
Adela merasa sangat risih karena seharian ini Irwan terus menempelinya di rumah, pria itu bahkan menolak saat Adel menyuruhnya untuk berangkat ke kantor. 'Benar-benar menyebalkan!' batin Adela.
Melihat hal itu, di kepala Adela sekilas terbersit untuk memanfaatkan situasi.
"Mas, aku mau jalan-jalan, kamu mau ikut atau menunggu di rumah saja?" Tanya Adela berbasa-basi, karena sebenarnya dia sudah tau jawaban apa yang akan di berikan Irwan, pria itu pastilah akan memilih membuntuti dirinya kemana pun dia pergi. Tentu saja hal ini akan menjadi kesempatan emas bagi Adela untuk menguras habis isi dompet pria yang tengah tergila-gila padanya itu. Lumayan ye kan, shopping gratisan, siapa yang bisa nolak.
"Aku temani kamu kemana pun kamu mau, hari ini aku free, aku sudah menyuruh sekretaris ku untuk meng-handle semua pekerjaan ku untuk dia kerjakan." Kata Irwan dengan semangat 45 nya.
Ini adalah kali pertama bagi Irwan mengajak istrinya jalan berdua, Adel yang dulu tidak pernah menyukai hal-hal seperti ini, 'pemborosan!' katanya 'lebih baik uang nya mas tabung saja.' Dua kata itu yang biasanya terlontar dari bibir Adel jika Irwan mengajaknya jalan-jalan atau menyuruhnya untuk membeli pakaian, sehingga akhirnya dia tidak pernah lagi mengajak istrinya itu, lagi pula ada Linda yang selalu siap dan dengan bahagianya jika dia ajak shopping atau sekedar berjalan-jalan untuk melepas penat setelah seharian bergelut dengan pekerjaan di Kantor.
**
Hari ini Riska merayakan ulang tahunnya yang ke 20, adik dari Irwan itu mengadakan acara di sebuah hotel dengan mewah, dia mengundang teman-teman kampus dan juga semua keluarga besarnya termasuk Linda, kecuali hanya Adela saja yang seolah di lupakan dan sengaja tidak di libatkan maupun tidak di undang dalam acara itu.
Sementara Irwan pun tidak bisa berbuat apa-apa karena seluruh biaya pesta di handle oleh Linda memakai uang pribadinya sendiri, sebagai pemimpin sebuah perusahaan yang lumayan besar, sebenarnya Irwan juga tentu saja mampu membiayai pesta ulang tahun adiknya itu, hanya saja Linda ingin menunjukkan diri pada keluarga suaminya kalau dirinya mampu.
Irwan sempat menyarankan untuk mengundang Adel dalam acara ini, namun hampir semua orang menentang nya, sehingga dari pada nantinya juga akan malah terjadi keributan dan mengakibatkan Adel di bully oleh keluarganya, menurutnya ketidak hadiran Adel saat ini akan lebih baik.
__ADS_1
"Ssst,,, tamu spesial mu sudah datang tuh!" Bisik Linda pada Riska yang langsung memerah wajahnya karena malu.
"Hai Dito, apa kabar, kapan datang dari ibukota?" Sapa Irwan yang kini berdiri di apit Linda dan Riska.
"Kalian?" Telunjuk pria yang di panggil Irwan dengan nama Dito itu menunjuk Irwan dan Linda secara bergantian.
"Iya dong, kami udah menikah!" Sambar Linda memamerkan cincin pernikahannya dengan Irwan.
Dito merupakan teman sekolah Irwan dan Linda semasa SMU, hanya saja, pria itu lantas melanjutkan kuliahnya di ibukota, dan hanya pulang sesekali, bahkan setelah bekerja di sana, pria itu tidak pernah pulang sama sekali, sehingga tidak tau jika setahun yang lalu Irwan sudah menikah dan kemudian menikah untuk ke dua kalinya dengan Linda baru-baru ini.
Lagi pula pernikahan Irwan dan Adel memang diadakan secara sangat sederhana, hanya ijab kabul di KUA saja tanpa pesta atau perayaan apapun, sehingga pantas saja jika banyak teman atau kerabat mereka yang tidak mengetahui pernikahan Irwan dan Adel.
"Wah, selamat buat kalian, selamat ulang tahun juga buat kamu." Ujar Dito sembari memberikan senyumannya pada Riska yang sepertinya hampir saja pingsan hanya di beri senyuman oleh pria yang di sukainya secara diam-diam selama ini.
"Eh,,, nak Dito, tambah ganteng saja, makin sukses aja nih, denger-denger buka cabang showroom di sini ya sekarang?" Sari langsung menyerobot ikut andil suara di sana.
Riska memang sering curhat padanya kalau putrinya itu menyukai Dito, mendengar itu, tentu saja Sari mendukung pilihan putrinya seribu persen, siapa yang tidak mau mempunyai menantu kaya-raya pemilik showroom mobil tekenal di tanah air yang cabangnya sudah di mana-mana, apapun akan Sari lakukan demi mendapatkan Dito sebagai menantunya.
__ADS_1
"Ah, tante bisa saja, saya hanya membantu ayah saja, kok." Ujar Dito merendah.
"Calon mantu idaman nih, rajin bekerja dan juga berbakti pada orang tua, masih belum punya pacar, kan? Riska masih available, nih! Cantik, pinter, gak bakal mengecewakan lah, pokoknya." Tunjuk Sari pada putrinya dengan tidak tahu malunya seperti seorang sales yang menawarkan produknya untuk di beli.
"Bu!" Tegur Irwan yang merasa risih dengan ucapan Sari mengingatkan ibunya agar tidak bersikap tidak tahu malu seperti itu terhadap temannya.
"Ga apa-apa Wan, santai saja. Ibu mu itu senang bercanda." Lerai Dito merasa tak enak hati karena Sari di sampai di tegur Irwan.
"Tante gak bercanda kok, nak Dito." Sambar Sari cengengesan, sementara Dito tersenyum kaku.
"Maaf Wan, Lin, dan semuanya aku harus pamit duluan karena masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, terimakasih atas undangannya, dan saya permisi." Pamit Dito.
"Tuh kan, ibu sih, jadinya kak Dito pergi kan!" Kesal Riska pada ibunya.
"Ibu hanya membantu mu, kenapa kamu malah marah? Kamu cuma diem-diem aja gak bergerak atau mengatakan apapun sama Dito, mana dia tau kalau kamu suka sama dia?" Kesal Sari yang tidak terina di persalahkan.
Sementara mata para tamu kini tertuju pada wanita bergaun seksi berwarna merah menyala yang berjalan penuh percaya diri menuju dimana kini Irwan, Sari, Risaka dan Linda berada, suara ketukan stilleto heels yang beradu dengan ubin marmer terdengar cukup nyaring dan menyita perhatian semua orang di sekitarnya.
__ADS_1
"Hai suami, hai perebut suami orang, hai ibu mertua, dan selamat ulang tahun adik ipar ku tersayang!" Ujar Adela seraya melempar senyum pada Sari, Linda dan Riska yang terdiam membodoh melihat Adel yang tampil sangat cantik sehingga Riska yang sedang berulang tahun dan seharusnya menjadi bintang malam itu malah kalah saing dengan penampilan Adela yang sengaja berpenampilan cetar malam ini.
"Adel, bagaimana kamu bisa di sini?" Tanya Irwan.