
Semua mata kini tertuju pada Bagas. Pandangan mereka seolah-olah menuntut penjelasan darinya. Untuk beberapa saat Bagas masih terdiam. Mungkin apa yang akan di sampaikannya kali ini akan memberatkan semuanya.
"Jadi...kenapa Kau hanya diam saja mas?? Cepat katakan,, pembelaan apa lagi yang ingin kau sampaikan. Biar kami disini menilai,, apakah selama ini kau memang tidak berniat untuk membuat kekacauan ini." Adrian berseru. Matanya menyorot tajam ke arah kakaknya.
Bagas berjalan beberapa langkah. Pria itu melangkah mendekati Anggun yang sejak tadi diam membisu dalam kebekuan. Dan dia berhenti tepat di hadapan wanita tersebut. Mata mereka beradu pandang. Anggun terkejut saat menyadari arti dari tatapan itu. Sorot mata yang selalu menemaninya sejak dulu dimana mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Jelas disana tidak bisa di elakkan sinar cinta dan kerinduan yang melekat. Kenapa?? Kenapa demikian??
Bagas menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia berkata,,
"Aku melakukan semua ini,, karena aku ingin melindungi kalian semua. Terutama dirimu Anggun." Semua seperti di sentakkan seketika.
"Pak Anggoro tidak hanya mengancam untuk memecatku dari kantor atau akan mempersulitku di luar. Tapi dia juga akan menghancurkan keluargaku." Adrian terbelalak tak percaya. Begitu pula Niken. Ketegangan menyelimuti hati masing-masing.
"Asal kalian tau,, kalau sebelumnya aku sudah menolak dengan jelas lamaran yang di sampaikan beliau padaku. Aku mengatakan yang sejujurnya bahwa aku tidak bisa menikahi putrinya karena aku sendiri sudah memiliki seseorang di hatiku." Bagas menatap Anggun penuh makna. Wanita tiba-tiba merasakan sesak di dadanya. "Aku juga tidak munafik,, kuungkapkan semua perasaan yang ku punyai pada Anggun kepadanya. Dan sepertinya pak Anggoro tidak menerima kenyataan itu."
Bagas berjalan kembali. Langkahnya melewati Anggun yang berdiri terpaku. Dan berhenti tepat di belakangnya.
"Pak Anggoro tentu saja marah karena penolakanku. Dan seperti yang kukatakan,, beliau mengancamku akan memecatku dari pekerjaan. Namun kalau hanya untuk ancaman demikian,, kurasa aku takkan gentar sedikitpun. Dan meskipun beliau mengancam akan mempersulitku di luar,, aku juga tidak takut. Haaahhh !!! Apa kalian pikir aku sebodoh itu?? Kalian yang menganggap aku gila jabatan ataupun harta,, apakah memang demikian sifatku?? Jawab Anggun,, bukankah kita sudah berhubungan lama,, apakah aku memang demikian??"
Anggun membalikkan badan dan menatap Bagas pilu. Matanya memerah. Jelas dia mulai mengerti kemana arah pembicaraan Bagas ini. Dan sepertinya ia tahu kalau alasan yang diambil pria itu bukanlah sekedar main-main.
"Kau tak mampu menjawab??" Bagas membalikkan dirinya dan menatap Anggun seksama. Wanita itu hanya bisa tertunduk. Bagas lalu melayangkan pandangannya berpindah pada adiknya. "Namun nyatanya pak Anggoro tidak berhenti sampai disitu saja. Saat aku bermaksud mengundurkan diri padanya,, beliau memberikan ancamannya sekali lagi. Dia berkata akan menghancurkan keluargaku dan terutama adalah....." pria itu tak meneruskan kalimatnya.
Namun Anggun yang merasa kalimat terakhir itu tertuju padanya,, sudah tak bisa mencegah air matanya lagi.
"Adalah....dirimu Anggun." Ucap Bagas lemah. Anggun terisak pilu. Hatinya sakit serasa di tusuk ribuan jarum. Di seberang sana Niken juga tak dapat mencegah lahar beningnya itu. Dia terduduk di sofa sambil tersedu disana. "Awalnya aku tak percaya. Namun kenyataannya dia membuktikan,, kalau akan menghancurkan kedua sahabatku yakni Rahmat dan Seno. Itu adalah pembuktian pertamanya. Dan benarlah. Ternyata pak Anggoro tidak main-main dengan ancamannya." Dia terdiam sejenak. Pikirannya melayang ke awal dimana dia mendengar kabar bahwa kedua sahabatnya sedang dalam kesulitan besar.
__ADS_1
"Pak Anggoro membuat sebuah trik yang menyatakan bahwa Rahmat tidak bekerja dengan jujur di perusahaannya. Dia di fitnah telah menggelapkan uang perusahaan senilai lima puluh juta. Dan entah bagaimana beliau melakukannya,, namun bukti-bukti memang mengarah pada sahabatku tersebut. Rahmat di ancam hukuman penjara,, dimana dia sendiri sama sekali tak bersalah." Bagas menelan ludahnya pahit.
"Bersamaan dengan itu aku juga mendengar kabar kalau keluarga Seno diambang kehancuran. Perusahaan ayahnya di vonis gulung tikar dalam sekejap. Dan meskipun mereka menjual semua aset kekayaannya,, tidak akan cukup mengganti semua kerugian. Kembali lagi,, ayah Seno diancam hukuman penjara karena hutang yang dimilikinya." Bagas mengepalkan tangannya kuat-kuat. Menahan kemarahan yang sejak tadi melanda jiwanya.
"Lalu bagaimana saat aku mengetahui kalau ancaman orang itu tidak hanya sekedar omong kosong belaka?? Dia ternyata membuktikan semua ucapannya. Dan sebelum aku terlambat,, bukankah aku harus mengambil sebuah keputusan?? Ya...keputusan yang mungkin akan sangat berat bagi kita semua."
Adrian memejamkan matanya. Pukulan besar serasa menghantam dadanya. Tak menyangka kalau alasan mengapa kakaknya mengkhianati keluarganya sedemikian rumitnya.
"Jawab,, pertanyaanku Adrian. Bagaimana kalau seandainya kau dalam posisiku?? Apakah kau akan mengambil tindakan yang sama denganku,, ataukah kau akan menuruti egomu dengan mempertahankan cintamu??" Pertanyaan yang di ajukan Bagas benar-benar menohok batin Adrian. Pria itu hanya bisa menunduk sambil menggigit bibirnya pedih. Dia sadar,, jika seandainya keadaan berbalik pada dirinya,, maka dia pasti akan mengambil tindakan yang sama.
"Aku tau ini sulit untuk kita semua. Tapi aku yakin,, kalau kita bisa bertahan." Bagas beralih kembali pada Anggun yang sejak tadi tak lepas dari isak tangisnya. "Terutama aku tak ingin melihat orang yang Ku cintai menderita." Bagas memandang Anggun dengan tatapan sendu. Ingin sekali di raihnya tubuh wanita itu dan ia bawa kepelukannya. Namun serasa ada sebuah tembok besar yang yang sudah menjadi penghalang diantara keduanya.
"Kenapa kau tak mengatakan yang sebenarnya padaku mas??" Niken berteriak di antara ketegangan itu. "Kalau tau alasannya begitu rumit,, kenapa kau masih menyembunyikannya dariku??" Wanita itu menghujat.
"Karena aku tidak mau kau semakin membenci papamu Niken !!!!" Bagas melayangkan tatapan sengit pada istrinya. "Apakah kau pikir dengan mengetahui hal itu lalu kau akan diam saja?? Aku tau kau pasti akan melakukan tindakan di luar pemikiran jika sampai mengetahui yang sebenarnya. Dan aku tidak menginginkan hal itu terjadi." Niken menepis pandangannya. Dia merasa menyesal dan malu.
"Itulah yang tak ku inginkan Niken. Aku yakin kau akan berkata demikian." Bagas membantah.
"Itu memang jalan yang terbaik untuk menebus dosa-dosa yang telah dilakukan papaku." Niken semakin larut dalam emosinya.
"Lalu apakah kau pikir jalan perceraian adalah pilihan terbaik?? Kau pikir ayahmu akan diam saja melihatku menceraikanmu?? Apakah kau tak berfikir apa yang akan ku alami nantinya kalau itu terjadi?? Oh...tidak,, tepatnya nasib mereka orang-orang yang kucintai. Aku takkan bisa memaafkan diriku sendiri jika sampai hal buruk itu terjadi."
Tiba-tiba Anggun berlari meninggalkan tempat itu. Batinnya sudah tidak kuat mendengar setiap pernyataan yang di lontarkan Bagas. Wanita itu tau kalau orang yang pernah menjadi kekasihnya itu menahan tekanan yang teramat dalam di lubuk hatinya. Dia tahu kalau sesungguhnya pria itu sangat menderita. Dan Anggun tak sanggup lagi mendengar setiap rintihan yang di keluarkan pria tersebut lewat kalimat-kalimatnya.
"Anggun !!!" Bagas mengejar wanita itu.
__ADS_1
"Mas...." Niken hendak melangkah mengikuti suaminya,, namun Adrian menahan langkah wanita itu dengan cepat.
"Biarkan mereka berdua." Kata Adrian.
"Tapi...."
"Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka yang belum selesai. Kita tidak berhak mencampurinya. Sebaiknya kita keluar." Adrian melangkah keluar. Niken masih diam tak bergeming di tempatnya. Pikirannya di selubungi banyak hal yang dia sendiri tak bisa memikirkannya satu persatu. Semua kebenaran yang baru saja di ungkap Bagas seperti bongkahan batu besar yang mendidih ulu hatinya.
Perasaan seperti apa lagi yang akan ia gambarkan?? Marah,, kecewa,, itu jelas terlintas untuk papanya. Dan rasa malu sekaligus merasa bersalah juga tak lepas dari kemelut hatinya. Niken merutuki kesalahannya dimana dia yang tanpa berpikir dua kali menyampaikan keinginannya saat jatuh cinta pada Bagas pertama kalinya. Kalau bukan karena Aku,, semua ini pasti takkan terjadi.
Sementara itu Bagas yang mengejar Anggun sampai kekamarnya.....
Pria itu masuk kedalam ruangan bernuansakan warna putih tulang itu. Tak ada hiasan di dinding kamar tersebut selain foto Anggun saat masih SMA dulu. Bagas menjumpai wanita itu tengah meringkuk di atas pembaringan dengan bersimbah air mata.
Bagas mendekati Anggun pelan-pelan. Pria itu lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya ragu-ragu untuk mengelus rambut wanita itu. Namun dengan teguh,, diapun memberanikan diri untuk menyentuhnya.
"Anggun...." gumam pria itu lembut. Anggun menengadahkan kepalanya. Mata wanita itu benar-benar sudah bengkak karena sejak tadi menangis. Bagas mengusap air yang bercucuran di kedua pipinya.
"Kenapa kau hanya menyimpan sendiri pengorbanan sebesar ini??" Wanita itu masih terisak dalam tangisnya. Bagas tak menjawab. Pria itu hanya memandang wanita di hadapannya dengan sendu. "Kau tidak tau betapa terlukanya aku saat mengetahui kenyataan kau mengkhianatiku. Sungguh itu lebih sakit dari apapun."
Bagas tak bisa menunggu lama. Pria itu memeluk wanita yang sangat di kasihinya itu kedalam pelukannya. Seperti mendapat sambutan,, Anggun lalu menumpahkan air matanya kembali didalam pelukan laki-laki tersebut.
"Kau tau. Aku juga rela mengalami luka apapun. Bahkan aku rela mengorbankan diriku sendiri. Namun tidak dengan berpisah denganmu Anggun. Tidak dengan satu hal itu. Dan perpisahan ini,, benar-benar membuatku terkungkung dalam kematian. Kau sendiri juga tidak tau betapa gilanya aku tanpamu. Berhari-hari aku mencoba melupakan dan menghapus bayanganmu. Dan itu adalah hal tersulit seumur hidup yang pernah ku lakukan. Dan saat aku mendengar kenyataan kau hamil,, rasanya aku ingin dunia berhenti sampai di situ agar aku bisa kembali ke masa lalu sebelum aku menikah dengan Niken. Mengajakmu lari sejauh mungkin dari pak Anggoro dan mengesampingkan nasib orang-orang di sekitarku." Bagas menelan ludahnya kelu. Pria itupun tak sadar juga sudah bersimbah dengan air matanya.
"Tapi aku tau,, kalau kau takkan senang jika aku melakukan hal itu. Karena aku tau sifatmu yang begitu mulia. Kau pasti takkan senang kalau kita bahagia di atas penderitaan orang lain."
__ADS_1
Mendengar semua penuturan Bagas,, Anggun semakin menenggelamkan tangisnya kedada pria tersebut. Mereka berdua tak ubahnya sepasang kekasih yang lama tak bertemu atau dua orang yang saling mencintai namun tak di restui orang tuanya. Menumpahkan semua perasaan yang lama mereka pendam,, bersama mengalirnya air mata yang menjadi saksi bisu keterlukaan yang mereka derita selama ini.
\==========================