Anggun Bidadariku

Anggun Bidadariku
Kebenaran yang terungkap


__ADS_3

Saat ini Dion sedang duduk diteras rumah di temani Adrian. Kedua pria itu tampak asik dengan obrolan kantor mereka dengan sepuntung rokok yang menemani mereka masing-masing.


"Jadi....kapan Kau akan mengakhiri masa lajangmu ini Dion??" Adrian mengubah topik pembicaraan kemudian menyesap sigaretnya.


"Kenapa jadi aku??" Dion memprotes.


"Kenapa?? Memangnya tidak boleh kalau aku mengetahui kapan kau akan menikah??"


"Kau tanya seperti itu padaku,, mana aku tau?? Memangnya aku yang mengatur jodoh manusia??" Dion masih mencoba berkelakar.


"Setidaknya kau sudah punya gambaran,, perempuan seperti apa yang akan kau nikahi nanti. Memangnya....sampai kapan kau akan bermain-main terus dengan wanita-wanita itu??"


Kali ini Dion tak menjawab. Pikirannya menerawang ke langit luas yang di penuhi bintang gemintang. Di sesapnya rokok yang tinggal seutas itu,, untuk kemudian ia buang puntungnya  kesembarang tempat.


"Yang pasti aku akan menikah setelah aku benar-benar menemukan wanita yang sesuai dengan hati dan naluriku. Wanita yang benar-benar bisa membuatku jatuh cinta padanya dan membuatku tergila-gila padanya." Tatapan mata Dion menerawang. "Dia yang tak hanya cantik dari luar,, namun cantik dari dalam hatinya juga. Saat aku menemukan wanita seperti itu,, saat itulah aku akan menambatkan hatiku padanya." Gumamnya kemudian.


"Memangnya dalam kamus hidupmu,, ada wanita yang demikian??" Adrian menyoal.


"Tentu. Aku yakin aku pasti menemukannya. Dia yang tercantik dari yang lain." Desis pria yang selalu bertingkah konyol itu. Tiba-tiba saja sekelebat bayangan muncul di pikirannya. Bayangan wajah perempuan berambut panjang berparas lembut dan ayu sedang mengulas senyum padanya. Anggun.......



Semarang....


Bagas sedang duduk merenung di balkon kamar. Ingatannya kembali menerawang pada kejadian siang tadi saat dia sampai di rumah orang tuanya.


Bagas baru mengetahui semuanya dari Dinda,, adiknya. Dan betapa sangat terkejutnya ia mendengar apa yang di ceritakan Dinda padanya. Hatinya tiba-tiba merasa sakit dan menyesal. Dia benar-benar bersalah dengan apa yang sudah di perbuatnya. Dan karena dialah,, nasib seorang wanita di pertaruhkan dalam kesedihan.


Flash back on


"Kenapa bibi menangis?? Katakan,, apakah Adrian menyakiti Anggun??" Bagas mengguncang tubuh wanita tua itu semakin keras. Dan wanita itu menangis semakin tersedu.


Tiba-tiba terdengar pintu di buka dari depan. Bagas dan bi Inem menoleh bersamaan kearah sosok remaja yang baru saja masuk.


"Mas Bagas?!?!" Ternyata yang datang adalah Dinda,, adik bungsu perempuannya. Gadis itu mendekat ke arah kakaknya.


"Kapan mas datang??" Gadis itu menyalami kakak sulungnya. "Dengan siapa?? Mbak Niken??" Gadis itu lalu menoleh kekanan dan kekiri seperti mencari-cari seseorang.


"S..saya....kebelakang sebentar den,, akan saya siapkan makanan buat den Bagas dan non Ayu." Bi Inem cepat-cepat berlalu dari tempat itu.

__ADS_1


"Dinda..ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu,, ayo ikut aku !!!" Bagas lalu menarik tangan adiknya tanpa sempat gadis itu menyatakan kesediaannya. Pria itu ternyata mengajak Dinda ke kamarnya. Dan setelah menutup pintu,, Bagas menyuruh Dinda duduk di sebuah kursi tunggal kemudian pria itu mendudukkan dirinya sendiri pada kursi dihadapan adiknya.


"Mas...ap...apa...yang ingin mas bicarakan denganku??" Tanya Dinda bingung.


"Dinda,, mas Bagas akan bertanya beberapa hal padamu,, dan mas minta kau mau menjawabnya dengan jujur."


"Ehh...b...baiklah..."


"Sekarang katakan pada mas,, dengan siapa Anggun menikah??"


Dinda terdiam sejenak. Matanya memandang kakaknya dengan pikiran yang tak menentu. Hatinya mulai di selimuti kegelisahan. Apakah kakaknya akan menanyakan tentang keadaan Anggun nantinya??


"Dinda,, ayo jawab pertanyaan mas..."


"Ehh...itu...mbak Anggun,, dia...."


"Katakan,, dia menikah dengan siapa??" Bagas mendesak.


"De...dengan...m...mas...Ad..rian..." jawab Dinda terbata-bata. Bagas memandang adiknya menelusur.


"Ok,, jadi itu benar,, dia menikah dengan Adrian??" Bagas mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jadi sekarang katakan pada mas...bagaimana kehidupan mereka setelah menikah?? Apakah mereka hidup bahagia??" Bagas menelusur lebih jauh.


"Ceritakan pada mas Bagas,,Dinda. Apa yang telah terjadi??"


"Mas....sebenarnya......" Dan gadis itupun bercerita dari awal bagaimana Adrian bisa menikahi Anggun. Tentang pernikahan mereka yang penuh dengan kemelut,, sampai pada saat Adrian pergi meninggalkan rumah. Semua tak tertinggal satupun dari cerita yang di paparkannya.


Bagas tertegun mendengar semua cerita adiknya. Hatinya bergemuruh oleh rasa sesak yang menghimpit. Jauh dalam hatinya menjerit,, menyalahkan atas segala keegoisannya. Ya,, semua karena harta dan jabatan. Andai semua tahu,, kalau menikah dengan Niken sesungguhnya bukan keinginannya. Ada satu hal yang tak mungkin di ceritakannya pada orang lain,, dan hanya dirinya sendiri yang tahu alasannya mengapa dia mengambil jalan itu.


"Sekarang katakan pada Dinda mas,, kenapa mas Bagas tega melakukan hal ini pada mbak Anggun?? Tidak tahukah mas,, kalau mbak Anggun sangat terluka dan sakit karena perbuatan mas ini?" Dinda mulai menuntut.


"Bahkan pernikahannya dengan mas Adrian bukannya bahagia,, justru semakin membuatnya terluka. Apa mas tahu itu??" Gadis itu semakin menekan. Dan Bagas hanya bisa tertunduk dengan perasaan yang kalut. "Andai mas Bagas tau,, kalau sifat mas Rian benar-benar sudah berubah. Bahkan Dinda sendiripun hampir tak mengenalinya. Dia menjadi kasar,, dingin,, pemarah....dan...Dinda tahu,, itu semua karena pernikahan yang di lakukannya dengan terpaksa. Kalau saja mas Bagas tak sebodoh ini,, meninggalkan mbak Anggun dalam keadaan hamil,, pasti semua ini tak akan terjadi." Gadis itu memicing tajam ke arah kakaknya. Ada raut kebencian di wajah dan mata itu.


"Sungguh,, Dinda benar-benar kecewa sama mas Bagas." Dinda lalu beranjak dari duduknya lalu membuka pintu dengan kasar untuk kemudian keluar dari kamar itu meninggalkan Bagas yang masih duduk terpekur dengan kepala yang tertunduk. Diacaknya rambutnya yang sedikit bergelombang dengan frustasi. 


Flash back of


Pria itu masih saja termenung memandang ke langit luas. Entah mengapa langit di kota Semarang malam ini tak seindah malam sebelumnya. Bahkan rembulanpun seakan enggan menampakkan sinarnya.


Di sisi lain,, Niken yang berbaring di ranjang sejak setengah jam yang lalu,, dan meski Bagas sendiri mengira kalau wanita itu sudah terbawa ke alam mimpinya. Namun sayangnya kenyataan berkata lain. Wanita yang tidur dengan posisi memunggungi itu ternyata masih belum memejamkan matanya sama sekali. Dia tahu kalau sejak tadi suaminya berada di balkon kamar dan tengah menyendiri.

__ADS_1


Mata wanita itu berkedip-kedip menatap lampu tidur yang memang masih menyala. Pikirannya sendiri jauh terbang pada kejadian siang tadi di rumah mertuanya. Saat dia sedang asik dengan bunga-bunga di taman,, dan menjumpai segerombol buah jeruk yang kebetulan bergelantuangan di dahannya,, dia berniat menyuruh Bagas memetikkannya. Namun saat wanita itu masuk rumah,, tak ditemuinya pria itu dimana saja. Akhirnya dia mencoba mencari di kamar pribadinya,, dan ternyata dia mendengar suara dua orang yang tengah bercakap-cakap. Tadinya dia ingin pergi dari tempat itu,, namun entah mengapa hati kecilnya berbisik dan mengajaknya untuk mencuri dengar pembicaraan itu.


Dan betapa terkejutnya dia saat mendengar semua isi dari obrolan yang bersifat pribadi itu. Niken hampir saja tak mampu menyangga tubuhnya sendiri yang tiba-tiba terasa lemas di bagian lututnya. Namun sekuat mungkin dia berusaha bertahan sampai pada pembicaraan itu berakhir. Dan dia cepat-cepat berlalu saat mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah pintu.


Hati Niken benar-benar seperti diiris sembilu.  Tak menyangka kalau suaminya mempunyai masalah intern yang dia sendiri bahkan tak mengetahuinya sedikitpun. Ya,, selama ini dia memang tak pernah menanyakan bagaimana masa lalu pria itu. Dia menikahinya karena cinta yang di rasakannya pertama kali saat melihat Bagas di pesta ulang tahunnya saat itu. Dan perasaannya itu ia sampaikan pada sang ayah yang notabennya adalah atasan dari Bagas sendiri.


Dan kini kebenaran itu baru dia ketahui. Apa sekarang yang harus di lakukannya?? Haruskah dia bertanya pada suaminya dan menyuruhnya untuk jujur?? Atau dia tetap berpura-pura tidak tahu tentang semua kebenaran itu?? Pikirannya benar-benar gundah. Dan dua orang suami istri itu bahkan sejak meninggalkan kediaman keluarga Sujono,, memang tak banyak bicara lagi. Semua sibuk dengan pikiran dan kemelut yang hinggap di benak masing-masing.


Kembali ke rumah keluarga Sujono.


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam saat Tn dan Ny Sujono sampai di rumah mereka.


"Apakah hari ini ada tamu yang datang bi??" Tanya Ny Sujono pada bi Inem yang baru membuka pintu untuk mereka.


"A...ada nyonya..." jawab bi Inem gugup.


"Siapa bi??" Tn Sujono menelusur.


 


"I...itu...itu..." Bi Inem nampak gelisah dan enggan menyampaikan hal tersebut.


"Itu siapa bi??" Kini Ny Sujono ganti mendesak. Namun dahi perempuan itu tiba-tiba berkerut saat melihat perubahan wajah  pembantunya yang mendadak memucat. Perempuan itu lalu mendekati bi Inem dan menepuk bahunya pelan guna menghilangkan kegelisahan wanita tua itu. "Katakan siapa bi??" Ujar wanita itu pelan.


"Anu nyonya,, den...den...Bagas dan non Ayu yang datang."


Sontak pandangan Tn Sujono menikam kearah bi Inem dan istrinya.


"Untuk apa anak itu kemari?? Masih berani dia menginjakkan kaki di rumah ini??" Teriak Tn Sujono berang. Matanya sudah berkilat oleh api amarah.


"Tenanglah pak...." Ny Sujono mendekati suaminya dan berusaha meredakan emosi pria paruh baya itu. "Katakan bi,, jam berapa Bagas dan Niken kemari??" Tanya Ny Sujono kemudian mengalihkan pandangannya pada bi Inem kembali.


"Tadi pagi,, sesaat setelah Tuan dan Nyonya pergi." Jawab bi Inem dengan kepala tertunduk.


"Dasar anak tidak tahu malu." Tn Sujono menggeram sambil mengepalkan tangannya. "Apa saja yang di lakukan anak itu disini bi??"


"Tidak ada tuan. Saya hanya menyuruhnya makan dan istirahat. Tadinya mereka mau menunggu anda. Tapi entah mengapa tiba-tiba mereka memutuskan kembali dengan cepat."


"Bersyukurlah anak itu tidak bertemu denganku,, atau aku tidak jamin dia tidak mendapat hukuman dariku." Tn Sujono kemudian berlalu dari ruangan itu dengan langkah seribu. Tubuhnya yang lelah kini semakin bertambah penat seiring dengan kabar yang di terimanya barusan. Tentu saja,, kemarahannya pada putra sulungnya itu masih jelas tergambar di wajah dan hatinya. Dan entah kapan pria itu akan melunakkan hatinya kembali menerima kehadiran sang putra tercinta.

__ADS_1


\===============================


__ADS_2