ANOTHER LIFE ADELA

ANOTHER LIFE ADELA
Berlebihan


__ADS_3

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Irwan sudah datang kembali ke rumah yang sebelumnya pernah di tinggalinya bersama Adel, sepertinya semalaman Irwan tidak bisa tidur nyenyak akibat terpaksa harus meninggalkan Adel, sehingga pagi-pagi buta seperti ini dia sudah datang kembali ke rumah itu, entah alasan apa yang dia katakan pada Linda untuk mendapat izin keluar dari rumahnya pagi ini.


"Biar aku saja mbok." Kata Irwan menghentikan Mbok Yum yang akan menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga untuk Adel.


"Eh, maksudnya gimana tuan?" Tanya Mbok Yum kebingungan saat Irwan yang tidak pernah menginjakkan kakinya di dapur selama ini tiba-tiba saja mengambil alih area dapur dan mulai meracik serta menyiapkan bahan makanan yang akan dia olah untuk di sajikan spesial buat Adel, dia ingin mulai mengambil hati istrinya, dan ini akan di mulai dari memberikannya sarapan hasil dari masakannya sendiri, Irwan yakin jika Adel pasti akan tersentuh dengannya kali ini, walaupun dia tidak banyak tahu mengenai hal masak memasak, tapi dia akan mengusahakan sebisanya, 'namanya juga usaha!' batinnya.


Sementara Mbok Yum merasa semakin bingung karena seisi rumah ini menjadi aneh, Adel yang biasanya pagi buta sudah bangun dan mengerjakan semua pekerjaan rumah mulai dari memasak dan lain sebagainya, namun semenjak sadar dari komanya, Adel selalu bangun siang, dan dia juga seperti kehilangan keahliannya dalam memasak dan mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan rumah.


Tentu saja, selama ini Adela tidak pernah menyentuh pekerjaan rumah karena semua itu asisten rumah tangga di rumahnya yang mengerjakan, sebagai anak semata wayang, sejak kecil dia terbiasa di layani dan di manjakan oleh kedua orang tuanya dan tidak di perbolehkan mengerjakan pekerjaan apapun di rumah.


Selesai membuat sarapan seadanya untuk Adel, Irwan labgsung menuju ke kamar nya di lantai atas, karena Adel tidak kunjung turun, dia juga merasa sedikit aneh karena biasanya Adel selalu bangun jauh sebelum dirinya terbangun, biasanya Adel lah yang membangunkan dirinya saat semua sudah siap, mulai dari sarapan, air hangat untuk mandi dan menyiapkan baju yang akan di kenakan nya untuk berangkat ke kantor.

__ADS_1


Mata Irwan terbelalak saat melihat Adel masih terlelap di atas kasurnya, bukan karena istrinya yang masih tidur walau hari sudah menjelang siang, namun karena baju tidur menerawang yang Adel kenakan kini tersingkap sehingga memperlihatkan paha mulusnya, sebelumnya hal itu merupakan hal biasa dan tidak pernah menyita perhatian Irwan sambil menelan salivanya sendiri seperti sekarang ini, entah apa yang menghalangi matanya selama ini sehingga hal-hal indah dari diri Adel baru saat ini dia temukan dan sadari.


Irwan berjalan mendekat ke pinggir ranjang di mana Adel masih terpejam di atasnya, matanya fokus memperhatikan wajah cantik istrinya, ada segimpal rasa penyesalan di dadanya saat mengingat dirinya sudah menghianati istri cantiknya itu.


Betapa kini Irwan merasa kalau dirinya pria yang tidak tau bersyukur, mempunyai istri se cantik ini masih saja berselingkuh, namun menyesal pun kini sudah tidak berguna, apalagi kenyataannya dirinya sudah menikahi selingkuhannya itu dan menorehkan luka yang teramat dalam pada istrinya itu.


Tangan kanannya terulur dan menempelkan punggung tangannya di pelipis Adel, memastikan kalau istrinya itu tidak sedang sakit, karena selama ini tidak biasanya Adel yang dia kenal tidur sampai menjelang siang seperti ini.


Merasa ada pergerakan dan sentuhan di wajahnya, Adela langsung terbangun, kali ini dia merasa sangat kaget karena Irwan tiba-tiba ada di hadapannya, dia belum terbiasa dan nyawanya belum sepenuhnya terkumpul, sehingga dia spontan menghempaskan ranganIrwan dari dahinya.


"Tapi bukankah ini masih kamar ku juga? Kenapa aku tidak boleh masuk ke sini untuk menemui mu?" Kata Irwan bingung dengan sikap istrinya yang seolah-olah memperlakukan dirinya bagai orang asing di rumahnya sendiri.

__ADS_1


"Ah maaf, aku kaget karena tiba-tiba tangan mu di dahi ku, mungkin tadi nyawa ku belum kumpul semua," kelit Adel.


"Aku hanya memastikan kalau kamu baik-baik saja dan tidak sakit, karena tidak biasanya kamu bangun se-siang ini." Ujar Irwan.


"Emh, aku--aku tidak bisa tidur semalaman, jadi baru tertidur subuh tadi." Adela beralasan, padahal bangun siang sudah menjadi kebiasaannya setiap hari di kehidupannya yang dulu.


"Pasti kamu merasa sangat kecewa dan terluka karena aku harus pergi semalam, maafkan aku, itu semua terpaksa, sebenarnya aku juga tidak ingin pergi semalam, tapi demi untuk kebaikan semuanya, aku harus pergi. Tenang saja, aku akan punya banyak waktu untuk mu mulai sekarang." Kata Irwan yang mengira jika Adel memikirkan dirinya semalaman seperti hal nya dirinya memikirkan Adel semalaman sampai tidak bisa tertidur barang sekejap pun, dan alhasil dia langsung datang ke rumah ini pagi buat ini.


"Aku baik-baik saja, tidak usah lebay!" ujar Adel merasa jijik dan mual karena pagi-pagi sudah mendapat gombalan dari pria buaya seperti Irwan.


"Hah, lebay? Apa itu?" TanyabIrwan yang mulai menyadari banyak istilah-istilah aneh yang Adel ucapkan dalam pembicaraan itu terasa asing di telinga Irwan.

__ADS_1


(Iya lah asing, orang itu istilah-istilah yang Adela bawa dari masa depan, Irwan yang belum pernah hidup di masa itu, mana dia tahu bahasa gaul di dua puluh empat tahun yang akan datang)


"Ah, maksud ku-- tidak usah berlebihan, aku baik-baik saja, dan aku juga tidak bisa tidur bukan karena memikirkan mu, tidak usah ge-er deh!" Adela memutar bola matanya malas, pagi-pagi dia sudah di buat kesal denga sikap percaya diri Irwan yang menurutnya sangat berlebihan itu.


__ADS_2