Anggun Bidadariku

Anggun Bidadariku
Pulang Sekarang!!


__ADS_3

Petir menyambar seiring dengan berita yang kusampaikan.Kebenaran itu benar-benar mengguncang keluargaku.Mereka nampak shock setelah mendengarnya.Hujan turun seketika dengan sangat derasnya.Kenapa harus saat ini ?? Disaat aku akan mempersiapkan rencana tunangan dengan Andini,,kekasihku.Ah...bisakah aku menyebutnya sebagai musibah ??


"Kejar !!! Kejar Anggun sekarang Rian !!!" Bapak tiba-tiba berseru padaku.Dan tanpa menunggu perintah dua kali akupun segera berlari keluar pintu.


Dari arah luar kulihat adikku,,Dinda sudah pulang dari sekolahnya.


"Lho...mas Rian mau kemana ??" Tanya Dinda saat sampai di teras rumah.


"Din,,aku pinjam payungmu sebentar ya...." Kataku tanpa menghiraukan pertanyaan Dinda.


"Mas mau kemana sih ??"


"Ada perlu sebentar."


Aku menyambar payung yang di bawa Dinda dan langsung berlari keluar rumah menerobos lebatnya hujan yang turun.


"Bu...mas Rian mau kemana sih kok buru-buru sekali ??" Tanya Dinda saat masuk kedalam rumah.Namun Ibu diam tak menjawab pertanyaan Dinda."Oh...iya bu,,tadi aku melihat mbak Anggun lari-lari di jalan.Sepertinya dia sedang menangis.Dan saat ku panggil,,dia tak menjawab apa-apa.Apakah dia habis dari sini bu ??" Terangnya kemudian sambil mengajukan pertanyaan.


"Cepatlah masuk Dinda.Segera ganti bajumu." Bapak tiba-tiba berseru tajam.Dinda hanya mengangguk karena dilihatnya ada sesuatu yang buruk yang tengah terjadi dalam keluarga.


 


Aku berlari terus.Mencoba memperjelas pandanganku di tengah gelapnya jalan yang tertutup oleh derasnya air hujan.Tiba di pertigaan jalan,,aku mulai kesulitan.Jalan mana yang harus ku pilih ?? Kalau melihat jalan rumah mbak Anggun,,dia pasti akan memilih arah kanan.Tapi benarkah saat ini dia pulang ??


Kebetulan sekali ada seorang pedagang yang sedang berteduh di bawah pohon,,sehingga akupun bisa bertanya padanya.


"Nuwun sewu Pak,,mau tanya....Tadi lihat perempuan berambut panjang dengan pakaian berwarna kuning lewat sini ??" Tanyaku pada pedagang tersebut.


"Perempuan ??" orang itu tampak berfikir."Hmmm...yo...yo...yo....aku weruh le.Perempuan dengan baju kuning dan rambut panjang.Dia tadi berlari kearah sana." Jawab pedagang tersebut sambil menunjuk arah kesebelah kiri.Ternyata benar dugaanku.Mbak Anggun sepertinya tak ingin pulang ke rumahnya.


"Matur suwun pak,,monggo....pareng..."


Aku lalu menuju arah yang di maksud dan berlari lebih kencang dari semula.Dan syukurlah....aku melihat sosok yang ku maksud dari kejauhan.Dia juga tampak berlari.Namun badannya sudah basah kuyup oleh air hujan.


Kupercepat lajuku hingga akhirnya sampailah aku tepat di samping mbak Anggun.


"Mbak....berbenti.Ayo mbak balik pulang dulu ke rumah.Bapak ingin bicara sama mbak Anggun." Teriakku di sela-sela hujan.


"Kenapa kau menyusulku,,Rian ?? Kembalilah !!" Balasnya dingin.Matanya merah karena banyak menguras air mata dan mungkin karena hujan juga.


"Ayo mbak,,pulang kembali kerumah.Bapak mau bicara sama sampean."


"Untuk apa lagi Rian ?? Tidak ada lagi yang perlu di bicarakan."


"Tolong dengarkan aku dulu mbak.Ayo kita bicarakan masalah ini baik-baik." Aku mencoba mencekal lengannya.Mengajaknya untuk berhenti.


"Sudahlah.Jangan paksa aku !!! Semua sudah berakhir !!! Apalagi yang bisa aku lakukan ??"


"Pasti ada jalan keluarnya mbak.Percayalah !!!"

__ADS_1


"Apa ?? Dengan menyuruhnya bercerai dengan wanita itu ?? Atau menjadikanku istri kedua ?? Kau pikir wanita itu sudi menerimanya ??" Mbak Anggun menghentakkan tanganku seketika dan dia berlari kembali lebih cepat dari sebelumnya.


Namun aku tak ingin berhenti sampai di sini.Aku kembali mengejarnya.Dan kini aku ingin bersikap lebih tegas dari sebelumnya.


"Aku tidak tau apa yang akan kita putuskan nanti.Yang jelas mbak Anggun harus ikut aku pulang ke rumah sekarang juga !!!" Kataku tegas sambil meraih bahunya dan mencengkramnya dengan keras sehingga tubuhnya terhenti seketika.


Mataku menatap tajam kearahnya.Melempar tatapan mendominasi padanya.Kulihat mbak Anggun menjadi terdiam karenanya.Kemudian wajahnya tertunduk dengan sebuah isakan.


Kulempar payungku dan kuraih tubuh rapuh itu dengan kedua tanganku.Entah kenapa aku ingin memberinya ketenangan.Setidaknya dia akan merasa nyaman dan terlindungi,,meski aku hanya adik dari kekasihnya.


"Ayo mbak.....kita pulang." Bisikku padanya.Mbak Anggun semakin memperkeras tangisannya dalam dekapanku.


 


Saat ini kami sudah berada di hadapan bapak dan ibu.Aku sudah mengganti pakaianku yang tadi basah karena ikut hujan-hujanan dengan mbak Anggun.Dan dia sendiri juga sudah mengganti pakaiannya dengan sebuah daster milik ibu.


"Sekarang katakan pada Bapak,,Anggun.Benarkah yang di sampaikan Rian ?? Apakah kau sedang hamil saat ini ??Apakah itu perbuatan Bagas ??" Bapak mulai membuka persidangan.Suaranya nampak serak dan berat.


Mbak Anggun yang hanya tertunduk dengan ibu di sampingnya hanya bisa mengangguk-angguk saja.Bapak menghembuskan nafasnya.Melempar pandangan keluar rumah yang masih di selimuti hujan.


Tampak adikku Dinda datang membawa tiga cangkir teh hangat.Di tatanya satu persatu di hadapanku,,Bapak dan Anggun.


"Mbak....minumlah !!! Biar tubuh mbak Anggun hangat." ujarnya mempersilahkan untuk kemudian dia berlalu dari hadapan kami.


"Minumlah nduk...." Ibu mengambilkan teh tersebut dan memberikannya pada mbak Anggun.Wanita itu menerimanya dengan senyum yang terlihat samar dan hampir tak terlihat.


"Matur suwun bu." Di hirupnya minuman itu hanya sekali tegukan saja.Sepertinya teh itupun tak mampu menghangatkan dinginnya hati yang sudah membekukannya.


Akupun kemudian berlalu menuju teras rumah guna menghubungi mas Bagas.


"Bu,,hubungi mas Purwito sekarang.Beritahu dia kalau kita tidak jadi ke rumahnya." Kata Bapak kemudian pada Ibu.Dan ibupun mengangguk sebagai tanda setuju.Beliau menuju telfon rumah dan memutar sejumlah angka disana.


"Assalamualaikum....Jeng Retno ??" seru ibu dalam telfonnya.


"......"


"Anu jeng.....ini lo,,sebelumnya saya mau minta maaf.Saya mau ngasih tau sampean kalau hari ini kami ndak bisa datang."


"......"


"Aduhh....saya jadi ndak enak sama jeng Retno dan mas Purwito."


"......"


"Sekali lagi maaf lo jeng.Terima kasih kalau begitu.Assalamualakum..."


Ibu mengakhiri panggilannya pada keluarga Andini.Sedangkan aku sendiri sibuk dengan telfonku dengan mas Bagas.


"Mas....sampean di suruh pulang sekarang sama bapak."

__ADS_1


"Apa ?? Kenapa ?? Ibu sakit ??"


"Nggak mas.Tapi ada hal penting yang mau dibicarakan bapak dengan mas Bagas."


"Tidak bisakah di tunda ?? Aku sedang sibuk Adrian."


"Nggak bisa mas,,ini sangat penting dan mas harus pulang sekarang."


"Tapi aku banyak pekerjaan Rian.Tidak bisakah lain kali saja ??"


Aku hampir menjawab pertanyaan mas Bagas namun tiba-tiba bapak merebut ponselku dari belakang.


"Bapak minta kau pulang sekarang Bagas !!!" Suara bapak berat dan tegas seakan tak mau di bantah.


"Bapak ?!?!? Tapi pak....saya banyak pekerjaan saat ini."


"Pulang sekarang atau bapak tidak akan mengakuimu sebagai anak lagi !!!" Bapak menggeram penuh amarah.


"Njih pak.Saya akan berangkat sekarang.Tapi berikan waktu supaya istri saya bersiap-siap lebih dulu."


"Tidak perlu mengajak istrimu !!! Kau pulang sendiri !!! Mengerti !!!" Dan bapak menutup telfonnya begitu saja kemudian melangkah kedalam rumah kembali.Dan aku hanya bisa mengikutinya dari belakang.


Kulihat ibu tampak membujuk mbak Anggun untuk makan.


"Ayo nduk,,makanlah.Kau pasti lapar."


"Ndak bu.Trima kasih.Saya ndak lapar." tolak mbak Anggun halus.Wanita itu benar-benar terlihat sangat pucat.


"Ayolah Anggun....sedikit saja...." paksa ibu lagi.


"Makanlah Anggun.Jangan buat bapak semakin merasa bersalah dengan penolakanmu itu nduk." suara bapak memotong tiba-tiba.


Mbak Anggun menatap ibu sesaat,,dan ibu memberi isyarat dengan mrnganggukkan kepalanya.Akhirnya mbak Anggunpun pergi kemeja makan.


"Din,,temani mbak Anggun makan ya." seru ibu pada Dinda.


"Iya bu." jawab Dinda dari dalam kamar."Mari mbak." ajaknya kemudian.


2 jam pun berlalu......


Hujan sudah berhenti sejak satu jam yang lalu.Sebuah mobil Fortuner tampak memasuki halaman rumah.Bapak yang sejak tadi mondar-mandir gelisah akhirnya berhenti di ambang pintu.Sudah bisa di pastikan kalau itu adalah mobil mas Bagas.


Mbak Anggun yang sedari tadi duduk di kursi panjang di temani oleh adikku Dinda,,mendadak berdiri dan bermaksud melangkah pergi.Namun Bapak yang tau reaksi tersebut dengan cepat menghentikannya.


"Jangan pergi nduk.Kau tidak perlu takut.Kalau memang anakku bersalah,,dia harus mempertanggung jawabkannya." Dan mbak Anggun mengurungkan niatnya untuk pergi.


Di luar tampak mas Bagas keluar dari dalam mobil dengan tergesa-gesa.Dan terlihat wajahnya sangat tegang saat memasuki rumah yang sudah disambut Bapak dengan wajah dingin dan mata yang menatap tajam.Mas Bagas tau,,itu aura kemarahan Bapak.


"Assalamualaikum...."

__ADS_1


\=================================


__ADS_2