Anggun Bidadariku

Anggun Bidadariku
Perseteruan


__ADS_3

"Ada apa denganmu Anggun?? Apa ada sesuatu yang terjadi??" Tanya Dion saat mengantar Anggun seperti biasanya. Sejak tadi di perhatikannya wajah ayu itu hanya terdiam. Tak ubahnya langit yang penuh dengan mendung hitam. Seperti itu pula penggambaran ekspresi untuk Anggun saat ini.


"Aku tidak apa-apa Dion." Anggun mendesah halus.


"Kau tak dapat membohongiku cantik..."


"Apa tadi kau bilang?? Kau sedang memujiku atau merayuku??" Anggun tergelak karenanya.


"Bolehkan kalau sekali-kali aku merayu??" Dion menggerak-gerakkan kedua alisnya naik turun dengan diiringi senyum menggoda.


"Ckk...kau ini ya,, benar-benar. Sahabatmu sendiri mau kau rayu. Dasar play boy !!!" Anggun mencubit kecil pinggang Dion dan pria itu menggeliat karenanya.


"Awwww.....sakit Anggun." Pria itu merintih membuat Anggun memutar bola matanya jengah. Sakit?? Dasar ni anak,, lebay sekali.


"Kalau tidak sedang menyetir,, pasti aku buat kau lebih sakit dari ini." Dion hanya menyengir mendengar perkataan Anggun.


"Jadi....masih belum mau cerita kenapa kau tadi nampak resah??"


"Haahh....rupanya Kau mengalihkan pikiranku ya...." Anggun berkilah.


"Aku hanya tak mau melihat kesedihan di wajahmu. Sungguh,, kau tak pantas untuk itu."


"Terima kasih atas perhatianmu padaku." Anggun memberikan senyum tulusnya. Namun sejurus kemudian senyum itupun hilang kembali. "Sebenarnya....aku baru bertemu dengan seseorang."


"Ha?? Siapa??" Dion menoleh sebentar ke arah Anggun.


"Istri dari Bagas."


"What??" Dion mengerem mendadak.


"Hei...kau bisa membunuhku dan bayi dalam kandunganku." Anggun memprotes keras karena keterkejutannya. Untung dia selalu memasang seat beltnya.


"Maaf." Dion meringis sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Anggun hanya mendengus pelan. "Lalu,, apa yang terjadi?? Kalian bertemu dimana?? Apakah dia mengetahui semuanya?? Dia marah padamu??"


"Dion....cukup !!! Tidak bisakah kau bertanya satu persatu??" Sekali lagi Anggun memprotes membuat Dion salah tingkah. "Sudahlah,, lebih baik aku yang cerita. Dan kau cukup mendengarkanku saja."


Anggunpun memulai ceritanya. Mungkin sedikit aneh baginya saat dia berfikir bahwa Dion selalu menjadi tempat tumpuannya berbagi cerita. Namun kenyataan memang berkata kalau pria itu memang sangat nyaman untuknya. Dan memang tak terasa waktu hampir sebulan ia lalui bersama Dion. Mereka kinipun terlihat semakin akrab dan dekat.



Dilain pihak,, Adrian baru saja mendapat kabar dari orang kepercayaannya yang ia bayar untuk mengawasi gerak-gerik Andini,, orang itu mengatakan kalau sesuatu telah terjadi.

__ADS_1


"Apa?? Jadi mereka mau bertunangan?? Brengsek !!!!" Adrian kelihatan menggeram.


"....."


"Baik aku akan segera kesana. Dimana posisi mereka sekarang??"


"....."


"Ok. Terus awasi dia sampai aku datang."


Adrian menutup telponnya dengan kasar. Ada raut ketegangan yang tercetak di wajahnya. Dan dengan cepat di lajukannya mobil Suzuki Ertiga miliknya. Tak memerlukan waktu lama memang,, Adrian pun sampai di tempat yang di tuju. Setelah menemui orang kepercayaannya,, maka dia pun mendekati dimana seorang wanita tengah duduk berdua dengan seorang pria.


Tanpa menunggu persetujuan dari wanita itu,, Adrian mencengkeram pergelangan tangannya lalu menyeretnya untuk berdiri. Wanita yang tak lain adalah Andini itu spontan terkejut mendapat reaksi tiba-tiba itu.


"Apa-apaan kau Adrian?? Lepaskan aku !!!" Andini meronta dan berusaha melepaskan cengkeraman tangan Adrian pada pergelangan tangannya.


"Ikut Aku !!! Aku ingin bicara denganmu !!!" Perintah Adrian tegas.


"Tidak !!!" Andini menolak keras.


"Sekali ini kau harus mendengarkan kata-kataku Andini !!!"


"Kau tak bisa memaksaku. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Dan aku minta lepaskan tanganku idiot !!!!" Andini mengumpat kecil.


"Ciiihhh,, aku omong kosong dengan cintamu itu. Aku benar-benar tak perduli,, karena aku sudah tidak mencintaimu,, jadi aku mohon jangan ganggu hidupku lagi Adrian."


"Lepaskan tangan kekasihku itu,, brengsek !!!" Suara lain tampak menengahi. Niko yang sejak tadi masih berdiam diri kini mulai bertindak. "Lepaskan dia !!" Sekali lagi pria itu memberikan peringatan.


"Hah !!! Siapa kau berani memerintahku??" Adrian mencibir,, menarik salah satu sudut bibirnya.


"Aku adalah kekasih Andini. Dan sebentar lagi kami akan bertunangan. Dan kau tidak berhak menyentuhnya !!!"


"Oh ya?? Jadi kau mulai bisa mengatur. Ciihh,, jangan kau kira aku akan berdiam diri melihatmu mendekati Andini,, bajingan. Aku tau siapa kau sebenarnya. Dan aku akan memberitahukan semua kebusukanmu pada Andini saat ini juga."


Tatapan Adrian kini berpindah pada Andini yang masih dalam genggamannya.


"Asal kau tau Dini,, laki-laki ini tak sebaik yang kau kira. Sungguh dia hanya mempermainkanmu saja. Kau akan tau keburukannya nanti saat dia mencampakkanmu begitu saja." Niko kelihatan menggeram mendengar perkataan Adrian. Tangannya terkepal menahan amarah.


"Sudah cukup kau menjelek-jelekkanku Adrian !!! Aku sudah tidak tahan lagi dengan sikapmu ini." Niko berseru. Tiba-tiba dia meraih kerah baju Adrian dan seketika melayangkan sebuah pukulan tajam ke wajah tampan pria itu. Andini mundur beberapa langkah saat pergelangannya terlepas dari cengkeraman Adrian.


Adrian jatuh terjerembab karena hilang keseimbangan. Dan Niko hampir saja melayangkan satu pukulan lagi pada wajah pria itu sebelum akhirnya Andini mendekat padanya dan melerainya.

__ADS_1


"Cukup Niko !!! Jangan teruskan !! Biarkan dia,, kurasa pukulan itu sudah cukup menyadarkannya." Andini memicing kearah Adrian tang tengah meringis menahan sakit pada bagian mulutnya.


"Aku peringatkan padamu,, jangan coba-coba mendekati Andini sekali lagi,, atau aku tidak segan-segan melaporkanmu pada polisi." Niko menjatuhkan peringatannya sebelum akhirnya dia dan Andini pergi meninggalkan Adrian yang masih terpekur menahan sakit dan amarahnya secara bersamaan. Brengsek !!!!!


×××××××


Anggun terkejut saat menjumpai Adrian pulang lebih cepat dari biasanya. Namun jelas sekali kalau aura kemarahan menguar dari wajah pria itu.


"Cepat siapkan makan malam !!! Aku lapar !!!" Dan Anggun kembali terkejut dibuatnya saat pria itu memberikan perintah itu padanya. Bukan karena apa,, tapi selama ini memang Adrian tidak pernah lagi makan malam di rumah. Dan sudah jelas bisa di pastikan kalau Anggun tak memasakkan sesuatu untuknya. Hanya ada sedikit sisa nasi tadi pagi,, dan itupun juga sudah dimakannya. Anggun terlihat agak bingung.


"Ehmm,, maukah kau menunggu sebentar,, aku akan memasakkan sesuatu untukmu." Dia tiba-tiba teringat pasta yang sudah ia siapkan di lemari es sebelumnya. Ya,, mungkin itu bisa membantunya.


"Apa?? Kau menyuruh aku menunggu?? Tidak taukah kau kalau suamimu ini baru pulang dari kantor dan sedang kelaparan?? Dan kau masih menyuruhku menunggumu memasak?? Apa kerjamu di rumah hah??? " Adrian kelihatan gusar. Heiii,, kau pikir aku menganggur begitu?? Aku juga baru pulang dari sekolahku. Salah siapa pula selama ini kau tak pernah mau makan di rumah.


"Ee...i...itu...kau tau sendiri Adrian,, kau hampir tak pernah makan di rumah,, jadi jelas-jelas aku tak menyiapkan apapun untukmu." Anggun berusaha membela diri meski ada sedikit ketakutan menghinggapinya.


"Dasar wanita tidak becus !!! Kau bahkan tak bisa mengurus suamimu sendiri." Adrian mengumpat. Anggun menggigit bibirnya mendengar seruan tajam itu. Hatinya kembali pedih. Setelah sekian hari dia bisa melupakan sikap dingin dan kasar Adrian padanya,, kini perasaan sakit itu muncul kembali. Pertahanan yang dia bangun dengan munculnya Dion bersamanya sehingga membuat batinnya menjadi kuat,, kini runtuh seketika. Tapi Anggun berusaha untuk tidak menangis. Cukup air matanya mengalir.


"Kenapa kau masih diam di situ?? Cepat siapkan aku makanan sekarang !!!" Adrian membentak sekali lagi.


"B...baiklah...aku akan segera menyiapkanmu makanan." Anggun segera berlalu dari tempat itu. Hatinya bergemuruh tiap kali Adrian meneriakinya dengan kalimat yang kasar.


Anggun membuatkan pasta untuk Adrian dengan cepat. Untungnya dia juga sudah menyiapkan saus siap saji untuk pasta itu. Jadi memang tak memerlukan waktu sampai setengah jam hingga makanan itupun siap. Perempuan itupun tak lupa menyiapkan segelas teh hangat untuk Adrian.


Adrian memakan makanannya tanpa banyak bicara. Kelihatan memang kalau dia sangat kelaparan sampai makanan itupun licin tandas tak bersisa. Setelah meneguk minumannya sampai habis,, diapun bergegas masuk kedalam kamarnya tanpa mengucap satu patah katapun.


Anggun benar-benar tak habis pikir di buatnya. Dengan malas dia lalu membereskan piring dan gelas yang kotor. Dan saat dia selesai membersihkan dapurnya,, wanita itupun berniat kembali ke kamarnya. Hari ini memang terasa melelahkan baginya. Kemunculan isteri Bagas yang tiba-tiba masih belum membuatnya move on. Hanya sekejap dia bisa melupakan rasa gundah dalam hatinya,, dan itu berkat Dion. Namun amarah yang di terimanya dari Adrian kembali menyeretnya ke lingkaran kesedihan itu kembali.


Anggun berjalan gontai menuju kamarnya. Dielusnya perutnya yang mulai membesar. Dan ini hampir memasuki bulan ke enam kehamilannya. Namun tiba-tiba wajahnya berubah ekspresi saat samar-samar di ciumnya bau yang menyengat. Seperti ada sesuatu yang terbakar,,katanya dalam hati.


Anggun mengurungkan niatnya memasuki kamarnya. Kini dia sibuk meyakinkan indera penciumannya. Hidungnya mengendus-endus,, kira-kira dari mana bau itu berasal. Dan saat dia melewati kamar Adrian,, bau itu semakin menyengat. Ya,, tidak salah lagi,, bau itu berasal dari kamar Adrian.


Seketika Anggun menjadi pucat. Berbagai pertanyaan muncul dalam pikirannya. Apa yang telah terjadi?? Sedang apa Adrian di dalam?? Anggun lalu memberanikan diri mengetuk pintu.


"Adrian...apa Kau di dalam??" Tak ada sahutan apapun. "Adrian,, apa kau mendengarku?? Apa yang terjadi?? Kenapa ada bau asap dari kamarmu??" Teriak Anggun lagi dan masih tak ada jawaban dari dalam. Kini wanita itu semakin cemas,, pasalnya bau yang menyengat semakin tajam.


Tidak !!! Aku tak bisa berdiam diri seperti ini. Aku harus masuk ke dalam. Baiklah,, aku akan masuk,, biarlah kalau Adrian akan marah nantinya.


Anggun mencoba membuka pintu,, namun tak berhasil. Ternyata pintu di kunci dari dalam. Dia memutar otak,,ada kunci cadangan yang masih ia simpan. Diapun lalu mengambil kunci itu. Dan syukurlah,, pintu terbuka. Dia mensyukuri keberuntungannya karena Adrian tak menggantungkan kuncinya di dalam sehingga dia pun bisa membukanya dari luar.


Dan betapa terkejutnya dia saat api sudah mulai berkobar membakar hampir setengah kamar itu.

__ADS_1


"Adrian....apa yang terjadi??" Anggun berteriak panik. Namun sungguh pria itu benar-benar aneh. Adrian hanya terpekur disisi pembaringan tanpa perduli kalau si jago merah mulai merayap ke tempat tidurnya. Apa yang sebenarnya terjadi??


\===========================


__ADS_2