Anggun Bidadariku

Anggun Bidadariku
Bagaimana Denganmu?


__ADS_3

Bel istirahat sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Saat ini anak kelas tiga SMP tengah menghadapi ujian,, dan Anggun mendapat tugas menjadi salah satu pengawas di sebuah kelas. Wanita itu kini tengah duduk di meja kantin dengan sepiring lontong kupat di hadapannya. Pikirannya masih melayang pada kejadian semalam dimana keluarganya sudah menemukan kembali kebahagiaan mereka.


"Bu Anggun sendirian??" Terdengar suara sapaan seseorang dari belakang. Seorang pria bertubuh jangkung dengan kaca mata lebarnya.


"Oh...pak Rustam. Ya,, kebetulan saat ini lagi sendiri." Jawab Anggun seadanya.


"Boleh saya temani kalau anda tidak keberatan??"


"Ya. Silahkan." Anggun memberikan senyum tulusnya.


Dan pria itupun duduk di seberang meja Anggun. Memesan satu menu yang sama dengan wanita tersebut.


"Bagaimana dengan anak-anak di kelas bu?? Apakah mereka tidak menyusahkan anda??" Orang yang di panggil Pak Rustam itu memulai obrolan.


"Tidak pak. Mereka sepertinya memang siap dengan ujian kali ini."


"Hmmm...semoga hasil yang mereka peroleh juga maksimal."


"Amiinn..."


"Lalu bagaimana dengan anak-anak didik anda kelas dua?? Apa mereka tidak banyak menyulitkan??"


"Alkhamdulillah tidak pak. Sejauh ini mereka bisa di bimbing dengan baik."


"Syukurlah. Saya khawatir dengan kondisi anda yang tengah hamil besar sekarang. Saya takut anak-anak sering berbuat onar dan sering menyulitkan anda."


"Terima kasih atas perhatian bapak. Tapi sejauh ini saya masih bisa mengatasi mereka."


"Yaacchh...memang anak kelas dua lebih sulit di atur dari pada adik dan kakak kelasnya. Membolos dan sering tidak mengerjakan tugas sepertinya sudah menjadi makanan mereka. Haaahh....aku benar-benar tidak habis pikir kenapa mereka suka sekali bertingkah demikian." Pria itu mendesah sambil sesekali menyenduk makanannya.


"Bukankah anda dulu juga demikian??" Anggun tersenyum simpul. Pria itu hanya tersenyum masam. Sepertinya perkataan Anggun menohok hatinya. Pastinya pria itu juga mengalami hal yang sama di masa lalunya. "Tenanglah pak,, semua remaja memang demikian. Memang inilah tahap yang harus mereka lewati. Dan kita sebagai orang yang lebih tua juga pendidik bagi mereka,, harus mengerti dengan hal itu." Anggun menjeda sejenak kalimatnya. Di reguknya teh hangat miliknya.


"Saya kira wajar-wajar saja mereka berbuat ulah di sekolah. Meskipun terkadang apa yang mereka lakukan melebihi batas bahkan sampai melanggar peraturan. Tapi justru disinilah mental kita di uji. Bagaimana kita bisa meluruskan jalan mereka kembali dan mengajak mereka untuk melangkah di jalan yang seharusnya. Bukankah demikian pak Rustam??"


"Ya....anda benar bu. Saya salut dengan anda. Anda benar-benar sangat bijaksana dalam berfikir." Anggun hanya mengulas senyum ringan mendengar pujian tersebut.


Merekapun terdiam untuk sejenak. Sibuk dengan makanan masing-masing. Dan pada saat itulah muncul seseorang dan menyapa Anggun pelan.

__ADS_1


"Selamat siang bu Anggun." Wanita yang di panggil menoleh seketika.


"Oh...Dion..." gumamnya. Pria yang di maksud hanya mengangguk ringan sambil tersenyum hangat padanya.


"Boleh aku bergabung??" Tanya Dion menawarkan diri.


"Eh...tentu saja. Ehmm,, pak Rustam...perkenalkan ini sahabat saya,, namanya Dion." Anggun melirik sekilas pada pria yang di sebut.


Kedua pria itu berjabat tangan sambil menyebutkan nama masing-masing.


"Ehmm....saya rasa saya juga sudah selesai bu. Sebaiknya saya pergi dulu. Mari mas Dion..."


"Mari...mari...pak...."


Untuk sesaat mereka melepas kepergian pak Rustam dengan makna tatapan terima kasih. Mereka tau kalau pria itu sengaja pergi karena tak ingin mengganggu keduanya.


"Bagaimana kau bisa ada di sini Dion??" Tanya Anggun saat mereka mulai fokus pada kehadiran masing-masing.


"Well. Aku sedang mengerjakan tugasku di lapangan. Dan kebetulan aku melewati sekolahmu. Kulihat,, anak-anak didikmu ada di luar kelas jadi aku berfikir apakah jam sudah istirahat?? Tapi seharusnya ini belum waktunya."


"Oh...begitu. Kalau begitu aku sudah mengganggumu??"


"Sama sekali tidak. Jam masuk masih ada sepuluh menit. Masih ada waktu untuk kita ngobrol sebentar. Kau tidak mau pesan sesuatu??"


"Ah...tidak. Lain kali saja kalau aku kemari lagi." Pria itu tersenyum.


"Oh...ya,, bagaimana dengan Adrian?? Apakah dia melakukan sesuatu yang buruk padamu??" Anggun menelusur.


"Sejak pagi aku masih belum bertemu dengannya."


"Oh..." Anggun terdiam sesaat. Dia bingung mau mencari topik pembahasan apa dengan pria di hadapannya. "Oh...iya Dion. Terima kasih atas tumpangan yang kau berikan selama ini."


"Ahhh...sudahlah. Jangan di pikirkan soal itu. Kau bahkan sudah berkali-kali mengucapkan terima kasih padaku." Anggun tersenyum kecut.


"Ehmm...sebenarnya ada satu hal yang ingin ku sampaikan padamu."


"Katakan !!!"

__ADS_1


"Ini tentang Bagas." Dion mengerutkan keningnya. Dan Anggun mulai bercerita dari awal mengenai kejadian kemarin. Dion menyimak cerita Anggun dengan seksama tanpa melepaskan sedikitpun pandangannya dari wanita tersebut. "Mungkin sebaiknya aku juga harus memaafkan Bagas dalam hal ini dan melupakan masa laluku." Anggun mengakhiri ceritanya.


"Tapi aku tetap menyalahkan kebodohan Bagas." Dion menampik. Sepertinya dia tak sependapat dengan pemikiran Anggun kali ini.


"Kenapa??" Tanya Anggun bingung.


"Kalau aku jadi dia,, aku tak akan pernah melepaskan orang yang Ku cintai apalagi itu dirimu." Pria itu menajamkan tatapannya pada Anggun.


"Tapi dia punya alasan mengapa melakukan hal itu."


"Itulah bodohnya dia. Tidak bisa melihat situasi dan hanya memutuskan sebelah pihak sendiri."


"Hmmm...kau begitu mudah mengatakan hal itu. Lalu bagaimana kalau kau sendiri di hadapkan pada permasalahan yang sama??"


Dion memajukan tubuhnya. Mata dan ekspresi wajahnya nampak sangat tenang. Dan dengan penuh keyakinan diapun menjawab pertanyaan yang di lontarkan Anggun padanya.


"Aku akan tetap menghadapi orang yang telah mengancamku itu. Seperti apapun caranya. Aku yakin,, orang itu tidak lebih pintar dariku." Jawabnya tenang dan tegas.


"Tapi jangan lupa,, pria itu menggunakan kekuasaannya untuk melumpuhkan lawannya. Mungkin kalau kau sendiri yang di tuju takkan menjadi masalah bagimu. Tapi masalahnya dia mengincar orang-orang sekitarmu." Anggun masih mendebat.


"Kau benar Anggun. Tapi ada satu hal lagi yang kau lupa. Bahwa aku bukanlah Bagas. Bagiku,, asal kau selalu bersamaku,, maka sesulit apapun masalah di dunia ini tak kan berpengaruh padaku. Dan aku yakin,, kalau kau juga lebih senang kalau kau mendampingi orang yang kau cintai dalam setiap permasalahannya bukan??"


Kali ini Anggun terdiam. Apa yang di ucapkan Dion barusan memang benar. Seandainya saja Bagas mau memperjuangkan cintanya,, dan berpikir hal yang sama seperti Dion?? Pasti dia juga tak akan keberatan menghadapi semua kesulitan dunia. Ahhh....tapi bagaimanapun juga dia sudah berkorban untuk kami. Anggun menggelengkan kepalanya perlahan,, mencoba menampik penyesalan tersebut.


"Tapi sepertinya aku juga harus berterima kasih padanya." Dion melanjutkan.


"Hah??"


"Ya,, karena dengan melepaskanmu,, Aku jadi bisa bertemu denganmu dan mencintaimu. Karena jika tidak,, aku pasti tak memiliki kesempatan untuk itu." Dion menatap Anggun penuh arti.


"Isshhh....kau ini !!!" Anggun menampik pernyataan Dion dengan wajah yang merah merona. "Ehmm....kelihatannya aku harus segera kembali ke kelas,, Dion." Anggun berseru sambil melirik jam yang melingkar di tangannya.


"Ya. Sampai ketemu lagi lain kali,, dan selamat bertugas." Anggun mengulas senyum terakhir kalinya untuk kemudian dia melangkah pergi meninggalkan Dion yang masih tetap bertahan di situ tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari wanita yang sudah masuk ke dalam hatinya itu.


Aku memang harus berterima kasih pada Bagas karena dia sudah melepaskanmu,, Anggun. Atau tak akan pernah ada ruang sedikitpun untukku masuk dalam kehidupanmu.


\==========================

__ADS_1


__ADS_2