
Kasak kusuk gosip di kantor mengenai hubungan Dito dengan Adela yang kini secara tiba-tiba menjadi asisten pribadinya yang bahkan tanpa melewati tes apapun semakin santer, terlebih beberapa hari ini Dito dan Adela berangkat dan pulang kantor bersama, tentu saja itu semakin menguatkan jika mereka benar-benar sepasang kekasih selain sebagai rekan kerja di kantor.
"Maaf Del, untuk arsip data kepegawaian, aku minta data diri mu, karena aku tidak menemukan cv mu di komputer maupu di rak dokumen data pegawai." Kata Desi yang menghampiri Adela di kantin saat jam istirahat siang itu.
Desi yang merupakan kepala HRD di perusahan itu memang sengaja meminta itu untuk menunjukkan pada semua orang di sana jika benar adanya wanita itu masuk ke perusahaan lewat jalur 'dapur'.
Meskipun memang hal-hal berbau nepotisme pada era itu termasuk hal yang biasa dan lumrah terjadi, namun orang-orang seperti Desi yang mempunyai penyakit iri pasti selalu saj ada di setiap perusahaan atau di mana pun, sehingga dia mencari-cari kesalahan dan sengaja ingin mempermalukan Adela di depan orang-orang yang kebetulan siang itu sedang memenuhi kantin karyawan untuk makan siang.
Selain itu Desi juga memang sedari awal terang-terangan menunjukkan rasa ketertarikannya pada Dito, hampir semua orang di kantor tau dan setiap karyawati yang ketahuan menyukai Dito, maka Desi akan memusuhinya, bahkan dengan jabatannya yang lumayan penting di perusahaan, membuatnya lebih leluasa untuk menindas wanita yang menjadi saingannya untuk mendapatkan Dito.
Namun kali ini sepertinya Desi mendapatkan lawan yang seimbang, selain jabatan Adela juga bukan sembarangan, yaitu asisten Dito yang tentu saja itu berarti bisa di katakan jabatan Adela lebih tinggi darinya, sehingga Desi harus bermain aman, menyerang secara sembunyi-sembunyi atau bergerilya.
"CV ku? Aku sudah memberikannya langsung pada si bos, kalau kamu memang membutuhkannya, minta saja langsung padanya." Bohong Adela yang memang tidak pernah memberikan cv atau apapun untuk bekerja di sana, hanya saja dia tahu jika Desi saat ini memang sedang mencari-cari masalah dengan dirinya, atau sedang sengaja mencari-cari kesalahannya saja.
"Oh, begitu. Apa tidak bisa kamu yang memintakannya pada pak Dito?" Ujar Desi sedikit kesal karena Adela sengaja berlindung di balik nama bos besarnya, dengan begitu tentu saja dia tidak akan mungkin berani menanyakan hal itu pada Dito, padahal Desi sangat yakin jika Adela tidak pernah memberikan cvnya pada Dito seperti yang d akuinya.
"Aku memberi mu kesempatan untuk bertemu dengannya, bukan kah kau selalu mencari-cari alasan untuk bertemu dan berbicara dengan si bos?" Cengir Adela seraya mengejek Desi yang langsung mengatupkan bibirnya tidak mampu lagi melawan ucapan Adela yang memang merupakan sebuah kenyataan itu. Betapa Desi berusaha mati-matian mencari celah untuk mendekati Dito, namun Dito tidak pernah sekalipun menanggapinya sama sekali.
__ADS_1
Desi menghentakan kakinya dengan kesal dan meninggalkan Adela yang tersenyum puas melihat tingkah kesal Desi yang awalnya berniat mempermalukan Adela di depan banyak orang, namun ternyata malah senjata makan tuan, alias dirinya sendiri yang di permalukan di depan para karyawan yang langsung saling berbisik-bisik membicarakan dirinya, bahkan beberapa yang pernah berseteru dengannya melemparkan tatapan mengejek dan menertawakannya dengan puas, sehingga membuat hati Desi semakin di penuhi rasa benci dan marah pada Adela, karyawan baru yang telah dengan songongnya melawan sekaligus mempermalukan dirinya.
Andai saja jabatan Adela bukan asisten Dito, mungkin saat ini dia akan langsung menindasnya dan mencecarnya sampai habis, namun apa mau di kata, dia hanya bisa memendam kesal dan marah saat ini.
"Lihat saja,, aku pasti akan membalas mu!" Gumam Desi sambil berlalu, dia bersumpah akan membalas perlakuan Adela padanya berkali-kali lipat dari apa yang telah Adela lakukan padanya sekarang ini.
**
Sore ini Adela pulang sendiri, karena Dito sedang pergi ke luar kota untuk mengurus beberapa pekerjaan, sementara pekerjaan di sini Dito serahkan sepenuhnya pada Adela.
Adela yang memang mempunyai basic pendidikan manajemen selama ini selalu dengan mudah membantu pekerjaan Dito, dia juga termasuk orang yang gampang memahami dan mempelajari sesuatu, sehingga membuat Dito dengan mudahnya mempercayakan pekerjaannya pada Adela yang di nilainya cukup berkompeten untuk menghandle semua itu.
"Wah, kebetulan sekali bertemu di sini, suami ku mencari mu kemana-mana utuk memberikan surat panggilan sidang perceraian untuk mu, apa kau sengaja menghilang agar perceraian kalian terhambat? Dan berharap kalian bisa rujuk lagi?" Maki Linda yang tiba-tiba saja muncul di hadapan Adela yang sedang asik memilih sayuran.
"Kenapa aku harus sembunyi? Aku tidak pernah kemana-mana, bisa aja itu hanya akal-akalan suami mu yang mencari alasan agar bisa tetap mempertahankan status pernikahan kami, dan kalian tidak bisa menikah secara resmi!" Ejek Adela santai.
"Jangan asal bicara, lagi pula kakak ku tidak mungkin melakukan hal itu, kau terlalu percaya diri, memangnya kau siapa?" Riska yang saat itu menemani Linda ikut merasa geram akibat ucapan mantan kakak iparnya yang terkesan menjelek-jelekan abangnya dan seperti ingin mengadu domba antara Linda dan Irwan.
__ADS_1
"Tentu saja aku sangat percaya diri, terlebih aku juga bisa mendapatkan sesuatu yang selama ini tidk bisa kamu dapatkan, adik kecil!" Adela menyeringai tat kala mengingat bagaimana berseri-serinya wajah Riska di malam ulang tahun nya itu saat tahu Dito datang ke acaranya, belum lagi Sari yang sangat berharap putri bungsunya berjodoh dengan salah satu trah keturunan keluarga Wijaya yang hartanya tak habis tujuh turunan itu.
Adela tidak membayangkan bagaimana reaksi Irwan dan keluaganya jika sampai suatu hari mereka tahu jika kini dirinya dekat bahkan satu rumah dengan Dito, terlebih reaksi Riska dan Sari.
"Apa maksud mu?" Tanya Riska tak mengerti maksud perkataan Adela.
"Aku sedang tidak ingin memberi tahunya pada mu sekarang ini, tunggu saja waktunya!" Adela mengedipkan sebelah matanya pada Riska yang memutar bola matanya jengah melihat tingkah mantan kakak iparnya yang benar-benar berbeda dari sifat mantan kakak iparnya yang dulu yang hanya bisa terdiam dan tak pernah melawan meski di perlakukan seburuk apapu olehnya.
"Dan kau! jika suami mu benar ingin bercerai dengan ku, bukankah dia bisa menggunakan kekuasaaannya dan juga kekuasaan ayah mu yang pasti mempunyai kenalan petinggi yang dapat mengurus hal remeh seperti ini, bukannya di jaman ini asal ada uang dan kekuasaan semua bisa beres? Jangan-jangan suami mu memang hanya mencari-cari alasan saja, atau suami mu dan ayah mu tidak se- hebat yang aku pikirkan sehingga tidak mampu mengatasi hal remeh seperti ini?" Sambung Adela yang kini giliran menyerang Linda yang bahkan tak mampu berkata-kata melawan Adela.
Baru saja Linda ingin membuka mulutnya untuk membalas perkataan Adela, namun Adela sudah kembali mendahului nya,
"Hubungi aku di nomor ini jika akta cerainya sudah berhasil di dapat, tunjukkan jika kalian mampu mengurusnya, aku tidak ada waktu mengurus hal tidak penting seperti itu!"
Adela menyodorkan selembar kartu namanya yang beberapa hari lalu di buatkan oleh Dito.
Linda dan Riska langsung melihat kartu nama yang hanya berisi informasi nama dan nomor telepon Adela saja tanpa ada informasi lainnya seperti tempat kerja dan lainnya, membuat Linda dan Riska semakin penasaran, terlebih pakaian yang Adela pakai saat ini juga terlihat seperti pakaian kantoran yang harganya tidak murah, semakin membuat mereka bertanya-tanya dari mana Adela mendapatkan semua itu.
__ADS_1
Belum habis rasa penasaran mereka berdua, kali ini mereka semakin di kejutkan karena ternyata Adela pergi meninggalkan dengan mengendarai sebuah mobil mewah.
"Sejak kapan dia bisa menyetir?" Cicit Riska dengan mulut yang melongo lebar melihat perubahan mantan kakak iparnya yang sangat drastis itu.