Anggun Bidadariku

Anggun Bidadariku
Jelaskan!


__ADS_3

Anggun selesai dengan sarapan yang di buatnya pagi ini. Hanya sepotong roti dengan margarin dan taburan keju di atasnya juga segelas susu hangat sudah disiapkannya. Sengaja dia tak ingin menambah keruwetan dalam memasak pagi ini karena sebelumnya dia sudah sibuk membersihkan ruangan di kamar Adrian yang semalam terbakar.


Anggun sengaja bangun lebih pagi dari biasanya karena ingin melakukan hal itu. Karena tak mungkin dia akan mengerjakannya setelah sepulang dari mengajar mengingat waktu kepulangannya mendekati senja hari. Dan lagi dia ingat akan janjinya dengan Dion kalau mereka akan makan malam nanti. Dan mustahil pula baginya kalau akan ijin membolos hanya untuk membersihkan ruangan itu. Bagaimana dengan anak-anak didiknya?? Pendidikan mereka jauh lebih penting dari apapun. Maka itulah dia harus mengorbankan waktu istirahatnya pagi itu.


Memang masih agak sedikit berantakan,, tapi itu mudah. Dia bisa meminta tolong pak Doni sekalian untuk membereskannya. Mungkin nantinya Anggun akan menyuruh sopir kepercayaan mertuanya itu untuk tutup mulut dengan apa yang telah terjadi. Takut kalau mertuanya tahu akan menjadikan kekhawatiran mereka.


Suasana di pagi hari itu tak ubahnya hari-hari biasanya. Anggun tak akan memulai obrolan kalau memang itu tidak sangat penting. Untuk apa?? Bukankah selama ini Adrian selalu membatasi dirinya. Jadinya diapun bersikap wajar seperti biasanya.


Namun tidak demikian dengan yang di rasakan Adrian. Jika selama ini sikap acuh selalu di tunjukkannya,, maka untuk hari ini kelihatan sekali dia sangat gelisah. Sebenarnya ia ingin memulai pagi itu dengan sebuah obrolan. Sepertinya berkat kejadian semalam,, otaknya menjadi tercuci bahwa Anggun adalah wanita yang harus ia pandang mulai saat ini.


Setelah merenung semalaman,, dia sudah memutuskan akan merubah sikapnya. Membuang sifat buruk yang selama ini ia tunjukkan kepada Anggun. Dan dia memutuskan pula akan melupakan Andini. Bagaimanapun juga mereka tidak memiliki harapan untuk bersama kembali. Ya,, sepertinya demikian.


Adrian merasa kikuk untuk memulai pembicaraan. Pasalnya tiap hari dia selalu diam dan hampir tak pernah berucap satu patah katapun. Dan kini untuk memulai pembicaraan,, rasanya sangat sulit baginya. Yang ada justru dia diam-diam mencuri pandang pada Anggun berkali-kali.


"Maaf,, aku hanya menyiapkan sarapan dengan sepotong roti. Aku tadi sibuk membersihkan kamarmu. Jadi tak akan cukup kalau waktuku harus memasak nasi." Anggun tiba-tiba memecah kesunyian. Matanya melirik sekilas pada Adrian yang entah kenapa sejak tadi kelihatan gelisah.


"Tidak...kurasa ini juga sudah cukup." Potong Adrian cepat. Apa?? Dia masih sempat membersihkan kamarku?? Dengan kondisinya yang hamil seperti ini?? Adriiann....kau ini bodoh sekali membiarkan Anggun melakukan hal itu. Seharusnya itu tugasmu. Bukankah kau yang sudah membuat kekacauan??


Adrian menggigit rotinya dengan kasar. Jelas dia marah dengan dirinya sendiri karena sudah melakukan tindakan bodoh. Atau....apakah sebelumnya dia juga demikian?? Adrian kini memutar ulang otaknya dengan kejadian-kejadian yang di alaminya dengan Anggun. Dan benarlah,, memang selama ini dia yang selalu bertindak bodoh dengan menyakiti hati wanita lembut itu. Ohh....Anggun,, maafkan aku.


"Apa kau sudah selesai?? Kalau sudah,, bisakah kita berangkat sekarang?? Ehmm,, maaf tapi jam mengajarku sudah dekat. Dan aku sudah terlambat datang ke sekolah." Anggun membuyarkan lamunan Adrian yang sesaat lalu terbang. Matanya sambil melirik jam yang melingkar di tangan kirinya.


"Oh...eh...ya...aku juga sudah selesai kok." Adrian cepat-cepat meminum susu hangatnya dan dengan cepat pula ia menyambar tas kerja dan kunci mobil yang ia simpan dalam laci bufet. Dan merekapun berangkat dengan hati yang berkecamuk di pikiran masing-masing.



Semarang....


"Katanya kau akan menginap dirumah eyang putri...." kata Bagas pada Niken sambil menikmati sarapannya.


"Tidak jadi. Aku pikir sebaiknya aku pulang saja karena aku kepikiran denganmu." Ujar Niken yang sibuk mengupas buah apel di tangannya.


"Seharusnya kamu menelfonku,, sehingga aku bisa menjemputmu semalam. Kau bahkan tak membangunkanku saat datang."


"Aku hanya tak mau mengganggu istirahatmu."


Dan pembicaraan itupun terhenti. Mereka fokus pada makanan mereka masing-masing. Sampai akhirnya Bagas mengenakan jasnya dan bersiap akan berangkat ke kantor,, tiba-tiba Niken merengkuh tangan suaminya.


"Kemarin aku bukan ke Bandung seperti yang kubilang padamu." Kata wanita itu sekaligus membuat Bagas menoleh seketika.


"Apa??" Pria itu mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Aku pergi ke Surakarta dan aku menemui seseorang disana." Bagas semakin tidak mengerti di buatnya. Matanya tajam menelusuri wajah sayu yang tertunduk di hadapannya. "Anggun. Kau pasti kenal nama itu bukan??" Kini Niken menengadahkan kepalanya dan berani membalas tatapan suaminya. Namun berganti Bagas saat ini yang di buat terkejut. Tubuhnya menjadi tegang seketika.


"Kau pasti mengenal nama itu kan??" Sekali lagi Niken bertanya. Namun nada suaranya lebih lembut dari sebelumnya.


"Ehh...Niken,, aku...aku...harus segera berangkat." Bagas mencoba menghindar. Namun wanita di hadapannya tak mau melepaskan rengkuhan tangannya. Justru dia semakin mempereratnya.


"Aku perlu penjelasanmu !!!" Niken menatap suaminya tenang namun seakan tatapan itu menekan.


"A...apa yang harus ku jelaskan Niken??" Bagas tergagap.


"Soal Anggun. Jelaskan padaku siapa dia?? Dan jangan menyembunyikan apapun dariku,, karena aku sudah mengetahui semuanya."


"Jadi kau sudah tau?? Lalu kenapa kau masih minta penjelasan dariku??"


"Karena aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu sendiri." Kini tatapan mata itu kembali menikam. Bagas sudah tidak dapat menghindar lagi. Ya,, jika memang istrinya sudah tau kebenarannya,, untuk apa lagi dia menutupinya. Namun saat ini yang menjadi pertanyaannya,, dari mana Niken mengetahui kebenaran itu??


"Jadi...penjelasan apa yang ingin kau berikan padaku??" Sekali lagi Niken mengajukan pertanyaan yang sama. Bagas mengurungkan kepergiannya. Dia kini berjalan menuju beranda rumah. Pandangannya tertumpu pada pepohonan yang sengaja di tanam di pekarangan rumahnya.


"Aku dan Anggun adalah sepasang kekasih yang saling mencintai." Bagas memulai ceritanya. Dan Niken berdiri disampingnya dengan menjatuhkan pandangan yang sama dimana suaminya menatap kedepan sana.


"Kami berpacaran lebih dari lima tahun. Apa yang harus aku sampaikan padamu?? Mengenai hati kami?? Ya,, selama ini kami selalu melewati waktu bersama. Suka dan duka. Dan karena dialah aku meraih kesuksesanku. Aku tak ingin membuatmu cemburu dengan mengatakan kalau Anggun adalah wanita yang baik,, lembut dan pengertian. Dia seperti sosok seorang Dewi dalam cerita dongeng. Tak hanya cantik parasnya,, kenyataannya hatinyapun juga demikian. Sungguh aku sangat beruntung saat Tuhan mempertemukan aku dengannya dan menjadikan dia kekasihku. Dia bahkan mau menerima setiap kelemahan dan kekuranganku. Dia satu-satunya wanita yang mengerti aku dalam segala hal setelah ibuku." Bagas menjeda kalimatnya sejenak. Sekilas bayangan Anggun tiba-tiba melintas di pikirannya. Dan entah kenapa dia jadi merindukannya setelah sekian lama berusaha mati-matian menghapus perasaan itu. Ya,, Bagas tak menampik kalau dirinya sesungguhnya masih mencintai Anggun.


Niken yang sejak tadi hanya bisa mendengar cerita suaminya tak dapat menyembunyikan kesedihannya lagi. Bahkan air matanya sendiri sudah jatuh sejak beberapa saat yang lalu. Di gigitnya bibir yang terasa dingin baginya. Sakit. Tapi mungkin tak sesakit luka yang di rasakan Anggun.


"Dan kenapa kau menerima lamaran papaku??" Tanya Niken dengan suara serak. Kali ini Bagas terdiam. Rasa enggan kembali menyelinap di benaknya. Haruskah dia mengatakan sesungguhnya kenapa dirinya menikahi wanita itu??


"Haruskah aku mengatakannya padamu??" Bagas menyampaikan pertanyaan yang muncul di benaknya.


"Ya. Karena tidak mungkin kalau kau menikahiku dengan alasan mencintaiku." Bagas menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia berkata.


"Berjanjilah bahwa kau tak akan marah dan membenci papamu."


"Papa?? Apa hubungannya dengan papa??"


"Ya,, asal kau tau Niken,, kalau aku menikahimu karena...." Bagas masih bermain teka-teki dengan mengulur-ulur waktu jawabannya membuat Niken semakin gelisah. "Karena papamu mengancamku keluar dari pekerjaanku,, jika aku menolak lamaran itu. Dan bukan hanya itu,, dia juga mengancam kalau aku tak kan pernah bisa mencari pekerjaan di luar sana."


Seketika Niken mundur beberapa langkah. Matanya membelalak tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Tidak !!! Ini tidak mungkin !!! Papa tidak mungkin bertindak demikian !!!" Niken menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menampik kebenaran itu. Matanya yang semula kering dari air mata,, kini basah kembali.


"Aku tidak mau melukaimu dengan mengatakan kebenaran ini padamu,, Niken." Bagas mencoba meraih tangan istrinya yang tampak gemetaran. Lalu di peluknya tubuh kecil itu kedalam dekapannya. "Aku mohon...jangan membenci papamu." Bisiknya di telinga wanita itu. Niken tak mampu menguasai emosinya lagi. Dia menumpahkan tangisnya di pelukan pria yang berstatus suaminya tersebut.

__ADS_1


"Maafkan aku mas....Maafkan aku....Semua karena aku." Katanya di antara isak dan tangisnya.


"Tidak sayang....jangan minta maaf. Ini semua sudah takdir Tuhan. Takdir yang membawaku untuk menikah denganmu dan harus meninggalkan Anggun." Suara Bagas terasa berat dan serak. Kelihatan sekali kalau dia juga sedang berusaha mati-matian menahan emosinya. Sebuah perasaan yang ingin meledakkannya dalam kubangan air mata.


Untuk sesaat mereka tenggelam dalam kesedihan. Bagas membelai lembut kepala istrinya. Seakan sekarang ini,, hanya wanita itulah dunianya.


"Tidak !!! Semua harus di perbaiki mas...." Niken merenggangkan pelukannya. Kepalanya mendongak menatap suaminya.


"Maksudmu??" Tanya Bagas tak mengerti.


"Bagaimanapun juga pernikahan kita ini tidak seharusnya mas. Bagaimana bisa kita bahagia dia atas penderitaan orang lain." Niken menghentikan kalimatnya sejenak. Memandang suaminya penuh keyakinan. "Kau...harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu mas....."


"Apa maksud ucapanmu Niken?? Jangan katakan kau menyuruhku menikahi Anggun. Itu tidak mungkin !!! Aku memang sudah melakukan kesalahan dengan melukainya. Mengkhianati dan meninggalkannya. Lalu apakah aku akan membuat kesalahan dua kali dengan melakukan hal yang sama padamu?? Tidak !!! Aku tidak mau !!! Dan asal kau tau,, kalau kau meragukan perasaanku padamu....sungguhnya setelah kita menikah,, aku sudah berusaha belajar untuk mencintaimu. Dan ku harap kau yakin dengan hal itu." Bagas membantah panjang lebar.


Niken meraih tangan suaminya dan tersenyum lembut pada pria itu.


"Tidak masss....aku Tidak menyuruhmu untuk menikahinya. Apa aku terlalu bodoh sampai harus membagi suamiku sendiri dengan wanita lain?? Ya,, meski aku sedih dengan keadaan Anggun saat ini,, namun itu bukan berarti aku rela membiarkanmu kembali padanya."


"Lalu apa maksudmu dengan bertanggung jawab??"


"Mas....kau ingat kata dokter kalau aku di vonis tidak bisa hamil selamanya?? Bagaimana menurutmu kalau kita mengambil anak Anggun untuk kita besarkan bersama??"


"Sayang....bukankah itu hanya pernyataan dari satu dokter saja?? Kita bahkan sudah berjanji akan mencoba periksa ke dokter yang lain." Bagas masih mencoba menawar.


"Tidak. Aku tidak ingin melakukan itu lagi. Biarlah....kalau memang takdirku tidak bisa hamil. Aku sudah berusaha menerima kenyataan itu." Niken menggigit bibirnya,, pedih. "Jadi....apa kau bersedia?? Anggap ini permohonan dariku."


"Niken....apa Kau yakin dengan kata-katamu?? Apa kau benar-benar sudah siap membesarkan seorang anak yang bukan lahir dari rahimmu sendiri??" Bagas mengajukan pertanyaan menegaskan.


Niken mengangguk pelan. "Ya....aku siap. Jangan khawatirkan apapun mengenai perasaanku. Lagi pula,, bukankah anak itu juga bukan anak orang lain?? Dia adalah darah dagingmu sendiri. Dan aku akan sangat senang jika bisa merawat dan membesarkannya dengan kedua tanganku,, meskipun anak itu tidak terlahir dari rahimku sendiri."


"Oh....Niken....aku sungguh beruntung punya istri sepertimu. Tidak salah aku memilihmu sayang....Ternyata hatimu juga mulia. Aku mencintaimu...." Bagas memeluk istrinya erat dan mendaratkan ciuman berkali-kali di puncak rambut wanita itu.


"Tapi aku tidak yakin kalau Anggun akan memberikan anak itu pada kita." Ujar Bagas kemudian.


"Percaya padaku. Dia akan memberikannya. Meski hanya sesaat aku bertemu dengannya,, tapi aku tahu siapa dia. Dan satu-satunya hal yang harus kita lakukan sekarang adalah menemuinya. Ya...kita akan bersama-sama menemuinya dan meminta maaf padanya. Apa kau mau mas??"


Bagas tak dapat lagi menahan air mata lagi. Dia terharu. Sekali lagi di peluknya wanita itu dan di kecupnya kening istrinya penuh sayang.


Semoga....Semoga Anggun mau menerima permintaan maafku dan mengijinkan aku merawat anak itu....


\==========================

__ADS_1


__ADS_2