
Anggun sudah meyelesaikan mandinya. Sebelum dia meminta kembali putrinya yang sekarang ada di tangan Dion,, wanita itu masih menyempatkan diri untuk memasak sebentar. Hanya masakan simple. Tumis sawi dan dan daging asap. Dion memang sudah melengkapi lemari esnya dengan berbagai macam sayuran dan bahan makanan lain,, sehingga Anggun mudah saja memperoleh makanan yang ia inginkan setiap saat.
"Sini,, berikan Cinta padaku. Kau pergilah mandi dan makan." Kata Anggun setelah selesai dengan tugasnya. Sepertinya semua aktifitas sekarang ini ia lakukan dengan super kilat. Tau sendiri kalau merawat bayi tak bisa berlama-lama mengerjakan sesuatu. Semua harus cepat.
"Kau sudah makan??" Tanya Dion lalu menyerahkan bayi Cinta pada ibunya.
"Sudah. Dan sekarang....waktunya Cinta yang makan...." Anggun mengusap-usap pelan bibir bayi mungil itu seakan memancing sang bayi untuk menjawab pernyataannya. Dan seperti mengerti apa kata sang ibu,, bayi itupun membuka mulutnya berusaha mencari-cari sesuatu yang bisa ia masukkan kedalam mulut kecilnya. Apa lagi kalau bukan ** susu ibunya.
Setengah jam kemudian,, Anggun sudah selesai menyusui putrinya. Dan kini bayi itupun tertidur dengan nyenyak di dalam box bayinya. Anggun perlahan-lahan keluar dari kamar tersebut. Wanita itu menghampiri Dion yang tengah makan dengan nikmatnya.
"Bagaimana pekerjaanmu di kantor??" Tanya Anggun basa-basi. Dion meneguk minumannya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan wanita di seberang mejanya.
"Baik. Semua lancar." Jawab Dion singkat lalu mengelap mulutnya dengan lap yang tersedia sebagai tanda ia sudah selesai makan.
Anggun mengambil piring kotor di depan Dion dan bermaksud mencucinya. Namun belum sempat wanita itu melangkah pergi,, Dion sudah menghentikan langkahnya dengan memegang tangan wanita itu.
"Katakan padaku Anggun,, apa maksud dari tas-tas itu??" Tanya Dion serius.
Anggun tau maksud dari pembicaraan pria itu. Diapun kemudian mengambil duduk di samping Dion.
"Dion...aku sudah memutuskan,, untuk memberikan Cinta pada ayahnya." Dion tersentak seketika.
"Anggun !!! Apa kau serius??" Tangan Dion mencengkram kuat pundak Anggun dengan pandangan mata yang menyelidik.
Anggun tersenyum dengan lembut sebagai bentuk untuk menenangkan pria yang duduk di sampingnya. Anggun tau reaksi Dion akan seperti ini. Jelas pria itu akan menolak keras. Secara Anggun tau kalau Dion sangat menyayangi putrinya.
"Tenanglah Dion..."
"Bagaimana aku bisa tenang Anggun. Kau membuat keputusan yang begitu tiba-tiba." Dion mendebat.
"Untuk itulah aku membicarakannya denganmu sekarang. Dan ku harap,, kau mendukung keputusanku ini." Anggun mengusap pundak Dion perlahan. Tampak nafas pria itu menderu menahan emosi.
"Kenapa harus aku?? Toh aku juga bukan suamimu. Harusnya kau tanyakan itu pada Adrian." Pria itu melengos.
Anggun tersenyum kecut karenanya. "Adrian pernah mengatakan padaku kalau semua terserah aku." Anggun mengulas lirih. Dion tak memberi komentar apa-apa. Sejenak suasana jadi hening.
"Kau tau aku sangat menyayanginya." Gumam Dion lirih.
"Aku tau ini berat buatmu. Tapi...ini juga yang terbaik Dion."
"Kenapa?? Kenapa kau ingin memberikan Cinta pada pria itu?? Bukankah dia pernah menyakitimu?? Dia bahkan tidak ada saat kau membutuhkannya."
"Aku tau. Tapi...itu semua hanya kesalahan di masa lalu. Aku ingin melupakan semuanya. Dan soal Cinta...." Anggun terdiam sejenak. Sebenarnya hatinya juga bimbang untuk mengambil keputusan ini. Namun Anggun cepat-cepat menghapus keraguan tersebut. "Anak itu juga berhak merasakan kasih sayang ayah kandungnya sendiri. Dan selain itu,, yang terpenting adalah kehadiran Cinta dalam hidup Bagas. Dia pasti sangat mengharapkan kelahirannya."
"Kenapa demikian?? Apakah hanya karena dia tidak bisa menjadi seorang ayah lagi??"
"Hmmm....salah satunya memang karena itu. Aku pikir,, inilah jalan satu-satunya. Aku tidak bisa bersikap egois dengan berusaha memiliki anak itu,, Dion. Bagas juga berhak memilikinya."
Dion hanya diam membeku. Saat ini dia merasa salah satu ruang hatinya terasa kosong. Seperti ada sesuatu yang hilang. Anggun meraih tangan Dion.
__ADS_1
"Percayalah...bukan hanya kau saja yang sedih. Bahkan aku juga akan kesepian saat Cinta pergi."
"Hatimu terlalu mulia Anggun. Aku memang tidak salah mencintai seorang wanita,, meski kenyataan aku memang tidak bisa memilikimu." Anggun tersenyum getir mendengar pernyataan Dion barusan. Ah...seandainya tidak ada Adrian,, Anggun pasti tak akan menolak untuk di cintai pria itu.
"Jadi...kau mendukungku??" Celetuk Anggun berusaha mengubah suasana.
"Hmmm,, apa boleh buat. Kau ibunya. Kau lebih berhak memutuskan." Anggun tersenyum senang karenanya.
"Tapi....aku akan merepotkanmu lagi Dion. Kau tau aku memerlukan bantuanmu soal ini."
"Tentu saja. Kedua tanganku selalu terulur untuk menolongmu."
"Terima kasih Dion...Terima kasih..."
Anggun menggenggam tangan Dion penuh arti. Tak dapat ia ungkapkan rasa terima kasihnya pada pria itu. Bahkan sebuah perkataan saja tidak cukup. Pria itu terlalu baik untuknya. Hmmm....Dion...
Bagas dan Niken segera melajukan mobilnya menuju Surakarta saat itu juga. Setelah mendengar pengakuan Anggun lewat telfon,, mereka tak menunggu waktu lama. Bahkan Bagas sempat membatalkan rapat penting yang akan di hadirinya saat ini.
Berita ini lebih penting dari apapun. Meski kedua pasangan itu tak mengerti kenapa Anggun melahirkan lebih awal dari waktu yang di tentukan,, nyatanya kegembiraan mereka jauh lebih besar dari rasa penasaran itu.
Dan setelah menempuh jarak kurang lebih dua jam lamanya,, merekapun sampai di tempat yang di tuju. Apakah mereka menuju rumah Dion?? Bukan !!! Nyatanya Anggun memilih tempat lain untuk mereka bertemu saat ini. Dan disinilah mereka saat ini berada. Di sebuah cafe dengan sebuah ruang khusus VIP. Dion sengaja memesan ruang itu agar menyamankan Anggun dalam menyelesaikan urusannya.
"Aku tidak percaya kalian datang begitu cepat." Anggun berbasa-basi. Dan kedua orang yang di maksud hanya bisa berpandangan satu sama lain.
"Kami terlalu senang mendengar kabar darimu Anggun." Jawab Bagas apa adanya.
Anggun menerima bayi yang ada dalam gendongan Dion. Pria itu terasa berat untuk melepasnya. Dan Anggun mengerti reaksi dari keberatan Dion. Anggun menganggukkan kepalanya sebagai bentuk keyakinan terhadap keputusan yang sudah ia ambil.
Anggun membelai bayinya dengan lembut. Mengecupnya beberapa kali. Untuk kemudian menyerahkan bayi tersebut pada Niken.
"Tolong....jaga dan rawat dia sebaik mungkin. Aku percaya kalian akan menyayanginya." Niken menerima bayi tersebut dengan suka cita. Wajahnya tak lepas dari senyum lebar yang menguar.
"Tentu kami akan menyayanginya. Jadi...siapa namanya??" Tanya Niken kemudian sambil terus memperhatikan bayinya.
"Cinta." Jawab Anggun pelan tanpa berkedip memandang bayi yang ada dalam gendongan wanita di hadapannya. Matanya mulai terasa panas. Serasa air matanya ingin segera tertumpah.
"Cinta?? Nama yang indah. Kami akan memberikan dia banyak cinta sesuai dengan namanya."
Anggun tersenyum pahit. Hingga detik ini,, dia berusaha untuk tidak mengucurkan air mata. Dan seperti mengerti isi hati ibunya,, bayi Cinta mulai menangis pelan. Anggun cepat-cepat memberikan sebotol susu. Dan Niken dengan cekatan segera meminumkannya sambil menimang-nimang bayi tersebut. Anggun bersyukur karena bayi itu segera berhenti menangis. Niken berusaha menjauhkan diri dari mereka agar keberadaan Cinta tidak terganggu.
"Terima kasih Anggun. Aku tidak tau harus berkata apa padamu. Rupanya kau masih mempercayaiku." Kata Bagas kemudian setelah Niken menjauh dari tempat mereka.
"Jangan berterima kasih. Kau adalah ayahnya. Kau berhak memilikinya. Dan....soal kartu keluarga,, aku sudah mencatatkan namamu sebagai ayahnya dan Niken sebagai ibu kandungnya di surat kelahiran. Dia...sekarang adalah anak kalian." Ucap Anggun dengan suara serak.
Terlihat kalau wanita itu tengah berperang melawan kesedihannya. Entah benar atau salah keputusan yang ia ambil ini,, namun tidak memungkiri kenyataan kalau wanita itu berkali-kali menyalahkan kebodohannya karena mengambil keputusan demikian.
Bagas menggenggam tangan Anggun erat. "Aku akan berusaha sebaik mungkin menjadi ayah untuknya. Kepercayaanmu ini,, tidak akan ku sia-siakan."
__ADS_1
Anggun menarik napas panjang dan berat. Dia menoleh ke arah Dion berada. Memberi kode bahwa sudah saatnya dia pergi. Dan Dion mengangguk mengerti akan maksud wanita itu. "Baiklah,, aku harus segera pergi. Sekali lagi...tolong,, jaga dan sayangi dia."
"Pasti...itu pasti Anggun." Bagas meyakinkan. "Tapi kenapa kau buru-buru?? Dan Adrian....apa dia tidak bersamamu??"
Anggun tak menjawab. Dia hanya menelan ludahnya pahit. "Adrian...sedang sibuk." Jawab Anggun kemudian berbohong. Dan itu sempat membuat Bagas mengerutkan kening sesaat. Dia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Anggun. Tapi pria itu tak ingin menanyakannya saat itu juga. Mungkin nanti...ya...nanti dia akan mencari tau sendiri.
Merekapun berpisah dalam waktu yang singkat. Dion menyerahkan semua perlengkapan bayi Cinta termasuk boneka-boneka yang ia belikan. Tak ada yang tau kalau Anggun melangkah meninggalkan tempat itu dengan setitik air yang mengalir di sudut matanya. Putriku....mama mencintaimu....
Bagas dan Niken ternyata tidak langsung pulang ke Semarang. Mereka ternyata singgah kerumah keluarga Sujono,, orang tua mereka. Jelas Tuan dan Ny Sujono terkejut di buatnya karena kehadiran mereka yang begitu tiba-tiba. Apalagi melihat di tangan Niken sudah tergendong seorang bayi mungil yang cantik.
Pastinya Niken lebih suka menyisihkan diri di kamar yang dulu di tempati Bagas. Wanita itu lebih suka fokus pada bayi yang saat ini menjadi tanggung jawabnya. Setelah selesai membantu merapikan dan membersihkan kamar Bagas,, Ny Sujono bergabung dengan anak dan suaminya di ruang keluarga.
"Ceritakan pada kami le,, apa maksud semua ini?? Bayi siapa yang kalian bawa itu??" Pak Sujono memulai pembicaraan.
Bagas sudah menduga kalau berita Anggun melahirkan adalah di luar sepengetahuan orang tuanya. Dan pastinya kecurigaannya mengenai hubungan Anggun dan Adrian memang akan terbukti. Diantara mereka pasti ada masalah.
"Jadi...sebenarnya...bayi itu adalah....." Bagas tidak langsung menyelesaikan kalimatnya. Membuat kedua orang tuanya menanti dengan perasaan yang cemas. "Dia...adalah bayi Anggun pak..."
Deg.....
Seketika jantung pak Sujono dan istrinya bertalu. Mereka saling berpandangan satu sama lain.
"B...bayi...Anggun?? K..kenapa ada padamu ngger?? Dan bukankah ini masih lama dari waktu kelahirannya?? Dan kenapa kami sampai tidak tau??" Bu Ratih menimpali dengan gugup dan gemetar.
"Ya...bu. Itulah yang saya tidak mengerti. Kenapa bisa demikian?? Melihat dari usia bayi itu lahir,, seharusnya masih dua bulan lagi Anggun melahirkan. Dan bagaimana mungkin bapak dan ibu juga tidak mengetahuinya??"
Mereka terdiam sejenak. Mencoba berpikir dengan jalan pikiran masing-masing.
"Apakah Adrian tidak menghubungi kalian??" Tanya Bagas kemudian.
"Ndak le. Adikmu ndak mengatakan apa-apa. Dia cuma beberapa kali kemari itupun juga sebentar." Jawab sang ibu lagi.
"Apakah dia bersama Anggun??" Tanya Bagas menyelidik. Dan Bu Ratih menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Sudah ku duga. Sesuatu pasti telah terjadi." Gumam Bagas pelan.
"Apa kau mencurigai sesuatu??" Tanya sang ayah tiba-tiba.
"Ehmm...entahlah pak. Hanya sajaaa....aku heran. Anggun menyerahkan bayinya di tempat lain dan bukan di rumahnya sendiri. Dan terlebih lagi,, hanya ada seseorang yang mendampinginya tadi. Dan itu juga bukan Adrian. Tapi pria lain."
"Siapa??" Tanya Tn dan Ny Sujono bersamaan.
"Dion. Bukankah Bapak dan Ibu juga mengenalnya?? Bukankah dia adalah sahabat Adrian??"
Untuk kedua kalinya orang tua itu berpandangan satu sama lain. Dan seperti di sentakkan dari kesadarannya,, pak Sujono kemudian mengambil keputusan.
"Telfon Adrian saat ini juga !!! Dan suruh dia kemari !!! Dia harus menjelaskan semua ini !!!"
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?? Bagaimana nasib Anggun kemudian?? Akankah dia bisa bersama Adrian kembali??
\===========================