Anggun Bidadariku

Anggun Bidadariku
Suka cita dan Haru


__ADS_3

Berkali-kali Dion berusaha menghubungi Adrian,, namun hanya suara operator yang berbicara dan itu menandakan kalau nomor yang ia hubungi saat ini sedang tidak aktif.


Dion mengumpat dalam hati. Apa yang harus aku lakukan?? Apakah,, aku sebaiknya menghubungi keluarga Adrian?? Ya...sebaiknya begitu.


Dan pilihan keduanya kini jatuh pada keluarga Adrian. Namun nasib baik memang tak ada di pihaknya. Beberapa kali di pencetnya nomor telpon keluarga sahabat karibnya itu,, namun tak ada tanda-tanda seseorang yang akan mengangkatnya. Hingga akhirnya Dionpun mulai putus asa. Sial !!! Kenapa disaat seperti ini mereka justru tidak bisa di hubungi??


"Terpaksa. Aku harus pilih jalan terakhir. Semoga keputusanku tepat." Gumamnya sendirian. Tuhan,, tolong bantulah aku. Semoga pilihanku ini tepat. Aku mohon...


Dion lalu menemui dokter itu kembali.


"Bagaimana tuan?? Apa anda bisa menghubungi keluarganya?? Saya harus segera mengambil tindakan atau nyawa pasien dan bayinya tidak akan tertolong." Dokter mendesak.


"S...saya tidak bisa menghubungi keluarganya dok. Tapi...saya yang akan menggantikan mereka. Saya akan bertanggung jawab dengan apapun terjadi."


"Apa anda yakin tuan??"


"Hmmm...ya...saya yakin. Bukankah anda bilang tidak ada waktu lagi?? Jadi biarlah saya yang mewakili mereka. Saya akan menanggung apapun resikonya nanti. Tapi sebelum itu...ijinkan saya bertemu dengan pasien sebentar saja dok."


Dokter itu berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata,, "Baiklah. Tapi waktu anda hanya dua menit."


"Baik dok. Terima kasih."


Dion lalu masuk ke dalam ruangan dimana Anggun berada. Wanita itu tampak sangat mengenaskan. Dion bahkan tak menampik rasa iba yang menggelayuti hatinya. Tidak disangka pria itu menitikkan air mata. Namun dengan cepat pula Dion menghapus air tersebut dan menghampiri Anggun yang tengah terbaring kesakitan.


"Anggun...Anggun...bertahanlah..."


"Di...on..."


"Anggun,, percayalah...kau dan bayimu akan selamat." Dion menggenggam tangan wanita itu erat dan menciumnya. "Apa kau percaya padaku Anggun??" Pria itu menatap wanita di hadapannya dengan nanar. Dan Anggun hanya bisa mengangguk lemah.


"Baiklah. Aku hanya minta kau yakin pada dirimu sendiri. Kau pasti bisa melewati saat-saat ini. Berjuanglah...berjuanglah Anggun...aku mohon...setidaknya,, ini demi anak dalam kandunganmu. Apa kau mengerti??"


Sekali lagi Dion bertanya dengan tatapan penuh permohonan sekaligus meyakinkan. Kembali lagi,, Anggun mengangguk lemah. Namun kali ini dia seperti punya kekuatan baru. Semangat yang di berikan Dion padanya kembali membuatnya ingin berjuang.


"Te..ri..ma..ka..sih...Di...on..."


Kini Dion yang mengangguk pasti. "Jangan khawatir. Aku bersamamu." Bisiknya lembut sambil mengelus rambut wanita itu dan mengecup puncaknya sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan wanita itu.


"Dokter,, lakukan operasinya sekarang !!! Saya akan menandatangani surat persetujuan itu." Kata Dion penuh keyakinan yang pasti.


Dan setelah menjabat tangan Dion,, Dokter itupun berlalu untuk segera menunaikan tugasnya.



Adrian mengemudikan mobilnya dengan cepat. Tujuannya ingin segera sampai ke rumah. Dia berharap wanita yang ia cari akan berada di kediaman mereka.


Adrian yang sudah mencharger ponselnya dengan sebuah powerbank yang kebetulan selalu ia simpan di dalam mobil,, cepat menyalakan ponsel tersebut. Di lihat nya ada beberapa panggilan dari sahabatnya.


Dion?? Kenapa dia menelfonku?? Ah...sudahlah,, pasti bukan sesuatu yang penting. Sebaiknya besok saja aku tanyakan padanya. Saat ini yang terpenting adalah mencari Anggun.


Adrian berusaha menghubungi ponsel istrinya,, namun nomor yang ia tuju saat ini tidak dalam keadaan aktif. Apakah Anggun mematikan ponselnya??


Satu-satunya jalan adalah mempercepat laju mobilnya agar segera sampai di rumah. Dan saat pria itu sampai di tujuan,, dia tak menunggu waktu lama untuk segera turun dari mobil.


"Anggun...Anggun...apa Kau ada di rumah??" Tak ada sahutan apapun. Rumah juga nampak sepi.


Adrian mencoba mencari wanita itu diseluruh ruangan. Bahkan dia sampai membuka pintu kamar perempuan itu. Dan hasilnya nihil. Tetap tak di jumpainya wanita yang ia cari.


Adrian kini gelisah. Pria itu mendudukkan tubuhnya di kursi ruang tamu untuk sejenak. Mencoba berpikir kemana perginya sang istri. Apakah dia singgah di suatu tempat?? Tapi...malam-malam begini,, dia mau kemana?? Mungkinkah dia ada di suatu tempat sedang berteduh??

__ADS_1


Adrian menatap keluar dimana hujan masih mengguyur kota Surakarta. Adrian melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 lewat. Sekali lagi dia mencoba menghubungi ponsel Anggun. Namun hasil yang sama ia dapatkan. Adrian mendengus kesal.


Disandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Mungkin sebaiknya aku tunggu saja dia sampai pulang. Haaahhh...Anggun...dimana kau sekarang??



Menit demi menit berlalu. Entah sudah ke berapa puluh kalinya Dion mondar-mandir di depan ruang operasi. Yang jelas saat ini hatinya sibuk berdoa demi keselamatan wanita yang sudah mencuri hatinya.


Dan setelah beberapa saat lamanya....


Dokter pun keluar dari ruangan menegangkan tersebut. Dion nampak gembira saat melihat sosok orang tersebut.


"Bagaimana dok?? Apa Anggun dan bayinya selamat??" Serbu Dion lansung.


Dokter itu lalu membuka masker yang menutupi mukanya. Dia tersenyum sesaat sebelum akhirnya menjawab.


"Selamat. Keputusan yang anda ambil sangat tepat. Saudari Anggun dan bayinya selamat."


Dion tersenyum bahagia. Terima kasih Tuhan....


"Apa saya bisa bertemu dengannya dok??"


"Tunggulah sampai dia di pindahkan ke ruang rawat inap. Ehmm,, dan satu lagi...untuk saat ini bayi Ny Anggun masih dalam perawatan intensif dari pihak rumah sakit."


"Maksudnya dok??"


"Kami terpaksa harus meng-inkubatornya karena usia lahirnya masih kurang dari 36 minggu. Tapi saya rasa itu tidak masalah. Kami akan bekerja sebaik mungkin."


"Baik dok. Terima kasih. Terima kasih." Dion menyalami dokter itu tak lepas dari senyum haru yang menguar dari bibirnya. Setelah dokter itu pergi,, Dion jadi berpikir untuk membuat sebuah kejutan pada Anggun. Dan diapun meninggalkan tempat itu dengan perasaan berbunga-bunga.


Setengah jam berlalu....


Perlahan-lahan dia membuka pintu dan di sana di lihat nya Anggun tengah berbaring di atas ranjang. Wajahnya sudah tak sepucat tadi saat Dion membawanya ke rumah sakit. Dan yang membuat pria itu senang,, senyum itu kembali lagi. Meskipun dalam keadaan terpejam,, Dion bisa melihat kalau itu senyum bahagia.


"Anggun...." desis Dion lirih. Dan ternyata wanita yang di panggil mendengarnya. Anggun membuka matanya perlahan. Bibirnya semakin melebar menyunggingkan senyum kebahagiaan.


"Bagaimana kabarmu?? Apa kau baik-baik saja??" Tanya Dion lagi dan wanita itu mengangguk ringan. "Aku membawa sesuatu untukmu." Dion lalu menunjukkan sebuket bunga anyelir yang sejak tadi di sembunyikannya.


Anggun menerima bunga itu dengan senang hati. "Terima kasih."


"Apa kau lapar?? Kau ingin makan??" Anggun menggeleng pelan.


"Aku masih belum boleh makan Dion." Ucap Anggun lembut.


"Oh...jadi begitu. Nanti kalau sudah bisa makan,, kasih tau aku. Aku akan membantumu." Sekali lagi Anggun tersenyum sambil mengangguk pelan.


Tangan wanita itu meraba-raba mencari tangan Dion. Dan seperti mengerti maksud Anggun,, Dionpun mengulurkan tangannya. Menggenggamnya dengan erat.


"Terima kasih Dion..." sekali lagi kalimat itu terucap dari bibir Anggun. Namun kini ada sebulir air mata yang mengiringi ucapan tersebut.


"Hei...kenapa Kau menangis?? Ini hari bahagiamu. Kau tidak boleh menitikkan air mata." Dion lalu menghapus buliran air tersebut dengan lembut.


"Kau selalu ada dalam setiap masalahku." Anggun kembali berujar. Kini Dion terdiam. Setelah menyingkirkan bunga dalam dekapan Anggun dan ia taruh di sebuah vas yang kosong,, dia lalu mencoba memulai pembicaraannya yang serius.


"Aku tidak mengerti Anggun,, kenapa kau seperti ini?? Apa kau tau,, tindakanmu ini sangat-sangat berbahaya. Kau lihat,, nyawamu dan bayimu hampir di pertaruhkan." Dion mulai menghakimi.


"Maaf." Hanya itu yang keluar dari mulut Anggun.


"Sekarang ceritakan padaku,, apa yang sebenarnya terjadi sampai kau seperti ini?? Dimana Adrian?? Kenapa aku tidak bisa menghubunginya??"

__ADS_1


Anggun menggigit bibirnya. Dimana Adrian sekarang?? Mungkinkah dia masih bersama wanita itu??


"Kau tak mau menjawab pertanyaanku??" Dion mengejutkan.


"T...tidak. Aku...sebenarnya..."


Dan Anggunpun mulai bercerita kejadian beberapa waktu yang lalu. Dion hanya menarik napas panjang mendengar apa yang di ceritakan wanita pujaannya. Entah apa yang di pikirkan pria itu saat ini.


"Apa kau ingin aku menemui Adrian??" Tanya Dion memberi pilihan.


"Tidak !!! Jangan !!!" Dion terbungkam karenanya. "Maaf,, tapi untuk saat ini aku tidak mau bertemu dengannya."


"Kau yakin??" Anggun mengangguk pasti. "Tapi keluarga Adrian?? Apakah aku juga tidak perlu menghubungi mereka??"


Kali ini Anggun terdiam. Nampaknya dia sedang berpikir. "Sebaiknya....tidak. Tolong...jangan beri tahu siapapun."


"Hmmm...lalu dengan sekolahmu?? Apa aku juga tidak perlu memberitahukannya??"


"Ehmm...nanti biar Aku yang akan menghubungi kepala sekolahku."


"Baiklah kalau itu maumu."


Untuk sesaat pembicaraan pun terhenti.


"Bagaimana dengan anakku Dion??" Tanya Anggun tiba-tiba.


Dion yang sedang membetulkan letak tempat tidur Anggun menoleh seketika.


"Ah...aku lupa mengatakan. Bersyukurlah,, bayimu sehat. Namun saat ini masih belum bisa di bawa kesini dan masih dalam perawatan dokter."


"Hmm..aku senang dia baik-baik saja. Dia perempuan kan??"


"Ya. Sepertinya dia akan menyaingi kecantikanmu." Dion menyentil hidung Anggun. "Kau akan memberinya nama siapa??"


Anggun nampak berpikir. Dan kemudian diapun tersenyum untuk sesaat. Seperti menemukan sesuatu dalam benaknya.


"Cinta." Desisnya perlahan.


"Cinta??"


"Ya. Itulah namanya."


"Kenapa kau memberi nama itu??"


"Karena aku ingin dia di kelilingi oleh banyak cinta dari orang-orang sekitarnya."


"Hmmm...itu bagus. Baiklah...aku akan merayakannya." Dion hendak beranjak pergi.


"Kau mau kemana Dion??"


"Merayakan kelahiran Cinta."


"Kau mau apa?? Jangan berbuat yang tidak-tidak. Apa kau mau minum??" Dion tergelak karenanya. Dia lalu mendekat dan berbisik pada wanita di hadapannya.


"Aku akan membagi-bagikan makanan untuk fakir miskin dan anak yatim. Apa kau senang??" Anggun tersenyum karenanya.


"Terima kasih Dion." Ujarnya haru. Dion mengangguk pelan. "Cepatlah kembali kesini !!!" Teriak Anggun sebelum Dion pergi. Dan pria itu membungkuk hormat layaknya seorang pengawal pada ratunya. Anggun tak dapat menyembunyikan tawanya. Dion benar-benar bisa membuatnya tersenyum bahagia. Ah...seandainya saja dia adalah Adrian?? Kembali lagi pernyataan itu keluar dari benaknya.


\===========================

__ADS_1


__ADS_2