Anggun Bidadariku

Anggun Bidadariku
Permintaan Maaf


__ADS_3

Seorang wanita tengah duduk merenung dalam sebuah taksi. Sudah bulat tekadnya untuk menemui orang yang sekarang menjadi tujuannya. Matanya menatap kosong keluar jendela kaca. Pikirannya terbang kembali pada kejadian beberapa saat lalu.


Flash back on


*"**Mas....hari ini aku mau ke rumah eyang putri. Rasanya sudah lama aku tak menjenguknya." Suara wanita itu tak lain adalah Niken Ayu.


"Hmmm,, baiklah. Apa perlu aku menemanimu??" Kata pria di sampingnya yang tak lain adalah Bagas.


"Ti....tidak perlu. Aku bisa kesana sendiri. Aku sudah bukan anak kecil lagi yang harus selalu di temani kemanapun aku pergi." Tolak Niken cepat. "Mungkin aku akan menginap satu malam disana." Imbuhnya kemudian.


"Baiklah,, terserah kamu saja. Ehmmm,, tapi apakah kau sudah menghubungi keluarga sana?? Supaya mereka bisa menjemputmu. Atau sebaiknya pak Rustam mengantarmu saja?? "


"Tidak....itu juga tidak perlu,, aku ingin membuat kejutan pada mereka."


"Hmmm,, ya sudah terserah kamu saja. Dan kapan kau akan kesana??"


"Besok. Setelah mas berangkat ke kantor,, aku juga akan berangkat."*


Flash back of


Niken mendesah panjang. Pandangannya kembali kosong. Dia tidak tau apakah keputusannya ini benar atau tidak. Ya...dia sudah memutuskan akan pergi ke Surakarta dan bukannya ke Bandung. Sejujurnya,, alasan pergi ke rumah eyang putrinya merupakan alasannya saja. Yang sebenarnya saat ini pilihannya sudah jatuh untuk menemui wanita yang ada di masa lalu suaminya,, Anggun Kirana.


Sudah seminggu lebih Niken menyelidiki tentang siapa Anggun sebenarnya. Dengan membayar orang suruhannya,, dia berhasil mengumpulkan informasi itu. Dan kini tujuannya adalah menemui wanita tersebut di sekolah tempat Anggun mengajar.


Niken sudah sampai di tempat yang di tuju tepat pada saat bel pulang sekolah berbunyi. Dilangkahkan kakinya menuju pintu gerbang sekolah bercatkan warna hijau tua itu. Seorang satpam penjaga sekolah datang menghampirinya.


"Maaf,, ada yang bisa saya bantu??" Tanya pria bertubuh tinggi tegap itu.


"Apakah benar kalau Ibu Anggun mengajar disini??"


"Iya benar. Apakah anda ingin bertemu dengannya??" Tanya satpam itu menelusur.


"Benar. Saya adalah kerabatnya. Kebetulan saya tidak tahu tempat tinggal Ibu Anggun yang baru,, jadi saya sengaja mencarinya kemari. Dimana kira-kira saya bisa bertemu dengannya??"


"Ehmm,, saya rasa Ibu Anggun sedang ada di kantor saat ini. Baiklah,, saya akan memanggil kan beliau. Sebaiknya anda menunggu disana." Satpam itu menunjuk sebuah tempat yang merupakan ruang tunggu khusus  untuk tamu.


Niken mengangguk dan melangkah perlahan-lahan menuju ruangan itu.


Sementara itu satpam yang berusaha menyampaikan pesan dari Niken,, sedang sibuk mencari dimana keberadaan Anggun sekarang. Akhirnya setelah bertanya pada seorang guru,, tahulah dia bahwa Anggun saat ini berada di UKS. Kebiasaan yang ia lakukan selesai mengajar. Dia akan menyempatkan diri untuk memejamkan mata meski sesaat. Karena satu jam kemudian ada bimbingan les yang harus ia berikan pada anak didiknya.


Satpam itu mengetuk pintu ruangan yang saat ini di tempati Anggun. Dan perempuan itu nampak terkejut dengan kedatangan satpam sekolah.


"Maaf bu Anggun,, saya mengganggu." Ujar satpam itu merasa tidak enak hati karena sudah mengusik istirahat Anggun.


"Ah...tidak apa-apa pak. Ada apa pak Andi?? Ada yang bisa saya bantu??"


"Hmmm...itu Bu,, ada yang sedang mencari Ibu."


"Mencari saya?? Siapa ya pak??" Anggun mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Tidak tahu bu,, tapi dia mengaku kerabat anda. Dan saat ini dia sedang menunggu di ruang tamu."


"Baiklah pak,, terima kasih atas informasinya. Saya akan segera kesana." Dan satpam itupun berlalu dari tempat itu dengan di ikuti Anggun beberapa saat kemudian. Anggun masih bertanya-tanya dalam hati tentang siapa yang datang menemuinya. Adriankah?? Dion?? Atau mertuanya?? Karena hanya merekalah saat ini yang menjadi kerabat dekatnya. Ah....kenapa dia lupa bertanya pria atau wanitakah tamu itu.


Anggun hampir memasuki ruangan dimana Niken berada. Dan saat kakinya sudah melangkah kedalam ruangan itu,, di lihat nya seorang wanita dengan rambut yang berwarna sedikit pirang sedang duduk membelakanginya.


"Maaf,, apa anda mencari saya??" Anggun menegur pelan. Dan wanita itupun bangkit dari duduknya,, berputar menghadap di mana Anggun berada.


Anggun sedikit terkejut saat melihat wajah perempuan di hadapannya. Wajah yang tak asing baginya. Dia mencoba mengingat dimana dia pernah bertemu sebelumnya.


Sesungguhnya hal serupa pernah dialami oleh Niken saat orang suruhannya memberikan foto Anggun padanya. Dan diapun sama berpikirnya dimana dia pernah melihat sebelumnya.


"Ehmm....anda..."


"Kenalkan,, saya Niken Ayu Widyastuti." Niken mengulurkan tangannya sekaligus tersenyum pada Anggun.


"Anggun. Anggun Kirana Larasati." Anggun membalas uluran tangan wanita itu dan membalas senyumnya. "Ehmm,, sepertinya saya tidak asing dengan anda." Ujar Anggun kemudian setelah mempersilahkan tamunya duduk kembali.


"Anda benar. Kita memang pernah bertemu sebelumnya. Di pasar besar,, anda ingat saya sudah menabrak anda??" Anggun mencoba mengingat kembali kejadian beberapa minggu lalu. Dan kini ingatannya tak menampik lagi kebenaran mengenai ucapan perempuan itu. Ya...dia ingat sekarang. Anggun mengulas senyumnya kembali.


"Ada yang bisa saya bantu??" Tanyanya kemudian.


"Sebelumnya saya akan memberi tahukan kalau sebenarnya saya adalah....." wanita itu nampak ragu mengatakannya. Dia melirik sekilas pada perut Anggun yang sudah nampak membesar. "Saya adalah istri dari Bagas Saktiawan Aji Pramono."


Seketika seperti terdengar bunyi petir menyambar di siang itu. Anggun seperti di hempaskan dari tebing yang amat tinggi. Wajahnyapun mendadak pias seketika. Bukan karena takut,, namun bayangan masa lalu dimana kebahagiaan masih bersamanya sampai akhirnya pria itu meninggalkannya tanpa alasan,, kembali bermunculan secara bertahap. Tubuhnya terasa kaku dan dingin. Seakan hawa panas yang memang merasuk akhir-akhir ini tak dapat mengimbangi kebekuan dirinya yang tiba-tiba muncul.


"Maaf,, bukan maksudku mengusik kehidupanmu." Niken memandang Anggun dengan tatapan sulit di artikan. "Aku kemari,, hanya ingin melihat dan mengenalmu." Lanjutnya tanpa mengalihkan pandangannya.


"Dan sekarang kau sudah tau siapa aku. Ku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi." Anggun hendak berdiri namun dengan cepat Niken berujar kembali.


"Maaf !!!" Serunya tiba-tiba. Dan Anggun mengurungkan niatnya untuk pergi. "Semua karena aku. Sungguh aku tidak tau kalau suamiku akan memiliki masalah serumit ini." Niken tertunduk pilu.


"Seandainya saja aku bertanya padanya terlebih dahulu tentang masa lalunya,, mungkin aku akan berfikir dua kali untuk meminta menikah dengannya." Kini dia menatap kembali wajah Anggun yang diam membeku tanpa sedikitpun berniat untuk berkata.


"Semua berawal dari saat aku melihat mas Bagas hadir dalam pesta ulang tahunku,,dan aku tiba-tiba suka padanya. Tanpa ingin mengetahui tentang siapa dia sebenarnya atau apakah dia punya kekasih atau tidak,, aku langsung menyatakan perasaanku pada ayahku." Suara wanita itu semakin serak.


"Aku tak tahu kalau ternyata ada seorang wanita yang terluka di atas kebahagiaanku." Niken mulai terisak. "Aku benar-benar minta maaf. Aku mohon....maafkan aku."


"Sudahlah. Semua terjadi. Tidak ada yang perlu disesali." Kata Anggun sambil menarik nafas panjang. Matanya berputar-putar mencari ketenangan yang sempat sirna dari dirinya.


"Boleh aku tanya sesuatu??"


"Silahkan."


"Apakah kau dan Bagas...."


"Aku dan Bagas tidak ada hubungan apa-apa lagi. Semua sudah berakhir." Potong Anggun cepat. Kalaupun harus membenci seseorang,, dialah orang yang pertama kali harus aku benci.


"Ehmmm....sebenarnya Aku juga mendegar kalau rumah tanggamu dengan Adrian....juga kurang harmonis." Anggun tiba-tiba melayangkan tatapan tajam pada Niken. Raut tak suka nampak tercetak jelas di wajahnya.

__ADS_1


"Kalau anda sudah selesai,, maka silahkan pergi dari sini." Usir Anggun terang-terangan. "Dan kurasa waktu saya juga sudah habis,, saya harus segera mulai mengajar kembali." Kali ini Anggun benar-benar hendak pergi.


"Meski aku datang kesini untuk minta maaf,, bukan berarti aku akan melepaskan Bagas. Karena kita menikah bukannya untuk bercerai." Niken berseru kembali sebelum sempat Anggun melangkahkan kakinya pergi.


Anggun menoleh dan menatap kembali wanita yang kini sudah bangkit dari duduknya. "Maaf,, saya tidak tertarik untuk merebut kekasih orang apalagi suami seseorang." Anggun menikam dengan kata-katanya terakhir kali. Dan kali ini dia benar-benar berlalu dari hadapan Niken.


Niken menatap kepergian Anggun dengan hati yang bergemuruh. Jelas kata-kata Anggun barusan seperti menusuk relung hatinya. Meski sebenarnya Anggun tak bermaksud menujukan kata-kata itu padanya,, namun kenyataan kalau wanita itu jelas-jelas merasa tersindir. Niken tak sadar kalau dia mengepalkan tangannya sendiri pertanda dia menahan amarah yang entah pada siapa dia menujukannya.


×××××××


Bel pintu rumah berbunyi sudah lebih dari sekali,, namun tak ada tanda-tanda seseorang akan membukakan pintu. Dan saat bel berbunyi untuk yang ke empat kalinya,, tiba-tiba pintupun terbuka.


"Niken...." suara lembut yang berasal dari Ny Sujono. Perempuan itu nampak terkejut melihat kedatangan menantunya. "Ayo...masuklah nduk..." tambahnya kemudian mempersilahkan.


Niken hanya mengangguk pelan dan mengikuti apa yang di perintahkan ibu mertuanya. Dan sebelumnya dia masih menyempatkan diri menyalami perempuan paruh baya itu sebelum akhirnya ia mendudukkan tubuhnya di kursi ruang tamu.


"Apa kau sendirian ngger??" Tanya bu Ratih lagi. "Suamimu kemana??"


"Saya kesini ada tujuan lain bu." Jawab Niken tanpa menghiraukan pertanyaan mertuanya. Dan nampaknya bu Ratih bingung dengan maksud dari kata-kata menantunya. "Saya kemari untuk menemui seseorang."


"Ehmm,, apa maksudmu Niken,, ibu masih ndak ngerti."


"Anggun. Ibu pasti tau nama itu kan??" Kini Niken menatap ibu mertuanya dengan berani. Dan tampak olehnya kalau wanita paruh baya itu sangat terkejut dengan ucapan menantunya barusan.


"Saya tidak mau menyembunyikan apapun. Saya datang kesini memang jelas-jelas ingin bertemu dengan Anggun. Wanita yang pernah hidup di masa lalu mas Bagas." Ucap Niken lagi terang-terangan. Bu Ratih nampak gemetar seketika.


"Kenapa ibu terlihat takut?? Apa ibu takut saya akan mengetahui kebenarannya??" Bu Ratih tercengang kali ini. Namun mulutnya seperti terkunci. Tak mampu berbicara satu patah katapun. "Dan sayangnya....saya memang sudah mengetahui semuanya. Semua rahasia yang di sembunyikan keluarga ini dariku."


"Niken....ibu minta maaf karena kami tak mampu memberitahukannya secara langsung padamu nak." Kata Bu Ratih dengan suara sumbang.


"Tidak perlu bu. Dan lagi pula semua sudah terjadi. Saya hanya merasa tidak enak,, kalau ternyata karena saya ada pihak lain yang di rugikan. Saya hanya tidak mengerti,, bagaimana bisa kalian memberikan ijin mas Bagas menikahi saya sedang wanita itu dalam posisi mengandung anaknya." Kata-kata itu jelas-jelas menohok ulu hati Bu Ratih.


Tiba-tiba terdengar suara menggelegar  dari dalam ruangan.


"Itu semua ulah suamimu sendiri Niken." Suara bariton pak Sujono. Nampaknya beliau mendengar semua pembicaraan menantu dan mertua itu. "Kalau kau mau menghujat,, maka hujatlah suamimu dulu. Disini,, jelas-jelas dia yang sudah bersalah. Kami semua hanya korban olehnya."


Niken terdiam mendengar penuturan bapak mertuanya.


"Apakah kau sudah menemui Anggun??" Telusur pria itu kemudian sambil menghisap cerutu panjangnya.


"Ya. Saya baru saja dari sana." Jawab Niken jujur.


"Nduk....kalian tidak bertengkar,, kan??" Tanya bu Ratih cemas.


"Ibu tidak perlu cemas. Saya kesana hanya untuk minta maaf. Ya...meski saya bisa melihat ada luka dalam dirinya saat saya memberitahukan siapa saya sebenarnya. Tapi kalian tak perlu khawatir,, kami bisa menjaga emosi masing-masing." Ah....memang benar. Yang sebenarnya adalah,, Niken sejak awal memang sudah meredam emosinya. Datang menemui mantan kekasih suaminya tanpa perasaan apapun?? Itu jelas-jelas mustahil. Ada rasa cemburu,, marah,, benci,, sedih,, kecewa....semua bercampur jadi satu.


Dan kini setelah dia menuntaskan urusannya dengan Anggun,, satu orang lagi yang harus dia hakimi. Tak salah lagi,, suaminyalah yang akan mendapat giliran selanjutnya. Memang benar kata bapak mertuanya,, kalau Bagaslah yang pantas ia hujat untuk semua permasalahan ini.


\===========================

__ADS_1


__ADS_2