Anggun Bidadariku

Anggun Bidadariku
Keputusan


__ADS_3

Tuan dan Ny.Sujono sudah memasuki gang rumah Anggun.Tapi betapa terkejutnya mereka saat melihat bendera kuning sudah terpasang di halaman rumah itu.Dan beberapa warga masih tampak lalu lalang di rumah sederhana tersebut.


"Wonten nopo nggih pak,,kok rame-rame punika ??" Tanya pak Sujono pada seorang pria yang kebetulan lewat.Dia berusaha menepis pikiran buruk yang sesaat lalu melayang di otaknya.


"Anu pak,,sak menika ibunipun Anggun seda." Seketika terdengar suara jeritan dari Bu Ratih yang sejak tadi menggenggam tangan suaminya erat.


"Angguuunnn......" wanita itu kemudian berlari kedalam rumah Anggun tanpa permisi.


"Innalillahi wainna ilaihi roji'un..." bisik Pak Sujono lirih yang kemudian ikut menyusul kemana isterinya pergi.


Bu Ratih sudah menemukan Anggun yang masih menangis pilu di sudut kamarnya.Dua orang tetangganya masih setia menemani keberadaannya.Wanita paruh baya itu langsung menubruk sang anak dan memeluknya erat.


"Anggunnn....kuatkan hatimu nduukk...." seru Bu Ratih dalam isakannya.Anggun semakin menjadi.Tak tanggung-tanggung kini ia menangis.


"Ibu sudah meninggal buuu....Ini semua gara-gara Anggun.Anggun sudah membunuh ibu Anggun sendiriiii....." suara serak bercampur tangis itu keluar dari mulut gadis lembut itu.


"Tidak nak....tidak...ini bukan perbuatanmu.Ini sudah takdir Tuhan.Bersabarlah naakk...bersabarlah....Sesungguhnya ini adalah ujian bagimu." Bu Ratih memeluk tubuh Anggun erat.Mengecup puncak rambut gadis itu berkali-kali.Seolah dia adalah darah dagingnya sendiri.Entah kenapa hati wanita itu begitu pedih dan sakit.


"Jangan menangis lagi nduukk...Bapak dan Ibu ada di sini.Dengar !!! Kamu tidak sendirian.Kami juga orang tuamu.Kami ada buatmu." Suara pak Sujono tiba-tiba dari belakang.


Dua orang tetangga Anggun yang sejak tadi menemani,,kini berlalu dari tempat itu.Seakan memberikan kesempatan pada manusia baru itu untuk menenangkan perasaan Anggun yang sedang terguncang hebat saat ini.



Pemakaman sudah berlalu sejak satu jam yang lalu.Kini rumah Anggun sudah nampak sepi.Memang masih ada satu dua orang yang masih mengunjungi Anggun.Mengucapkan bela sungkawa atas kematian ibunya.Anggun hanya bisa tersenyum pahit menerima kedatangan tamu-tamu tersebut.


Dan saat suasana benar-benar sepi,,Pak Sujono memulai pembicaraan seriusnya dengan Anggun.

__ADS_1


"Nduukk...bapak dan ibu datang kemari sebenarnya ada maksud lain denganmu." kata pria itu memulai pembicaraan.


Anggun hanya bisa menatap laki-laki di hadapannya dengan air mata yang masih bersimbah di kedua pipinya.Lihatlah....raut muka itu begitu kusut dan menyedihkan.


"Njiihh paakk." suara gadis itu serak karena menangis yang terlalu lama.


"Begini Anggun....Bapak dan ibu sudah memutuskan kalau kamu harus menikah."


"Menikah ?? Tapi bapak dengar sendiri kalau mas Bagas tak mau bertanggung jawab dengan kehamilanku."


"Ya.Tapi yang sebenarnya bukan Bagas yang akan menikahimu."


"Lalu siapa pakk ?? Jangan bilang kalau bapak mencarikan saya orang lain sebagai calon suami saya.Saya tidak mau pak.Jika demikian...biarlah....biarlah...saya menanggung aib ini sendiri."


"Bukan Anggun.Bapak tidak bilang akan mencarikanmu orang lain sebagai suamimu." Pak Sujono terdiam sejenak.Kedua tangannya bertopang di kedua lututnya dengan gagah."Adrian yang akan menikahimu naak..." ucap pria itu sambil menatap Anggun pasti.


"Riann ??? Menikahi saya ??" Anggun mengulangi peryataan tersebut.


"Iya nduk.Dia yang akan bertanggung jawab atas kehamilanmu."


"Ta....tapi...pak...Itu sama saja dengan menghancurkan kehidupan Rian.Bapak tau sendiri kalau Rian mempunyai Andini.Dan mereka saling mencintai." Gadis itu mencoba berpendapat.


"Dengar Anggun.Hanya ini keputusan yang paling baik.Bapak tau ini juga akan sulit bagi Rian dan Andini.Tapi yang harus kita lihat sekarang bukan perasaan itu,,melainkan bayi yang ada di perutmu."


"Pak....saya tidak setuju.Apa kata Rian tentang saya.Dia pasti akan sangat membenci saya nantinya." Anggun kembali menangis.


"Kamu tetap harus setuju keputusan ini Anggun.Karena Rian sendiri juga sudah menyetujuinya." Dan fonis itu sudah di tetapkan.Siapapun tak bisa membantah ataupun memprotes lagi termasuk Anggun sendiri.

__ADS_1


Anggun menatap bu Ratih seakan meminta pendapat dari wanita itu.Dan bu Ratih hanya bisa mengangguk meng-iyakan dengan sebuah senyum hambar yang menghiasi bibinya.



Rian ternyata tidak pergi ke kantornya terlebih dahulu.Dia kini tengah duduk merenung di dalam mobilnya sambil mengawasi gerak-gerik seseorang.


Siapa lagi kalau bukan Andini Larasati.Mata itu tak lepas dari gadis yang sejak tadi sibuk menyiram bunga di taman depan rumahnya.Terlihat olehnya kalau mata gadis itu bengkak karena semalaman menghabiskan waktu dengan menangis.


Rian memandangnya penuh kerinduan.Bahkan belum sehari dia mengakhiri hubungannya,,namunĀ  sungguh terasa sudah berhari-hari dia berpisah dari wanita yang di kasihinya.


Dilain pihak,,Andini merasa ada orang yang sejak tadi mengamatinya.Dia menoleh kekanan dan kekiri.Mengedarkan pandangannya pada jalan depan rumahnya.Namun tak ada siapapun disana.Yang ada hanya lalu lalang kendaraan.


Namun saat Andini hendak berbalik,,tiba-tiba mata jernihnya menangkap sebuah bayangan mobil yang terparkir agak jauh dari rumahnya.Dan Andini mengerutkan keningnya saat melihat mobil siapa itu.


Gadis itu mendengus kesal dan cepat berbalik arah saat tau siapa pemilik mobil tersebut.Andini mengetahui hal itu saat matanya menatap mobil yang di maksud,,Rian tiba-tiba menurunkan jendela kacanya.Sehingga menyulut kembali emosi Andini dan mengharuskan dia untuk segera pergi dari tempat itu.


Sampai kapanpun aku tak akan melepaskan pandanganku darimu Andini.Meskipun kau akan pergi menjauh,,mata ini akan tetap mengikutimu.


Deru nafas Andini tampak berkejar-kejaran.Entah mengapa dia masih merasakan getar-getar cinta dihatinya.Hanya saja perasaan sedih dan keterlukaannya jauh lebih besar saat ini.Sehingga dia mau tidak mau harus mengabaikan perasaan sensitive tersebut.


Gadis itu mengintip dari balik jendela kaca yang tertutup gorden berwarna putih.Masih di lihatnya mobil silver tersebut terparkir di ujung jalan.Andini tak menyadari kalau sejak tadi tingkahnya di amati oleh sang ibu.


"Sopo nduukk ??" Bu Retno menepuk pundak anaknya dari belakang.Dan itu membuat Andini terkejut dan menutup gorden seketika.


"Oh...ehh...ndak tau bu.Ada orang aneh di luar sana." jawabnya asal lalu pergi begitu saja.


"Orang aneh ??" Bu Ratih bergumam sendiri lalu mencoba mengintip karena penasaran.Namun wanita itu tidak melihat siapapun.Dan lagi mobil yang di kendarai Adrian juga sudah pergi beberapa detik yang lalu.Bu Ratih kemudian kembali menuju aktifitasnya yang semula tertunda.

__ADS_1



__ADS_2