Anggun Bidadariku

Anggun Bidadariku
Kenapa kau berubah?


__ADS_3

Anggun POV


Sepertinya duniaku berubah sejak saat itu. Aku seperti hidup dalam dunia mimpi. Kehidupanku berubah 180 derajat dari semula. Kebahagiaan berangsur-angsur datang menghampiriku.


Adrian yang dulunya dingin padaku,, bagaimana mungkin berubah menjadi hangat dan sangat baik. Dia bahkan tak segan-segan menawarkan kebaikannya untuk menolongku dalam hal apapun termasuk saat periksa kehamilan. Tak ada lagi alasan dia pulang terlambat karena urusan pekerjaan. Dan waktunya selalu habis di sampingku selepas pulang dari kantor atau bahkan saat dia libur.


Kamipun tak secanggung dulu lagi. Karena perubahan sikapnya tersebut,, akupun tak segan bercanda dengannya. Ya...itu sering kami lakukan. Kami bahkan tak jarang keluar bersama untuk jalan-jalan,, makan di luar,, atau bahkan nonton. Dan sebenarnya,, Adrian sudah menawarkan untuk tidur sekamar dengannya. Namun aku menolaknya. Sepertinya aku ragu. Entahlah....hanya saja aku masih asing dengan kehidupan baru ini.


Kini kami juga sering berkunjung ke rumah Bapak dan Ibu. Tak jarang pula,, mereka yang datang ke rumah kami atau bahkan menginap di sini. Nampaknya mereka sangat bahagia melihat kami sudah rukun. Aku ingat suatu hari Ibu pernah berkata padaku.


"Apa kau bahagia Anggun??" Tanya beliau pada suatu hari.


"Ehmm,, tentu saja bu. Bagaimana mungkin saya ndak bahagia berkumpul dengan keluarga yang sangat menyayangi saya." Jawabku apa adanya.


"Kau tau,, setiap hari ibu berdoa untukmu supaya hari ini tiba. Melihatmu akur bersama dengan Adrian....benar-benar membuat ibu sangat bahagia nduk." Suara ibu tampak bergetar. Ada rasa haru yang di dalamnya.


"Alkhamdulillah. Saya juga ndak mengira kalau hari ini akan tiba. Melihat mas Rian yang dulunya dingin pada saya,, sungguh saya tak yakin mampu meneruskan rumah tangga ini. Saya merasa saya ndak pantas menerima perlakuan baik darinya mengingat saya yang secara ndak langsung juga telah merusak kebahagiaannya." Ucapku lirih sambil tertunduk. Ibu menoleh ke arahku dan mengusap lembut rambut panjangku yang tergerai.


"Itu adalah buah dari kesabaranmu ngger. Dan kamu pantas mendapatkan itu."


"Terima kasih karena ibu selalu mendukungku selama ini." Aku memeluk perempuan tua yang sudah kuanggap sebagai ibu kandungku tersebut.


Selain perubahan dari sikap Adrian dan berangsur hangatnya rumah tangga kami,, ada hal lain lagi yang mulai berubah. Yakni kehadiran Bagas yang statusnya adalah mantanku dan sekarang berganti menjadi kakak iparku. Hubungan kami juga mulai membaik. Seakan masalah tempo hari tak pernah hadir dalam kehidupan kami. Ya...kami sepakat untuk mengubur masa lalu dan memulai awal yang baru lagi.


Namun hingga kini aku masih belum memutuskan apakah aku akan berniat memberikan anakku nanti pada ayah kandungnya tersebut atau tidak. Pernah sekali aku mencoba meminta pendapat Adrian. Secara saat ini dia adalah suamiku dan yang pasti dia yang menjadi wali dari anakku.


"Bagaimana menurutmu Adrian??" Ya...aku masih tetap memanggilnya hanya dengan nama saja tanpa ada embel-embel 'mas' di depannya. Kami memang sepakat untuk itu,, kecuali di depan bapak dan ibu.


"Semua aku kembalikan padamu,, Anggun. Terserah apapun keputusan yang terbaik untukmu,, aku mengikutinya." Jawabnya singkat. Dan aku masih belum bisa mengambil kesimpulan meskipun demikian.


Mungkin aku masih harus berfikir keras lagi untuk mengambil keputusan sampai bayi ini lahir.


Yang jelas saat ini aku sedang menikmati kebahagian yang aku raup. Aku benar-benar tak mau kehidupan menyedihkan itu kembali datang. Sungguh saat itu aku seperti hidup di neraka.

__ADS_1


Namun di antara kebahagiaan yang aku peroleh,, ada satu hal yang berubah,, yaitu Dion. Jika Adrian yang selama ini dingin padaku berubah menjadi hangat dan sangat baik,, entah mengapa kini Dion yang tadinya ramah,, hangat dan penuh senyum menjadi dingin dan acuh tak acuh padaku.


Aku memang tak pernah menjumpainya menemuiku lagi secara pribadi. Kami bertemu sesekali itupun saat dia singgah ke rumah saat pulang kantor. Namun demikian,, sikapnya yang berubah 180 derajat dari sikap Adrian itulah yang membuatku heran.


Dia hampir tak mau menegurku saat bertemu. Seolah-olah aku tak nampak di situ. Kalaupun aku yang menyapanya lebih dulu,, dia hanya tersenyum sekilas untuk kemudian sikapnya kembali datar lagi seperti semula. Aku sangat heran di buatnya. Apa yang sebenarnya terjadi?? Berbagai pertanyaan pun bermunculan dalam pikiranku,, kesalahan apa yang sudah aku lakukan sampai dia mengabaikanku?? Bukankah sebelum ini kami baik-baik saja?? Tapi sekarang kenapa sikapnya berubah??


Terus terang aku sangat tidak senang dengan perubahan sikapnya itu. Tentu saja,, Dion adalah satu-satunya orang yang membuatku tersenyum di saat orang lain justru menorehkan luka di hatiku bahkan tak segan menumpahkan air mataku. Dan melihat sikapnya yang dingin itu,, aku benar-benar kecewa. Aku merasa kehilangan sosok baik dalam hidupku selama ini. Aku tau,, sikapnya selama ini tulus padaku. Dan terbersit untukku menanyakan perubahan itu padanya,, hingga saat itu tiba....


Dion kembali datang berkunjung ke rumah setelah pulang kerja. Seperti biasa aku akan menyambut mereka dengan dua cangkir kopi panas. Dan saat inilah yang Ku tunggu-tunggu. Saat Adrian sibuk membersihkan dirinya,, akupun mencoba mendekati Dion. Selama ini,, hal tersebut tidak aku lakukan karena aku menjaga perasaan Adrian. Aku takut dia salah paham pada kami lagi. Dan yang pasti aku sendiri tidak tau apakah Adrian tau kalau Dion sebenarnya menyukaiku.


"Minumlah Dion...." ujarku padanya sambil menyuguhkan kopi padanya. Dan dia hanya berdehem saja tanpa berniat menatapku sedikitpun bahkan dirinya masih sibuk dengan ponsel di tangannya.


"Dion...apakah Kau baik-baik saja??" Aku mendudukkan tubuhku perlahan di hadapan kursinya. Mencoba basa-basi padanya. Hanya sekedar memancing obrolan.


"Seperti yang kau lihat." Jawabnya singkat dan sangat datar. Aku menggigit bibir karenanya. Aku sungguh tak percaya dia adalah Dion yang Ku kenal selama ini.


"Aku ingin bertanya padamu??" Aku berkata lagi tanpa membuang pandanganku darinya.


"Ya."


Kulihat dia menghentikan aktifitasnya seketika. Memandangku sejenak dan kembali lagi pada kegiatannya semula. "Tidak ada apa-apa." Katanya tanpa beban.


Dan cukup !!! Itu membuatku muak. Hatiku memang sembuh dari luka yang di berikan Adrian ataupun Bagas. Namun kini seakan aku mendapat luka baru lagi dari orang yang sangat baik dalam hidupku. Aku tak mau menyiksa batin ini untuk duduk terlalu lama di hadapannya dengan menerima segala rasa acuh tak acuh dan sikap dinginnya.


Dan aku pun bangkit saat itu juga dari kursiku. Namun belum sempat aku melangkah,, tiba-tiba kakiku terantuk kaki meja dan aku hampir saja terjatuh. Pada saat itulah,, di luar dugaan Dion dengan sigap menangkapku sehingga akupun tak sampai terjatuh.


"Bagaimana kau bisa melakukan hal sebodoh ini Anggun?? Bagaimana kalau tadi kamu terjatuh?? Bagaimana dengan nasib bayimu?? Kau terlalu ceroboh !!!" Aku benar-benar tak menduga Dion akan memberondongku dengan banyak pertanyaan yang bermakna omelan.


Aku tak menjawab satupun dari perkataannya. Hanya mataku yang tertuju padanya. Memandangnya dengan seksama. Dan untuk sesaat mata kami saling beradu. Seperti di sadarkan,, diapun mengalihkan pandangannya kembali. Melepaskan pegangan tangannya yang semula menyangga tubuhku.


"Maaf..." ujarnya kaku.


"Jadi harus menunggu aku terjatuh dulu sampai kau mau membuka mulutmu??" Tikamku. Dia masih terdiam. "Apakah harus menunggu aku sakit lebih dahulu sampai kau mau menunjukkan rasa simpatimu padaku??" Suaraku mulai bergetar.

__ADS_1


Kulihat Dion menoleh kembali ke arahku. "Anggun...aku...."


"Kau tau,, kalau sikapmu ini sungguh menyakitiku. Bagaimana bisa kau bersikap dingin padaku?? Orang yang selama ini memberikan senyuman untukku disaat orang lain justru menusukku,, bagaimana bisa sekarang justru dia yang berbalik melukaiku??"


"Anggun...semua tak seperti yang kau pikirkan."


"Aku benar-benar kecewa padamu Dion." Ucapku gusar tak berarah. Aku hendak melangkah pergi,, namun tanpa ku duga dia memegang tanganku sehingga akupun mengurungkan niatku.


"Maafkan aku Anggun." Desisnya lirih. "Bukan maksudku untuk bersikap seperti ini padamu. Hanya saja....." Dion menundukkan kepalanya.


"Hanya apa??" Desakku.


"Aku sudah berjanji pada Adrian kalau aku akan menjauhimu Anggun." Aku terhenyak mendengar pengakuan Dion barusan. Berjanji?? Janji apa yang sebenarnya sudah mereka sepakati?? Kenapa semua tanpa sepengetahuanku??


"Aku tau kalau ini akan menyakitimu. Dan asal kau tau,, kalau bukan hanya kau yang tersakiti,, tapi Aku justru merasakan sakit itu lebih dalam." Dion terdiam sejenak. Berusaha menetralkan hatinya yang mulai bergejolak. "Ini seperti menyuruhku untuk berhenti bernapas. Kau tau begitu tersiksanya aku harus berpura-pura di hadapanmu?? Baiklah...mungkin aku bisa untuk tidak memilikimu,, tapi berpura-pura mengabaikanmu,, ini benar-benar menyiksaku,, menyakitiku. Namun semua itu harus aku lakukan demi sahabatku Adrian. Meskipun semua bertolak belakang dengan keinginan hatiku."


Aku tak dapat menahan air mataku lagi. Ya....aku menangis sesegukan. Dan saat air mataku meluncur,, dengan cepat akupun menghapusnya. Aku tak mau Dion melihat air mata ini. Aku mengatur nafasku senormal mungkin.


"Kau ini benar-benar laki-laki bodoh !!!" Desisku sambil berpaling muka. "Apakah Adrian memintamu demikian??"


"Ya. Tapi....kurasa Aku memang harus menjauh darimu Anggun."


"Ciihhh....dasar bodoh !!!" Umpatku lagi. "Kalau kau keberatan seharusnya kau menolaknya. Apakah kau lupa,, kalau kebahagiaanku ini juga tak lepas dari campur tanganmu?? Bagaimana kalau saat itu kau tak datang?? Mungkin aku akan tetap terdampar di pulau terpencil hingga sekarang." Aku memakai kalimat kiasan sebagai perumpamaan.


"Anggun...."


"Minumlah kopimu !!! Aku tak pernah lupa kau tidak suka manis." Dion tersenyum hambar. "Dan satu lagi,, jangan bersikap konyol seperti ini lagi,, jika kau tak ingin aku semakin terluka."


"Tunggu Anggun !!!" Dion menghentikan langkahku kembali. "Aku berjanji....tidak akan bersikap seperti ini lagi. Tapi mungkin,, aku akan berusaha untuk menghindarimu. Mungkin kita akan semakin jarang bertemu." Aku terdiam tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya. "Itu akan lebih baik untuk kita berdua." Imbuhnya terakhir kali.


Akupun melangkah kembali meninggalkan Dion yang masih berdiri terpaku menatap kepergianku. Satu hal yang tidak di ketahuinya,, kalau aku melangkah pergi dengan beriring air mata yang sudah kembali meluncur di kedua belah pipiku.


Oh...Tuhan....adilkah ini?? Aku mendapat cinta Adrian,, tapi Aku kehilangan sosok Dion. Setidaknya,, tidak bisakah kami menjadi sahabat??

__ADS_1


\===========================


__ADS_2