
"Adel? Dari jauh aku memperhatikan mu dan bertanya-tanya apa mata ku salah melihat, ternyata ini benar kamu. Aku rindu!" Ujar Irwan tanpa tahu malu.
Kehadiran Adela memang sejak tadi memang sejak tadi mencuri perhatian Irwan yang harus mati-matian mencari alasan terlepas dari Linda agar bisa mendekat dan memastikan jika yang di lihatnya itu benar Adel mantan istrinya atau hanya mirip saja, atau lebih parahnya hanya halusinasinya saja yang terlalu memikirkan Adel dan terlalu merindukan Adel namun dia tidak bisa menemukan dimana mantan istrinya itu tinggal setelah di ceraikan dan di usir oleh dirinya dan juga keluarganya malam itu.
Untung saja tadi Linda sibuk di aja Riska mencari keberadaan Dito yang belum terlihat keberadaannya sehingga itu di jadikan peluang oleh Irwan untuk terlepas dari Linda dan menghampiri Adela.
"Ish, lepaskan mas! Kamu sudah tidak pantas memegang-mengang ku lagi, apa kamu lupa alau kamu sudah menalak ku?" Adela menyingkirkan tangan Irwan yang mencengkeram lengannya.
"Maafkan aku, aku sungguh terpaksa melakukan itu semua, perusahaan sedang mengalami kesulitan uang, aku butuh bantuan ayah Linda untuk investasi, jadi aku melakukan semua ini." Irwan beralasan.
"Stop mas! Jangan membual di hadapan ku, aku mau muntah mendengar alasan mu, basi tau gak? Jelas-jelas Linda itu mantan kekasih lama mu dan kamu gagal move on sehingga akhirnya balikan lagi sama dia, enambulan yang lalu perusahaan mu masih baik-baik saja saat kamu memutuskan kembali pada nya, iya kan?" Todong Adela.
"Ga-gagal move on?" Irwan mengernyitkan keningnya, lagi-lagi dia tidak bisa memahami istilah bahasa yang yang di ucapkan Adela.
"Ah sudah lah, jangan di bahas tentang itu, tapi apa yang aku katakan benar kan? Memang niat awal mu kembali pada mantan kekasih mu itu karena kamu masih menyimpan rasa sama dia dan bukan karena alasan perusahaan mu yang bermasalah? Karena perusahaan mu baru bermasalah dalam tiga bulan terakhir ini." Ujar Adela yang diam-diam mencari tahu informasi tentang perusahaan yang Irwan pimpin.
Irwan tidak bisa mengelak,karena apa yang di katakan Adel hampir semuanya benar, namun tentang perasaan nya yang merindukan Adela itu sungguh bukan bohong, dia benar-benar merasakannya, hampir tidak ada hari yang dia lewati tanpa memikirkan keberadaan Adela, bagaimana nasib Adela, namun melihat Adela malam ini tampil di acara yang notabene hanya di peruntukan bagi para pengusaha kalangan atas itu, membuat Irwan bertanya-tanya, kehidupan seperti apa yang mantan istrinya ini jalani sekarang, karena saat menjadi istrinya, bahkan Adela tidak pernah mau untuk mendatangi acara kondangan pernikahan sekalipun, dengan alasan tidak pede dan tidak nyaman bertemu orang banyak.
__ADS_1
Adel yang dulu selalu minder, kini terlihat sangat percaya diri di tengah para tamu kalangan atas, bahkan penampilannya bisa di bilang mampu bersaing dengan para istri-istri pengusaha yang hadir, balutan gaun hitam panjang dengan bagian punggung yang sengaja di ekspose dan belahan gaun setinggi paha namun dengan dada yang tertutup dan lengan gaun yang panjang membuat penampilan Adel terkesan seksi namun berkelas malam itu, Irwan tidak menyangka jika Adel mempunyai selera berbusana yang sangat baik sekarang, sementara saat masih menjadi istrinya dia selalu berpakaian kumal dan hanya itu-itu saja, bahkan dia lebih sering memakai daster lusuh di setiap harinya.
Perubahan Adela terlalu signifikan, dan tidak bisa di terima di akal Irwan, Adel seperti orang lain setelah dia bangkit dari koma.
"Aku-- aku minta maaf, aku khilaf Del, tolong beri aku kesempatan." Sesal Irwan.
"Jika kata khilaf menjadi lumrah dan sebuah hal biasa untuk di jadikan tameng dalam sebuah kesalahan, lantas apa gunanya kata maaf? Lagi pula, untuk apa kamu meminta kesempatan lagi pada ku mas? Bukankah kesempatan untuk tetap bersama ku sudah kamu patahkan sendiri dengan mengucap talak untuk ku, bahkan di depan banyak orang malam itu, apa kamu mulai pikun?" Sinis Adela merasa sangat geram dengan Irwan yang masih bersikap tidak tau diri dan mempunyai kepercayaan diri yang terlalu tinggi jika dirinya akan luluh dengan kata-kata memelas yang dia ucapkan padanya.
Jawabannya akan tetap 'TIDAK!' karena yang berdiri di hadapan Irwan saat ini adalah Adela, bukan Adelia yang mungkin akan dengan mudahnya luluh dan kembali pada dekapan Irwan hanya dengan bujuk rayu dan kata-kata yang meminta belas kasih.
"Kak, mbak Linda mencari mu kemana-mana, ternyata kamu di sini, dan kau! Apa kau berusaha menggoda kakak ku agar dia kembali ke pelukan mu? Cih, menjijikan, bahkan kau harus memaksakan diri datang ke acara seperti ini hanya untuk bertemu kakak ku, atau untuk mendapatkan om-om agar bisa membiayai hidup mu yang kini terlihat mewah?" Cibir Riska yang baru menyadari jika wanita yang kini tengah mengobrol bersama kakanya adalah Adela, hampir saja Riska pangling dengan penampilan Adela yang mirip artis televisi.
"Kak, lihat sendiri kan, kelakuannya sekarang ini dia seperti apa? Ayo cepat temui mbak Linda, jangan sampai dia tahu kalau kakak baru saja mengobrol dengan si wanita jall-ang itu." Riska menarik lengan kakaknya untuk kembali menemui Linda, akan repot dan panjang masalahnya jika sampai Linda tahu kejadian tadi.
"Jaga ucapan mu, Riska!" Tegur Irwan, entahlah, dia masih tetap tidak suka jika Adel di sebut dengan kata-kata kasar seperti itu bahkan setelah kini Adel yang sikapnya berubah dan selalu ketus dan sinis padanya, Irwan tetap memujanya, terbukti saat ini meskipun dia berjalan menuju ke arah Linda, namun matanya masih tetap memandangi punggung mulus Adela yang semakin menjauh darinya.
"kamu dari mana saja, sayang? Ayah mencari mu, kamu akan di kenalkan secara langsung pada pengusaha-pengusha kelas satu, sekaligus di kenalkan secara langsung dengan tuan Namoto." Ujar Linda seraya bergelendot manja di lengan Irwan.
__ADS_1
"Aku baru dari toilet." Jawab Irwan berbohong, dan Riska hanya bisa memutar matanya merasa kesal, meski tidak akan mungkin berani mengatakan apa yang sesungguhnya dia lihat tadi tentang kakaknya yang sedang bersama Adela, bagaimana pun Linda saat ini tambang uang bagi keluarganya, jika kakak iparnya itu marah maka dia akan kena imbasnya juga.
"Baiklah, ayo kesana!" Ajak Linda berjalan dengan bergandengan tangan ke arah bagian tamu vvip di ikuti Riska yang berjalan di belakang mereka seperti asisten Linda.
"Lihat, itu yang memakai setelan tuxedo hitam adalah tuan Namoto, kita harus bisa berkenalan secara langsung dengannya." Bisik Linda menunjuk ke arah tuan Namoko yang sedang beramah tamah dengan para tamu yang hadir.
"Tuan Anton?" Panggil Linda pada Tuan Anton yang kebetulan sedang duduk bersebelahan dengan tuan Namto saat itu, tentu sja Linda dan Irwan mengenal Anton karena dulu saat sekolah mereka sering main ke rumah Dito.
"Ah, Irwan dan Linda. Kalian teman sekolah Dito, bukan?" Anton menyambut uluran tangan Irwan dan Linda, dia juga tampaknya masih mengingat dengan jelas wajah teman-teman sekolah putra tunggalnya itu, karena Dito juga bukan termasuk anak yang punya banyak teman.
"Dan saya Riska, adik nya kak Irwan atau adik ipar mbak Linda, oh iya om, kak Dito mana? Kenapa tidak datang, kemarin saat acara ulang tahun saya, kak Dito datang lho om," Ujar Riska mengulurkan tangannya dan berusaha sok akrab seolah ingin menunjukkan pada Anton jika dirinya dan Dito punya hubungan khusus sehingga Dito bisa datang ke acara ulang tahunnya.
Namun tanggapan Anton hanya datar saja, "Oh,, kalian menikah?" Justru Anton malah menanyakan tentang pernikahan Irwan dan Linda.
"Iya, sebenarnya kami ingin berkenalan dengan tuan Namoto, suami ku ingin memperkenalkan perusahaannya pada beliau." Jujur Linda.
"Ah, tapi penerjemah tuan Namoko sedang ke luar, dan beliau tidak bisa berbahasa indonesia, tunggu, aku panggilkan seseorang yang sepertinya bisa membantu kalian untuk berkomunikasi dengan tuan Namoko." Ujar Anton, matanya lalu mengedar dan terkunci pada seorang wanita yang nyaris tidak terlihat karena di kerubungi oleh pria yang tertarik padanya.
__ADS_1
"Adel,,, Adel!" Panggil Anton.
Wajah Irwan, Linda dan Riska langsung berubah pias seketika saat ternyata orang yang di maksud Anton adalah Adel, orang yang sungguh tidak di sangka-sangka.