunggu Adrian sejak beberapa jam yang lalu. Namun hingga jam 9 malam,,pria yang di harapkan tak kunjung datang. Untunglah tadi sore Anggun sempat mengisi perutnya hingga tak sampai keroncongan.


"Baru pulang ?? Aku menunggumu sejak tadi." Anggun mengulas lalu berniat membantu membawakan tas kerja Adrian. Namun betapa terkejutnya ia saat tangan kekar Adrian menepiskannya begitu saja.


"Jangan coba menyentuhku !!! Aku sangat capek dan tak mau di ganggu !!!" Dia melempar kasar tas kerjanya di atas kursi lalu dengan kasar pula merenggangkan dasi yang sejak pagi mengikat lehernya.


"A...aku....akan menghangatkan makananmu." Anggun mencoba menetralisir kegugupannya akibat hardikan Adrian barusan.


Pria itu diam tak merespon. Tiba-tiba saja matanya menangkap sebuah gambar yang terpasang jelas di dinding. Dan seketika darahnya menjadi mendidih.


"Brengsek !!! Siapa yang memasang foto ini,,haaahhh ?!?!" Teriaknya tiba-tiba.


Anggun yang hendak melangkah kedapur spontan saja terkejut. Dan dia jadi mengurungkan niatnya tersebut. Anggun berbalik menghadap Adrian yang sudah berdiri kembali dengan mata memerah karena marah. Anggun meneguk air liurnya susah payah. Dia melihat aura menakutkan sekali lagi di wajah tampan itu.


"Katakan !!! Siapa yang berani memasang foto-foto ini tanpa seizinku !!" Tanyanya kembali dengan kemurkaan yang penuh. Matanya mengedar keseluruh ruangan. Dan memang di jumpainya tak satu foto yang terpasang. Dan itu benar-benar membuat darahnya semakin mendidih.


"Ma....ma...maafkan aku Adrian....aku yang menyuruh memasang foto-foto itu." Jawab Anggun ketakutan dengan kepala tertunduk. Tubuhnya gemetar seketika.

__ADS_1


"Kau ?!?! Berani-beraninya kau melakukan hal-hal di luar sepengetahuanku." Adrian mencengkeram bahu Anggun keras. Dan itu membuat Anggun meringis kesakitan.


"Ma...maafkan aku Adrian...."


"Aku minta,,kau lepas semua foto itu sekarang juga !!!" Perintahnya tajam sambil mengacungkan telunjuknya kearah foto di dinding.


Menurunkannya ??? Ini tidak mungkin !!! Aku tak sekuat itu jika harus menurunkan foto yang berukuran besar sebesar orang dewasa,,batin wanita itu menjerit.


"Tunggu apa lagi ???" Adrian memberikan ultimatumnya sekali lagi.


"Adrian....a...aku...tidak bisa..." Anggun menolak. Bukan karena tak mau,,namun karena merasa tak mampu. Namun Adrian rupanya salah mengartikan.


"Ohh....jadi kau rupanya ingin foto itu tetap terpasang di dinding ?? Begitu ??" Mata pria itu menyorot tajam seakan hendak menguliti mangsanya.


"Bu....bukan begitu Adrian....aku..."


"Aaahhh....persetan dengan kau. Kalau kau tak mau,,biar aku saja." Dan tanpa menunggu lama,,Adrian pun beraksi.


Namun betapa shock nya Anggun saat Adrian tak hanya menurunkan gambar itu dengan kasarnya,,namun pria itu sampai membantingnya hingga kaca yang yang menjadi pelindung gambar indah itu hancur berkeping-keping.


Anggun menjerit histeris. Refleks tangannya menutup mulutnya sendiri. Runtuhlah air mata wanita itu seketika.


"Kenapa harus seperti ini Adrian ???" Bisiknya lirih.


Dan pria itu juga melakukan hal yang sama dengan foto-foto yang lain. Anggun benar-benar tak bisa menahan sakit nya lagi. Dan kali ini dia benar-benar terluka.


Tuhannn....sampai kapan aku menghadapi perlakuan dingin Adrian ??? Rintihnya dalam hati.


"Aku peringatkan padamu,,jangan sekali-kali kau memasang foto-foto pernikahan kita di rumah ini !!! Dan asal kau tau,,bahwa aku tak pernah menganggap pernikahan ini ada." Setelah mengucapkan deklarasinya,,Adrian pun berlalu dengan kasar dari tempat itu. Dan tinggallah Anggun sendiri dalam kebekuannya. Hanya air mata yang selalu setia menemani dalam kesendiriannya.


Anggun,,menarik nafas panjang mengingat kejadian malam itu. Matanya menerawang jauh dan kembali ke masa lalu saat kehidupannya masih di hiasi oleh kehadiran seorang pria tampan dan dewasa. Bagas. Dan kemana pria itu sekarang sampai menyeretnya ke lubang yang penuh dengan luka dan air mata.


Ya....semua karena dia !!!


\==================================

__ADS_1


__ADS_2