
"Apa-apaan ini? Pak Dito, apa maksud dari semua ini?" Adela menoleh ke arah Dito yang terlihat bingung dan mematung, karena rasa-rasanya dia sudah melakukan hal yang benar, memberikan apa yang Adela inginkan, yaitu kembali pada Irwan, namun mengapa justri Adela seperti marah padanya? Apa yang salah? Batin Dito.
"Ke-kenapa kamu marah pada ku Del? Bukankah aku hanya memenuhi janji ku?" Dito tergagap.
"Janji?" Adela membeo.
"Iya, bukankah aku sudah berjanji untuk memenuhi keinginan mu selamalam, bukankah dari semalam kamu merengek terus ingin pulang dan ingin kembali, dan aku membawa Irwan ke sini agar kamu bisa pulang dan kembali bersamanya, aku tidak tega melihat mu menangis semalaman dan seperti tertekan dan merasakan kesedihan yang teramat dalam karena keinginan mu itu, kenapa justru kamu malah marah, bukannya berterima kasih, malah memelototi ku seperti itu!" Gerutu Dito.
Adela terdiam sejenak mengingat-ingat apa yang terjadi semalam, rasanya tidak mungkin se-mabuk-mabuknya dia sampai merengek minta kembali pada Irwan, pasti ada yang salah dengan semua ini.
"Ckkk sial,, sepertinya ada salah paham di sini." Decak Adela saat dirinya mulai menyadari jika Dito sepertinya sudah men-salah artikan ocehannya tentang dirinya yang terus merengek ingin pulang, dan ingin pulang yang Dito maksud sungguh berbeda arti dengan apa yang di inginkan Adela yang ingin pulang ke masa depan di mana dia tadinya berasal.
"Sudahlah Del, jangan menyalahkan Dito, mungkin kamu malu mengakuinya, aku paham jika kamu masih marah pada ku dan gengsi untuk mengatakan jika kamu ingin kembali bersama ku, jangan marah dengan Dito, dia hanya ingin membantu mu, membantu kita agar bisa bersama lagi." Sambar Irwan malah semakin besar kepala, dan menganggap jika prilaku marah Adela saat ini di sebabkan karena mantan istri nya itu merasa malu dan gengsi karena kethuan masih mengharapkannya.
"Eh diam kau, asal kau tau ya, mimpi pun aku tak sudi harus kembali kepada mu, kau dengar itu? Aku tidak sudi!" Bentak Adela penuh marah.
__ADS_1
"Tapi semalam kamu bilang ingin pulang dan ingin kembali maksudnya apa Del? Aku benar-benar mendengarnya dengan jelas dengan telinga ku sendiri, bahkan kamu sampai menangis-nangis." Dito masih tidak terima jika dalam hal ini dirinya lah yang membuat kesalah pahaman di antara Adel dan Irwan, dia benar-benar merasa jika apa yang di lakukannya ini sudah benar dan semata hanya karena dirinya peduli pada Adela.
Mendapat pernyataan seperti itu dari Dito kini Adela pun merasa kebingungan sendiri harus menerangkan dengan cara apa baik pada Dito maupun pada Irwan, tidak mungkin dirinya mengatakan yang sebenarnya jika sebenarnya dia berasal dari masa depan dan kalimat ingin pulang yang dia maksud adalah dia ingin kembali ke masa depan dimana dia berasal, Adela berani bertaruh jika saat ini dia mengungkapkan hal itu, bukan tidak mungkin dirinya bukan di percayai tapi akan di anggap gila lantas dia akan menghabiskan waktu di rumah sakit jiwa karena di anggap depresi akibat terlalu memikirkan perceraiannya.
"Jangan bahas itu sekarang, yang jelas, asal kalian berdua tahu, jika aku tidak akan pernah mau kembali pada dia sampai kapan pun juga!" Tunjuk Adela pada Irwan, dia sudah kebingungan dan kehabisan kata-kata untuk menjelaskan inti permasalahan yang hanya dirinya sendiri yang akan memahaminya.
"Tapi aku masih mencintai mu Del, aku gak mau pisah sama kamu." Irwan mencoba meraih tangan Adela yang secara spontan Adela langsung menepisnya dengan cekatan.
"Cukup mas, aku yakin kamu berbicara seperti itu karena kamu merasa penasaran dengan diri ku yang sekarang ini, diri ku yang kini sudah berubah, kamu hanya menyesal karena ternyata aku bisa berubah menjadi seperti sekarang ini, kan? Cinta mu itu hanya berdasarkan penampilan fisk saja, saat aku belum berubah seperti sekarang ini bahkan kamu dengan tega berselingkuh lantas menikahi selingkuhan mu, bukan cinta yang kamu rasakan pada ku, tapi penasaran! Tapi ada baiknya sekarang kita bertemu, aku rasa sudah saatya kita mengurus perceraian kita secara resmi, lebih cepat lebih baik, jangan gantung status ku seperti ini, karena kita sudah tidak mungkin." Tegas Adela.
"Tidak masalah, karena aku juga bisa mengajukan perceraian sendiri, bukti-bukti tntang perelingkuhan dan kamu yang berpoligami tanpa izin akan memudahkan proses perceraian kita, jika kamu keberatan untuk mengurusnya, maka aku yang akan mengajukan, lagi pula kita sudah cerai secara agama, kamu menalak ku di depan orang banyak saat ulang tahun Riska, jika kamu lupa!" Ucap Adela berapi-api.
"I-itu aku lakukan karena aku terpaksa, kamu tau ada ancaman dari Linda dan ayahnya sat itu, dan kamu juga tahu jika perusahaan butuh mereka." Kilahnya membela diri.
"Sudahlah, seperti halnya kamu, aku juga ingin memulai hidup ku yang baru,mari kita selesaikan pernikahan kita ini dengan baik."
__ADS_1
"Tidak, jangan katakan kalau kamu sudah punya kekasih! Aku tidak akan pernah setuju!" Tolak Irwan.
"Setuju tidak setuju, nyatanya kita sudah bercerai, jadi aku bebas menentukan hidup ku," kata Adela tidak peduli, kini dia justru malah berbalik menoleh ke arah Dito yang sejak tadi menjadi penonton setia pertengkaran antara Adela dan Irwan.
"Pak, mengenai tawaran bapak yang meminta ku untuk menjadi kekasih bapak tempo hari, apa masih berlaku? Kalau iya aku akan menjawabnya sekarang, aku bersedia, aku bersedia menjadi kekasih anda, kemarin saya masih ragu menerima anda karena mempertimbangkan saya belum jujur mengenai siapa mantan suami saya yang ternyata teman anda sendiri, namun sekarang semua sudah terbuka dan saya sepertinya sudah bisa menjawab pertanyaan bapak malam itu." Urai Adela, seperti sengaja mengatakan itu di hadapan Irwan yang kini gantian menjadi penonton adegan romantis antara mantan istrinya bersama sahabat dirinya.
"M-maksud mu? Kamu bersedia menerima ku? Benarkah?" Wajah Dito kini berubah sumringah, dengan mata yang berbinar.
"Selama anda tidak keberatan jika saya adalah mantan istri teman anda." kata Adela cuek.
"Tentu saja tidak, bahkan aku akan membantu mu menyewakan pengacara paling hebat agar kamu bisa mengurus perceraian mu dengan cepat!" ujar Dito seolah di ruangan itu hanya ada dirinya an Adela saja berdua, tanpa melihat kehairan Irwan yang merasakan kecemburuan dan kemarahan yang teramat sangat.
"Tidak, aku tidak setuju, sampai kapan pun aku tidak akan setuju,aku juga tidak akan melepaskan Adela, meski itu untuk mu," kata Irwan sambil menunjuk ke arah Dito.
"Sayangnya kami tidak butuh persetujuan mu mas, dan kamu boleh terus bermimpi untuk bisa mendapatkan ku kembali, jangan terlalu serakah jadi orang, mas!" kata Adela lagi.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak terima dengan ini semua, Dito,,, aku tidak akan membiarkan kau merebut Adela dari tangan ku, ingat itu!" ancam Irwan yang hanya di tanggapi dengan senyuman oleh Dito yang kini sebelah tangannya merangkul bahu Adela, seolah ingin memamerkan pada Irwan jikadia bisa mendapatkan Adela.