
Anggun sangat panik dengan keadaan yang dialaminya saat ini.
"Adrian,, apa yang terjadi??" Anggun mengguncang tubuh pria itu keras,, namun Adrian masih diam tak bergeming. Tatapan nya kosong kedepan. "Adrian....sadarlah !!! Kau harus membantuku mematikan api ini." Sia-sia,, pria itu seperti tak mendengar teriakan Anggun di telinganya. Saat ini,, Adrian seperti orang mati. Anggun harus mengatasi masalah api yang mulai menyebar lebih dulu.
Apa yang harus aku lakukan,, aku tak mungkin mengatasinya seorang diri. Haruskah aku memanggil orang-orang sekitar??
Kini Anggun merutuki nasib sialnya yang menjadikan rumah itu jauh dari tetangga. Untuk mencapai rumah orang terdekat,, dia harus berjalan beberapa puluh meter dari tempatnya,, dan itu jelas mengulur waktu. Api akan segera melahap semua isi rumah. Apa yang harus aku lakukan??
Tiba-tiba dia teringat sosok pria yang selama ini menemani hari-harinya. Dion....ya,, Aku harus menghubunginya. Dia bisa datang kemari dengan cepat. Sementara aku menunggunya,, aku akan mencoba memadamkan api semampuku. Ya,, sebaiknya begitu.
Anggun lalu pergi keluar kamar dan mencari di mana ponselnya berada. Ketemu. Tak memerlukan waktu lama memang hingga telfon itu tersambung,, karena Dion memang belum tidur.
"Iya Anggun...ada apa?? Apa kau sudah merindukanku?? Bahkan setelah kita bertemu??" Dion nampak berkelakar.
"Hentikan Dion,, aku tidak sedang ingin bercanda." Suara Anggun nampak panik.
"Hei,,ada apa denganmu?? Kau kelihatan tegang sekali."
"Dion,, ku mohon tolong kau cepat kemari. Ada sesuatu yang terjadi disini."
"Sesuatu?? Apa yang sudah terjadi??" Dion mulai khawatir.
"A....api...api...kamar Adrian termakan api." Anggun terbata-bata.
"Apa?? Kamar Adrian terbakar??"
"Ya,, cepatlah datang kesini Dion,, sebelum api menyebar keseluruh ruangan."
"Tunggu !!! Lalu dimana Adrian?? Apa dia masih belum pulang??" Dion menelusur.
"Di...dia ada,, tapi...tapi...aku bingung kenapa dia diam tak bergerak di dalam kamarnya. Aku sudah berulang kali menyadarkannya,, namun dia tetap diam tak menjawab." Jawab Anggun semakin gugup.
"Sebentar,, apakah dia pingsan??"
"Tidak. Itulah yang tak ku mengerti. Dia hanya duduk berdiam diri. Dia bahkan seperti tak merasakan kalau api sudah membakar kamarnya. Aku mohon cepat kau kemari Dion,, atau kami akan mati disini."
"Baik...baik...tenanglah...Tunggu Aku !!! Aku akan datang cepat. Dan kau,, berhati-hatilah disana."
Dan telfonpun di tutup seketika. Anggun meletakkan ponselnya di meja lalu dia kembali ke kamar Adrian. Pria itu masih tetap diam membisu. Anggun benar-benar di buat heran dan bingung. Tidak,, aku tak boleh memikirkan apapun saat ini. Memadamkan api,, jauh lebih penting saat ini.
Mata Anggun melihat seberkas cahaya menyambar sprei ranjang Adrian.
"Adrian awaaasss...." secepat kilat Anggun meraih selimut yang teronggok diatas tempat tidur lalu dia tepuk-tepukkan pada api yang mengenai sprei tersebut. Gila,, Adrian bahkan masih belum mau bergerak dari tempatnya. Apa dia mau mati disini??
Asap semakin memenuhi ruangan. Anggun bahkan sesekali di buat terbatuk-batuk karenanya. Aku harus membuka jendelanya agar asap bisa keluar. Ah....tapi api sudah melahap gorden jendela kamar....
Anggun lalu mencoba menarik paksa gorden tersebut. Dengan menutup hidungnya supaya asap tak terlalu banyak masuk ke tubuhnya,, sekali lagi dia menarik tirai kain itu dan berhasil. Anggun lalu menarik kain yang terkena kobaran api itu ke kamar mandi. Di nyalakannya shower dan yahh...air terpancar keluar. Mematikan api yang semula menyala.
Anggun kembali lagi. Kini di bukanya jendela kamar supaya udara masuk lebih banyak. Namun saat ini lebih dari sebagian kamar sudah terbakar. Dia sudah tak bisa mengatasi kobaran yang semakin besar itu. Dion...Dion...cepatlah Kau datang....
Dan beruntunglah dia karena Tuhan mendengar doanya. Dion datang dengan nafas yang memburu.
"Anggun....apa yang sebenarnya terjadi??" Dion yang baru saja masuk ke dalam kamar sambil mengibas-ngibaskan tangannya menahan asap yang melingkupi ruangan itu.
"Ah....syukurlah Kau datang Dion." Anggun tergirang. Sempat terbersit dalam pikirannya,, bagaimana Dion bisa masuk?? Padahal pintu rumah terkunci. Mungkinkah dia mendobraknya??
"Kau tidak apa-apa kan??" Tanya Dion khawatir.
"Tidak." Anggun menggeleng cepat.
__ADS_1
"Baiklah,, sebaiknya kau ajak Adrian keluar. Biar aku yang mengatasi semuanya."
"Kau yakin bisa Dion??"
"Ya. Tenanglah,, api ini pasti akan segera padam. Cepatlah keluar,, asap ini tidak baik untuk kesehatan bayimu."
"B...baik. Kau....hati-hati Dion."
Dion mengangguk meyakinkan. Anggun lalu berusaha membimbing Adrian keluar. Dan untunglah dia tak menolak sehingga merekapun berlalu dengan cepat.
Sementara itu Dion berusaha mematikan api. Sebelumnya dia sempat berfikir,, pasti ada jalan untuk masalah ini. Memadamkan api dengan kain saja takkan cukup. Selang. Ya,, selang,, dia harus mencari benda itu. Dan kalau dugaannya benar,, benda itu pasti ada di sana. Pria itu lalu berlari ke teras halaman. Dan benarlah dugaannya. Selang itu tertancap di keran halaman rumah. Anggun memang biasa menggunakannya untuk menyiram tanaman.
Pria itu lalu berlari kembali kedalam kamar sambil menjinjing benda yang di maksud di tangan kirinya. Di pasangnya selang panjang itu pada keran wastafel kamar mandi dan mulailah dia menyemprotkan air pada api yang berkobar.
Sementara itu Anggun masih mencoba menenangkan dirinya di ruang tamu. Disana tampak Adrian masih diam dengan tatapan mata yang kosong. Anggun mengambil dua gelas air lalu diminumkannya untuk Adrian. Sekali lagi pria itu tak menolak.
Lima belas menit berlalu,, akhirnya Dion muncul dari dalam kamar dengan wajah dan tubuh yang sedikit kusam kehitam-hitaman. Anggun menyambutnya dengan senyum mengembang.
"Akhirnya...semua sudah aman." Gumam Dion lalu mendudukkan dirinya di kursi tunggal.
"Terima kasih Dion,, untung kau cepat datang." Anggun mengulurkan segelas minuman yang tadi di bawanya. Dan pria itu menerima dengan senang hati. Meminumnya dengan sekali tegukan.
"Hmmm,, sebenarnya aku masih belum pulang,, dan kebetulan sekali aku masih ada di sekitar sini,, jadinya aku bisa mempersingkat waktuku." Dion meletakkan gelas ditangannya kembali ke atas meja,, untuk sesaat dia terdiam sejenak memperhatikan Adrian yang masih diam terpaku. "Katakan padaku Anggun,, apa yang sebenarnya terjadi dengan Adrian?? Kenapa dia seperti ini??" Dion lalu bangkit dan mendekati sahabat laki-lakinya itu.
"Entahlah,, aku sendiri juga tidak tau. Sejak tadi dia diam begini. Tolong lakukan sesuatu Dion...."
Dion lalu memperhatikan Adrian dengan seksama. Dia berjongkok di depan Adrian kemudian menepuk-nepuk pipinya.
"Adrian....Adrian....apa Kau mendengarku??" Dion mencoba memanggil,, tapi nihil. Pria itu masih tak menyahut. "Adrian...sadarlah...ini Aku Dion..." kali ini Dion menepuk dengan sedikit keras dan meninggikan sedikit intonasi suaranya. Dan ajaib,, mata kosong itu kemudian berubah.
Adrian mengerjap-ngerjap pelan. Sepertinya kesadarannya sudah kembali. Dan itu membuat Dion dan Anggun lega.
"Syukurlah kau sudah sadar kembali." Dion lalu bangkit dan mendudukkan tubuhnya kembali ke kursi.
"Katakan apa yang sebenarnya terjadi Dion?? Dan kenapa kau ada disini?? Dan mukamu?? Kenapa hitam-hitam seperti itu??"
"Benarkah kau tidak tau apapun?? Kau bahkan hampir membunuh kita semua disini."
"Haahh??" Adrian masih bingung.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan dikamarmu Adrian?? Apakah kau tau,, kalau api hampir menghanguskan rumah ini." Sekali lagi Dion memberi tahu dengan sedikit teka-teki yang jelas-jelas harus dia tebak dengan susah payah.
"Api??" Adrian bergumam lirih. Dia mencoba mengingat apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan kini samar-samar sekelebat bayangan bermunculan di pikirannya. Ya,, dia ingat sekarang. Tadi Adrian sedang mencari semua barang-barang kenangan antara dia dan Andini. Beberapa lembar foto,, dan benda-benda lain yang merupakan hadiah pemberian Andini ia kumpulkan jadi satu. Hatinya bergemuruh saat mengingat kalimat Andini sore tadi yang mengatakan kalau dia sudah tidak mencintai Adrian lagi. Dan itu membuatnya semakin kalut di tambah dengan kebenaran bahwa mantan kekasihnya itu akan segera bertunangan dengan Niko.
Adrian tak berfikir panjang. Hatinya sudah terlanjur emosi,, dan dia tanpa memikirkan apa akibatnya,, lalu membakar semua benda-benda kenangan itu. Dan tentu saja Adrian sudah mulai tak sadar saat api menyambar tirai jendela. Sampai akhirnya api dengan cepat menyebar kemeja kerja Adrian yang penuh dengan kertas dan dokumen penting.
"Ya...aku ingat sekarang?? Maaf sudah membuat kalian khawatir." Akunya lirih.
"Jadi,, katakan kenapa sampai demikian??" Dion mencoba menginterogasi. Adrian mendesah halus sambil tertunduk.
"Andini akan bertunangan." Desisnya lirih tak bertenaga.
"Apa?? Jadi karena itu kau ingin membakar rumah ini?? Kau benar-benar gila." Kata Dion gusar.
"Tapi kau tidak tahu dengan siapa dia bertunangan."
"Siapa memangnya??"
"Niko. Kau ingat sahabat SMA kita dulu??" Dion mengerutkan keningnya berusaha mengingat seseorang di masa lalunya.
__ADS_1
"Ya...aku ingat. Apakah Andini akan bertunangan dengannya??" Dion menebak.
"Kau benar. Dan aku sedih karena itu. Kau tau sendiri siapa Niko sebenarnya." Dion hanya mengelus-elus ujung dagunya yang tak berjambang.
Anggun hanya mendengarkan obrolan kedua pria itu. Meski dia tak begitu mengerti maksud dari akhir pembicaraan itu,, yang pasti dia tahu kalau sesaat lalu Adrian sedang kalut karena seorang wanita yang pernah ia cintai. Ah...tidak,, tepatnya masih ia cintai.
"Sekali lagi aku minta maaf karena telah merepotkanmu Dion. Dan terima kasih atas bantuanmu." Adrian berujar kembali.
"Tidak. Kau justru harus berterima kasih pada isterimu. Karena dia aku datang tepat waktu. Dan sebenarnya dialah yang telah menyelamatkan nyawamu." Dion berkilah dan melirik sekilas pada Anggun yang sejak tadi hanya tertunduk. Dan kini saat dirinya disebut,, Anggunpun menengadahkan kepalanya.
Adrian menoleh ke arah Anggun dan tersenyum getir padanya. Anggun membalas senyum itu dengan ragu-ragu. Adrian merasa malu pada dirinya sendiri karena selama ini dia sudah berlaku kasar dan terlalu sering menyakiti wanita itu. Dan kini,, nyawanya selamat karena dia pula. Sungguh Adrian tidak tahu apa yang akan terjadi kalau Anggun tak ada disana.
"Ehmm...sebaiknya Kau pulang saja Dion. Kau harus istirahat."
"Apa kau yakin?? Apakah tidak perlu aku menginap disini??"
"Tidak...tidak...aku janji tidak akan terjadi lagi kejadian seperti tadi."
"Yacchhh....baiklah kalau itu maumu. Aku pergi dulu. Sampai bertemu di kantor besok." Adrian hendak melangkahkan kakinya mengikuti Dion,, namun dengan cepat Anggun menghentikan.
"Biar aku saja yang mengantarnya sampai ke depan." Sergahnya cepat. Adrian hanya mengangguk ringan sebagai tanda meng-iyakan.
Anggun berjalan di belakang Dion. Di antarnya pria itu sampai ke halaman rumah.
"Terima kasih sekali lagi atas bantuanmu Dion." Ucap Anggun sebelum Dion memasuki mobilnya.
"Heiii,, aku bosan tau mendengar kata-kata itu berulang kali." Dion berusaha memecah ketegangan dengan candaannya. "Hmm,, sebaiknya kau memberiku imbalan atas jerih payahku karena sudah membantumu."
"Dionnn !!! Jadi kau tidak ikhlas??" Anggun mendelik sembari memukul kecil bahu pria itu. Dion terkekeh karenanya.
"Tapi serius nih,, kau harus mentraktirku besok. Bagaimana kalau setelah aku menjemputmu pulang,, kita makan malam. Tapi kau harus mentraktirku."
"Hmmm,, baiklah. Anggap saja aku berterima kasih padamu."
"Ok. Aku tunggu besok. Oh...ya,, maaf karena aku tadi sudah merusak pintu rumahmu. Habisnya aku memencet bel berulang kali,, tapi kau tak segera membukakan pintu. Tentu saja aku harus masuk dengan cara mendobraknya."
"Hmmm,, seperti dugaanku." Anggun bergumam lirih.
"Kau tau itu??"
"Ya,, Aku sudah bisa menebaknya."
"Maaf."
"Tidak. Tidak perlu minta maaf. Besok aku akan menyuruh pak Doni membetulkannya."
"Baiklah,, kalau begitu....aku pergi dulu. Selamat malam."
"Selamat malam." Anggun membalas. Dion memasuki mobilnya dan untuk terakhir kalinya dia melambaikan tangan pada wanita itu. Anggunpun membalasnya dengan disertai senyum manisnya.
Anggun kembali kedalam rumah setelah mengantarkan Dion yang berpamitan untuk pulang. Suasana berubah canggung saat dia berhadapan kembali dengan Adrian.
"Eeee....sebaiknya Kau istirahat. Ehmm,, mungkin kau tidur di kamarku saja,, biar aku tidur di ruang tamu." Anggun mencoba memecah kesunyian.
"Tidak. Tidak perlu !!! Biar aku yang tidur di ruang tamu. Lagi pula kau sedang hamil. Tidak baik untukmu tidur di luar." Adrian menolak cepat.
"Ehmm,, baiklah. Kalau begitu aku akan menyiapkan bantal dan selimut untukmu." Anggun cepat-cepat berlalu,, namun tiba-tiba Adrian berseru.
"Anggun...." wanita itupun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Adrian. "Terima kasih." Ucap Adrian dengan ragu-ragu. Takut dengan ekspresi yang akan di perlihatkan Anggun padanya. Apakah wanita itu akan menolak ucapan terima kasihnya?? Namun sungguh di luar dugaan kalau wanita itu akhirnya tersenyum tulus sambil menganggukkan kepalanya. Entah kenapa Adrian baru menyadari kalau perempuan itu memiliki sesuatu yang berkharisma di wajahnya. Dan dia merasa senang menerima senyum tulus itu.
__ADS_1
\===========================