
Adrian menggedor-gedor pintu rumah Dion dengan keras. Tak menyangka kalau sahabatnya akan berbuat curang di belakangnya. Setelah mendapat telfon dari rumah orang tuanya,, Adrian pun segera meluncur ke tempat mereka berada.
Pak Sujono mendesak Adrian untuk mengungkapkan semua kebenaran. Dan pria itu memang tak dapat mengelak lagi. Diapun jujur kalau Anggun sudah satu bulan lebih menghilang. Adrian menceritakan semua dari awal. Tak ada yang ia lewatkan sedikitpun.
Pak Sujono hampir saja meneriakkan kalimat amarahnya sebelum akhirnya sang istri menahan emosinya dengan cepat. Adrian menyadari kesalahan yang di buatnya. Dia pun siap kalau seandainya keluarganya akan memarahinya habis-habisan.
"Jadi apa kau juga tidak tahu kalau istrimu melahirkan??" Tanya pak Sujono masih meredam amarahnya. Dan pertanyaan sang ayah membuat Adrian tercengang.
"Ap...apa?? Anggun melahirkan??" Seperti dugaan Bagas sebelumnya. Adrian juga tidak mengetahuinya. "Apakah itu benar??"
"Kau tidak percaya?? Lihatlah dikamarku,, bayi Anggun ada padaku. Dia menyerahkannya pada kami beberapa waktu yang lalu." Bagas memperjelas kalimatnya.
Adrian meraup wajahnya kasar. Semua sungguh di luar dugaan nya. "Jadi dia membuat keputusan untuk memberikan bayinya padamu??"
"Kau tau soal keputusan itu??"
"Tidak. Tapi Anggun pernah bertanya padaku. Dan aku katakan semua terserah padanya."
Sejenak suasana hening mencekam. Tiba-tiba Adrian bangkit dari duduknya. "Katakan padaku mas,, dimana Anggun sekarang?? Kau pasti tau dimana dia." Adrian mencengkeram bahu kakaknya kuat.
"Cckkk...sungguh,, kita ini adalah sama-sama pria bodoh. Bagaimana bisa kita menyakiti hati wanita yang sama??" Bagas berdecak.
"Itu tidak penting mas. Sekarang yang terpenting adalah mengetahui keberadaan Anggun. Katakan mas....katakan padaku,, dimana dia??" Adrian memaksa. Bagas berusaha menepiskan cengkeraman tangan Adrian.
"Kalau kau ingin tau,, sebaiknya kau cari sahabatmu. Karena hanya dialah orang yang bertanggung jawab atas diri Anggun saat ini."
"Apa?? Siapa?? Dion??" Kedua kalinya Adrian tercengang.
"Ya !!! Bagaimana bisa Anggun bersamanya?? Kau memang sama-sama tidak becusnya denganku." Umpat Bagas menahan kegeraman untuk adiknya.
Adrian tak membuang waktu lama. Dia segera melesat pergi bahkan tanpa pamit kepada orang tuanya lebih dulu. Semua perkataan yang memojokkannya,, ia telan mentah-mentah. Dia tak perduli meski perkataan Bagas barusan sangat menyinggung perasaannya sebagai laki-laki. Dan semua itu sekarang tidaklah penting. Yang ingin ia ketahui sekarang ini adalah dimana keberadaan Anggun. Dan disinilah Adrian sekarang berada. Dirumah sahabatnya,, Dion.
"Dion....Dion....buka pintunya. Aku tau Anggun bersamamu." Suara teriakan Adrian keras bersaing dengan gedoran pintu yang ia lakukan.
Tak ada jawaban. Lengang. Sepi. Sekali lagi dan sekali lagi Adrian masih berusaha,, namun sia-sia. Tak ada jawaban siapapun dari dalam rumah. Sepertinya rumah sedang kosong tak ada penghuninya. Adrian mencoba mengintip dari sela-sela jendela kaca. Dan memang tak ada tanda-tanda orang di dalam rumah.
Adrian mencoba menghubungi ponsel Dion. Namun sial,, nomor yang di tuju saat ini sedang tidak aktif. Sepertinya Dion sengaja mematikan ponselnya. Apakah dia tau kalau aku akan menghubunginya??
Adrian mencoba berpikir. Seharian memang dia tak menjumpai sahabatnya di kantor. Mungkinkah sebaiknya aku cari dia di kantor?? Ya...sebaiknya begitu. Setidaknya aku harus bertanya pada seseorang disana. Awas kau Dion,, aku tidak akan mengampunimu kalau sampai kita bertemu !!!
Adrian memutar mobilnya menuju kantor kembali. Dia berharap orang yang di cari akan ia temukan disana.
Dan sementara itu didalam rumah Dion....
Dua orang yang tengah bersembunyi di balik dinding yang sejak tadi mengintai secara sembunyi-sembunyi tampak bernapas dengan lega saat melihat orang yang sejak tadi membuat suasana tegang sudah pergi.
Siapa lagi kalau bukan Dion dan Anggun. Mereka ternyata ada didalam rumah.
"Untunglah dia tidak berusaha untuk masuk kedalam rumah atau kita berdua akan mati di tangannya." Gumam Dion pelan.
"Aku tau dia akan segera mencariku kesini,, tapi Aku tidak menyangka kalau akan secepat ini." Anggun menimpali. Benar-benar jantungnya di buat copot beberapa waktu yang lalu. Dia bahkan lupa kapan dirinya bernapas kembali. Sungguh keberadaan Adrian yang tiba-tiba di rumah itu,, membuat keduanya di cengkram ketegangan dalam waktu singkat.
"Bagaimana selanjutnya?? Apa kau masih tidak ingin bertemu dengannya??" Tanya Dion memulai pembicaraan serius.
Anggun menarik napas panjang sebelum akhirnya ia menjawab,, "Entahlah...rasanya aneh kalau aku tiba-tiba menemuinya sekarang."
"Kau masih sakit hati padanya??" Anggun tak menjawab. Dia berdiri menghampiri lemari es dan mengambil minuman dingin dari dalam sana untuk melegakan tenggorokannya yang terasa kering.
"Tolong...jangan beri tahu dia untuk saat ini." Pinta wanita itu.
"Hmmm,, mungkin untuk beberapa waktu ini aku harus berusaha menghindar darinya." Dion menyimpulkan.
"Maaf aku sudah banyak merepotkanmu Dion." Anggun tersenyum masam.
__ADS_1
"Tidak. Tidak. Aku justru senang kau meminta bantuanku."
"Ini pasti sangat memberatkan bagimu."
Dion berjalan menghampiri tempat Anggun berada.
"Apapun yang kulakukan untukmu,, tidak akan terasa berat bagiku Anggun. Percayalah...." Dion menggenggam tangan Anggun erat.
Anggun tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Dia lalu menghambur ke pelukan pria itu. Dion mengelus rambut Anggun dengan lembut. Serasa tak ingin di lepasnya wanita itu kembali.
Dan begitulah....dalam beberapa hari ini,, Adrian memang tak dapat menemukan Dion dimanapun. Bahkan pria itu baru tau kalau sahabatnya tersebut sengaja mengambil tugas lapangan hanya untuk menghindarinya secara langsung. Ponsel Dionpun juga tidak aktif saat ia hubungi. Pria itu memang benar-benar sengaja menghindarinya.
Adrian mengumpat kesal berulang kali. Dia tidak menyangka akan segeram ini pada sosok sahabat karibnya itu. Bahkan Adrian rela bergadang semalaman untuk menunggui rumah Dion,, berharap pria itu akan muncul. Namun nyatanya sampai pagi datang menjelang,, pria yang ia tunggu-tunggu tak nampak batang hidungnya.
Adrian juga sudah mencari Dion kemanapun. Ketempat-tempat mereka sering berkumpul. Bahkan Adrian tak ragu mengunjungi rumah orang tua Dion. Dan nyatanya semua tempat itu juga kosong. Tak ada tanda-tanda jejak keberadaannya.
Dion dan Anggun kini seperti manusia yang hilang di telan bumi. Adrian akhirnya berpikir keras memikirkan cara bagaimana dia bisa bertemu Dion. Karena hanya lewat pria itulah dia bisa mengetahui dimana Anggun berada.
Yah...satu-satunya jalan adalah mencarinya ke lapangan. Aku harus kesana.
Adrian mengangguk-angguk pasti terhadap rencananya yang kesekian kalinya ini. Lihatlah Dion,, aku akan membuat perhitungan denganmu !!!
Dion sedang mengawasi proyek pembangunan PT Soefam Jaya Abadi. Saat dirinya tengah sibuk sibuk menerangkan skema dari bangunan tersebut,, saat itulah seseorang diam-diam melangkah perlahan di belakangnya.
Dion yang memiliki insting yang peka,, langsung menoleh seketika saat merasa ada orang yang tengah mengendap-endap di belakangnya. Namun saat itu juga tiba-tiba....
Buuugghhh.....
Dion mendapat serangan mendadak dari belakang. Pria itu jatuh terhuyung seketika karena hilang keseimbangan. Dion meringis menahan perih karena luka di ujung bibirnya.
Dion menatap siapa orang yang begitu berani menyerangnya secara tiba-tiba. Ah....kau rupanya Adrian. Dion membuang pandangannya jenuh. Akhirnya,, Adrian mengetahui keberadaannya juga.
"Jangan kau pikir kau bisa lari terus dariku Dion !!!" Gertak Adrian sambil mencengkeram kerah baju Dion.
Dion hanya tersenyum masam. Menarik salah satu sudut bibirnya dan menyeringai kecil. "Aku justru menunggu kedatanganmu. Dan ternyata kau terlalu bodoh sampai harus membuatku menunggu terlalu lama." Dion mengelak halus membuat Adrian semakin geram di buatnya.
"Dasar kau brengsek !!! Aku masih belum puas kalau belum menghabisimu bajingan !!!" Sekali lagi Adrian melayangkan tinjunya pada sahabatnya itu. Dan untuk kedua kalinya Dion jatuh tersungkur.
Orang-orang yang ada di sekitar area pembangunan itu hanya bisa menonton tanpa bisa memberi pertolongan. Mereka tau ini masalah pribadi kedua orang yang punya wewenang tinggi tersebut.
Adrian kembali menghampiri dimana Dion jatuh tersungkur. Dengan sekali tarikan di rengkuhnya kembali kerah baju pria tersebut.
"Katakan,, dimana Anggun sekarang berada !!!" Adrian menggertak tajam.
"Ciiihhh....tak semudah itu kau mengetahui keberadaannya. Kau harus melangkahi dulu mayatku kawan." Dion menantang.
"Brengsek !!! Kau sengaja ingin bermain-main denganku?? Baiklah jika itu yang kau inginkan. Aku tidak akan segan-segan membunuhmu di tempat ini. Biar semua orang disini menjadi saksi atas kematianmu." Teriak Adrian gusar.
Kembali lagi Adrian hendak melayangkan pukulannya,, namun kali ini Dion lebih sigap dari sebelumnya. Dengan gerakan cepat Dion berkelit. Menangkap tangan Adrian dan memutarnya sehingga Adrian yang tanpa perhitungan apa-apa kini menjadi mangsa empuk sahabatnya.
"Jangan kau pikir kau akan menang dengan mudah. Dan kini giliranku yang akan memberikan pelajaran untukmu atas air mata yang Anggun teteskan karena perbuatanmu." Dion berbalik memukul Adrian dengan keras. Dan pria itu hanya meringis saat tubuhnya terhuyung ke belakang membentur sebuah beton.
Perkelahianpun tak terelakkan lagi. Keduanya saling baku hantam tiada henti. Bahkan sampai beberapa waktu berlalu,, masih belum ada yang mau mengalah di antara mereka. Sampai kemudian datang seseorang memakai jas dan kaca mata hitam. Dia dengan wibawa mendatangi mereka berdua.
"Hentikan semua ini atau aku akan memecat kalian berdua !!!" Suara menggelegar itu keluar begitu saja dan seperti di hipnotis,, keduanya pun mengakhiri perkelahian.
Wajah Dion dan Adrian sudah babak belur. Namun tak terlihat mereka menyesal dengan apa yang telah mereka perbuat. "Aku tidak tau apa permasalahan kalian,, tapi yang pasti kalian telah mengganggu jalannya proyek. Dan aku harap kalian bisa menjelaskan semua ini besok di kantor." Suara wibawa itu terdengar lagi. Orang itu tak lain adalah atasan mereka berdua. Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya,, sang atasan kemudian berlalu dari tempat itu dan tinggalah Dion dan Adrian yang masih berdiri dengan pandangan yang ingin membunuh. Terlihat sesekali mereka meringis menahan sakit.
Dion lalu mengalihkan pandangannya pada semua orang yang ada di sekitar mereka. "Apa yang kalian lihat?? Pergi kembali bekerja !!!" Perintahnya. Dan orang-orang itupun pergi kembali ke pekerjaan mereka.
Adrian datang mendekati Dion dan mencengkeram pakaiannya perlahan.
__ADS_1
"Jangan merasa puas dulu,, aku masih menuntut penjelasan darimu. Kenapa kau menyembunyikan Anggun selama ini?? Kau bahkan melanggar laranganku untuk menjauhinya." Adrian berseru.
"Haaahh !!!! Kau pikir kau siapa bisa mengaturku?? Dan bagaimana denganmu sendiri?? Kau bahkan sangat bodoh dari yang aku kira. Dengan sikap tololmu,, kau bahkan dengan mudahnya melukai perasaan istrimu sendiri. Dan kau masih melarangku untuk menjauhinya?? Seharusnya kau berterimakasih padaku karena aku telah menyelamatkan istrimu. Kau bayangkan bagaimana kalau saat itu aku tidak ada?? Aku yakin kau pasti akan menyesal seumur hidupmu." Balas Dion panjang lebar.
"Apa maksudmu dengan melukai perasaannya??" Adrian terkesiap. Pria itu tau kalau sahabatnya mengetahui yang sebenarnya mengapa Anggun pergi meninggalkan dirinya.
"Jangan berpura-pura tidak tau. Kesalahan apa yang sudah kau lakukan sampai membuat wanita berhati lembut seperti Anggun sampai terluka??" Teriak Dion gusar.
Adrian seketika melepaskan cengkeraman tangannya. Dion membenarkan tatanan pakaiannya yang sempat di buat kusut oleh perlakuan Adrian.
"Jadi....bagaimana?? Apa kita bisa bicara sebentar??" Tanya Dion kemudian setelah emosinya menurun.
"Baiklah. Kita memang harus bicara."
Dan merekapun berjalan menuju area yang lebih nyaman dari tempat semula. Keduanya duduk di sebuah bangku kosong.
Untuk sejenak suasana hening mencekam. Masih belum ada yang ingin memulai pembicaraan.
"Aku sudah pernah mengatakan padamu untuk tidak membuat Anggun menangis lagi. Dan aku benar-benar kecewa padamu Adrian." Dion akhirnya memulai obrolan.
"Aku yang tidak mengerti,, kenapa Anggun sampai pergi dan menghilang begitu saja."
"Kau masih bertanya?? Jelas-jelas kau sudah melukainya begitu nyata."
"Soal apa?? Aku tidak mengerti??"
"Soal apa lagi?? Sungguh aku ingin memukulmu Adrian,, aku mulai muak denganmu."
Adrian memperhatikan sahabat karibnya dengan seksama. Matanya berputar-putar liar meneliti raut wajah Dion.
"Baiklah...ini Soal Andini. Apa sekarang kau paham?? Jadi...kesalahan apa yang sudah kau lakukan padanya??"
Adrian tertunduk. Pikirannya menerawang pada kejadian beberapa minggu yang lalu saat dia dan Anggun membuat janji untuk merayakan ulang tahun wanita itu dan tiba-tiba di tengah-tengah waktu,, muncullah sosok wanita yang pernah di cintainya,, Andini.
"Aku benar-benar tidak paham Dion,, kenapa Anggun pergi begitu saja saat itu." Desis Adrian lirih.
Dion berdecak. Pria itu mulai kesal dengan perkataan Adrian yang terlalu berbelit-belit.
"Karena Anggun mendengar semua pembicaraanmu dengan Andini waktu itu. Bukankah kau mengatakan pada Andini kalau kau masih mencintainya??" Kali ini Adrian tersentak kaget di buatnya. Dia menoleh seketika ke arah Dion dengan tatapan tajam.
"Jadi...karena itu...." Ahhh....betapa bodohnya aku kenapa sampai tidak tau soal itu. "Tapi...kenapa dia harus berlari??" Adrian masih bertanya dengan lugunya membuat Dion semakin sebal.
"Dasar bodoh !! Itu karena Anggun sudah mulai menaruh perasaannya padamu tolol !!!" Dion menjitak kepala sahabatnya. "Sungguh aku sendiri tidak percaya kau melakukan itu Adrian."
"Tunggu....tunggu...itu semua tidak seperti dugaanmu." Adrian berusaha menampik.
"Jadi...seperti apa sebenarnya??" Dion menuntut penjelasan.
Adrian terdiam sejenak tidak langsung menjawab pertanyaan Dion. Dia berusaha mengatur napasnya yang semula menderu karena emosi yang tiada tentu. Dan perlahan-lahan dia mulai bercerita.
Dion menyimak cerita Adrian dengan seksama. Matanya menerawang jauh ke atas langit luas. Saat Adrian mengakhiri ceritanya,, pria itu hanya menghembuskan napas panjangnya.
"Jadi begitu sebenarnya kejadiannya. Bukankah ini hanya kesalah pahaman saja??" Adrian menghimbau sekaligus minta pertimbangan.
"Hmmm...." Dion hanya berdehem tanpa bersedia memberi komentar apapun. Matanya masih menerawang menatap keangkasa. Awan putih berarak seakan menunjukkan kegalauan hati Dion yang saat ini mulai membelenggu. Tiba-tiba pria itu berdiri dari duduknya. "Baiklah....aku akan mempertemukanmu dengan Anggun."
Dan begitu gembiranya Adrian saat mendengar kalimat Dion barusan. "Apa?? Benarkah?? Jadi kau akan mengantarku menemuinya??" Dion mengangguk meng-iyakan. "Baiklah...kita berangkat sekarang."
Dengan semangatnya Adrian ikut berdiri dan hendak melangkah pergi mendahului. Namun Dion dengan cepat mencegahnya. Menarik tangan nya secara spontan. Adrian pun menoleh seketika.
"Ada apa??" Tanya Adrian bingung.
"Tidak saat ini." Jawab Dion ringan. Adrian hendak memprotes,, namun belum sempat mulutnya membuka suara,, Dion memotong cepat. "Tunggulah sampai nanti sore setelah kita pulang. Jangan lupa,, kita masih dalam jam kerja. Dan aku masih harus menyelesaikan pengawasan proyek ini."
Adrian mendengus kesal. Bagaimanapun juga apa yang di katakan Dion benar. Tapi mungkin inilah jalan yang harus dipilihnya. Harus menunggu dengan sabar meskipun sebenarnya pikiran nya tak sejalan dengan hati nurani.
__ADS_1
"Baiklah...."
\===========================