ANOTHER LIFE ADELA

ANOTHER LIFE ADELA
Tahun berapa sekarang?


__ADS_3

"Riska, perhatikan jalan di depan mu, kalau kau ingin bunuh diri matilah sendirian!" teriak Adela saat Riska mengendarai mobilnya bak sedang kesetanan, dengan kecepatan maksimal dan tidak beraturan.


"Hahaha,,, tentu saja aku tidak ingin mati sendirian, jika aku tidak bisa mendapatkan kak Dito, maka siapa pun tidak boleh mendapatkannya, dan ide mu sepertinya bagus juga, ayo kita mati bersama!" Riska semakin dalam menginjak pedal gas nya dan mobil semakin meluncur jauh meninggalkan mobil Linda yang di kendarai Dito yang mengejarnya dari belakang.


"Kau gila Riska, itu di depan tikungan, sebaiknya kau mati saja sendiri, aku masih ingin hidup, aaaaaaa!" ucapan Adela di akhiri dengan teriakan kencang karena mobil yang dia tumpangi bersama Riska melesat lantas menabrak pagar pembatas jalan karena menghindari mobil yang tiba-tiba datang dari arah berlawanan dan selanjutnya mobil mereka melesat masuk ke jurang.


Setelah kejadian itu, Adela tidak mengingat apapun lagi yang terjadi pada dirinya.


***


Entah berapa lama Adela tidak sadarkan diri, namun saat dirinya siuman dan berusaha membuka mata, pertama kali yang dia rasakan adalah kepalanya yang terasa berat dan pusing.


Perlahan Adela membuka matanya, menahan rasa sakit dan pening di kepalanya, pemandangan pertama yang dia lihat saat itu adalah tiang infus dan selang yang terhubung ke tangannya, dan hal itu membuat Adela bernafas lega.


"Oh Tuhan,,, ternyata aku masih di izinkan hidup, aku pikir kali ini aku sudah tidak bisa di sematkan lagi," gumamnya, setelah mengalami kecelakaan sebelumnya dan di beri keselamatan meski harus terjebak di dunia lain, kali ini ternyata Tuhan masih memberinya kesempatan lagi padanya untuk menghirup udara di dunia ini.

__ADS_1


"Adela,,, kamu sudah sadar sayang?"


"Adela,,, akhirnya,,, lihat aku, Adela kamu sadar?"


Pekikan dua orang wanita membuat dirinya kebingungan, mereka berhambur mendekati tubuh Adela yang masih terbaring lemah dan di balut banyak perban di sekujur tubuhnya.


"I-bu,,, Wini,,,?" lirih Adela memanggil kedua wanita yang kini memeluknya dengan erat dan terasa sesak.


"Iya, ini ibu sayang, dan ini sahabat mu Wini, akhirnya kamu bangun sayang,,, kami sangat mencemaskan mu, kami sangat merindukan mu!" ujar Siska, ibu dari Adela sambil terisak menangis haru karena akhirnya putri kesayangannya telah sadar kembali.


Jika sebelumnya dia selalu mencari cara bagaimana bisa kembali ke masa ini, dan selalu mengatakan ingin pulang, ingin kembali, namun setelah semua keinginannya benar-benar terwujud, setelah dia benar-benar pulang dan kembali ke dunia asalnya, seperti ada lubang yang mengaga dan sangat dalam tercipta di hatinya, ada rasa yang mengganjal dan menggantung dalam pikirannya, bagaimana nasib Dito, dan lain-lain saat itu, semua terasa bagai sebuah teka-teki yang sangat ingin dia pecahkan.


"Bu, mang Wawan mana?" tanya Adela tiba-tiba.


"Owalah Del, hampir satu bulan koma, begitu sadar yang di cari malah mang Wawan," protes Wini mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


"Hampir satu bulan?" beo Adela kaget, padahal rasanya dia berada di masa lalu berbulan-bulan lamanya, ternyata dirinya hanya tidak sadarkan diri hampir satu bulan lamanya.


Adela kebingungan dengan apa yang dia alami sebelumnya dalam komanya, satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah menanyai mang Wawan mengenai kejadian dua puluh empat tahun silam, karena hanya dia satu-satunya yang dia kenal dan bertemu di masa itu.


"Mang Wawan sedang mengantar papa mu ke kantor seperti biasanya, ada apa dengan mang Wawan? Kenapa kamu tiba-tiba mencarinya?" tanya ibunya tidak kalah heran dengan Wini.


"Ada yang harus aku tanyakan bu, dan ini sangat penting, tolong ibu panggilkan mang Wawan ke sini ya bu." Pinta Adela.


Meski merasa aneh dan kebingungan, akhirnya Siska mengangguk, mengiyakan permintaan aneh putri kesayangannya itu.


"Wah ponsel,,, aku sangat merindukan ponsel!" Adela meraih ponsel milik Wini yang tergeletak di meja sebelah ranjangnya seolah dia baru pernah melihat benda pipih canggih itu.


"Hei, itu milik ku, ada apa dengan kamu ini, bahkan ponsel mu jauh lebih bagus di banding milik ku, tapi seolah baru pernah melihat ponsel!" Wini merebut kembali ponsel miliknya dari tangan Adela yang kini malah bertingkah aneh.


"Pelit!" cibir Adela, "Win, ibu, katakan pada ku, hari, tanggal, bulan dan tahun berapa sekarang ini, tolong perlihatkan pada ku kalender tahun ini." lanjut Adela semakin membuat Wini dan juga ibunya merasa khawatir dan ada yang tidak beres pada diri Adela.

__ADS_1


"Tante, sebaiknya tante segera panggilkan dokter, aku takut kepala Adela yang terluka itu membuat otaknya sedikit geser dan membuat dia bertingkah aneh seperti ini." Bisik Wini pada Siska.


__ADS_2