
"Baiklah...aku akan menunggumu di kantor." Adrian lalu bergegas meninggalkan tempat itu.
Hatinya masih belum puas. Sebenarnya,, masih ada yang ingin ia tanyakan pada Dion. Mengenai keadaan Anggun dan bagaimana sahabatnya itu bisa bertemu dengan istrinya.
Meski kekesalan masih menumpuk di salah satu ruang di hatinya,, namun saat mengingat sebuah kalimat penjelasan dari Dion beberapa saat lalu mengenai opini bahwa Anggun mulai menaruh perasaan padanya,, membuat hati Adrian melunak. Pria itu jadi senyum-senyum sendiri karenanya.
Benarkah Anggun mulai suka padaku?? Itu berarti dia sudah mulai mencintaiku??
××××××××
Anggun sudah memasak makan malam sejak beberapa saat yang lalu. Dan kini dia tengah sibuk menyiapkan hidangan di meja makan. Pikirannya melayang pada kejadian akhir-akhir ini dimana Adrian hampir tiap hari mengunjungi rumah Dion hanya untuk mengetahui informasi mengenai dirinya. Kalau sesuai perkiraannya,, maka sesaat lagi Dion akan sampai lebih dulu. Lalu beberapa menit kemudian akan muncul Adrian di belakangnya.
Dion memang selalu sengaja pulang lebih awal dari Adrian. Dia sudah memperkirakan sebelumnya kalau sahabatnya itu akan tiap hari mengintai rumahnya. Untuk itulah dia pulang mendahului. Dan keesokan harinya,, barulah dia berangkat kerja setelah Adrian ia pastikan benar-benar pergi. Sungguh mereka seperti anak yang sedang bermain petak umpet.
Anggun tidak terkejut saat suara pintu rumah terbuka. Dia masih sibuk dengan hidangannya. Menyiapkan dua gelas orange jus untuk Dion dan yang satu untuk dirinya sendiri.
"Kau sudah pulang??" Tanya Anggun masih sibuk dengan kegiatannya dan tanpa menoleh sedikitpun. Tak ada jawaban. Anggun tertegun sejenak. Tak biasanya Dion membungkam. Dan kini saat dia selesai dengan dua gelas di tangannya,, Anggun menoleh tiba-tiba sambil berkata,, "Kau pasti lelah. Lihatlah,, aku membuatkanmu minuman...."
Tiba-tiba Anggun membeku saat melihat sosok orang yang berdiri di belakangnya. Anggun menelan ludahnya pahit. "Kau.... " ucapnya kelu.
"Kau terkejut akhirnya aku bisa menemukanmu??" Ternyata orang itu bukanlah Dion,, melainkan sosok suaminya,, Adrian. Pria itu tampak menyeringai kecil karena telah berhasil menemukan orang yang ia cari-cari selama ini.
Anggun menoleh seketika pada orang yang baru muncul dan berdiri di samping Adrian. Anggun meletakkan gelas-gelas yang di tangannya ke atas meja makan. Dan dengan gerakan cepat dia menghampiri tempat Dion berada. Menariknya dengan keras dan membawanya menjauh dari keberadaan Adrian.
"Bagaimana bisa dia ada disini Dion?? Apa kau yang membawanya kemari??" Tanya Anggun menjatuhkan fonisnya.
"Maaf Anggun,, tapi mungkin sebaiknya kau dan Adrian bertemu. Bagaimanapun juga kalian harus menyelesaikan masalah."
"Aku tau itu. Tapi bukankah aku bilang tidak untuk saat ini." Perang Anggun keras.
Dion memegang pundak Anggun dengan lembut. Berusaha meredam kemarahan yang tengah bergejolak dalam diri wanita itu. "Tenanglah Anggun...." kata pria itu lembut. "Percayalah....ini yang terbaik. Sebaiknya,, kau dengarkan dulu penjelasan Adrian. Dan setelah itu kau bisa mengambil kesimpulan."
Anggun menarik napas panjang. Wanita itu berusaha menetralkan hatinya yang tengah bergejolak. Memikirkan baik-baik ucapan Dion barusan. "Jadi...kau bersedia bertemu dan bicara dengannya??" Tanya Dion meminta persetujuan. Dan Anggun mengangguk pelan tanda ia setuju.
Dion tersenyum perlahan. Lalu menggenggam tangan Anggun dengan erat. "Percayalah....aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Semua hanya untuk kebaikanmu." Tanpa di duga,, Dion menarik Anggun dan memasukkan dalam pelukannya. Pria itu mendekapnya erat seakan tak mau melepaskan wanita itu.
Di tempat lain,, Adrian yang melihat pemandangan itu dari jauh sesungguhnya merasa geram. Pria itu mengepalkan kedua tangannya. Kalau tidak karena rasa terima kasihnya terhadap pertolongan Dion pada sang istri,, pasti Adrian sudah menghantam muka Dion saat ini juga.
Dilihatnya Dion perlahan-lahan mendekati dirinya. "Aku kembalikan dia padamu. Dan ingat apa pesanku,, ini...adalah kesempatan terakhirmu." Dion menepuk-nepuk bahu sahabatnya untuk terakhir kalinya sebelum kemudian ia berlalu dari tempat itu.
Adrian diam tak bergeming di tempatnya,, namun perkataan sahabatnya barusan membuatnya menelan ludah pahit. Dilihatnya Dion melangkah pergi dengan pandangan semu. Entah apa yang di pikirkannya sampai ia tak mau melepas tatapannya hingga pria yang menjadi rivalnya menghilang di balik pintu.
Adrian tersentak saat suara Anggun berdengung di telinganya. "Jadi....apa yang ingin kau jelaskan padaku??"
Adrian menoleh seketika dan melupakan sosok sahabatnya. Tatapannya kini tertuju pada wanita yang berdiri dengan kedua tangan di lipat di dadanya. "Anggun,, aku senang bisa bertemu denganmu kembali." Ujar pria itu.
Anggun membuang muka jenuh. Ucapan Adrian terlalu bertele-tele. Bukan ini yang ia inginkan. "Katakan apa yang ingin kau katakan atau aku akan pergi dari sini secepatnya?!?!" Anggun mendesak tidak sabar.
"Baiklah...tapi sebelumnya aku ingin bertanya padamu,, kenapa kau pergi begitu saja saat itu?? Aku tau kau sudah datang ke tempat kita membuat janji waktu itu."
Anggun memalingkan wajahnya kembali ke arah Adrian dengan tatapan dingin yang datar namun menghunjam. "Kau masih bertanya soal itu?? Bagaimana kalau pertanyaan aku balik,, apa yang kau lakukan waktu itu dengan mantan kekasihmu??"
Sepertinya Adrian sudah siap dengan pertanyaan Anggun yang satu ini. Sehingga dengan tenang dia berjalan mendekat ke arah wanita itu berada. "Semua tidak seperti apa yang kau pikirkan Anggun..."
"Oh...ya?? Memang apa yang aku pikirkan??" Tanya Anggun dengan sikap yang tak kalah tenang. Wanita itu memang selalu pandai menyikapi permasalahan. Anggun sebenarnya bukan sosok wanita yang suka menyelesaikan masalah dengan amarah.
"Aku tau kau cemburu pada Andini."
"Ciiihhh...jangan sok tau. Aku tidak mengatakan demikan."
"Tapi matamu sudah berbicara,, Anggun." Anggun diam tak membalas. "Jadi yang sebenarnya terjadi saat itu adalah...."
Flash Back On
__ADS_1
"Ya....aku masih mencintaimu,, Andini." Kata Adrian penuh keyakinan.
Untuk beberapa saat,, Andini dan Adrian masih saling berpelukan. Adrian bingung dengan keadaan yang saat ini terjadi. Semua berlangsung begitu saja dan cepat,, sampai menghapus seluruh logikanya. Entahlah,, yang pasti saat ini tujuannya adalah menenangkan wanita di hadapannya.
"Ma...maafkan aku Adrian. Aku terlalu larut dalam emosiku." Andini lalu melepaskan pelukannya. Dia kembali duduk di tempatnya semula. Menghapus air mata yang semula tertumpah dan membasahi kedua pipinya. "Ini tidak seharusnya ku tanyakan padamu. Maaf..." ulangnya lagi.
Adrian diam tertegun. Pria itu mencoba menenangkan hati dan pikirannya kembali. "Tidak apa-apa. Aku tau kau sedang terluka. Kau pasti perlu seseorang untuk melepas semua bebanmu. Dan aku...membuka ruang jika kau ingin bercerita padaku."
"Tidak...tidak...ini saja sudah cukup. Sekarang aku sudah merasa bebanku berkurang."
"Apa kau yakin??" Tanya Adrian meyakinkan.
"Ya." Jawab Andini pasti. "Ehmm...mungkin sebaiknya aku pergi. Maaf,, aku sudah mengganggumu."
Adrian hanya tersenyum ringan dan iapun mengangguk pelan. "Baiklah...sampai bertemu lagi dan jaga dirimu baik-baik."
Andini mengangguk pelan. Namun belum sempat ia melangkah pergi,, wanita itu kembali berseru pada pria yang pernah menjadi kekasihnya itu. "Soal pertanyaanku tadi...tolong lupakan. Jangan kau anggap serius."
Adrian menatap Andini dengan sorotan mata yang tak dapat di artikan. Namun kemudian pria itu tersenyum dan menjawab pelan,, "Tentu saja."
"Terima kasih." Ucap Andini terakhir kali sebelum akhirnya ia pergi.
Flash Back Of
"Jadi...apa yang ingin kau simpulkan mengenai ceritaku ini??" Adrian bertanya.
Anggun terdiam. Mulutnya seperti terkunci. Adrian melihat perubahan sikap Anggun yang tadinya dingin kini menjadi salah tingkah. Itu terlihat dari tangan wanita tersebut yang sejak tadi memainkan jari-jarinya dengan sangat gelisah.
Adrian tau kalau hati wanita itu mulai melunak. Di dekatinya Anggun perlahan. "Jadi...apa kau masih marah padaku??" Tanya Adrian lembut. Anggun menggigit bibirnya karena malu. Malu terhadap kebodohannya waktu itu yang terlalu cepat mengambil kesimpulan tanpa melihat kebenarannya terlebih dahulu.
"Maaf..." desisnya lirih. Adrian mengembangkan senyumnya. Dia sudah yakin kalau istrinya benar-benar sudah tidak marah lagi padanya. "Seharusnya saat itu aku tidak langsung pergi."
"Sudahlah...lupakan semuanya. Itu sudah berlalu. Kuharap kita bisa memperbaiki semuanya." Anggun mengangguk setuju.
Di balik pintu....
Ternyata Dion mendengar semua percakapan mereka barusan. Dion tau kalau semua akan berakhir seperti ini. Pria itu menyandarkan tubuhnya pada daun pintu dengan perasaan tak menentu. Hatinya berkecamuk oleh perasaan sedih dan senang. Sedih karena pada akhirnya dia tetap akan melepas orang yang ia cintai untuk kembali pada orang yang lebih berhak darinya. Senang karena bagaimanapun juga Anggun menemukan kembali kebahagiaannya.
Dion menarik napas panjang dan berat. Di pejamkan matanya untuk sesaat sebelum akhirnya ia melangkah pergi dengan berat hati. Tugasku sudah berakhir....
Anggun dan Adrian masih menumpahkan rasa rindu mereka dalam sebuah pelukan. Perpisahan berhari-hari yang mereka lalui ternyata memupuk rasa rindu dan cinta secara bersamaan. Dan mungkin kini mereka takkan malu untuk mengakui semua itu.
"Apakah kita akan terus disini??" Adrian membuyarkan suasana. Merekapun merenggangkan pelukan.
"Kita akan pulang??" Anggun balik bertanya.
"Tentu saja. Ini bukan tempat kita. Dan aku tidak suka kau bernyaman-nyaman di rumah ini."
"Hmmm,, kau cemburu rupanya." Anggun menyindir.
"Bukankah itu wajar??"
"Cemburu pada sahabatmu sendiri??"
"Dion memang sahabatku. Tapi kini aku harus waspada terhadapnya karena perasaan menyesatkan yang ia tumbuhkan di dalam hatinya." Anggun mengerutkan kening tanda tak paham apa maksud perkataan suaminya. "Karena dia yang menaruh perasaan padamu itulah,, aku jadi harus berhati-hati terhadapnya. Aku tidak suka kau terlalu dekat dengannya." Adrian menjelaskan.
Anggun melebarkan senyumnya. Jujur,, kecemburuan Adrian terhadap Dion membuatnya sangat geli. Dan ternyata Anggun baru menyadari kalau Adrian mempunyai sikap yang posesif.
"Baiklah...tapi kecemburuanmu sangat tidak beralasan. Kau tau meski Dion punya perasaan padaku,, dia masih punya hati nurani sehingga tak ingin berusaha merebut diriku darimu. Itu karena dia masih menghargai persahabatannya denganmu."
Adrian mendengus sebal. Meski ia tidak suka dengan apa yang di katakan istrinya barusan,, tetapi ia memang harus mengakui kalau itu adalah benar. "Sudahlah. Jangan bahas itu lagi. Sebaiknya,, kita pergi dari sini."
__ADS_1
"Hmmm,, tapi biarkan aku berpamitan dulu pada Dion. Setidaknya,, aku harus berterima kasih padanya. Aku berhutang budi banyak pada temanmu itu." Tanpa menunggu persetujuan dari Adrian,, Anggun melangkah mencari-cari dimana Dion berada.
"Dion....Dion....apa Kau di sana??" Seru Anggun sambil terus mencari. Namun orang yang di cari tidak ia temukan.
Anggun mencoba meneliti ke seisi rumah termasuk kamar pribadi Dion,, dan kenyataan kalau pria itu tak ada di semua tempat di rumah itu. Perasaan Anggun tiba-tiba resah. Kemana dia pergi?? Apakah dia keluar??
"Adrian...aku tidak menemukan Dion dimanapun." Serunya pada Adrian setelah ia kembali ke hadapan suaminya.
Adrian tak menjawab apapun. Hanya tatapan nanar yang ia lemparkan pada sosok istrinya. Anggun yang di tatap demikian benar-benar merasa aneh. Seperti ada yang di sembunyikan oleh Adrian.
"Apa kau mengetahui sesuatu??" Tanya Anggun curiga.
Adrian menarik napasnya dengan berat. "Percuma kau mencarinya....karena dia sudah meninggalkan tempat ini."
Anggun terkejut. Dia tak mengerti arti ucapan suaminya barusan. "A...apa...maksudmu??"
"Dion sudah pergi Anggun." Kata Adrian masih dengan teka-teki.
"Tidak !! Aku tidak mengerti maksud ucapanmu Adrian." Anggun menggeleng-gelengkan kepalanya menolak sebuah kebenaran menyakitkan yang mulai masuk dalam pikirannya.
Adrian tak menjawab. Dia justru mengeluarkan sesuatu dari balik saku jasnya. "Bacalah ini,, maka kau akan mengerti." Katanya sambil menyerahkan sebuah surat pada Anggun. Wanita itu menerimanya dengan tangan gemetar.
Anggun membuka surat itu perlahan dan mulai membacanya.
Untuk Anggun yang tersayang....
Wanita yang selalu aku hadirkan dalam setiap mimpi indahku. Kau tau bahwa dirimu begitu berharga dan istimewa bahkan lebih dari sebuah intan maupun berlian. Kau tak terlukiskan oleh kalimat apapun,, bahkan sebuah lukisanpun tak akan pernah bisa menyaingi keindahanmu. Meski ku ungkapkan berjuta kalimat mutiara sebagai perumpamaan dirimu,, sungguh itu juga tak pernah cukup untuk menggambarkan tentang kepribadianmu.
Seumur hidupku,, baru pertama kalinya aku mencintai seorang wanita dengan tulus. Dan cuma kaulah satu-satunya wanita yang sanggup menyentuh hatiku. Mencintaimu,, rasanya sangat menyenangkan. Aku bahkan rela memberikan kebahagiaanku hanya demi melihatmu tersenyum.
Anggun...maaf,, jika surat ini merupakan kalimat pengantar terakhirku. Aku tau kau akan menemukan kebahagianmu bersama Adrian. Dan aku rasa,, sudah waktunya aku melepasmu kembali pada orang yang lebih berhak,, yakni suamimu. Meskipun jujur,, ingin rasanya aku membawamu lari sejauh mungkin dari dunia ini sehingga tak ada orang yang akan menemukan kita berdua termasuk itu Adrian,, namun cintaku bukanlah sesuatu yang egois. Aku tidak ingin membuat orang lain terluka di atas kebahagiaanku.
Dan kini,, aku harus pergi jauh. Kau pasti bingung dengan kalimat ini. Ya...aku harus meninggalkanmu,, Anggun. Itu harus kulakukan. Kau tau?? Aku tak pernah sanggup melihatmu bersama pria lain meski itu sahabatku sendiri. Kalau kau mengatakan aku cemburu,, itu memang benar. Perasaanku juga sama seperti pria lain. Aku bukanlah malaikat yang bisa menahan rasa sakit. Aku juga bisa terluka. Dan melihatmu bersama Adrian,, itu membuatku sangat terluka.
Mungkin dengan jalan inilah semua akan membaik. Biarlah aku pergi. Meski aku tau takkan pernah bisa menghapus beyanganmu di setiap mimpiku. Kau bahkan selalu melintas dan menari di dalam pikiranku. Namun yang pasti,, dengan jauh dari kalian....aku tak melihat hal-hal yang membuatku semakin sakit.
Maaf....jika Aku egois. Aku pergi tanpa berpamitan kepadamu sebelumnya. Aku tak mau melihat air mata di matamu,, karena itu sama juga melukaiku. Jadi...aku pergi diam-diam. Dan saat kau membaca surat ini,, aku pasti sudah jauh darimu....
Anggun,, percayalah. Hatiku,, hanya selalu untukmu. Hari ini,, besok,, dan selamanya...I love you more....more....and more. Anggun....berbahagialah....Dan kemanapun aku pergi,, aku akan tetap membawa namamu,, Anggun wahai Bidadariku....
Orang yang selalu mencintaimu,, Dion.
Air mata itu lolos begitu saja dari kedua pipi Anggun. Ada rasa sakit yang menyentil salah satu ruang hatinya. Bukan ini yang ia inginkan. Bersatu kembali dengan Adrian memang membuatnya bahagia. Namun jika itu harus menukarnya dengan perpisahannya dari Dion,, ini benar-benar pilihan yang sulit di terimanya.
Namun mau seperti apa,, pria itu kini sudah pergi. Kenapa?? Kenapa?? Kau pikir kau siapa Dion?? Kau pikir kebahagiaanku ada karena siapa??
Anggun merutuk dalam hati. Dia tidak hanya merasa kehilangan. Namun ada sesuatu yang berkeping-keping di dalam hatinya. Adrian mendekat dan memeluk istrinya. Dia tau,, ini berat untuk Anggun. Meskipun dia membenci Dion yang menaruh perasaan pada Anggun seenak hatinya,, namun kebaikan Dion selama ini tak dapat ia abaikan. Diapun merasakan perasaan yang sama dengan Anggun. Sakit.
"Jangan menangis. Ini adalah jalan yang di pilihnya. Satu-satunya hal yang harus kau wujudkan adalah untuk tidak meneteskan air matamu lagi. Bukankah itu yang ia inginkan darimu??" Adrian menghibur.
Anggun yang menangis tersedu di dalam pelukan Adrian mendongak seketika pada suaminya. "Kau tau soal itu??" Tanyanya dengan suara serak.
Adrian tersenyum sambil mengusap air mata yang terus meluncur tanpa henti di kedua pipi wanita tersebut. "Karena dia selalu mengancamku,, untuk tidak membuatmu meneteskan air mata lagi."
Anggun tersenyum miris. Ya...dia ingat Dion selalu berkata demikian. Pria itu sungguh benar-benar peduli dengannya. Ahhh...Dion,, aku takkan pernah melupakanmu. Kau adalah pria pertama yang bisa menyentuh hatiku dan memberikanku kebahagiaan yang sesungguhnya. Dion...sampai bertemu lagi.
"Ayo....sebaiknya kita pulang...."
Dan Anggun mengangguk setuju mengiyakan perkataan suaminya. Jalan terang sudah terbuka,, namun masih ada kegelapan yang menyelimuti. Akankah semuanya akan menjadi terang?? Ataukah kegelapan itu akan semakin mencekam??
Nantikan next !!!! "Anggun Bidadariku Season 2"
\============================
__ADS_1
SELESAI