ANOTHER LIFE ADELA

ANOTHER LIFE ADELA
Siapa ayah mu?


__ADS_3

"Apa nona mencari saya?" Tanya Mang Wawan kebingungan dan setengah tidak percaya saat majikannya alias ibu dari Adela memberi tahu dirinya jika anak mereka yang baru sadar dari komo selama hampir satu bulan lamanya tiba-tiba mencari dirinya.


Mang Wawan bahkan sempat di curigai oleh ayahnya Adela jika dirinya ada andil atau terlibat dalam kecelakaan yang di alami putrinya, namun mengingat jika malam itu mang Wawan juga sedang menemani dirinya dinas di luar kota, kecurigaan itu menguap begitu saja.


Adela memperhatikan penampilan mang Wawan yang berdiri seperti ketakutan di hadapannya, namun sebaliknya Adela malah tak kuat menahan tawanya, tiba-tiba dia tertawa begitu saja membuat mang Wawan dan Wini yang juga berada di ruangan itu merinding di buatnya.


Mereka berdua mengira jika Adela mulai tidak waras akibat kecelakaan itu, padahal yang membuat Adela tak kuasa menahan tawanya adalah saat dia mengingat kembali bagaimana dandanan mang Wawan saat dua puluh empat tahun yang lalu, pria yang kini terlihat keriput dan memakai setelan celana kain dan kemeja polos itu sungguh bertolak belakang dengan dandan Mang Wawan yang dia temui saat menjadi penunggu wartel saat itu, celana cutbrat dan kaos ketat yang di pakai mang Wawan saat itu tiba-tiba terbayang kembali di ingatan Adela sehngga gadis itu tidak kuasa menahan tawanya.


"Non, nyebut non!" ujar mang Wawan takut.


Begitu pun dengan Wini yang mulai mengambil ancang-ancang untuk berlari keluar memanggil dokter atau dukun atau siapapun yang bisa menyembauhkan Adela yang dia rasa sudah kehilangan kewarasannya itu.


Setelah selama seharian Adela hanya merenung dan tidak bisa di ajak ngobrol apa-apa kini tingkahnya di rasa Wini semakin aneh saja, sehingga membuatnya semakin khawatir dengan keadaan mental dan kesehatan sahabatnya itu.


"Maaf Mang, barusan ateringat seseorang yang sangat lucu," Adela segera tersadar jika dua orang yang berad di ruang rawat inapnya itu merasa ketakutan akan sikapnya yang di nilai aneh itu.


"Mang, aku mau tanya, apa mang Wawan pernah bekerja menjadi penunggu wartel dua puluh empat tahunan yang lalu?" tanya Adela.


Kening keriput Mang Wawan semakin berkerut mendengar pertanyaan Adela yang tiba-tiba mempertanyakan mengenai pekerjaan nya puluhan tahun silam.

__ADS_1


"I-iya, tapi dari mana non Adela tau?" gugup Manga Wawan.


"Ah,,, sial, ternyata ini memang nyata," gumam Adela menepuk jidatnya sendiri.


Setelah seharian dia merenung dan memikirkan apa yang sebenarnya dia alami selama koma itu, sebenarnya dia sudah sepakat dengan dirinya sendiri untuk menganggap jika apa yang di alaminya mengenai Dito, Irwan dan kehidupannya di dua puluh empat tahun yang lalu hanyalah merupakan ilusi atau halusinasi dirinya saja, atau jika dalam konteks orang tertidur mungkin itu hanyalah mimpi panjang dirinya karena memang durasi tidur dirinya pun cukup panjang.


Namun saat mendengar pengakuan Mang Wawan yang memang pernah bekerja sebagai penjaga wartel seperti yang dia lihat dan alami dalam perjalanan alam bawah sadarnya, kini dia kembali memugarkan kesepakatan dengan dirinya yang sebelumnya menganggap apa yang di alami dirinya hanya halusinasi saja.


"Apa wartel itu dulu berada tak jauh dari kawasan rumah tinggal ku sekarang ini? Dan sekarang wartel itu menjadi butik langganan ibu?" tanya Adela ingin lebih meyakinkan lagi dirinya.


Kali ini mang Wawan tidak berkata apa-apa, dia hanya hanya menganggukkan kepalanya tanpa suara, namun terlihat ketegangan di wajahnya, dia benar-benar tidak mengeti dari mana anak majikannya itu tahu tentang kehidupan nya yang bahkan saat itu Adela belum lahir ke duania ini.


"Jangan macam-macam mang, malam ini Wini masih harus menunggui dia di sini karena bu Siska harus ke luar kota."


Wini yang memang penakut itu langsung pucat, dan ketakutan.


"Mang, malam ini bisa nemenin Wini nginep di sini gak? Soalnya masih banyak yang ingin Adela tanyakan pada Mang Wawan."


"Emh,,," mang Wawan terlihat ragu-ragu saat hendak menjawab.

__ADS_1


"Mau,,, mau! Mang Wawan harus mau, mau kan ya, mang?" sambar Wini merasa lega karena akhirnya malam ini dia tidak harus menjaga Adela sendirian dalam ketakutan di rumah sakit ini.


**


"Mang, apa mamang tau keluarga Wijaya yang pada tahun 90 an merupakan keluarga pengusaha yang sangat sukses dan merajai perindustrian di tanah air?" Adela membuka pembicaraan.


"Keluarga Wijaya? Keluarga Wijaya yang mana?" kali ini yang menyahuti Wini, meski pertanyaan itu di tujukan Adela pada Mang Wawan.


"Teguh Wijaya," jawab Adela, dia masih ingat dengan jelas nama kakek Dito yang saat itu sangat di segani di duania bisnis.


"Kenapa tiba-tiba kamu tertarik dengan keluarga itu?" Wajah Wini berubah kecut dan seperti tidak senang mendengar nama yang barusan Adela sebutkan.


"Kamu mengenalnya?" tanya Adela polos, dan kini mengalihkan perhatian pada Wini.


"Teguh Wijaya, itu almarhum kakek buyut ku." ujar Wini, namun dia seperti tidak suka saat membicarakan tentang itu.


"Hah, kakek buyut mu? Kamu keturunan konglomerat dong! Siapa kakek mu, si-siapa ayah mu, Dito atau Bayu?" Adela terlonjak dari kasurnya dang langsung menghampiri Wini yang sedang duduk di sofa seberang ranjangnya.


Jika Wini merupakan cucu buyut dari Teguh Wijaya, maka ayah Wini hanya ada dua kemungkinan, Dito atau Bayu, karena setahu dirinya Teguh Wijaya hanya punya dua orang cucu dari dua orang putranya.

__ADS_1


__ADS_2