Anggun Bidadariku

Anggun Bidadariku
Kau?!


__ADS_3

Malam semakin larut. Dan sepasang mata indah itu masih belum dapat terpejam. Anggun masih belum bisa melupakan kejadian beberapa saat lalu. Hari ini begitu banyak hal yang di alaminya. Mulai dari perlakuan Dion padanya,, pernyataan cinta pria itu,, sampai pada perlakuan Adrian yang sempat kehilangan kendali untuk sesaat lalu.


Anggun mengerjap-ngerjapkan matanya. Nafasnya berhembus pelan dan teratur serasa tak ingat kalau beberapa waktu lalu diapun di buat seperti orang lari marathon oleh Adrian. Dia tersentak saat suara ponselnya berdering.


Sebuah panggilan atas nama Dion. Anggun lalu mengangkat panggilan tersebut.


"Iya Dion..."


"Anggun....kau tak apa-apa??" Di seberang sana Dion nampak khawatir.


"Tidak. Tenanglah."


"Apakah Adrian menyakitimu??"


"Ehmm,, yacchh....hampir. Tapi tidak jadi."


"Dia memukulmu??" Dion menelusur.


"Tidak. Dia hanya...." Anggun ragu menceritakan hal memalukan itu. Haruskah dia jujur??


"Kenapa Anggun??" Anggun tersentak seketika.


"Ehmm,, tidak ada apa-apa Dion. Eh...ini,, hanya masalah suami isteri." Dion nampak terdiam mencerna kalimat ambigu wanita itu.


"Oh....aku mengerti. Baiklah,, setidaknya kau tidak apa-apa. Aku hanya khawatir kalau Adrian akan melukaimu."


"Terima kasih atas kekhawatiranmu padaku. Oh....ya,, aku berkata pada Adrian kalau itu adalah sandiwara kita untuk membuatnya cemburu. Dan nampaknya kau harus bersiap-siap menerima hukuman darinya besok." Anggun tertawa kecil.


"Yaah...tenanglah,, semarah apapun Adrian,, tak kan berpengaruh buatku. Lihatlah,, aku akan dengan mudah mengatasinya." Pria itu menyombong. "Baiklah Anggun,, sebaiknya kau istirahat. Sampai jumpa daaannn....salamat malam."


"Selamat malam."


Dan pembicaraan itupun terhenti. Anggun mulai memejamkan mata kembali. Dan syukurlah dia akhirnya bisa terlelap.


Keesokan harinya....


Semarang....


"Apa kau yakin dengan keputusanmu mas??" Niken bertanya pada Bagas yang tengah bersiap diri. Sementara dirinya juga sibuk dengan riasannya.


"Ya. Bukankah lebih cepat akan lebih baik. Kau tau kalau aku tiap hari di hantui rasa bersalah padanya." Bagas sudah selesai dengan sepatunya.


"Jangan khawatir,, kita akan menghadapinya bersama-sama." Niken mendatangi suaminya lalu memeluknya dari belakang. Perempuan itu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Bagas menarik nafas panjang dan mengusap punggung tangan Niken yang melingkar di tubuhnya.



Saat ini Adrian tengah duduk santai di tepi kolam renang. Ya,, meski rumah itu tidak terlalu besar,, namun nyatanya fasilitas yang di miliki rumah tersebut sangat cukup. Bahkan disana juga terdapat perpustakaan kecil serta taman bermain. Semua memang di bikin serba minimalis. Dan beruntunglah waktu itu Adrian memperoleh rumah tersebut.

__ADS_1


Bunyi bel terdengar beberapa kali. Dan saat bunyi ke tiga,, Anggun tampak tergopoh-gopoh menghampiri pintu. Mulutnya menggerutu kecil,, menyalahkan keberadaan Adrian yang tak mau mengalah untuk mencoba membukakan pintu. Padahal jelas-jelas dirinya sedang sibuk di dapur,, sedangkan pria itu hanya bersantai sambil tiduran di kursi tepi kolam. Menyebalkan !!!


Betapa terkejutnya Anggun saat melihat siapa yang menjadi tamu pagi-pagi itu.


"Kau !!!" Matanya menatap tajam kearah orang yang tengah berdiri di ambang pintu.


"Apa kabar Anggun?? Boleh kami masuk??" Orang itu tak lain adalah Bagas dan isterinya,, Niken.


Bagaimana bisa Bagas sampai di rumah Adrian?? Bukankah tak ada orang lain yang tau rumah itu selain Dion. Ya,, tidak sulit bagi Bagas untuk menemukan tempat tinggal Adrian yang baru. Dengan mencoba mengorek keterangan dari sopir kepercayaan keluarga Sujono,, yakni pak Doni. Tentu saja informasi itu dapat diperolehnya dengan mudah.


"Untuk apa kalian kemari??" Tanya Anggun tanpa menghiraukan pertanyaan pria itu. Nafasnya seketika memburu oleh arus emosi.


"Anggun...ijinkan kami masuk dulu. Kami sudah jauh-jauh datang kesini." Hah?? Siapa suruh kau kemari?? Aku bahkan tak pernah mengharap kedatanganmu lagi,, batin Anggun memberontak. Namun tidak demikian dengan mulutnya yang berujar.


"Masuklah !!!!" Katanya mempersilahkan. Dan kedua orang itu mengikuti kemana Anggun melangkah. Ruang tamu yang juga tak terlalu besar,, dan disana Anggun mempersilahkan keduanya duduk. "Silahkan duduk." Ucap wanita itu enggan.


"Terima kasih." Sahut Bagas sambil tersenyum.


"Sekarang katakan apa maksud kedatangan kalian kemari?? Bukankah aku tidak ada urusan dengan kalian??" Tanya Anggun dingin. Senyum yang selalu menghias bibirnya kini entah hilang kemana. Seperti ada sihir yang telah melenyapkannya dalam sekejap.


"Ehmm...sebenarnya kami datang kemari untuk...." Bagas ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Sebuah pertanyaan muncul di benaknya,, apakah cukup untuknya sekedar minta maaf pada wanita yang jelas-jelas sudah ia lukai secara dalam.


"Kami kesini untuk meminta maaf Anggun." Suara Niken beradu. Melihat keraguan suaminya,, diapun akhirnya memilih bertindak lebih dulu.


"Minta maaf?? Bukankah itu sudah kau lakukan tempo hari??" Anggun menyilangkan kaki dan tangannya bersamaan. Menarik salah satu sudut bibirnya kearah mereka.


"Baiklah....kalau itu maumu,,  aku memaafkanmu,, apa kau puas??" Anggun menatap wanita itu tenang. Namun sedemikian tenang sampai Niken yang di tatap demikian menjadi tertunduk karena malu. "Kalau begitu urusan kita sudah selesai,, jadi....tidak ada yang perlu kita bahas kan?? Maaf bukan aku bermaksud mengusir,, namun kurasa kalian sebaiknya segera pergi dari sini." Lanjut Anggun kemudian.


Dan tak ada jawaban apapun dari kedua manusia yang duduk gelisah di seberang Anggun. Wanita itu semakin jengkel di buatnya karena hingga beberapa saat lamanyapun keduanya tak segera beringsut dari tempat duduk mereka.


"Apa lagi yang kalian tunggu?? Maaf....tapi hari ini aku benar-benar sibuk. Jadi tolong...."


"Aku minta maaf Anggun." Kini tiba-tiba Bagas berseru. Kepalanya yang sejak tadi tertunduk kini menengadah memberanikan diri menatap Anggun seksama. "Kau sudah memaafkan istriku bukan?? Tapi belum denganku. Dan kini giliranku yang meminta maaf."


"Jadi untuk itu kamu datang kesini??" Mata yang semula di penuhi emosi,, kini meredup kembali dan nampak tenang seperti sebelumnya. Mata yang sama seperti dulu saat Bagas dan Anggun selalu mengalami perselisihan,, demikianlah tatapan itu selalu di layangkan oleh Anggun pada mantan kekasihnya itu.


"Ya...inilah alasan sebenarnya kami kemari. Karena aku ingin meminta maaf padamu secara langsung."


Anggun merasakan sebongkah batu besar tengah menindih ulu hatinya. Sesak. Itu yang ia rasakan. Mata indah itu memerah. Tak dapat ia sembunyikan kalau sedikit lagi Anggun hampir menumpahkan lahar beningnya. Namun semaksimal mungkin wanita itu mencoba menahannya.


"Seharusnya itu juga tak perlu kau lakukan." Ucap Anggun dengan suara serak. Dan Bagas hanya menggigit bibirnya mendengar jawaban tersebut.


"Itu harus kulakukan Anggun. Kau tau selama ini diriku di hantui rasa bersalah akan perbuatanku padamu." Anggun tak lagi menatap mereka. Pandangannya kini beralih ke tempat lain.


Mulutnya terkunci rapat seakan enggan mengatakan satu hal pun. Ironis sekali kalau dia akan bilang memaafkannya kalau kenyataan hatinya berteriak mengutuk perbuatan laki-laki itu. Ingatan Anggun kembali pada saat dimana dia menerima kenyataan Bagas telah menikahi wanita lain. Dan itu merupakan hari dimana kehancurannya di mulai. Bahkan karena dia pulalah wanita itu harus menanggung kebencian dari Adrian. Cihh !!! Memuakkan !!!!


Merasa tak ada respon dari Anggun,, Bagas lalu berdiri. Berjalan melintasi istrinya dan mendekat dimana Anggun berada. Dan tanpa di duga,, pria itu bersimpuh di kaki Anggun. Wanita yang mendapat sambutan demikian terkejut seketika.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan Bagas??" Teriaknya spontan. Dia berusaha menyingkirkan kakinya dan hendak melangkah pergi. Namun pendirian Bagas kali ini begitu kuat sehingga Anggun hampir tak bisa menggerakkan kakinya sejengkalpun. "Lepaskan aku Bagas !!!! Kau tidak harus seperti ini."


"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau menyatakan maafmu padaku. Sungguh Anggun,, kau tidak tau betapa menderitanya aku selama ini. Aku merasa bersalah padamu."


"Sudahlah...kalau Kau mengungkit itu terus,, Kau akan semakin melukaiku. Kau lupa kalau disini bukan hanya aku yang tersakiti,, namun juga Adrian. Kalaupun aku memaafkanmu,, bagaimana dengan dia?? Jadi tolong....jangan seperti ini."


"Masih berani kau menunjukkan mukamu di hadapan kami lagi mas?!?!" Suara menggelegar mengisi ruangan. Menyentakkan ketegangan antara dua orang yang tengah berselisih paham. Anggun dan Bagas menoleh bersamaan kearah datangnya suara.


Bagas berdiri seketika saat melihat sosok adiknya dengan tubuh menjulang menatap tajam ke arahnya. Tubuhnya membeku manakala sosok tubuh itu mendekat ke arahnya. Anggun cepat-cepat bangkit dari duduknya dan menyingkir dari hadapan Bagas. Seketika hatinya menjadi cemas. Tentu saja,, meski dia tak menampik kenyataan bahwa dirinya masih terluka karena Bagas,, dan jujur dia juga masih enggan untuk memaafkannya,, namun jika saat ini akan ada perkelahian atau perseteruan sengit antara Bagas dan Adrian di rumah itu,, Anggun pasti tak bisa membiarkannya.


"Apa yang kau inginkan dengan datang kemari mas?? Belum cukupkah kau membuat luka pada hati kami semua??" Sekali suara Adrian menggema ke seluruh ruangan.


"Aku datang kesini untuk minta maaf Adrian." Bagas menjawab dengan tenang.


"Minta maaf?? Ciihhh...rupanya Kau masih punya nyali dengan memberanikan diri datang untuk minta maaf."


"Ya. Apakah salah kalau niatku demikian??" Bagas menantang. Kini kedua kakak beradik itu sudah saling berhadapan. Berusaha menunjukkan siapa yang paling wibawa di antara keduanya.


"Tidak. Namun sayangnya kata maaf terlalu berharga untuk kau peroleh,, sedangkan kami disini sangat menderita." Mata Adrian semakin tajam menatap kakaknya. "Kau sudah menghancurkan segalanya. Dan sekarang dengan mudahnya kau datang dan meminta kata maaf dari kami?? Sungguh,, meski kau akan menangis darah sekalipun,, kami takkan pernah memaafkanmu. Jadiii....kurasa Sebaiknya kau segera angkat kaki dari rumah ini !!!"


Bagas tak menjawab apa yang menjadi pernyataan adiknya itu. Pandangannya membeku pada satu titik yang membuatnya terlempar pada kenyataan pahit yang sudah di perbuatnya.


"Tunggu apa lagi?? Cepat segera pergi dari sini atau...."


"Tunggu Adrian !!!!" Suara sumbang dan melengking tiba-tiba terdengar di saat pria itu belum menyelesaikan kalimatnya. "Bukan hanya Bagas yang bersalah dalam masalah ini. Namun semua ini terjadi sesungguhnya berawal dariku. Ya....akulah biang dari kehancuran kehidupan kalian !!! Dan kalau harus di salahkan,, akulah orang yang pantas menerimanya." Niken berseru kembali. Kini wanita itu datang mendekat ke arah mereka.


Adrian mengerutkan keningnya mendengar pernyataan tersebut. Matanya kini beralih pada sosok perempuan yang tengah berjalan  mendekat ke arahnya.


"Apa maksudmu?? Aku tidak mengerti." Gumamnya saat wanita itu ada di hadapannya.


"Asal kalian tau,, bahwa akulah yang menjadi pemicu keretakan hubungan kalian. Karena keinginanku menjadikan Bagas sebagai suamiku,, maka tanpa sepengetahuanku,, papaku telah mengancamnya untuk menerima lamaran yang beliau sampaikan." Niken menelan ludahnya pahit. Disisi lain Anggun yang sejak tadi hanya berdiam diri mematung,, kini seperti di bangkitkan dari kesadarannya. Dan semua mata kini tertuju pada Niken,, kecuali Bagas tentunya yang kini tertunduk pilu.


"Mengancam?? A..aku masih tidak mengerti??" Adrian menuntut.


"Ketahuilah...kalau sebenarnya papaku mengancam kakakmu dengan ancaman akan mempersulit kehidupannya. Papa akan memecatnya dari kantor dan akan menjamin dia takkan memperoleh pekerjaan dimanapun,, kalau dia sampai menolak lamaran itu." Niken memperjelas kata-katanya.


Anggun dan Adrian membulatkan mata bersamaan. Namun sejurus kemudian Adrian menarik satu sudut bibirnya,, tersenyum miring.


"Oh...ya?? Apakah hanya karena itu?? Cihhh....dengan ancaman demikian lalu dia mengorbankan orang-orang yang di cintainya?? Luar biasa. Hebat...hebat....ternyata Kau lebih egois dari pada siapapun di dunia ini mas." Adrian bertepuk tangan beberapa kali sambil berputar mengelilingi Bagas. Matanya menyiratkan makna merendahkan. Sedangkan Bagas hanya bisa diam membisu dengan mengepalkan kedua tangannya menahan emosi yang menyulut dalam dirinya.


"Aku tak menyangka kalau kau sepicik itu." Umpat Adrian kemudian. Matanya kembali menyorot tajam pada kakaknya. "Sebegitu gilanya kau terhadap harta dan jabatan sampai...."


"Masih ada alasan lain selain itu Adrian !!!!" Bagas memotong cepat. Wajah nya kini terangkat menatap sosok adik laki-lakinya. "Ada satu hal yang tidak kau ketahui. Dan ini juga berlaku untukmu Niken." Wanita yang di sebut memalingkan wajahnya seketika menatap suaminya bingung.


Semua kembali di buat tegang oleh pernyataan Bagas barusan. Kalimat yang mengandung teka-teki. Dan kini semua mata tertuju pada pria itu dengan pandangan menuntut penjelasan.


\=========================

__ADS_1


__ADS_2