Anggun Bidadariku

Anggun Bidadariku
Jauhi Dia!


__ADS_3

Dion kembali ke kantor pada sore harinya sekedar untuk membuat laporan. Dan saat melewati ruangan Adrian,, tanpa di ragukan lagi sosok sahabatnya itupun memanggilnya. Dion yang hendak melangkah pulang jadi mengurungkan niatnya.


Alamat,, aku akan menerima balasan darinya,, batin Dion sebelum dia memasuki ruangan sahabatnya itu.


"Kau sudah mau pulang??" Tanya Adrian berbasa-basi sambil membereskan berkas-berkasnya.


"Ya,, kau pikir aku akan menginap disini??" Jawab Dion asal. Adrian hanya menyeringai mendengar jawaban dari sahabatnya.


"Kita pulang bersama." Ajak Adrian.


"Aku tidak tertarik. Aku lebih suka pulang sendiri." Dion berusaha menghindar.


"Kenapa?? Kau mau menghindar dariku??" Adrian menatap Dion sejenak sebelum akhirnya kembali pada kesibukannya yang hampir selesai.


"Siapa?? Aku menghindar darimu?? Untuk apa?? Hahh....yang benar saja !!!"


"Jangan berlagak lupa Dion. Kau masih punya hutang penjelasan padaku. Dan aku juga belum membuat perhitungan denganmu mengenai perbuatanmu waktu itu." Dion tak menjawab. Dia hanya menyeringai kecil.


"Kita mau kemana??" Tanya Dion kemudian.


"Hmmm...bagaimana Kalau kita ke pantai??" Adrian memberikan pilihan. Dion mengerutkan keningnya.


"Hmmm...boleh juga. Sudah lama rasanya kita tidak ke pantai. Apakah kau akan mengajak istrimu??"


Adrian menajamkan matanya pada Dion. Seolah mengatakan kalau dia tak mau Dion menyebut nama Anggun lagi.


"Jangan lupa kita kesana bukan untuk bersenang-senang. Tapi aku berniat membuat perhitungan denganmu." Adrian menggeram.


"Ya...ya...ya...baiklah. Tapi setidaknya kau harus menghubunginya supaya dia tidak khawatir."


"Aku lebih tau soal itu. Dan cukup jangan mengurusi soal Anggun lagi. Dia istriku,, tanggung jawabku." Adrian mulai gusar. Pria itu melangkah kasar meninggalkan ruangannya. Dion hanya mengerdikkan bahunya dan tanpa banyak bicara dia lalu mengikuti langkah Adrian dari belakang.


× × × × ×


Kini dua lelaki itu tengah duduk di atas pasir di tepi pantai. Menatap ke arah laut lepas yang membentang di hadapan mereka. Langit senja sudah menunjukkan warnanya yang kemerahan akibat pantulan cahaya matahari yang hampir terbenam.


"Benar-benar indah." Desis Dion perlahan. "Sudah lama aku tak melihat ini."


"Kita terlalu sibuk dengan pekerjaan kita sehingga melewatkan kejadian seperti ini." Gumam Adrian menimpali. Angin sepoi berembus mengibarkan tepian rambut keduanya.


"Katakan Adrian,, perhitungan apa yang ingin kau lakukan padaku??" Dion membuka topik pembicaraan.


Untuk sesaat Adrian belum ingin membuka mulutnya. Dia masih asik memandangi langit yang semakin merah menyala bak lampu yang bergantung di atas sana. Pria itu lalu menghembuskan napasnya perlahan sebelum akhirnya berkata.


"Kau tau,, aku masih kesal dengan tindakanmu yang diam-diam mengantar Anggun pulang. Dan kalau ku hitung,, sepertinya ada satu bulan kau melakukannya. Dan jangan lupa pula kejadian di rumah makan tempo hari. Kalian sungguh membuat aku emosi saat itu. Dan ternyata itu adalah permainan kalian saja." Adrian berdecak kemudian.

__ADS_1


"Apakah kau ingin memukulku??"


"Ya. Aku ingin sekali menghajarmu,, sialan."


"Kalau begitu lakukan !!!" Dion masih tenang dan tak nampak khawatir. Matanya juga tak beralih dari pemandangan indah di depan sana.


Adrian menoleh ke arah sahabatnya. Entah apa yang dia pikirkan,, namun tiba-tiba dia menubruk Dion saat itu juga sampai pria itu terjerembab di atas pasir dengan tubuh telentang. Adrian dengan cepat menindih tubuh Dion dan mencengkeram kerah bajunya dengan kuat. Anehnya,, Dion masih tenang melihat tindakan Adrian yang mendadak itu.


"Kau tau,, aku merasa kau sudah mengkhianatiku sampai aku ingin sekali memukulmu." Adrian menggeram.


"Aku tidak merasa mengkhianatimu sobat. Aku yakin Anggun sudah minta ijin padamu saat itu. Dan bukankah kau sendiri yang dengan bodohnya membiarkan istrimu terlantar di jalanan?? Sampai aku melihat dengan kedua mataku sendiri dan memberikan niat baikku padanya." Dion terdiam sejenak. Mengatur napas setenang mungkin.


"Apakah kau lupa?? Kalau kau sendiri justru sibuk dengan wanita lain saat itu??" Kata-kata Dion barusan sungguh menusuk ulu hati Adrian.


"Kau tau alasannya Dion."


"Ciihhh. Dasar laki-laki pecundang." Dion berdecih.


"Apa katamu??"


"Aku bilang kau pecundang. Apa kau tersinggung?? Bukankah julukan itu pantas untukmu??"


"Kau ?!?!?!" Adrian menghempaskan tubuh Dion keras lalu dia beringsut dan duduk kembali di samping Dion. Sedangkan pria disampingnya berusaha mendudukkan kembali tubuhnya seperti semula. Menepis bulir-bulir pasir yang menempel di sekitar lengannya.


"Aku tak sebaik yang kau pikirkan Adrian." Adrian menoleh seketika mendengar kalimat bermakna teka-teki dari sahabatnya. "Ada satu hal yang perlu kau tau,,bahwa sesungguhnya kejadian di rumah makan itu tidak sepenuhnya permainan."


"Maksudmu??"


"Aku tidak mau berbohong darimu Adrian. Aku menghormatimu karena kau sahabat baikku. Dan aku ingin jujur padamu kalau....." Dion menjeda kalimatnya sejenak. "Kalau aku jatuh cinta pada Anggun." Adrian tak dapat menepis rasa terkejutnya. Wajahnya meradang seketika.


"Aku tau kau akan kecewa padaku. Tapi mau seperti apa lagi?? Aku bahkan tak bisa mengendalikan perasaan ini. Dan ini aku rasakan pertama kali dalam hidupku. Mencintai seorang wanita sampai hampir membuatku gila karenanya."


Adrian masih terdiam. Namun wajahnya masih penuh dengan kegusaran. Itu terlihat dari sikap tangannya yang mengepal kuat dan giginya yang gemeretuk saling berbenturan.


"Tapi....jangan khawatir. Bagaimanapun juga,, aku tidak akan merusak rumah tanggamu. Aku masih menghargai persahabatan kita Adrian. Bagiku kau segalanya. Dan aku masih bisa menyimpan perasaanku itu melihat persahabatan yang sudah kita bina sekian taun lamanya."


"Sejak kapan kau jatuh cinta padanya??" Tanya Adrian tiba-tiba.


"Sejak awal. Sejak pertama aku melihatnya. Maaf....aku sudah berusaha menampik perasaan ini,, tapi kau tau sendiri. Kalau orang yang jatuh cinta,, memang tak dapat memungkiri kata hatinya."


"Jadi itulah sebabnya kau tidak pernah bermain wanita lagi?? Bahkan kau memutuskan semua kekasihmu??"


"Kau tau itu??" Adrian berdecak karenanya.


"Kau memutuskan mereka,, tapi mereka yang menerorku. Bahkan sampai menelfonku di malam hari."

__ADS_1


"Sungguh??"


"Kau pikir aku berbohong??" Dion tertawa kecil mendengar penuturan Adrian. Hal itu sungguh lucu baginya. Memang setelah memutuskan semua kekasihnya,, Dion lalu membuang kontak lamanya dan menggantinya dengan yang baru. Makanya tidak heran kalau mereka semua akan menghubungi Adrian. Dan terus terang,, Dion tak pernah sekalipun membawa kekasih-kekasihnya ke rumahnya atau mengenalkan mereka pada orang tuanya.


"Apakah Anggun mengetahuinya?? Soaaall....kau menyukainya."


"Ya. Aku mengatakan itu padanya." Adrian semakin frustasi dibuatnya. Pria itu meraup wajahnya gusar.


"Aku minta jauhi Anggun !!!" Tiba-tiba Adrian berseru. Dion menoleh seketika.


"Kenapa??"


"Haruskah aku mengatakan alasannya kenapa??" Adrian menatap wajah Dion tajam. Sebuah penekanan kalau dia tak mau di bantah.


Dion menarik salah satu sudut bibirnya. "Rupanya kau sudah mulai mencintai istrimu." Desisnya pelan.


"Itu bukan urusanmu !!!!" Adrian menampik. "Setidaknya kau harus membuktikan padaku kalau kau memang tak ingin merusak rumah tangga kawanmu ini." Tambahnya kemudian.


"Kau tidak percaya padaku??"


"Bagaimana aku bisa percaya dengan play boy sepertimu. Huuhh...yang benar saja. Dan bukankah wajar kalau aku ingin bukti darimu??" Dion terdiam. Dia bungkam bukan karena pernyataan Adrian barusan. Namun dia memikirkan satu hal. Menjauhi Anggun?? Apakah aku bisa?? Aku tak yakin dengan itu semua. Itu sama artinya dengan menyuruhku berhenti bernapas. Tapi....kalau ini yang Adrian inginkaaannn....


"Baiklah. Asal kau berjanji satu hal padaku. Kalau kau tak akan menyakiti Anggun lagi. Aku tak mau melihat dia menangis lagi apa lagi karenamu. Dan kalau itu sampai terjadi?? Maka akulah orang yang pertama kali akan menghajarmu." Putus Dion dengan berat hati. Sungguh ini di luar nalurinya.


"Ya. Aku berjanji."


Untuk sejenak mereka terdiam. Matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Dan malam mulai turun.


"Sebaiknya....kita pulang. Anggun pasti sudah menunggumu." Ajak Dion kemudian. Dia lalu bangkit dari duduknya dan itu di ikuti Adrian di sampingnya. Mereka berjalan beriringan di atas pasir.


"Kau belum mengatakan padaku bagaimana dengan Andini?? Kelihatannya kau sudah tak pernah mengikutinya lagi. Apakah kalian...." ucapan Dion belum sempat berlanjut saat tiba-tiba Adrian memotong dengan cepat.


"Kami sudah berakhir."


"Benarkah??"


"Dia....sudah memutuskan untuk memilih pria itu."


"Siapa?? Niko??"


"Ya. Siapa lagi." Ucap Adrian penuh sesal. Dion tak berkomentar apapun. Dan pembicaraan itupun terhenti. Mereka terpisah menuju mobil masing-masing. Pulang dengan pikiran yang tak menentu di benak mereka.


Akankah setelah ini persahabatan mereka akan sama seperti dulu?? Yakinkah Dion menuruti permintaan Adrian untuk menjauhi Anggun??


\==========================

__ADS_1


__ADS_2