Anggun Bidadariku

Anggun Bidadariku
Masalah Terselesaikan


__ADS_3

Dinda terbelalak tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Assalamualaikum..." suara itu membangunkan gadis manis tersebut dari lamunannya.


"Wa....waalaikum salam...." Dinda tergagap. Gadis itu cepat-cepat menyalami sosok yang baru muncul di balik pintu tersebut yang tak lain adalah Adrian dan juga Bagas. "Mas Rian,, mas Bagas...." Dinda memeluk kakaknya satu persatu. Kerinduan terasa menumpuk di hatinya. Namun berbagai pertanyaan kini muncul di benaknya. Bagaimana mereka bisa bersama?? Bukankah sebelum ini mas Rian sangat membenci mas Bagas??


"Bapak dan Ibu ada dek??" Tanya Adrian.


"A....ada Mas." Dinda masih tergagap. "Ayo mas....kita kedalam."


Dan merekapun masuk beriringan. Dinda tak lupa menyalami Anggun dan Niken yang berada di urutan paling belakang.


Saat semua sampai di ruang tengah di mana kedua orang tua mereka berkumpul,, rasa terkejut tak terelakkan lagi dari Tuan dan Ny.Sujono. Keduanya berdiri seketika. Bu Ratih mendekati suaminya perlahan-lahan dengan detak jantung yang berpacu lebih cepat dari semula. Mereka berdua terbelalak dan saling melempar pandangan satu sama lain.


Tanpa menunggu waktu lagi,, kedua putra tersebut menghambur dan bersujud di hadapan kedua orang tuanya bergantian.


"Maaf kan saya pak,,bu...." Adrian berseru di hadapan ayahnya.


"Saya kesini juga mau minta maaf sama Bapak dan Ibu." Bagas menimpali sambil mencium tangan ibunya.


Tak ada jawaban apapun dari kedua orang tuanya. Bu Ratih memandang suaminya dengan tatapan bertanya. Sungguh dia tak berani mengambil keputusan tanpa seijin suaminya. Wanita itu takut kalau kemarahan masih menyelimuti hati sang kepala rumah tangga tersebut.


Namun nyatanya tidak demikian halnya yang di pikirkan pak Sujono. Beliau justru terheran-heran dengan sikap kedua putranya dimana beberapa bulan lalu mereka sempat bersitegang satu sama lain,, namun kini mereka datang bersama dan nampak akur seperti sebelumnya. Bukankah itu menandakan kalau permasalahan di antara mereka sudah berakhir?? Apa yang sebenarnya telah terjadi??


"Pak,,bu...maafkan kami. Kami memang anak yang durhaka. Bapak dan Ibu boleh menghukum apapun pada kami asal jangan membenci kami." Bagas melanjutkan.


"Eh....sudah...sudah...Ayo bangunlah kalian." Tiba-tiba suara berat pak Sujono terdengar.


"Iya le. Ayo bangunlah kalian. Kita bicarakan masalah ini baik-baik sambil duduk dengan tenang." Bu Ratih mengikuti.


Dan kedua putra tersebut menuruti perintah kedua orang tuanya. Bu Ratih menyuruh Dinda membantu mbok Inem untuk menyiapkan makan malam. Sedang mereka kini sedang berkumpul di ruang keluarga.


Suasana nampak hening. Masih belum ada satupun yang bersuara. Ny Sujono masih menunggu keputusan suaminya dalam bertindak. Meski sejurus lalu tidak tampak olehnya aura kemarahan di wajah pria itu,, namun itu bukan berarti sang suami menganggap selesai permasalahan yang tengah mendera keluarga tersebut.


"Hingga kini,, kau harus tau Bagas,, kalau bapak masih belum bisa memaafkanmu." Sang kepala keluarga itu akhirnya membuka percakapan. "Kesalahan yang telah kau lakukan,, tidak hanya fatal,, namun juga memalukan. Itu semua di luar prinsip dan etika rumah ini." Ada guratan kekecewaan di wajah tua itu saat mengucapkan kalimat yang di ucapkannya.


"Bapak tidak tahu,, apa yang telah terjadi di antara kalian. Yang jelas melihat kalian datang kemari bersama-sama sangat membuat hati Bapak dan Ibumu senang. Ternyata anak-anak Bapak masih memegang kerukunannya."


"Pak....sebenarnya....." Adrian memotong pembicaraan. Di tatapnya sang kakak untuk meminta pertimbangan. Dan Bagas menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan. "Kami ingin menyampaikan sebuah kebenaran yang selama ini telah di sembunyikan mas Bagas dari kita semua."


Tn dan Ny Sujono menatap putranya penuh tanya. Dan setelah mengukuhkan hatinya penuh keyakinan,, Adrian pun memulai ceritanya. Apa yang di sampaikan Bagas di rumahnya tak terlewatkan sedikitpun di ceritakan oleh Adrian. Sesekali pria itu menjatuhkan pandangan pada kakak sulungnya sebagai bentuk penguatan batin,, karena dia tahu saat ini di benak Bagas sedang berkecamuk berbagai macam dilema.


Tn dan Ny Sujono mendengarkan penjelasan Adrian dengan seksama. Tak ada komentar apapun,, mereka hanya bisa mendengar sambil memandang langit-langit rumah dengan tatapan yang kosong.


Akhirnya Adrian mengakhiri ceritanya dengan menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan-lahan.

__ADS_1


"Saya tidak tahu bagaimana tanggapan Bapak dan Ibu mengenai kebenaran ini. Namun,, mungkin sebaiknya kita perlu memberi kesempatan pada mas Bagas untuk memperbaiki kesalahannya. Karena saya yakin,, tidak hanya kita yang menderita,, namun dia juga demikian." Adrian mengakhiri penjelasannya dengan sebuah kesimpulan yang ia ambil sendiri. Sekali lagi tatapannya jatuh pada sosok kakaknya yang saat ini tengah tertunduk.


Pak Sujono menghela napas panjang. Pria paruh baya itu bangkit dari kursi kebesarannya. Melangkah perlahan-lahan dengan kedua tangan ia ikat di belakang.


"Meskipun demikian,, aku tetap tidak membenarkan tindakan Bagas yang sudah menghamili Anggun. Sungguh itu di luar etika keluarga kita. Dan itu benar-benar memalukan untuk Bapak." Pria itu masih berperang.


"Maafkan saya pak." Bagas bergumam. Diseberang kursi tampak Anggun semakin menundukkan kepalanya. Ingatannya kembali ke malam saat dia dan Bagas melakukan perbuatan terlarang itu.


Flash Back On


Bagas dan Anggun baru saja keluar makan malam. Dan saat ini Mereka tengah duduk di dalam mobil. Entah kenapa sejak tadi Anggun melihat perubahan sikap Bagas yang lain dari biasanya. Dia lebih cenderung diam dan tak banyak bicara. Meskipun Anggun sudah memancing dengan obrolan yang menarik,, nyatanya pria itu hanya memberikan senyum hambarnya.


"Bagas,, apa yang sebenarnya telah terjadi?? Kenapa sejak tadi kau hanya diam??" Anggun memulai obrolan. Pria disampingnya masih diam membeku tak menjawab apa-apa. Hanya pandangannya saja yang fokus ke depan pada jalanan yang masih ramai di lalui kendaraan.


"Aku tidak mengerti,, apa yang sebenarnya sudah terjadi padamu. Kau bahkan tak menjawab semua pertanyaan yang ku ajukan. Apakah....apakah....aku sudah bersalah padamu?? Kalau memang begitu,, aku minta maaf...."


"Bagaimana kalau malam ini kita menginap??" Tiba-tiba Bagas melontarkan perkataan yang membuat Anggun terkejut.


"Apa??" Seru gadis itu bingung.


"Aku bertanya,, bagaimana kalau malam ini kita menginap??" Bagas mengulangi perkataannya.


"Me...menginap?? A...aku tidak mengerti maksudmu Bagas??" Anggun terbata-bata.


"Anggun,, aku yakin kau mengerti kemana maksud pembicaraanku. Perlukah aku menjelaskannya secara rinci padamu?? Kita sudah sama-sama dewasa,, dan kurasa kau mengerti apa arti 'menginap' yang aku maksud." Bagas menatap Anggun seksama. Dan gadis itu hanya menelan ludahnya sudah payah.


"A...aku..."


"Kau tidak percaya padaku??"


"Bu....bukan begitu...."


"Lalu??"


"Tapi bukankah ini sangat terlarang...."


"Jadi....kau mau atau tidak??"


"Eh...aku...."


Pada akhirnya Anggunpun mengikuti ajakan Bagas. Meski itu ia lakukan dengan hati yang ketar-ketir. Dia masih menyempatkan diri menelfon ibunya sekedar membuat alasan kalau saat ini dia akan menginap di rumah teman.


"Tapi...kita hanya akan menginap saja kan?? Kita tidak akan berbuat macam-macam kan??" Tanya Anggun berusaha mendinginkan pikirannya yang mulai kacau.


"Hmm...aku tidak bisa janji untuk itu. Kita lihat saja nanti."

__ADS_1


Dan mereka pun tiba di sebuah hotel berbintang. Tentu saja meski bukan sekali ini Anggun mengistirahatkan dirinya di bangunan mewah itu,, namun kali ini dia tak menampik rasa gugup dan was-was dalam dirinya. Pastinya itu karena keberadaan Bagas.


Apa?? Menginap dengan seorang laki-laki?? Bagaimana kata orang?? Bagaimana kalau ibu tau?? Bagaimana kalau keluarga Bagas sampai mengetahuinya?? Apa yang akan di pikirkan mereka padaku??


Berbagai macam pertanyaan muncul di benaknya.


"Ayo !!!" Suara pria bertubuh tinggi besar itu mengejutkannya. Rupanya pria itu telah selesai dengan proses check-in nya. Dia lalu menggandeng tangan Anggun dengan erat seakan memberi keyakinan pada gadis tersebut.


Anggun ragu-ragu saat memasuki kamar hotel. Pandangannya mengedar keseluruh kamar. Degup jantungnya kini justru berdetak lebih kencang dari sebelumnya.


"Aku mau mandi dulu. Bagaimana denganmu??" Tanya Bagas sambil melepas sepatunya.


"Ah....tidak. Kau saja..." Anggun tersenyum masam. Hatinya kini benar-benar gundah.


"Oh...baiklah."


Anggun hanya duduk di tepi pembaringan. Pikirannya kembali berkecamuk.


Sungguh,, apa yang harus aku lakukan?? Aku baru pertama kali tidur seranjang dengan seorang pria. Apakah aku yakin kalau Bagas tak akan melakukan apapun padaku??


Pertanyaan itu terus berputar di otaknya. Dan itu berulang-ulang sampai akhirnya Bagas muncul dari kamar mandi dengan hanya sehelai handuk yang mengikat di pinggangnya. Anggun memalingkan muka seketika saat melihat pemandangan menggiurkan itu. Wajahnya merah merona karena malu.


Pria itu meneguk sebotol air mineral yang terletak di atas meja untuk kemudian mendudukkan dirinya di sisi Anggun. Wanita itu sungguh tak dapat menghentikan keringat dingin yang saat ini membanjiri telapak tangan dan kakinya.


"Kenapa kau tegang?? Apa kau takut??" Anggun hanya diam tak menjawab. Dia memilih menundukkan kepalanya karena tidak tau apa yang harus ia katakan.


"Ehmm...sebaiknya Aku tidur lebih dulu." Anggun cepat-cepat bangkit dan hendak melangkah memutari ranjang. Namun belum sempat kakinya melangkah,, Bagas sudah memegang tangannya sehingga membuat gadis itu mau tidak mau harus mengurungkan niatnya.


Bagas berdiri di belakang Anggun dan memeluknya seketika. Anggun membulatkan matanya karena terkejut. Jantungnya kini memompa lebih keras lagi dengan napas yang berkejar-kejaran.


"Aku mencintaimu Anggun...." bisik pria itu di telinga Anggun. Anggun tak dapat mengelak lagi saat pria itu menyibakkan rambut panjang gadis di hadapannya lalu mengecup punggung lehernya. Perlahan-lahan dan itu merambat sampai ke bawah.


"Aku menginginkanmu Anggun." Ucap Bagas dengan suara serak.


Anggun hanya bisa memejamkan matanya saat perlahan-lahan pria itu memutar tubuhnya dan mulai melepaskan pakaiannya satu persatu.


Flash Back Of


"Tapi semua sudah terjadi. Dan yahh....meski Bapak masih belum bisa menerima perbuatanmu,, Bapak juga tak bisa terus-menerus membenci dan menyalahkanmu. Dan Bapak harap ini jadi pelajaran buat kalian semua. Terutama untukmu Bagas,, jangan pernah menyimpan permasalahan sendiri lagi. Ingatlah,, kalau keluargamu akan selalu ada untuk membantumu." Perkataan pak Sujono barusan menyentakkan Anggun dari lamunannya.


"Maafkan Niken juga pak. Ini semua karena kesalahan saya. Andai kata saya tidak menyukai mas Bagas,, kalian pastinya tak akan terjebak masalah yang sulit ini." Kini Niken mengambil suara.


"Tidak nduk. Jangan minta maaf. Ini bukan kesalahanmu. Sungguh kami menerimamu dengan tulus saat menjadi menantu di rumah ini. Karena Bapak dan Ibu percaya kalau kau adalah wanita yang baik. Bukan begitu pak??" Bu Ratih memotong cepat perkataan menantunya dengan mengarahkan pandangannya pada sang suami. Dan pria paruh baya itupun hanya mengangguk ringan.


Malam itu keluarga Sujono menemukan kebahagiaannya kembali. Mereka menghabiskan waktu bersama di ruang keluarga setelah menyelesaikan acara makan malam. Meski tak dapat di pungkiri masih ada kekecewaan di raut wajah masing-masing,, namun itu tak menutupi kebahagiaan yang saat ini mereka reguk bersama.

__ADS_1


Mungkin....sudah waktunya aku melupakan masa laluku. Ya....seperti ini lebih baik. Melihat mereka semua tertawa dalam bahagia. Anggun menatap mereka yang ada di ruangan itu satu persatu. Bibirnya melengkung mengembangkan senyum kebahagiaan.


\==========================


__ADS_2