
"Ehemmmm.....ada yang bisa jelaskan padaku dengan apa yang kulihat saat ini??" Suara dingin penuh geraman itu menggema di telinga Dion dan Anggun.
Seketika Anggun menarik tangannya yang sejak tadi masih berada dalam genggaman Dion. Sedang pria di hadapannya hanya menarik nafas dengan santainya. Anggun tak mengira kalau perkiraan Dion akan terjawab secepat ini. Benarkah kalau Adrian saat ini sedang cemburu??
"Jadi....kenapa kalian hanya diam saja?? Apakah ada sesuatu diantara kalian yang tidak ku ketahui??" Adrian kini sudah duduk di antara keduanya dan menatap Dion serta Anggun bergantian.
"Ehmm,, Adrian sebenarnya kami disini...sedang...makan malam. Yah...hanya sekedar makan malam." Anggun menjawab gugup. Dia menajamkan mata memprotes kepada Dion. Kenapa harus aku yang menjawab?? Bukankah ide makan malam ini darimu?? Yang benar saja !!!! Sedang Dion hanya menyeringai geli.
"Makan malam??" Adrian mengerutkan keningnya pertanda keraguan besar sedang menggelayutinya.
"Ya,, apa kau masih ragu setelah kau lihat dihadapan kami berjejer piring-piring kotor bekas makanan??" Kini Dion bersuara.
"Dengan cara berpegangan tangan dan saling memandang??" Nada Adrian sangat terlihat jelas menuduh.
"Aku hanya mengucapkan terima kasih karena selama ini dia sudah meluangkan waktunya untuk mengantarku." Serobot Anggun cepat.
"Ohh...jadi dia yang kau bilang teman yang mengantarmu?? Kenapa kau tak mengatakan padaku kalau dia adalah sahabatku sendiri??" Tatapan memicing di layangkan Adrian pada Anggun.
"Adrian...dengar..." Dion hendak memberikan penjelasan,, namun belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya,, Adrian memotong dengan cepat.
"Dan kau.....Kau juga tak memberitahuku kalau kau sedang sibuk dengan istriku akhir-akhir ini !!!!" Kini Dion yang menjadi sasaran. "Dan apa kau pikir aku percaya dengan penjelasanmu yang mengatakan kalau kalian hanya sekedar makan malam?? Dengan situasi seperti ini?? Suasana romantis?? Saling menyentuh dan berpegangan tangan?? Aku bahkan tau kalau tatapan mata Dion mengandung arti lebih buatmu Anggun..." kini matanya beralih menatap tajam isterinya seolah menghakimi.
"Apa pedulimu Adrian?? Bukankah kau pernah bilang kalau kau tak perduli padaku?? Dan aku boleh melakukan apapun yang kumau?? Apa kau lupa itu??" Anggun menantang. Seperti mendapat angin,, wanita itupun melanjutkan,, "Jadi kalau saat ini kamu sedang menghakimi kami atau menginterogasi kami?? Sungguh kau tak berhak untuk itu !!!"
"Kau !!!!" Anggun?? Bagaimana bisa dia seberani ini padaku?? Ini seperti bukan sifatnya selama ini. "Bagaimana kau bisa berkata demikian?? Kau lupa kalau aku suamimu?? Bukankah aku berhak untuk menanyakan apapun untukmu??" Anggun memalingkan wajahnya saat Adrian menatapnya tajam. Di seberang tempat duduk,, Dion masih diam terbungkam. Dia belum ingin menyela pembicaraan suami-isteri itu sebelum waktu yang tepat ia perlukan.
"Apakah kau tak berfikir bagaimana kalau ada orang lain tau?? Bagaimana kalau teman-temanmu tau?? Bapak,, Ibu...Apa Kau tak berfikir kearah sana?" Adrian masih menyerang.
"Lalu bagaimana denganmu sendiri yang sibuk dengan kekasih lamamu Andini??" Adrian terbelalak seketika.
"Kau tau??" Tanya pria itu terkejut tak percaya.
"Ya. Apa kau terkejut??"
"Siapa yang memberitahumu?? Apakah dia??" Adrian mengalihkan pandangannya pada Dion sesaat dengan tatapan curiga.
"Tidak !!! Tapi aku melihatnya sendiri. Dengan kedua mataku sendiri." Anggun menatap suaminya dengan berani. "Jika aku saja bisa membiarkanmu bersikap seenakmu di luar sana?? Kenapa kau harus mencemaskan keadaanku?? Dan sekali lagi aku jelaskan padamu,, kalau kami disini hanya makan malam biasa. Kenapa kau harus melebih-lebihkan seperti ini...." Anggun merasa terpojokkan.
__ADS_1
"Ehmmm.....maaf,, mungkin sebaiknya kalau pembicaraan kalian di lanjutkan di rumah saja. Dan kurasa tak pantas kalau kita bertengkar di tempat umum seperti ini." Dion menengahi.
"Ya. Kau benar Dion. Sebaiknya kita pulang sekarang." Anggun membenarkan dan Dion memanggil waitrees untuk minta bil makanan.
"Berikan bil makananku juga !!!" Seru Adrian saat pelayan itu datang. "Kau pulang bersamaku !!!" Perintahnya cepat pada Anggun. Dan wanita itu hanya mendelik mendengar seruan tersebut.
"Ayo kita pulang !!!" Adrian tidak menunggu waktu lama,, setelah dia selesai membayar makanannya sendiri,, cepat diraihnya tangan Anggun untuk ikut dengannya. Anggun hendak memprotes namun dengan cepat Dion memberi isyarat agar menuruti keinginan pria yang tengah di landa emosi itu. Anggun hanya mendengus kesal. Menyebalkan !!!!
"Jangan kau pikir urusan kita sudah selesai Dion?? Aku akan membuat perhitungan denganmu besok !!!" Adrian memicing tajam saat melewati sosok sahabatnya itu. Dan Anggun hanya mengekor sambil melempar tatapan minta maaf atas sikap Adrian barusan. Dion tak menjawab apapun selain dari pada senyum tenang dan santai. Dia mengangguk pelan kepada Anggun demi meyakinkan wanita itu untuk kuat. Percayalah,, meski Adrian sekalipun,, dia takkan bisa menyakitimu.
Adrian dan Anggun sudah sampai di rumah mereka. Dan tanpa banyak bicara Anggun lalu berjalan mendahului Adrian masuk dan langsung menuju kamarnya. Di lepasnya ikatan rambut yang sebelumnya di tata sedemikian rupa oleh pihak salon padanya. Dan cepat di lepasnya pakaian yang ia kenakan. Entah kenapa dia baru merasa gerah memakainya saat ini. Mungkin semua karena Adrian. Dia sudah mengacaukan semuanya. Anggun tak berfikir kalau kejadiannya akan sampai demikian. Semarah itukah Adrian??
Anggun tengah memakai pakaian tidurnya yang terbuat dari bahan satin yang tipis. Dan dia di buat terkejut saat tiba-tiba Adrian masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Sial !!! Dia baru mengenakan setengahnya saja. Dan itu baru dalamannya yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sangat jelas. Anggun dengan cepat menyambar rompi atau baju luarannya yang masih teronggok di atas ranjang. Dan di pakainya kain itu untuk menutupi bagian tubuhnya yang masih terbuka dengan seadanya tanpa sempat mengenakannya.
"Bagaimana bisa kau masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu??" Anggun memprotes. Adrian hanya melirik sekilas pada sikap Anggun yang kelihatan gelisah menutupi tubuhnya yang beberapa bagian masih terbuka.
"Katakan apa yang kau mau Adrian??" Anggun berseru kembali. Namun pria itu masih membungkam.
Tiba-tiba saja Anggun terkejut saat Adrian menyeringai dan menatapnya dengan lapar. Dia mundur beberapa langkah karena merasakan sesuatu yang membahayakannya. Apakah dia akan memukulku lagi seperti dulu?? Anggun teringat saat Adrian hendak melayangkan tamparan padanya beberapa bulan lalu di awal penikahannya. Dan dia merasa takut saat mengingat itu.
"A...a...Adrian....apa yang akan kau lakukan??" Anggun terlihat ketakutan. Dia sudah tak bisa mundur lagi karena ruangnya sudah terbatas. Tubuhnya membentur dinding kamar.
"Apa perlu aku memberi tahumu soal apa yang ingin aku lakukan??" Mata pria itu menyorot tajam seakan hendak memangsa orang di hadapannya.
"J...jangan bilang kalau kau..." Anggun tak berani meneruskan kalimatnya. Kini dia semakin mengeratkan kain pelapis di tubuhnya saat jarak dirinya dan Adrian sudah sangat dekat.
"Ya,, aku akan melakukan itu denganmu. Apa kau keberatan??" Adrian menyambar kain yang ada di tangan Anggun dan melemparkan ke lantai. Wanita itu semakin ketakutan karena terlihat jelas kalau Adrian saat ini seperti orang kesetanan. Matanya merah menyala. Entah karena nafsu,, atau emosi.
"Ku...ku..kumohon Adrian....jangan lakukan itu." Adrian tak menghiraukan rintihan itu. Yang ada di kepalanya saat ini hanya ingin menguasai wanita itu. Pikirannya memang benar-benar kacau. Setelah kebenaran mengenai Andini yang akan bertunangan dengan pria lain,, kini dia mengetahui hubungan khusus isteri dan sahabatnya sendiri. Tidak !!! Dia tidak bisa membiarkan ini terjadi.
Memikirkan hal itu semakin membuat emosi Adrian bertambah. Dicengkramnya tubuh Anggun dengan kuat lalu di hentakkannya seketika ke atas ranjang tanpa perduli tentang perut wanita itu yang tengah berisi seorang janin.
Anggun menjerit tertahan. Adrian tak memberi waktu untuk wanita itu bangkit,, dia lalu menindih tubuh Anggun dengan kasar. Anggun berusaha meronta dengan memukul-mukul keras pada pria itu. Adrian tak perduli dengan perlawanan Anggun padanya,, di sobeknya pakaian yang melekat di tubuh istrinya sehingga terlihat bra putih berenda di dalamnya. Nafas Adrian semakin memburu saat melihat bongkahan indah menantang di depan matanya. Di cumbunya wanita itu dengan liar tak terkendali. Anggun masih bertahan dengan kondisinya yang jelas terlihat sangat lemah di banding pria itu.
"Hentikan Adrian !!! Sadarlah dengan apa yang kau lakukan ini !!!"
__ADS_1
"Kenapa?? Aku suamimu !!! Aku berhak atasmu !!!" Adrian memotong cepat. Dia kembali mencumbu bahkan sesekali menghisap di bagian titik sensitif wanita itu sehingga tubuh putih mulus itu menjiplakkan sebuah karya yang sensual.
"Apakah kau cemburu pada Dion?? Katakan padaku !!! Aku tak mengerti dengan sikapmu ini."
"Memangnya kenapa kalau aku cemburu??" Adrian kini berusaha melepaskan ikatan bra yang menjadi penghalangnya menyentuh benda asing menggiurkan di hadapannya. Dan ya,, meski dengan susah payah karena harus berperang dengan perlawanan Anggun padanya,, nyatanya kemenangan akhirnya ada di tangannya. Kini bagian dada wanita itu sudah terekspos jelas tanpa selapis pelindungpun.
Anggun berusaha menutupi bagian sensitifnya itu yang kini menjadi target Adrian selanjutnya.
"Kau tidak tau apa-apa Adrian. Semua tak seperti yang kau pikirkan." Anggun masih berusaha meyakinkan suaminya yang telah hilang kendali.
"Haahh !!! Memangnya apa yang ku pikirkan?? Kau masih saja mengelak setelah aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri??" Pria itu menggeram dan tanpa menunggu waktu lama di cumbunya kedua bukit Anggun yang merekah. Kondisi kehamilan wanita itu memang semakin membuat padat beberapa bagian tubuhnya terutama bagian yang menyimpan ASI untuk calon anaknya.
Adrian meremas bagian itu dan mulai mendaratkan mulutnya untuk bermain di sana. Tidak !!! Aku harus berbuat sesuatu. Adrian tak boleh melakukan hal ini padaku disaat dia sendiri tak sadar dan terlarut dalam emosi. Anggun berusaha menahan birahinya sendiri yang memang jelas dia tak memungkiri kalau tubuhnya merasakan getaran sensasional akibat sentuhan-sentuhan Adrian.
"Sungguh aku dan Dion tak ada hubungan apa-apa Adrian. Asal kau tau kalau kami hanya bersandiwara untuk membuatmu cemburu." Tiba-tiba ide itu keluar dipikiran Anggun. Dan benar dugaannya. Adrian seperti disadarkan seketika.
"Apa?? Bersandiwara??" Dia menghentikan aksi liarnya. Menatap wanita di bawahnya dengan bingung.
"Ya Adrian. Kami memang sedang bersandiwara. Kalau kau tak percaya,, tanyalah pada Dion." Anggun mengangguk meyakinkan.
Aaarrrggghhhh....aku sedang di permainkan rupanya,, Sial !!! Adrian tiba-tiba merasakan kebodohannya. Bagaimana aku bisa lupa kalau Dion selalu menggunakan tak tik jitu untuk memperdayaiku?? Awas kau Dionnn.....
Anggun merasa lega karena emosi Adrian mulai surut. Dan perlahan-lahan pria itupun turun dari tubuhnya,, lalu duduk di tepi ranjang. Anggun dengan hati-hati memunguti pakaiannya dan mengenakannya kembali dengan cepat.
Adrian meraup wajahnya sendiri dengan kesal. Dia masih merutuki kebodohannya. Dan tak lama kemudian Anggun duduk di sampingnya.
"Maafkan aku." Desis Adrian lirih.
"Jadi katakan,, apa benar kau sedang cemburu??" Kini Anggun meminta penjelasan. Adrian masih tertunduk. Dia enggan memberikan jawaban. Benarkah perasaannya kini kalau dia sedang jealous dengan sahabatnya sendiri?? Apakah itu berarti dia mulai mencintai Anggun?? Entahlah....dia tidak yakin dengan hal itu. Namun jelas dia bisa merasakan emosinya meledak saat melihat Dion dan Anggun begitu mesra. Yahh...tidak tahunya kalau itu cuma akal-akalan sang biang onar.
"Apa kau tak mau memberikan penjelasan apapun padaku??" Anggun membuyarkan lamunan suaminya yang sempat terbang untuk sesaat.
"Aku...." Adrian bingung mau berkata apa. Jelas saat ini dia malu dengan Anggun.
"Baiklah. Aku mengerti. Kau tak perlu menjelaskan apapun. Ehmm...dan soal aku yang tak memberitahumu tentang Dion yang menawarkan tumpangannya padaku......aku minta maaf soal itu."
"Sudahlah. Lupakan soal itu. Aku juga bersalah padamu karena sudah menelantarkanmu. Kalau Bapak dan Ibu tau,, mereka pasti akan marah padaku." Adrian kembali tertunduk. "Sebaiknya aku kembali kekamarku." Adrian cepat-cepat mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Dia bangkit dan keluar dari kamar Anggun begitu saja. Saat Anggun menutup pintu kamarnya,, pria itu sempat menoleh sebentar. Sekali lagi pertanyaan itu muncul. Benarkah aku cemburu??
\==========================