Anggun Bidadariku

Anggun Bidadariku
Jebakan dan Siasat


__ADS_3

Memang semua masih seperti mimpi bagi Anggun. Kebahagian dan kesedihan yang dia raup secara bersamaan baik lewat Adrian maupun Dion. Keduanya seperti berada dalam satu garis yang sama namun hidup di alam yang berbeda.


Meskipun Anggun harus mengakui keterlukaannya karena sikap Dion padanya,, namun dia berusaha untuk mengerti karena hal itu adalah pilihan pria tersebut. Anggun hanya perlu waktu untuk melupakan kenangan manis yang sempat di reguknya bersama sahabat dari suaminya itu. Seorang pria yang tiba-tiba hadir dalam kehidupannya disaat dia sendiri terombang-ambing dalam perahu kecil di tengah lautan yang penuh badai dan angin kencang. Dan mengambil alih kendali perahu dengan mendayungnya sekuat tenaga agar bisa mencapai tepian dengan maksud menyelamatkannya. Dan saat semua sudah berakhir bahagia,, pria itu justru pergi meninggalkannya.


Meski memang tak mudah bagi Anggun untuk menghapus semuanya,, namun ia berjanji bahwa kegundahannya tersebut tidak sampai berdampak buruk pada rumah tangganya. Dia tetap harus memprioritaskan Adrian selaku suaminya.


Dan berkat sikap Adrian yang kini berubah sangat baik padanya,, Anggun pelan-pelan bisa melupakan kesedihannya. Bayangan Dion perlahan-lahan memudar. Bahkan kini dia tengah fokus pada sosok suaminya itu yang kadang minta di beri perhatian lebih. Tidak terasa semua berlalu hingga satu bulan lamanya.


Sebaliknya Adrian juga mulai terbiasa dengan Anggun. Karena sifat Anggun yang dewasa dan keibuan,, sepertinya Adrian justru memanfaatkan kesempatan dengan bersikap manja pada perempuan itu.


"Kau sudah pulang??" Seru Anggun saat Adrian baru pulang dari kantor pada suatu sore. Perempuan itu kebetulan sedang berada di halaman rumah untuk menyiram tanamannya.


Adrian membalas senyum Anggun dari jauh. Akhir-akhir ini pria itu merasa istrinya lebih memukau dari sebelumnya. Dan saat ini dia sedang memperhatikan Anggun dari jauh dengan tatapan bermakna sesuatu.


"Kenapa kau tidak masuk??" Anggun menegur. Dia lalu meletakkan selang yang ada di tangannya kemudian mematikan kran air. "Aku akan menyiapkan air hangat untukmu." Ya....sekarang Adrian tak menolak dengan perhatian yang di berikan Anggun padanya.


Anggun masuk ke kamar Adrian dan langsung menuju kamar mandi. Di isinya bath tub dengan air hangat yang sudah ia setel dulu pengaturannya. Dan perempuan itu tak lupa menyiapkan handuk dan pakaian untuk pria tersebut. Anggun tak sadar kalau saat masuk,, Adrian sudah mengunci pintu kamar sejak beberapa menit yang lalu.


"Mandilah,, aku akan menyiapkan makanan untukmu." Saat Anggun membuka kenop pintu,, dia terkejut manakala pintu tidak bisa di buka. Di cobanya berulang-ulang namun gagal.


"Adrian...kenapa pintunya tidak bisa di buka??" Tanya Anggun sambil terus menggerak-gerakkan gagang pintu tersebut. Anggun tidak tau kalau Adrian menyeringai dari jauh. 

__ADS_1


Pria itu berjalan pelan-pelan ke arah istrinya kemudian berhenti tepat di belakangnya. Membungkuk sedikit dan kepalanya masuk melalui celah leher Anggun.


"Ada apa??" Suara beratnya menggema di telinga Anggun dan sempat membuat wanita itu terkejut seketika. Betapa tidak?? Jarak wajah keduanya kini begitu dekat sehingga jika Anggun menoleh sedikit saja maka tak mustahil kulit mereka akan bersentuhan.


"Eee...i...ini...lihatlah,, pintunya tidak bisa di buka. Bukankah tadi masih baik-baik saja??" Ujar Anggun gugup. Mendapati posisi Adrian yang begitu intim dengannya membuat jantungnya berdegup keras.


"Tentu saja itu tidak bisa di buka karena pintunya terkunci. Dan kuncinya sekarang ada padaku." Cetus Adrian tiba-tiba. Anggun terbelalak sehingga secara refleks diapun menolehkan wajahnya seketika. Maka tak ayal kalau dalam beberapa detik kemudian hidung keduanya bersinggungan.


Anggun menarik wajahnya langsung dengan wajah yang memanas. Wanita itu lalu merunduk karena malu. Adrian tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah istrinya.


"Kalau begitu kembalikan kuncinya dan biarkan aku keluar untuk segera menyiapkan makan malam untukmu." Anggun memutar tubuhnya cepat ke arah yang berlawanan. Berusaha memundurkan tubuhnya untuk memberi jarak di antara keduanya. Namun sayang,, karena langkahnya tak cukup jauh mengikis jarak karena saat ini tubuhnya sudah membentur pintu.


Adrian menarik salah satu sudut bibirnya tersenyum penuh kemenangan. "Lupakan soal makan malam itu,, karena saat ini aku ingin melakukan hal yang lain denganmu." Sekali lagi pria itu menyeringai.


"Jangan bercanda Adrian,, sebaiknya kau segera mandi dan biarkan aku keluar untuk menyiapkan makan untukmu." Wanita itu meringis.


Adrian memajukan tubuhnya dan berusaha mengikis jarak keduanya. Mengulurkan tangannya menyentuh daun pintu dan mengurung wanita itu di dalamnya.


"Siapa bilang aku main-main. Bukankah ini seharusnya ku lakukan sejak dulu??" Adrian semakin memajukan tubuhnya.


Anggun sendiri berusaha merapatkan tubuhnya ke daun pintu. Masih berusaha untuk menjaga jarak di antara keduanya. Namun rasanya semua sia-sia karena pria itu semakin mendekat. Dan kini tangan wanita itu mencoba menahan tubuh Adrian yang hampir menyentuh tubuhnya.

__ADS_1


"A...a...drian...kumohon...biarkan aku keluar." Adrian tak menghiraukan perkataan istrinya. Dia malah menepis tangan Anggun perlahan lalu tanpa menunggu waktu lama dia memiringkan wajahnya dan mencium bibir wanita di hadapannya dengan lembut.


Anggun tak dapat mengelak lagi dari perangkap pria itu. Dia kini pasrah dengan apa yang di lakukan Adrian padanya. Saat Adrian dengan bernafsunya melumat semua bibirnya sampai ke ujung rongga mulutnya.


Dua menit kejadian panas itu berlangsung sampai Anggun benar-benar kehabisan pasokan udara dalam paru-parunya. Adrian yang mengerti hal itu mengalihkan ciumannya ke leher wanita tersebut. Anggun terengah-engah seperti orang yang habis lari marathon. Namun kini dia tak dapat memungkiri tubuhnya mengejang merasakan sensasi yang di tebarkan Adrian padanya. Anggun mencoba menggigit bibirnya untuk tidak mendesah saat pria itu menghisap lehernya dengan kuat sehingga meninggalkan jejak kismark di area itu.


Anggun mengulurkan tangannya menyentuh pinggang Adrian. Dan matanya yang semula terpejam tiba-tiba terbelalak saat tangannya menemukan sesuatu di balik saku celana pria itu. Kunci??


Perlahan-lahan Anggun menarik kunci tersebut dari tempatnya. Dan untuk beberapa detik dia sempat menghentikan napasnya karena tegang. Takut kalau siasatnya akan ketahuan. Namun sejurus kemudian dia bernapas lega karena kunci tersebut sudah berpindah ke tangannya. Anggun tersenyum simpul. Kini usahanya adalah bagaimana cara membuka pintu tersebut tanpa harus Adrian mengetahuinya.


Adrian yang sudah di selimuti nafsu dan gairah benar-benar tak sadar kalau lawannya tengah men-siasati dirinya. Kini tangan pria itu tak tinggal diam. Mulai meraba ke titik-titik sensitif milik Anggun berada.


Adrian hendak menurunkan resleting baju yang di kenakan Anggun. Dan di saat yang bersamaan,, tangan Anggun mencoba meraba-raba daun pintu untuk menemukan lubang kunci. Matanya berbinar manakala tujuannya tercapai. Dia memasukkan kunci yang ada di balik tubuhnya perlahan-lahan. Sedikit sulit awalnya. Namun itu tak lama,, karena akhirnya usahanya berhasil kembali.


Klek !!! Suara kunci di putar perlahan. Anggun harus menggunakan alibi dengan cara merespon setiap sentuhan Adrian padanya agar tidak mendatangkan curiga pada pria itu. Dan setelah usahanya berhasil,, dengan sekali hentakan dia mencoba mendorong Adrian ke belakang.


Anggun membuka gagang pintu dengan cepat. "Maaf...sebaiknya Kau cepat pergi mandi dan aku akan keluar untuk menyiapkan makan malam untukmu. Aku menunggumu di luar." Anggun tersenyum penuh kemenangan untuk kemudian dia segera berlalu dari tempat itu sebelum Adrian menyadari kecerobohannya.


Dan sadarlah kini Adrian mengenai kesalahannya. Ah....sial !!! Lagi-lagi !!! Adrian memukulkan tinjunya ke dinding kamar. Ini juga bukan pertama kalinya,, Anggun berusaha menghindar dari perlakuan khususnya.


Maafkan aku Adrian...tapi aku sungguh tidak bisa melakukannya dalam keadaanku sekarang. Tidak dalam keadaanku yang sedang hamil besar dan mengandung benih orang lain. Itu adalah jeritan hati Anggun yang selalu keluar dari benaknya tiap kali Adrian meminta perlakuan lebih darinya. Sebenarnya dia ingin sekali mengatakan hal itu,, alasan kenapa dia selalu berusaha menghindar dari pria yang sudah sah menjadi suaminya itu. Namun entah mengapa lidahnya selalu kaku saat dia hendak memulai perbincangan.

__ADS_1


Semoga Adrian mengerti. Bukankah untuk menunggu bayi ini lahir tidak memerlukan waktu lama lagi?? Bersabarlah untuk itu !!!


\==========================


__ADS_2