
"Tolong selamatkan aku," bisik Adela dari balik punggung Dito memohon pada pria yang masih terdiam dalam kebingungan itu.
Dito menoleh ke arah bahu kirinya di mana kini Adela berdiri dengan rapat di punggungnya. Kontak fisik seperti itu adalah hal biasa jika di tempat hiburan malam seperti itu, dengan catatan kedua belah pihak tidak keberatan atau minimal mereka saling kenal, namun dalam hal ini Dito tatap tidak mengenal wanita yang memohon pertolongannya itu meski dia berulang kali menoleh ke wajah wanita itu.
Dito bukan sekali dua kali ke tempat hiburan malam seperti ini, sebagai pengusaha muda yang sukses dan mempunyai pergaulan yang luas, dia juga sering menghibur diri di klub untuk sekedar melepas penat setelah seharian bekerja atau sekedar bertemu teman atau kadang kolega bisnis yang sama-sama menyukai hiburan malam.
Begitu banyak wanita malam yang Dito temui selama ini, namun dari sorot mata Adela dia bisa melihat jika wanita ini benar-benar membutuhkan pertolongannya dan bukan sekedar ingin merayunya.
"Hahaha,,, apa kau tidak lihat nona, pria itu tidak mengenal mu, dan diatidak mau di ajak berpura-pura menjadi kekasih mu." Ujar salah satu pria tinggi besar itu mengejek Adela.
"Sayang, apa kamu rela kekasih mu ini di bawa oleh mereka?" Rengek Adela membuyarkan lamunan Dito yang masih mempertimbangkan langkah apa yang akan di ambilnya, namun keinginannya untuk menolong dan menyelamatkan wanita itu rupanya lebih mendominasi di dirinya.
Entah mengapa, begitu banya wanita yang sering menggodanya bahkan rela memberikan tubuhnya untuknya, dia tidak pernah tertarik, namun tubuh Adela yang menempel erat di punggungnya kini seperti mengalirkan sengatan listrik ribuan volt sehingga tubuhnya di buat merinding dan panas dingin karenanya.
"Jangan ganggu kekasih ku, jika kau tidak ingin di black list dari tempat ini dan tidak di perbolehkan untuk datang ke sini seumur hidup kalian!" Ujar Dito mengancam meski dengan nada suara yang tetap tenang namun penuh penekanan dan percaya diri.
__ADS_1
Tentu saja dia berani mengancam seperti itu karena hotel dan klub malam ini merupakan milik dari pamannya atau adik dari ayahnya, bahkan ayahnya punya beberapa persen saham di tempat ini, jadi untuk meminta pamannya mem-black list beberapa tamu saja tentunya paman-nya tidak akan keberatan, terlebih tamu-tamu ini dengan sengaja membuat keributan di tempat usaha pamannya ini.
"Hahaha,,, apa kau pemilik tempat ini? Aku sudah menjadi pengunjung tetap semenjak klub ini baru buka, dan aku baru pernah melihat tampang mu di tempat ini, apa kau tidak tau siapa aku?" Pria tua itu merasa tetantang dengan ucapan Dito yang di sebutnya orang asing karena memang baru kembali lagi dari perantauannya.
Pria tua itu lantas memanggil seorang pelayan dan meminta untuk memanggilkan manajer klub.
"Kita lihat, siapa yang akan di black list seumur hidup dari tempat ini, apa kau tau, Hendra Wijaya pemilik tempat ini adalah teman dekat ku,"
Pria tua itu memamerkan kedekatannya dengan pemilik hotel dan klub malam ini dengan bangganya, di era saat itu siapa yang tak merinding mendengar embel-embel nama besar Wijaya, keluarga dengan perusahaan dan bisnis yang menggurita di seluruh pelosok negeri.
"P-paman mu? Hahaha,,, apa kau coba mengaku-ngaku agar aku merasa takut pada mu?" Pria tua itu sebenarnya agak takut jika ternyata lawan bicaranya benar-benar keponakan Hendra Wijaya, namun setengah dari hatinya tidak percaya dengan apa yang Dito ucapkan.
"Apa aku perlu menelpon paman ku sekarang?" Dito mengeluarkan ponsel yang di zaman itu merupakan barang yang bisa di bilang masih sangat mewah dan tidak sembarangan orang memilikinya.
Dito menekan tombol-tombol di permukaan ponsel yang modelnya di zaman sekarang ini mungkin sudah punah itu.
__ADS_1
"Paman ku ingin berbicara dengan mu!" Dito menyodorkan ponselnya pada manajer klub yang entah sejak kapan sudah berada di antara mereka.
Manajer itu mengangguk tanda mrengerti, bahkan dia membungkukkan badannya seraya memberi hormat pada orang yang mengajaknya bicara di ujung telepon sana, mungkin dia lupa jika lawan bicaranya saat ini tidak dapat melihatnya, mungkin manajer itu terlalu gugup karena selama ini bahkan dirinya tidak pernah sekali pun berbicara dengan bos besarnya, bahkan wajahnya saja hanya pernah dia lihat di televisi di berbagai berita, tidak pernah bertemu secara langsung meski dia sudah bertahun-tahun bekerja di hotel dan klub milik paman Dito itu.
"Maaf atas ketidak nyamanan anda tuan, kami benar-benar minta maaf." Ucap manajer itu pada Dito setelah dia selesai berbicara lewat tel;epon dengan Hendra.
Melihat pemandangan seperti itu, pria tua tadi sepertinya sudah mulai merasa kalau Dito benar-benar keponakan pemilik klub, dan tanpa basa basi lagi dia langsung memerintahkan ketiga anak buahnya untuk segera pergi bersamanya, akan menjadi rumit urusannya jika sampai dirinya berurusan dengan keluarga besar Wijaya, karena bisnisnya yang hanya sebesar semut jika di bandingkan dengan bisnis keluarga Wijaya bisa saja terancam hancur.
"Hey, mau kemana kalian? Dan kau pak tua, bukankah kau ingin memblack list kekasih ku dari tempat ini?" Teriak Adela pada gerombolan pria yang tadi dengan gagah dan garangnya ingin membawa dirinya.
"Maafkan kami, tolong jangan perpanjang masalah, mungkin ini karena saya terlalu mabuk." Pria tua itu bahkan setengah membungkukkan tubuhnya tanda hormat dan permohonan maafnya ke arah dimana Dito dan Adela berada.
"Terima kasih anda sudah berkenan membantu ku," ucap Adela sambil ikut berlalu seperti halnya pria tua yang tadi mengganggunya.
"Tunggu, apa kau akan meninggalkan kekasih mu begitu saja?" Ujar Dito menyeringai membuat Adela yang telah meninggalkan pria tampan itu bebrapa langkah menghentikan langkah kakinya dan berbalik untuk menoleh melihat sekali lagi wajah tampan yang telah menolongnya itu.
__ADS_1
"Aku sudah mengucapkan terima kasih pada mu, apa lagi yang kamu ingin kan? Aku tidak punya uang dan tidak punya apapun untuk membalas kebaikan mu, hanya ucapan terimakasih yang mampu aku berikan padamu, tolong jangan persulit aku, aku sudah cukup kacau hari ini, aku di campakkan oleh suami ku dan di goda pria tua hidung belang, aku hanya ingin pulang dan tidur, lantas melupakan semuanya." Ucap Adela yang malah meluapkan keluh kesah nya pada Dito yang kini menatapnya tanpa berkedip.