
"Ehmm....yaach...sebenarnya aku....sudah pulang sejak tadi. Hanya tadi aku ada urusan di luar dan baru pulang sekarang." Adrian mencoba mencari alasan logis.
Ya....urusanmu adalah dengan Andini. Aku sudah tau itu....
"Ohh..." Anggun hanya meng-iyakan saja pengakuan tersebut. "Apakah kau ingin aku menyiapkan makanan untukmu??" Ujar wanita itu menawarkan.
"Heh...boleh...kebetulan Aku juga sangat lapar." What?? Jangan gila Adrian,, bukankah kau baru menghabiskan dua porsi makanan??
"Ok....aku akan memasakkan sesuatu untukmu." Anggun lalu bergegas menuju kamarnya lebih dulu untuk mengganti pakaiannya.
Adrian memukuli kepalanya sendiri dengan perkataan bodohnya barusan. Kenapa sih dia tak mau jujur saja?? Setidaknya bukankah dia bisa beralasan?? Ahh...tapi semua sudah terlanjur. Tak mungkin Adrian akan menarik kata-katanya kembali.
"Kau tidak mengganti bajumu dulu??" Suara lembut itu mengejutkannya lagi. Ternyata Anggun sudah mengganti pakaiannya dengan gaun tidur. Ah....kenapa baru kali ini ya Adrian merasa Anggun sangat cantik. Rambut yang seharian ia ikat kini di gerainya kembali. Seolah mahkota perempuan itu meneriakkan kebebasannya kembali. Ya...ampun Adrian,, kemana saja kau pergi selama ini sampai melewatkan istri secantik ini di hadapanmu.
"Adrian,, kau tidak apa-apa??" Sekali lagi Anggun menegur. Pria itupun menjadi gelagapan seketika.
"Hmmm,, yach....aku akan mengganti bajuku dulu." Adrian buru-buru berlalu karena malu ketahuan mengamati istrinya dengan mata melotot.
Anggun tak memikirkan banyak hal. Dia hanya bergegas menuju dapur dan mencari bahan makanan yang bisa di masaknya. Untunglah,, nasi masih ada sehingga dia hanya tinggal membuatkan lauk untuknya.
Perempuan itu mengambil corned yang ia simpan di lemari es. Dan itu adalah bahan utama untuk membuat menu makan malam kali ini. Adrian sudah kembali ke dapur saat Anggun sudah selesai dengan masakannya. Aroma wangi tercium memenuhi ruangan.
Dan kini mereka sudah duduk di meja makan. Makanan itu terasa lezat jika di pandang,, namun sayangnya perut Adrian tak memungkiri kalau dirinya saat ini benar-benar sudah kenyang. Jadi kini dia kembali di landa rasa gelisah antara memakan makanan itu atau tidak.
"Kenapa kamu tidak makan?? Tidak suka dengan masakanku??" Anggun terheran.
"Eee...tidak...tidak...tentu saja aku suka. Ini...pasti enak sekali. Bukankah begitu??" Adrian tersenyum salah tingkah. Anggun hanya menarik salah satu sudut bibirnya,, bingung. Dia merasa tingkah Adrian sejak tadi sangat aneh.
Adrian cepat-cepat memakan makanannya. Dia tak ingin membuat Anggun semakin curiga padanya. Biarlah,, di paksakannya kali ini si perut untuk menampung makanan melebihi kadar batasnya. Semoga tak menjadikan ia muntah karenanya. Bismillah...
Sesekali pria itu mencuri pandang pada wanita di hadapannya yang sedang asik terpekur dengan buku masakannya. Ada sesuatu hal yang ingin dia tanyakan saat ini.
"Ehmm,, apakah kamu masih pulang bersama temanmu itu??" Tanya Adrian ragu-ragu. Dia sengaja mengajukan pertanyaan demikian karena ingin mengetes kejujuran istrinya.
"Hmm...yah..." hanya itu saja jawaban dari mulut Anggun tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang di pegangnya.
"Apakah kalian pernah makan malam??" Ah...bodoh Kau Adrian !!!! Kenapa bertanya seperti itu?? Dan benarlah,, kali ini ini Anggun terkejut dan menengadahkan kepalanya. "Aku hanya menebak saja. Karena kau tadi pulang hampir bersamaan denganku. Dan melihatmu saat ini tidak makan,, aku berfikir kau pasti sudah makan malam di luar." Adrian berhasil mengelak dengan alasan yang logis.
"Ehmm...begitulah." kini Anggun yang di buat salah tingkah.
"Kalau kau tak keberatan,, mulai besok....aku bisa menjemputmu." Adrian menawarkan.
"Tidak perlu !!!" Sergah Anggun cepat. Kini pria di hadapannya yang terkejut dengan pernyataan isterinya barusan. "Maaf,, tapi aku sudah terlanjur berjanji dengannya. Dan lagi pula waktu bimbinganku juga tinggal beberapa hari lagi. Jadi....kau tak perlu repot meluangkan waktumu." Anggun mengemukakan alasan yang sama logisnya.
Kenapa baru sekarang kamu menawarkan kebaikan?? Kemana saja kemarin?? Sibuk dengan kekasihmu Andini?? Anggun melirik sekilas ke arah Adrian yang sudah kembali menekuni makanannya.
"Apakah dia teman laki-lakimu atau perempuan??" Adrian mencoba menelusur.
"Kenapa kau jadi tertarik??"
"Aku hanya ingin tau saja."
"Sepertinya aku lelah....maaf,, aku tak bisa menemanimu sampai selesai. Kau taruh piring kotornya di meja. Biar besok aku yang membereskan. Maaf....aku harus segera istirahat." Anggun cepat-cepat menghindar dengan beralasan. Dan Adrian hanya membalas dengan senyum kecut.
Baiklah....mungkin Aku akan mengikutinya lagi besok,, putus Adrian.
Seperti angin beralih,, kini Adrian berpindah profesi. Yang semula sibuk mengikuti keberadaan Andini,, kini kebiasaannyapun berganti membuntuti kemana Anggun pergi. Dan benarlah sudah,, selama dua hari ini Adrian sudah menghabiskan waktunya mengawasi sepasang manusia yang sebenarnya tak ada ikatan apapun kecuali persahabatan.
Dan saat ini mereka tengah berada di sebuah restoran Itali. Dimana ditempat itu tersaji berbagai jenis makanan berbau Itali. Setelah memesan sederet makanan seperti Spaghetti bolognese,, classic tiramisu,, risoto dan beberapa jenis menu lainnya,, Dion dan Anggun lalu terlibat pembicaraan yang seru.
"Kau yakin hanya pesan air mineral??" Tanya Dion setelah pelayan yang beberapa saat lalu mengorder pergi.
"Ya. Kau tau aku hamil,, jadi aku harus menjaga makananku. Dan air putih lebih baik untuk kandunganku."
"Well,, kau yang lebih tau semuanya."
"Jadi...apakah Kau melihat perubahan Adrian,, Dion??" Anggun memulai pembicaraan yang serius.
__ADS_1
"Hmmm...??" Dion hanya berdehem saja. Pria itu lebih tertarik mengamati Anggun yang malam ini tampil berbeda dari malam sebelumnya. Yang jelas tadi sebelum menuju restoran,, Dion masih sempat mengajak Anggun singgah ke sebuah butik dan salon. Dan tak terduga kalau pria itu menyuruh seorang pelayan me-make over penampilan Anggun secara kilat. Meski sebelumnya wanita itu menolak,, namun berkat kegigihan Dion dalam merayu,, akhirnya Anggunpun mengalah mengikuti keinginan pria itu. Dan fantastis.....Anggun benar-benar keluar dari ruangan dengan tampilan berbeda,, seperti seorang putri. Dengan pakaian yang di buat sedemikian rupa sehingga tak menampilkan perut buncitnya,, sungguh dia kelihatan sempurna. Dan Dion seperti di buat terhipnotis karenanya. Oh....Tuhan,, kau begitu cantik Anggun.
Adrian yang mengawasi dari jauh juga tak mengira dengan perubahan penampilan isterinya yang berubah dadakan. Ada rasa iri yang menggelayut di benaknya. Kenapa bukan dia yang saat ini tengah berjalan dengan wanita itu?? Kenapa harus Dion??
"Entahlah,, sikapnya begitu aneh. Kadang dia menanyakan hal-hal yang baru saja aku lakukan denganmu." Dion mengernyitkan keningnya. "Seperti makan malam kita misalnya." Sahut Anggun cepat. "Dia seperti tau apa yang sedang kita lakukan." Gumamnya kemudian.
Anggun berhenti sejenak. Pandangannya melayang keluar dan mengingat kembali sifat-sifat aneh Adrian dua hari belakangan ini. "Bagaimana menurutmu??"
"Hmmm??" Dion masih enggan menyahut. Dia benar-benar tak ingin mengganggu konsentrasinya menikmati pemandangan indah di hadapannya. Hanya mulutnya saja yang tak pernah lepas dari senyum yang mengembang penuh takjub.
"Diooonnnn !!! Sejak tadi kau hanya bilang hmmm saja. Kau mendengarku tidak sih?? Dan sebenarnya ada apa denganmu?? Kau terus memandangiku seperti itu?? Apakah penampilanku terlalu berlebihan?? Bukankah sudah ku bilang kalau aku tidak mau seperti ini. Lihatlah,, kau bahkan sejak tadi tak memberikan komentar apapun terhadapku. Kalau aneh bilang saja." Anggun tampak menggerutu sambil bersungut.
Dion tersenyum lembut kali ini. Tiba-tiba pria itu meraih tangan Anggun dan menggenggamnya.
"Tidak !! Kau tidak aneh. Kau bahkan sangat cantik malam ini sehingga aku tak mampu berkomentar apapun dan hanya mampu memandangimu saja sejak tadi." Tutur Dion dengan nada yang halus.
"Isshhh....kau ini !!!" Anggun tampak merona dan dia hendak menarik tangannya kembali,, namun Dion menahannya dan itu membuat Anggun tersentak. Wajahnya semakin merona karena pandangan Dion semakin menikam padanya. Tatapan penuh arti seorang pria terhadap wanita.
"Lepaskan Dion....kau membuatku malu." Anggun menundukkan kepalanya.
"Ada satu hal yang ingin ku sampaikan padamu Anggun." Kini pria itu memulai kalimatnya dengan serius seirama dengan wajahnya yang nampak tegang. Anggunpun mendongakkan kepalanya kembali.
"Soal apa??" Mata Anggun menelusuri pria di hadapannya. Sebenarnya penampilan Dion pun juga tak jauh beda darinya. Kalau biasanya dia hanya memakai setelan kemeja,, namun saat ini dia sudah melengkapinya dengan sebuah jas. Dan pria itu memang benar-benar tampan dengan style demikan. Pantas saja kalau banyak gadis yang menggandrunginya.
"Ku harap kau tak kan terkejut dengan apa yang kusampaikan nantinya."
"Bicaralah Dion,, kau membuatku semakin penasaran. Tapi aku mohon,, lepaskan tanganku dulu."
"Sebenarnya...Adrian ada di tempat ini sedang mengawasi kita." Ucap Dion kemudian tanpa menghiraukan kata-kata Anggun. Dan memang seperti dugaannya,, kalau akhirnya perempuan itu akhirnya terkejut.
"Haaahh?? Benarkah?? Mana??" Anggun hendak mengedarkan pandangannya namun Dion dengan cepat meraih wajah ayu itu untuk tetap diam.
"Jangan mencarinya atau dia akan curiga." Dan Anggunpun menuruti kata-kata sahabatnya. "Kalau kau ingin tau,, dia ada di sana,, dua meja di samping kita. Tapi tolong jangan melihat kearahya atau dia akan tau kalau kita sedang membicarakannya." Anggun menelan ludahnya pahit.
"Dari mana kau tau Dion?? Dan sejak kapan dia mengikuti kita??" Anggun berbisik pelan dengan suara gugup.
"Apa memangnya??"
"Kau akan tau nanti. Tapi yang pasti sekarang ini aku ingin mengatakan sesuatu hal selain itu." Dion yang sekilas melirik ke arah pria yang di maksud,, kini memfokuskan pandangannya kembali pada Anggun. Sekali lagi dia meraih tangan wanita itu.
"Anggun....dengarlah...aku tau kau tak akan percaya dengan kata-kataku ini. Tapi aku ingin jujur padamu,, kalau aku sebenarnya...." Dion tak melanjutkan kata-katanya. Anggun menautkan alisnya. "Sebenarnya aku....jatuh cinta padamu Anggun." Belum usai rasa terkejut dalam dirinya mengenai kebenaran Adrian di tempat itu,, kini wanita ini di buat shock kedua kalinya mengenai pernyataan Dion.
"Dion?? Apa kau sedang bercanda??"
"Tidak !!! Aku serius."
Anggun hendak menarik tangannya kembali namun seketika Dion berseru. "Kita harus berakting di depan Adrian. Kita akan mencari tau apakah Adrian akan cemburu melihat kita yang terlihat mesra sekarang ini. Jadi,, jangan menarik tanganmu." Anggun semakin bingung. Namun aneh,, dia tetap mengikuti kata-kata Dion.
"Jadi saat ini kita sedang bersandiwara??" Anggun mencoba menebak.
"Ya."
"Lalu soal kata-katamu barusan?? Maksudku soal kau yang tadi mengungkapkan perasaanmu....."
"Yang itu aku serius." Nada Dion kembali tegas. Anggun benar-benar tak mampu berucap apapun. Pikirannya sedang berkecamuk saat ini. Bahkan hingga makanan yang mereka pesan datang,, Anggun masih belum berani mengatakan satu patah katapun.
Dion dan Anggun makan tanpa adanya pembicaraan sedikitpun. Bagaimana dia bisa setenang itu setelah mengatakan hal demikian padaku,, Anggun bergumam dalam hati. Matanya melirik sekilas pada pria yang sedang makan dengan tenang di hadapannya seolah tak ada apapun saat ini. Padahal jelas-jelas hatinya tak dapat di bohongi,, kalau Anggun sekarang sedang nervous.
Dan makanan itupun sampai habis tak bersisa,, keadaan masih sama saja. Sepi mencekam. Tegang,, hanya menurut Anggun saja karena kenyataannya Dion masih tetap santai.
"Ehmm....apakah Kau sudah selesai,, kalau begitu setelah ini kita langsung pulang saja." Anggun tiba-tiba membuka obrolan yang sejak tadi beku.
"Kenapa kau buru-buru?? Apa kau mau menghindariku??" Kini mata Dion terfokus kembali pada wanita di hadapannya. Anggun merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari semula. Apa yang terjadi denganku?? Oh...jantung,, ayolah...Dion hanya memandangmu. Tidak untuk memakanmu. Ayo,, tenang....tenang...relaks....
Anggun menghembuskan nafas perlahan-lahan guna menetralkan hatinya yang sedang bergemuruh.
"Hmmm....aku...."
"Anggun....dengarkan Aku," Dion memaksimalkan tatapan mendominasinya sehingga mau tak mau Anggun harus ikut menajamkan matanya ke arah Dion. Dia tak bisa lagi mengelak. "Aku belum selesai dengan kata-kataku. Apa yang kukatakan tadi,, itu baru awal. Dan aku diam bukan berarti aku melupakannya. Aku hanya ingin memberimu kesempatan untuk mencerna kata-kataku." Anggun menelan ludahnya.
__ADS_1
"Ya....aku memang jatuh cinta padamu. Dan itu benar. Sejak awal aku melihatmu,, aku sudah merasakan perasaan itu. Hanya saja aku masih belum yakin saat itu. Dan sekarang barulah aku bisa memastikan kalau perasaanku ini bukanlah main-main." Anggun hendak mengalihkan pandangannya,, namun Dion dengan cepat meraih wajah ayu itu untuk menatapnya kembali.
"Lihat mataku Anggun,, dan jangan beralih sedikitpun !!!" Sungguh Anggun merutuki ketololannya karena dengan patuhnya ia mengikuti perkataan Dion barusan. "Dan meski aku mencintaimu,, jangan sekalipun kau salah mengartikan perasaanku. Aku jelas-jelas tak ingin merebutmu dari Adrian. Jelasnya,, aku tak mau merusak rumah tangga sahabatku sendiri. Dan rasa suka ini,, aku ungkapkan agar kau tau yang sebenarnya."
"Dionnn...aku..."
"Aku masih belum selesai. Dan jangan menyela pembicaraanku sebelum aku menyuruhmu." Potong Dion cepat. Dan sekali lagi wanita itu menelan ludahnya susah payah . "Anggun...sungguh Aku mengatakan ini tidak bermaksud memaksakan perasaanku padamu. Sekali lagi,, aku hanya ingin kau mengetahuinya."
"Aku hanya tak percaya dengan apa yang kau sampaikan Dion." Anggun memotong cepat. "Secara kau adalah seorang...."
"Play boy?? Pecinta wanita??"
"Terserah apapun pendapatmu. Yang jelas image yang kau sandang itu menjadi pengganjal keyakinanku." Anggun memutar bola matanya. Sebal karena merasa dipermainkan oleh Dion.
"Dan sayangnya kali ini aku serius cantiiikk...." Dion tersenyum menggoda menjadikan wanita itu merona kembali. "Kau tau,, aku suka wajah malu-malumu itu. Kau nampak semakin cantik."
"Isshhh....cukup Dion,, kau mau membuat aku semakin malu di hadapanmu??" Anggun memukul kecil pria di hadapannya,, dan Dion hanya tertawa mendapat perlakuan demikian.
"Aku hanya ingin melihatmu bahagia Anggun." Ujar Dion dengan nada serius lagi dan menangkap tangan lembut wanita itu. Menggenggam dan mengecupnya dengan singkat. Anggun merasa ada desiran aneh yang merayap ke tubuhnya. "Aku bahkan sudah berjanji pada diriku,, selama aku hidup....aku tak akan pernah membiarkan mata indah ini mengalirkan air mata kesedihan lagi." Dion merengkuh wajah itu sekian detik sebelum akhirnya ia menarik tangannya kembali.
"Dion...." Anggun mengulas lirih. Debaran hatinya kini berganti rasa haru yang tiba-tiba menyesakkan dadanya.
"Berjanjilah kalau kau tak akan menangis lagi. Kau tau,, apapun yang selama ini ku lakukan padamu,, adalah bentuk perasaanku untukmu. Kalau kau menganggap itu suatu kebaikan,, terserah. Tapi itu adalah caraku menjaga dan melindungimu sementara aku tau kalau aku tak bisa memilikimu." Ucap Dion sendu. Dan kini mata Anggun tak dapat menampik kehadiran air matanya. Dia berkaca-berkaca.
"Aku juga sudah pernah bilang padamu,, kalau aku akan berhenti dari sifat burukku,, saat aku menemukan orang yang berarti buatku. Dan sekaranglah aku harus mengakhiri status casanova buatku. Karena dirimu Anggun. Karena dirimu. Kau sudah merubahku dalam segala hal. Sungguh....betapa bodohnya Adrian dan Bagas yang tak menyadari betapa berharganya dirimu. Kau seperti berlian. Indah. Menakjubkan." Air mata itu akhirnya lolos begitu saja menggenangi kedua pipi Anggun. Wanita itu terisak sesenggukan. Tak menunggu waktu lama untuk Dion mengulurkan tangannya menghapus aliran bening itu. Dia tersenyum lembut sampai akhirnya berkata.
"Berjanjilah padaku,, jika suatu saat nanti kau tidak bahagia dengan Adrian,, atau mungkin sahabatku itu melakukan perbuatan bodoh dengan meninggalkanmu....." Dion menghentikan kalimatnya sejenak. Menatap mata indah yang sudah memerah karena desakan air mata yang sekali lagi ingin tertumpah. "Maka aku ingin kau menerima uluran tanganku saat aku meraihmu. Karena aku...sungguh mencintaimu."
Dan sekali lagi Anggun tak mampu menyembunyikan keharuannya. Bagaimana bisa ada seorang laki-laki yang berkata sedemikian rupa padanya disaat keadaannya yang demikian?? Dan kata-kata manis itu keluar dari mulut seorang Dion Putra Mahendra. Seorang pria yang terkenal suka berganti-ganti pasangan. Apakah benar dia serius?? Tidakkah dia sedang main-main??
Anggun menunggu beberapa saat. Kalau benar dugaannya Dion sedang bercanda. Maka sesaat lagi pria itu akan tergelak dan menertawakannya. Namun tidak,, meski beberapa menit telah berlalu,, nyatanya tak ada perubahan sikap apapun dari pria itu. Yang ada dia hanya memandangi Anggun dengan penuh arti. Jadi....benar Dia serius??
"Aku tau kau masih tak percaya." Gumam Dion lirih lalu beralih menghirup chapucinonya yang sudah dingin sejak tadi.
"Karena kau yang mengucapkannya." Aku Anggun jujur.
"Dan bagaimana sekarang?? Apa masih tetap tak percaya??" Dion melirik sekilas pada Anggun lalu meletakkan minumannya kembali ke atas meja.
"Ku rasa....."
"Tak perlu kau teruskan !!! Aku sudah tau jawabannya." Dion tersenyum penuh arti. Wajahnya menunjukkan kelegaan karena sudah berhasil mengungkapkan kemelut yang mengganjal di hatinya selama berhari-hari. Sungguh,, memendam perasaan cinta itu tidak mudah. Dan saat ini dia seperti seorang narapidana yang baru saja bebas dari tahanan. Bahagia. Lepas.
"Kau tak kecewa meski aku tak bisa membalas perasaanmu?? Hmmm...maksudku,, kau tau sendiri kalau aku sudah menikah."
"Untuk apa aku kecewa?? Perasaanku padamu tulus Anggun. Cintaku tidak hanya sekedar ambisi ingin memiliki. Ya....meski Aku tak munafik kalau keinginan itu juga memanggilku. Namun aku tak sebodoh itu dengan menghancurkan rumah tangga sahabatku sendiri. Sungguh,, kalau aku mau....aku pasti sudah melakukannya sejak dulu. Karena bagiku sangat mudah merebutmu. Namun kenyataan,, itu tak kulakukan. Karena aku tak mau kalian membenciku."
"Dionnn....bagaimana bisa kau sebaik ini...." Anggun menatap Dion sayu. Entah kenapa dia tak ingin wajah tampan itu menghilang dari hadapannya.
"Jadi....apa Kau mau menerima permintaanku??"
"Soal apa??"
"Kalau kau akan menerima uluran tanganku untuk meraihmu,, jika sampai sahabat bodohku itu mencampakkanmu."
Anggun tak dapat menyembunyikan senyum gelinya mendengar akhir kalimat Dion. Namun dia tetap menjawab apa yang di pertanyakan pria itu meski tanpa perkataan. Ya...Anggun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dan itu benar-benar membuat Dion seperti mendapat lampu hijau. Dia meraih tangan Anggun dan mengecupnya beberapa kali.
"Terima kasih Anggun...terima kasih....." Anggun hanya mengulas senyum tulusnya. Seharusnya aku yang berterima kasih padamu Dion,, karena kau sudah mencintaiku.
"Oh...ya?? Apa kau ingin mendengar sebuah kebenaran??" Tanya Dion kemudian dengan mata bersinar.
"Apa??"
"Kalau dugaanku benar,, maka sandiwara ini akan berhasil. Lihatlah,, sebentar lagi Adrian akan datang kemari. Dan itu berarti dia tengah cemburu melihat kita disini." Dion berbisik pelan. Dan Anggun hanya menaikkan sebelah alisnya karena tak percaya.
Namun ternyata benar,, tanpa harus menunggu hitungan detik. Sejurus kemudian muncullah pria yang mereka bicarakan. Dia berjalan dan mendekati keduanya.
"Ehemmmm.....ada yang bisa jelaskan padaku dengan apa yang kulihat saat ini??"
\===================================
__ADS_1