
Bagas masih mendekap tubuh Anggun dengan erat. Serasa tak ingin dilepasnya perempuan itu meski sedetikpun. Anggun hanya pasrah saat pria tersebut mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajahnya. Dia tidak memungkiri,, kalau dirinya juga sangat merindukannya.
"Bagas,, kalau kau tau akan seperti ini,, kenapa malam itu kita masih..." Anggun tak melanjutkan kata-katanya.
"Masih melakukan hubungan terlarang itu??" Bagas tersenyum masam. Di tangkupnya wajah wanita itu dengan kedua tangannya. "Maafkan atas perbuatanku saat itu. Aku hanya ingin menyampaikan perasaanku kalau aku benar-benar mencintaimu Anggun. Tak perduli seperti apapun,, kaulah satu-satunya wanita yang selalu ada di hatiku. Ya....hanya Kau seorang." Pria itu mengecup puncak rambut Anggun sekilas.
"Boleh aku bertanya satu hal padamu??" Tanya Anggun kemudian.
"Katakanlah."
"Apakah...apakah...kau masih mencintaiku hingga sekarang??" Wanita itu memandang pria di hadapannya dengan sedikit takut. Entah apa yang di fikirkannya. Mungkin karena hatinya tak mau mendengar kenyataan yang menyakitkan dimana pria itu akan menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang berbeda dengan kehendak hatinya.
Seperti tau apa yang di pikirkan Anggun,, Bagaspun tersenyum lembut. Dia meraih tangan wanita tersebut. Di kecupnya dengan singkat sebelum akhirnya ia berkata,, "Perlukah aku mengatakannya padamu Anggun?? Tidak bisakah kau melihat dari sinar mataku?? Bukankah jawaban itu bisa kau temukan disana."
Anggun menatap Bagas seksama. Matanya menari-nari menelusuri wajah pria di hadapannya.
"Ya. Aku tau. Tapi sekarang apa gunanya perasaan itu?? Saat ini kita seperti di dunia yang berbeda."
"Bukankah sudah ku katakan tadi. Tak perduli seperti apapun,, hanya kaulah satu-satunya wanita yang ada di hatiku." Anggun tersenyum getir. Dia tau kalau pria tersebut mengucapkan hal demikian pasti tak luput dari luka yang menyayat hatinya.
"Tapi kau sudah menikahinya. Niken. Bukankah itu namanya??" Bagas mengangguk pelan. "Berusahalah untuk mencintainya." Anggun menggigit bibirnya pedih. Sungguh dia meneriaki kebodohannya. Menyuruh pria yang sangat ia cintai untuk mencintai wanita lain?? Yakinkah dia tidak cemburu?? Marah?? Dan nyatanya dia berusaha untuk tersenyum meski hatinya menjerit. Benar-benar sangat munafik.
"Aku tak mau membuatmu kecewa,, tapi itulah yang saat ini aku lakukan." Bagas memandang Anggun dengan perasaan bersalah. Namun meski ia tahu kalau kejujuran ini akan menyakiti perasaan Anggun,, dia tetap tak ingin berbohong lagi pada wanita yang di kasihinya itu. "Maaf...aku tau ini akan menyakitimu. Tapi hanya itu yang bisa aku lakukan. Dan satu hal yang perlu kau tau Anggun,, bahwa aku lakukan semua ini demi kita semua. Kau mengerti itu kan??" Anggun mengangguk pelan. Sekali lagi air matanya mengalir. Ada kepedihan disana.
"Jika Tuhan masih memberi satu kesempatan untuk kita lahir kembali suatu saat nanti,, aku berharap akan menghabiskan waktu seumur hidupku denganmu. Tanpa orang lain. Tanpa siapapun yang mengusiknya." Anggun memeluk kembali pria di hadapannya. Air matanya semakin deras tak terkendali. Perempuan itu hanya mampu menumpahkan segala kesedihannya dalam linangan air mata tersebut.
Tiba-tiba dia merasakan ada gerakan dari dalam tubuhnya. Ya,, bayinya bergerak. Anggun melepaskan pelukannya. Bagas memperhatikan Anggun saat wanita itu mengusap perutnya.
Bagas ragu-ragu untuk menyentuh perut wanita itu. Namun Anggun memberikan keyakinan dengan menganggukkan kepalanya bahwa pria itu harus melakukannya. Tangan Bagas gemetar. Namun pria itu mengukuhkan niatnya.
Di elusnya perut Anggun dengan lembut. Tanpa ia sadari,, matanya sudah berkaca-kaca.
"Dia begitu lembut." Bisiknya lirih. Bagas tersenyum sendiri seperti orang tolol. Tiba-tiba saja bayi yang ada di dalam perut Anggun bergerak lagi. Seperti tau apa yang terjadi di dunia luar,, dia merespon apa yang di lakukan Bagas.
"Oh....lihatlah...dia bergerak." Bagas bersorak. "Sayang...ini papa nak. Apa kau mendengar papa??" Bagas bergumam mengajak bicara janin yang masih dalam rahim ibunya. Anggun tersenyum melihat tingkah konyol pria tersebut.
"Sudah berapa bulan Anggun??" Bagas menatap Anggun sekilas.
"Sudah enam bulan."
"Tiga bulan lagi kalau begitu. Dan dia akan ada di dunia." Bagas menggigit bibirnya. Kenyataan bahwa dia tak bisa berada di samping Anggun,, tak bisa mendampingi di masa kehamilannya,, itu jelas sangat mengiris hatinya. "Boleh aku menciumnya??" Bagas meminta izin. Anggun mengangguk lemah.
Dan pria itu mencium perut Anggun dengan lembut. Mengusapnya penuh sayang. Anggun mengarahkan tangannya hendak mengusap rambut Bagas. Namun mengingat kalau di samping pria itu sudah ada wanita lain,, maka dia mengurungkan niatnya.
"Apakah dia sering menyusahkanmu??" Bagas mendongak.
__ADS_1
"Tidak. Dia anak yang kuat." Anggun mengelus perutnya.
"Ehmm....Anggun,, aku ingin mengatakan satu hal padamu." Ujar Bagas kemudian.
"Ya??"
Kedua mata itu berpandangan kembali. Mata Anggun menyusuri wajah pria di hadapannya. Berusaha menebak apa yang ingin di sampaikan pria itu kali ini.
"Sebenarnya ini lebih pada permintaan." Bagas berujar kembali.
"Katakanlah !!"
"Ehmmm.....aku ingin mengasuh anak ini. Bagaimana menurutmu ??" Anggun tersentak seketika. Dia diam seribu bahasa. Namun matanya menyiratkan pertanyaan,, Apakah aku tidak salah dengar?? Apakah Bagas tidak sedang bercanda??
"K...k...kau...."
"Aku serius Anggun. Aku ingin mengasuh dan membesarkannya." Mata pria itu memang menunjukkan keseriusan. Anggun menelan ludah sebelum akhirnya ia menjawab.
"A...aku...tidak bisa menjawab sekarang. Beri waktu aku untuk berfikir." Anggun melempar pandangannya ke arah lain. "Tapi kenapa?? Ehmm,, maksudku bagaimana dengan Niken??" Tanya Anggun hati-hati.
Bagas beringsut dari tempatnya. Pria itu membungkukkan tubuhnya dan bertopang dagu.
"Niken.....dia...tidak bisa hamil."
"A...a...aku...turut sedih mendengarnya." Ungkap wanita itu pelan. Bagas menarik napas panjang.
"Mungkin ini adalah hukuman Tuhan untuk kami." Pria itu menyimpulkan sendiri.
"Apakah kau yakin?? Maksudku,, apakah kalian sudah mencoba memeriksakan pada dokter kandungan??"
"Ya. Dan begitulah hasilnya. Sistem indung telur Niken tidak berfungsi. Dan kata dokter,, tak ada jalan lain."
"Jadi untuk itu kalian kemari??"
"Anggun,, meskipun Niken tidak memiliki masalah dengan kandungannya,, kalau kau mengijinkan,, aku tetap ingin membesarkan anak ini." Bagas menatap kembali Anggun penuh arti. "Aku ingin menebus kesalahanku dengan bertanggung jawab padanya. Jadi aku mohon....pikirkan permintaanku ini."
Untuk sesaat mereka terdiam dalam pikiran masing-masing. Tak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut keduanya selain deru napas mereka yang sudah teratur tak selabil sebelumnya.
Sementara itu.....
Adrian dan Niken yang tengah duduk di bangku kosong halaman rumah....Mereka yang sejak tadi hanya terdiam dalam kebisuan. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Matahari sudah mulai tinggi. Dan sinarnya menerobos lewat celah-celah dedaunan dan menyinari keduanya.
"Aku....tidak tau harus berbuat apa. Aku sungguh malu dengan perbuatan papaku." Niken membuka suara. "Aku tau,, kalian takkan memaafkan kami meskipun kami bersujud di hadapan kalian." Wanita itu tertunduk.
"Jangan cemaskan apapun." Adrian berseru.
__ADS_1
"Apa??"
"Aku bilang jangan cemaskan apapun. Ini adalah jalan yang di pilih oleh kakakku. Jadi sebaiknya....pikirkan saja bagaimana membuatnya bahagia."
"Tapi apa yang di lakukan papaku memang keterlaluan. Dan aku tidak bisa membiarkan semua itu."
"Lalu apa yang mau kau lakukan?? Menghujatnya??" Adrian menatap Niken seksama. "Dengar !!! Aku sarankan,, jangan berbuat apapun. Jangan buat pengorbanan kami semua sia-sia. Camkan itu !!!" Adrian lalu bangkit dan berjalan masuk kembali. Tinggal Niken sendiri yang masih duduk terpekur di bangku tersebut.
Suasana sore itu memang tak seperti biasa. Ada aura tersendiri yang tampak menyelubungi tempat kediaman keluarga Sujono. Pria yang menjadi kepala keluarga tersebut kini sedang duduk di kursi goyang kebesarannya bertemankan sebuah cerutu di tangan kanannya dengan kepala bersandar dan mata yang menerawang ke langit-langit rumah.
Bu Ratih sendiri juga sibuk dengan kain-kain rajutannya. Akhir-akhir ini memang beliau selalu menyibukkan diri dengan kegiatannya itu.
"Apakah sampean ndak kangen sama anak-anak pak??" Tanya sang istri di sela-sela merajutnya. Namun tak ada jawaban dari sang suami selain desahan napasnya yang panjang. "Kalau sampean mau,, kita bisa pergi ke rumah Adrian."
"Kalau kau ingin kesana,, maka pergilah." Potong pak Sujono cepat.
"Kenapa?? Apa sampean ndak kangen sama mereka??" Bu Ratih memandang suaminya seksama. Pria paruh baya itu tak menjawab. Namun meski demikian,, sang istri tau apa yang tersimpan di benak suaminya. Kendatipun pria itu berusaha menutupi semua perasaannya dengan cara apapun,, itu takkan bisa mengingkari kebenaran kalau sesungguhnya dia juga merasakan perasaan yang sama dengan yang di miliki istrinya.
Di saat yang bersamaan,, muncullah Dinda dari dalam biliknya.
"Kamu ndak belajar nduk??" Tanya sang ibu saat melihat putri bungsunya. Gadis yang di tanya tidak buru-buru untuk menjawab pertanyaan ibunya. Dia mendudukkan diri disamping bu Ratih.
"Ndak ada pelajaran bu." Jawab Dinda singkat.
"Lho,, bukannya sebentar lagi kamu ujian??"
"Iya bu. Tapi masih satu bulan lagi. Sekarang lagi di pakai anak kelas tiga yang ujian."
"Jadi sekarang kamu libur??" Gadis itu mengangguk. "Meskipun begitu,, kamu tetap harus belajar Dinda. Jangan bermalas-malasan."
"Iya...iya bu. Nanti Dinda belajar. Lagian ini juga masih sore. Hmmfff...kalau saja ada mas Bagas atau mas Adrian,, mereka pasti bisa ngajarin Dinda." Gadis itu mengeluh sambil menyandarkan kepalanya di pundak ibunya.
"Sampai kapan kamu akan bergantung pada masmu terus Dinda. Kamu juga harus terbiasa tanpa mereka." Pak Sujono tiba-tiba menyahut.
"Iya pak. Dinda tahu. Dinda akan belajar lebih keras lagi supaya bisa seperti mereka." Gadis itu tertunduk.
Sesaat suasana nampak hening. Tak beberapa lama kemudian,, terdengarlah suara bel berbunyi.
"Biar Dinda yang buka." Gadis itu cepat beranjak dari duduknya. Mbok Inem yang datang menghampiri jadi mengurungkan niatnya karena di cegah oleh anak majikannya itu.
Betapa terkejutnya Dinda saat menjumpai siapa sosok yang ada di balik pintu. Dan lebih terkejut lagi saat melihat orang yang ada di belakangnya.
\==========================
__ADS_1